Episode 3

Bab 3

Kamar Ini untuk Keponakanmu

"Pak Herman itu sudah punya rumah sendiri."

Yuni belum menyerah.

Malam semakin larut, tetapi teh di meja sudah dingin dan pisang goreng hanya menyisakan minyak di piring. Sekar duduk berhadapan dengan kakak iparnya, menunggu alasan sebenarnya keluar.

Bu Warni baru selesai salat Isya ketika masuk ke ruang tamu. Melihat mereka, ia langsung duduk di sebelah Yuni.

"Bagus kalau kalian sudah bicara," katanya.

Sekar menatap ibunya. "Mamah juga yang mengatur pertemuan ini?"

"Bukan mengatur. Mamah memikirkan masa depanmu."

"Aku masih punya masa depan meski tidak bertemu Pak Herman."

Yuni mendecakkan lidah. "Kamu ini udah umur segini masih milih-milih. Orang kayak Pak Herman saja belum tentu mau. Dia mapan, punya dealer motor, kenal banyak orang."

"Kalau begitu biarkan dia cari perempuan yang sesuai."

"Sekali ketemu nggak rugi, Sekar," sela Bu Warni. "Jangan keras kepala."

Sekar memandang dua perempuan di depannya. Yuni mengusap perut sambil bersandar nyaman. Ibunya menatap Sekar dengan sorot yang selalu muncul setiap kali uang belanja kurang atau cicilan jatuh tempo.

"Di mana?" tanya Sekar akhirnya.

Wajah Yuni langsung cerah. "Besok sore. Kopi & Co di Senopati. Jam tiga."

Kafe di Senopati untuk perkenalan yang katanya sederhana. Sekar tidak perlu melihat daftar harga untuk tahu satu gelas kopi di sana bisa sama dengan makan siangnya selama tiga hari.

"Kenapa harus di sana?"

"Pak Herman sering meeting di daerah situ. Masa calon istri nggak bisa menyesuaikan?"

Calon istri.

Mereka bahkan belum pernah bertemu, tetapi Yuni sudah menyerahkan hidup Sekar dalam satu sebutan.

Sekar menarik napas. "Baik. Aku datang."

Yuni tersenyum puas. Bu Warni mengangguk seolah baru memenangkan perdebatan.

"Nah, begitu dong. Setelah nikah juga kamu masih bisa jahit-jahit sedikit," kata Yuni. "Pak Herman cuma bilang istrinya sebaiknya fokus urus rumah dan ibunya. Kerjaanmu sekarang juga tukang jahit doang, bukan kantor yang susah ditinggal."

Sekar menunduk melihat jari telunjuknya. Bekas tusukan jarum tampak merah di sisi kuku.

Tiga tahun belajar pola, mengenali jatuh kain, membongkar jahitan yang meleset satu milimeter, dan menyelesaikan bordir sampai subuh diringkas menjadi tukang jahit doang.

Ia tidak menjawab.

Yuni mengira diamnya berarti menyerah. "Bagus kalau pertemuannya lancar. Soalnya nanti kalau anak Mbak lahir, kita juga perlu atur kamar."

Sekar mengangkat wajah. "Atur kamar apa?"

Tangan Yuni kembali mengusap perut. "Kata dokter kemungkinan laki-laki. Anak laki-laki butuh kamar sendiri."

"Rumah ini cuma punya tiga kamar."

"Makanya." Yuni tersenyum kecil. "Kamar kamu nanti buat keponakanmu. Kamu kan sebentar lagi menikah. Kalau belum juga, bisa tidur di ruang tengah dulu. Bayi nggak mungkin tidur dekat dapur."

Suara televisi dari rumah tetangga terdengar menembus dinding. Sekar memandang pintu kamarnya di ujung lorong.

Kamar itu sempit. Lemarinya sudah tua, cat di dekat jendela mengelupas, dan meja jahitnya harus dilipat setiap malam agar ia bisa membuka kasur. Namun itulah satu-satunya ruang di rumah ini yang pernah terasa sedikit menjadi miliknya.

Sekarang bahkan ruang itu sudah dijanjikan kepada anak yang belum lahir.

"Mamah setuju?" tanyanya.

Bu Warni merapikan mukena di pangkuan. "Yuni benar. Anak laki-laki butuh tempat. Kamu nanti ikut suami."

"Kalau aku tidak menikah dengan Pak Herman?"

Ibunya menghindari tatapannya. "Ya dipikirkan nanti. Yang penting jangan egois sama keponakan sendiri."

Sekar mengangguk perlahan.

Jadi itu harganya.

Pertemuan dengan Pak Herman bukan perhatian. Mereka perlu mengeluarkannya dari rumah tanpa terlihat sedang mengusir.

"Aku mengerti," ucap Sekar.

Ia bangkit membawa tasnya. Yuni masih sempat mengingatkan agar besok memakai kebaya yang bagus, supaya Pak Herman tidak malu dilihat orang.

Sekar masuk kamar dan mengunci pintu.

Begitu sendirian, punggungnya menempel pada daun pintu. Matanya bergerak dari lemari tua ke meja lipat, lalu ke retakan tipis di langit-langit.

Rumah ini dibeli empat tahun lalu. DP sebesar seratus juta rupiah berasal dari hadiah sebuah lomba desain kecil, komisi yang ia kumpulkan selama tiga tahun, dan pinjaman dari Bu Laksmi yang sudah ia cicil lunas. Setiap bulan, dari gaji delapan juta, lima juta masuk ke rumah ini untuk KPR, listrik, dan belanja.

Nama di sertifikat memang bukan namanya.

Namun tanpa uangnya, rumah ini tidak akan pernah ada.

Sekar membuka mobile banking. Saldo tersisa tidak cukup untuk deposito apartemen mahal, tetapi masih bisa dipakai menyewa kamar kos sederhana. Ia kemudian membuka aplikasi pencarian properti.

Kos putri, Rp2,5 juta.

Apartemen studio, Rp3,5 juta.

Kamar bersama, Rp3 juta.

Sekar menghitung cepat. Ongkos harian ke sanggar, makan, pulsa, dan kebutuhan kain pribadinya sudah menghabiskan hampir dua juta. Jika berhenti menyetor lima juta ke rumah, ia sanggup menyewa tempat aman dan masih menyisihkan sedikit uang. Masalahnya, ia harus membayar uang muka, deposit, serta biaya pindahan sekaligus.

Ia membuka percakapan dengan Bu Laksmi, lalu mengurungkan niat mengetik. Gurunya sudah pernah menolong saat DP rumah ini kurang. Sekar tidak mau kembali meminta sebelum berusaha sendiri.

Sebagai gantinya, ia mengirim pesan pada tiga pemilik kos, menanyakan penghuni lain, akses malam, dan kunci gerbang. Dua hanya membaca. Satu membalas bahwa kamar sudah diambil orang.

Ia menyimpan lima iklan, membaca ulasan keamanan, lalu mengambil meteran kain dari meja. Besok ia tetap akan menemui Pak Herman. Bukan karena berharap mendapatkan suami, melainkan agar Yuni tidak punya alasan menghalangi langkah berikutnya.

Sekar mematikan lampu dan berbaring di kasur sempit.

Cahaya ponsel menerangi wajahnya. Jempolnya berhenti di tombol hubungi pemilik untuk sebuah kamar sewa Rp2,8 juta.

Ia harus pindah secepatnya.

Terpopuler

Comments

falea sezi

falea sezi

🤣🤣 tolol aja np g beli rmh sendiri bego malah rmh bersama oon ya kalah qm😒

2026-08-15

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!