Episode 5

Bab 5

Uang Muka Itu

Begitu Sekar membuka pintu rumah, tiga pasang mata langsung mengarah padanya.

Anton duduk di ujung sofa dengan seragam Swarna Manufaktur yang belum diganti. Yuni berada di sampingnya sambil memegang ponsel. Bu Warni berdiri dekat meja makan, wajahnya tegang.

Tidak ada yang bertanya apakah Sekar sudah makan.

"Kamu apain Pak Herman?" Anton membuka suara.

Sekar melepas sepatu. "Selamat malam juga, Mas."

"Jangan muter-muter. Dia telepon Yuni, bilang kamu menghina dia."

Yuni memperlihatkan layar ponsel. "Pak Herman bilang kamu ngusir dia dan bikin malu keluarga. Dia sampai bilang nggak mau kenal kita lagi."

"Bagus. Berarti masalahnya selesai."

Telapak tangan Anton menghantam meja. Gelas plastik bergetar. "Sekar!"

Sekar berjalan masuk dan meletakkan tasnya di kursi. Tubuhnya lelah setelah perjalanan pulang, tetapi pikirannya justru sangat jernih.

"Dia datang terlambat dua belas menit," katanya. "Foto profilnya bukan foto terbaru. Dia bilang setelah menikah aku harus berhenti kerja, mengurus ibunya, membersihkan rumah, dan melahirkan minimal tiga anak laki-laki. Setelah aku menolak, dia pergi tanpa membayar kopi dan kuenya sendiri."

Yuni memutar mata. "Laki-laki mapan memang punya standar. Harusnya kamu dengarkan dulu, bukan nyolot."

Sekar mengeluarkan struk dari tas. "Rp116.000. Kalau Mbak merasa dia begitu baik, silakan ganti pesanannya."

"Kok jadi hitung-hitungan sama keluarga?"

"Pak Herman bukan keluarga."

"Dia saudara jauh Mbak!"

"Kalau begitu tagih ke saudara Mbak."

Bu Warni cepat menyela. "Sudah, jangan ribut soal uang kecil. Sekar, kamu seharusnya bisa lebih halus. Orang menilai didikan orang tua dari sikap anak perempuan."

Sekar menatap ibunya. "Mamah lebih malu karena aku menolak laki-laki yang mencari pembantu gratis, atau karena dia meninggalkan tagihan?"

"Kamu sekarang pintar membantah, ya."

Anton berdiri. Tubuhnya lebih tinggi daripada Sekar, suaranya sengaja dikeraskan. "Kalau nggak suka aturan keluarga, keluar dari rumah ini!"

Ruang tamu mendadak senyap.

Yuni sempat melirik suaminya, seolah Anton baru mengucapkan kalimat yang seharusnya disimpan sampai rencana mereka matang. Bu Warni membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.

Sekar justru merasa tenang.

"Baik," jawabnya.

Anton mengerutkan kening. "Apa?"

"Dua hari lagi aku pindah."

Wajah Yuni berubah. "Kamu mau tinggal di mana?"

"Itu urusanku."

"Jangan sok berani. Di luar mahal."

"Aku tahu. Selama ini aku yang bayar sebagian besar biaya rumah."

Sekar mengambil ponsel, membuka riwayat transfer, lalu meletakkannya di meja. Deretan angka terlihat jelas. Lima juta, lima juta, empat setengah juta, enam juta saat tagihan sekolah lama Anton dan perbaikan atap jatuh bersamaan.

"Kalau aku pindah," lanjutnya, "tolong kembalikan DP rumah ini. Seratus juta rupiah. Tambahkan cicilan yang selama ini kubantu bayar."

Anton menatap layar, kemudian tertawa tak percaya. "DP apa?"

"Uang muka rumah. Dari rekeningku ke rekening penjual, empat tahun lalu."

"Itu uang buat Mamah dan Bapak."

"Bukan. Waktu itu Mas bilang pinjam dulu supaya pengajuan KPR cepat disetujui."

"Ada surat utangnya?"

Pertanyaan itu terasa seperti tamparan.

Sekar tidak punya surat. Ia hanya punya percakapan lama, bukti transfer, dan kepercayaan bodoh pada keluarga sendiri.

"Mas berjanji mengembalikan setelah dapat bonus tahunan."

"Aku nggak pernah janji begitu." Anton menyilangkan tangan. "Siapa suruh kamu sok baik?"

"Anton," tegur Bu Warni pelan, tetapi ia tidak membela Sekar. "Uang itu memang dipakai untuk rumah keluarga. Kamu juga tinggal di sini selama ini."

"Aku membayar cicilan dan kebutuhan rumah setiap bulan. Tinggal di kamar sendiri bukan hadiah."

Yuni meraih ponsel Sekar, tetapi Sekar lebih cepat mengambilnya. "Jangan pegang."

"Lihat, Mas. Sekarang dia perhitungan sekali. Sama kakak sendiri minta uang seratus juta."

Anton menunjuk pintu. "Uang itu nggak ada. Mau nuntut? Silakan. Keluar sekarang juga kalau berani."

Bu Warni mulai menangis kecil. "Kenapa jadi begini? Mamah cuma mau kamu dapat suami baik. Sekarang kamu menuduh kakakmu mencuri."

"Aku tidak bilang mencuri. Aku minta uangku dikembalikan."

"Sama saja!"

Ponsel Yuni berbunyi tanpa henti. Rupanya sejak Sekar belum tiba, ia sudah menulis di grup keluarga. Pesan-pesan baru bermunculan.

Anak perempuan kok hitung-hitungan sama kakak sendiri.

Orang tua sudah membesarkan, masa uang segitu diminta kembali?

Jangan sampai durhaka cuma karena belum dapat jodoh.

Yuni mengetik cepat, lalu menandai semua anggota grup.

Sekar membaca namanya sendiri disebut berkali-kali oleh kerabat yang tidak pernah membantu saat ia bekerja sampai dini hari. Tidak satu pun bertanya mengapa rumah atas nama Anton dibayar dari rekening adiknya.

Satu pesan pribadi masuk dari Bulik Sri.

Sekar, jangan jawab di grup dulu. Bulik tahu uang muka itu dari kamu. Simpan semua bukti transfernya.

Tenggorokan Sekar menegang. Setidaknya ada satu orang yang masih mengingat apa yang terjadi empat tahun lalu. Saat itu Bulik Sri bahkan ikut menemaninya menarik sebagian tabungan lomba karena limit transfer harian tidak cukup.

Sekar membalas singkat.

Terima kasih, Bulik. Tolong jangan berdebat dengan mereka. Aku akan urus sendiri.

Bulik Sri langsung menelepon. Sekar berjalan ke sudut ruang tamu agar suaranya tidak terlalu terdengar.

"Kamu benar mau pindah, Nduk?"

"Iya, Bulik."

"Ada tempat aman? Jangan asal murah."

"Belum dapat, tapi aku sedang cari."

"Kalau butuh menginap sementara, rumah Bulik terbuka."

Sekar menutup mata. Tawaran sederhana itu hampir meruntuhkan ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan. "Matur nuwun, Bulik. Aku ingat."

Di belakangnya, Anton mengejek karena Sekar mencari pendukung. Ia tidak menoleh. Bulik Sri meminta Sekar menyimpan struk, tangkapan layar percakapan, dan seluruh riwayat transfer sebelum ada yang menghapus pesan lama.

Setelah panggilan berakhir, Sekar meneruskan bukti-bukti itu ke surel pribadinya. Ia tidak tahu apakah kelak akan menuntut. Namun malam ini ia belajar bahwa percaya pada keluarga tidak boleh berarti menyerahkan semua jejak.

Ia mematikan notifikasi.

"Aku tetap pindah dua hari lagi," katanya.

"Tanpa uang itu, kamu mau ke mana?" ejek Anton.

"Aku akan cari cara."

Sekar mengambil tas dan berjalan menuju kamar. Di belakangnya, Yuni masih menyebutnya tidak tahu terima kasih. Bu Warni masih menangis. Anton kembali duduk seolah pertengkaran selesai karena suaranya paling keras.

Di dalam kamar, Sekar mengunci pintu dan menempelkan telapak tangan pada dada. Jantungnya berdebar, tetapi bukan karena takut.

Ia baru saja kehilangan seratus juta rupiah.

Atau mungkin, baru malam ini ia mengakui bahwa uang itu sudah lama hilang.

Ponselnya kembali menyala. Yuni menandai seluruh anggota grup sekali lagi, menulis bahwa Sekar hendak meninggalkan orang tua demi hidup bebas di Jakarta.

Sekar menggenggam ponsel sampai buku jarinya memutih.

Ia tidak membalas.

Tidak malam ini. Tidak lagi.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!