Hujan turun sampe pagi. Gue bangun dengan kepala berat, mata perih, dan satu pertanyaan yang gak mau pergi: siapa yang sebenarnya gue bisa percaya sekarang?
Semua yang gue kira udah jelas — terbalik sepenuhnya. Farhan bukan pengecut, dia cuma rela hancur buat orang lain. Dimas bukan pelindung sempurna, dia yang mainkan semuanya dari belakang. Rina bukan penjahat murni, dia cuma putus asa yang salah jalan.
Jalan ke sekolah hari itu terasa beda. Langit masih kelabu, tanah basah, bau hujan nyangkut di udara. Gue jalan pelan, nunduk, topi turun sampe menutupi sebagian mata. Gak mau natap siapa-siapa. Gak mau siapa pun natap gue.
Baru masuk gerbang, gue lihat Dimas berdiri di sana. Sendirian. Bawa tas, tangan di saku, natap lurus ke arah gue.
Jantung gue langsung berdebar kencang, bukan karena senang — karena takut.
"Mir..." Dia maju selangkah, suaranya pelan kayak biasa. Tapi sekarang gue dengar beda. Gak lagi tenang. Lebih dingin. Lebih terukur.
Gue berhenti langkah. Jarak kita sekitar dua meter. Cukup jauh buat gak merasa terjebak.
"Kita bisa ngomong?" tanyanya lembut.
"Tentang apa?" Gue coba jaga suara tetap stabil. "Tentang lo yang nyetir waktu itu? Tentang pesan ancaman dari nomor lo sendiri? Atau tentang lo yang pakai Rina buat bikin kita saling curiga?"
Dia diam. Mulutnya terbuka sedikit, tapi gak ada kata yang keluar.
"Gue kira lo beda, Dim." Gue lanjut pelan, dada sesak. "Gue kira lo datang karena lo mau gue tenang. Ternyata lo datang karena lo mau gue lihat versi lo sendiri."
"Gue lakuin itu karena gue sayang lo!" suaranya naik sedikit, matanya liar. "Gue lihat dia nyakiti lo pelan-pelan setiap hari! Gue gak bisa diam nonton lo nangis sendirian tanpa tau alasannya!"
"Jadi caranya lo bohong juga?" Gue geleng-geleng kepala, mundur selangkah. "Bohong buat nyari kebenaran? Itu gak masuk akal, Dim."
Gue ninggalin dia berdiri di situ. Jalan masuk kelas, rasanya semua mata natap. Padahal mungkin cuma perasaan gue aja — sekarang semuanya terasa berat, seolah semua ora…
Dua Hati,Satu Pilihan
Bab 7: Di Perpustakaan, Di Tengah Keheningan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 35 Episodes
Comments