Sore itu kita dapet foto dari Dimas. Gambarnya di depan bengkel, papan nama baru dicat cerah: "Bengkel & Pusat Pelatihan Bangkit — Belajar Mandiri, Bangkit Bersama". Di depannya berdiri lima anak remaja, senyum lebar, tangan kotor oli, mata berbinar bangga.
"Mulai hari ini resmi. Mereka bukan murid gue. Mereka teman belajar. Kita benerin motor, kita benerin mimpi."
Farhan baca pesan itu senyum lebar banget, matanya berbinar bangga. "Dimas hebat banget ya. Beneran bangkit."
"Dan bukan buat dirinya sendiri," tambah gue. "Buat orang-orang yang dulu kayak dia."
Malam itu kita telepon bareng bertiga. Layar HP menampilkan wajah Dimas di balik meja kerjanya, rambut sedikit berantakan, kaos kotor, tapi senyumnya paling tenang yang pernah kita lihat.
"Terima kasih kalian," buka dia duluan. "Kalau dulu gak ada lo berdua... gue gak bakal sampai di titik ini."
"Jangan bilang gitu," kata Farhan pelan. "Lo yang berjuang. Kita cuma temenin."
"Temenin itu segalanya." Dimas sandarkan punggung ke kursi, napas lega. "Lo tau gue sadar apa? Gue gak ditakdirkan buat jadi orang hebat sendirian. Gue ditakdirkan buat bantu orang lain jadi hebat."
"Dan lo lakuin itu sekarang," kata gue tulus.
"Baru mulai. Peralatan masih seadanya, tempat masih sempit, dana juga pelan." Dia senyum tak menyerah. "Tapi mereka datang tiap hari. Suka. Semangat. Dan itu cukup."
Minggu berikutnya, Dimas kirim laporan perkembangan — tiap anak itu punya cerita sendiri: yatim piatu, putus sekolah, orang tua sakit, bingung mau ke mana.
"Gue gak ajarin mereka cuma benerin mesin," tulisnya di pesan panjang itu. "Gue ajarin: kalau rusak, bukan berarti buang. Bisa diperbaiki. Kayak diri sendiri. Kayak kita."
Suatu sore, Farhan bilang: "Gue mau bantu Dimas. Sebagian beasiswa gue, gue kirim ke sana. Beli alat, buku, seragam."
"Gue juga sisihkan sebagian uang saku gue," kata gue. "Sedikit gapapa. Yang penting rutin."
Dimas protes pas terima kiriman pertama. "Gak bisa! Kalian juga butuh!"
"Kita punya masa depan masing-masing,"…
Dua Hati,Satu Pilihan
Bab 32: Dimas Menemukan Jalannya
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 35 Episodes
Comments