BAB 2: Mengalahkan Qi dengan Alkimia

Aula Utama Keluarga Lin saat ini begitu tegang hingga terasa mencekik.

Di kursi utama, Penatua Ketiga, Lin Hai, duduk dengan wajah yang dibuat terlihat prihatin. Sementara di seberangnya, dua orang duduk santai sambil menyeruput teh.

Mereka adalah Tetua Zhao Kuang, dan seorang pemuda berjubah sutra biru dengan dagu terangkat angkuh, Tuan Muda Zhao Tian.

"Penatua Lin Hai, kami tak punya banyak waktu," ujar Zhao Kuang. Ia meletakkan cangkirnya agak keras hingga meja kayu itu berderak. "Lin Xuan sekarang sudah menjadi orang cacat. Pertunangannya dengan Nona Ningshuang akan menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Karena itu, pertunangan ini harus dibatalkan. Dan sebagai ganti rugi atas nama baik Nona Ningshuang, aku ingin kalian menyerahkan tiga Paviliun Obat di Jalan Selatan."

Lin Hai menghela napas panjang, memasang wajah paling sedih yang bisa ia buat.

"Tapi... Tetua Zhao. Tiga paviliun itu adalah tulang punggung ekonomi Keluarga Lin. Saya memahami penyesalan Keluarga Zhao atas pertunangan ini. Sebagai Pemimpin sementara Keluarga Lin, saya harus memutuskan dan menanggung malu ini."

Dalam hati, Lin Hai justru tertawa. Rencananya berjalan sempurna. Begitu stempel perjanjian mendarat, aset utama Keluarga Lin akan lenyap, dan kesalahannya bisa ia lemparkan ke Lin Xuan yang sebentar lagi mati akibat racun yang telah ia berikan. Sementara itu, putranya akan naik menjadi pewaris tanpa hambatan.

Tangannya sudah merogoh jubah, mengeluarkan stempel keluarga yang telah ia siapkan.

Zhao Tian menyeringai. "Ayo cepat, Penatua Ketiga. Jangan buang-buang waktu. Mengurusi masalah orang cacat seperti Lin Xuan hanya akan menyeret Keluarga Lin ke dalam masalah besar."

Tepat saat stempel itu hampir menyentuh kertas perjanjian...

BRAKK!

Pintu aula tiba-tiba ditendang hingga terbuka lebar.

Semua orang tersentak.

Di ambang pintu, sinar matahari sore menerobos masuk. Berdiri seorang pemuda kurus berjubah abu-abu yang usang. Wajahnya pucat, namun punggungnya tegak.

Lin Hai melotot.

"X-Xuan'er?!"

Tidak mungkin, batinnya menjerit. Jantungnya seharusnya sudah meledak lima menit lalu—apa sebenarnya yang terjadi?

Xiao Ya mengintip dari balik jubah Lin Xuan, gemetar, mencengkeram ujung bajunya erat-erat.

Lin Xuan melangkah masuk. Suaranya serak, namun terdengar jelas ke seluruh aula.

"Melihat tatapan Paman Ketiga, sepertinya kau kecewa aku belum mati."

Lin Hai buru-buru mengubah ekspresinya. "Apa-apaan omonganmu itu, Xuan'er! Paman justru sangat senang kau sudah sembuh dan bisa berjalan! Kembalilah ke kamar, di sini sedang ada urusan orang dewasa!"

"Urusan orang dewasa?" Lin Xuan melirik kertas di atas meja, lalu menatap Zhao Tian. "Kulihat ada dua pengemis yang sedang meminta-minta paviliun obatku. Sejak kapan pengemis diundang ke rapat keluarga?"

Wajah Zhao Tian seketika merah padam.

"Apa maksud ucapanmu, anjing cacat?! Berani-beraninya kau menyebut kami pengemis!" Ia menggebrak meja hingga hancur. "Kau kira kau masih jenius nomor satu itu? Sadarlah! Ningshuang sekarang sudah menjadi murid inti Sekte Pedang Awan. Sementara kau? Kau bahkan tak pantas membawakan sepatunya sekarang!"

Lin Xuan berhenti dua meter di depannya.

"Zhao Ningshuang? Wanita yang menumpang naik lewat nama Keluarga Lin-ku, lalu membuang keluargaku begitu saja setelah berada di atas? Bahkan kalau ia berlutut memohon dengan telanjang di depanku, aku tidak akan meliriknya sedikit pun."

Ia melangkah maju setengah langkah lagi.

"Tapi datang ke rumahku, mencoba merampok paviliunku dengan alasan pembatalan pertunangan? Itu sama saja kalian mencari mati."

"Hahaha, cari mati?!" Zhao Tian tertawa. "Bagus. Hari ini biar aku yang mewakili kakekmu untuk mengajarimu sopan santun!"

Dalam hati, Lin Hai bersorak. Hajar dia. Hajar sampai mati.

Zhao Tian mengumpulkan Qi. Tangan kanannya seketika menyala merah membara. Tinju Raungan Harimau Api, teknik andalan Keluarga Zhao.

"Mati kau, sampah!"

Ia melesat, mengarahkan tinjunya lurus ke jantung Lin Xuan.

Xiao Ya memejamkan mata. Tetua Zhao Kuang tersenyum penuh kemenangan, sementara Penatua Ketiga Lin Hai menahan napas.

Lin Xuan sama sekali tidak mengelak.

Di mata sang Kaisar Pil, gerakan Zhao Tian penuh kelemahan.

Membakar Qi menggunakan Pil Api Bertanduk murahan. Paru-paru kirinya penuh dengan kerak racun api yang tersumbat. Bodoh sekali.

Dalam sepersekian detik, Lin Xuan menggerakkan sisa Kekuatan Jiwanya—bukan Qi, melainkan kekuatan mental murni.

Jari kirinya menyentil pelan cangkir teh setengah penuh di meja sebelahnya.

Cling.

Air teh muncrat ke udara. Bersamaan dengan itu, abu Dupa Cendana Ungu yang mengepul di sudut ruangan tertarik oleh Kekuatan Jiwanya dan bercampur ke dalam percikan air tersebut.

Kabut tipis yang tak kasat mata itu terhirup langsung oleh Zhao Tian, yang saat itu sedang menarik napas dalam-dalam untuk memaksimalkan pukulannya.

Srettt.

Api di kepalan tangan Zhao Tian seketika padam, bagai lilin yang tersiram air.

Wajah angkuhnya berubah keunguan, matanya melotot tajam.

Tinju yang tadi menggelegar itu terhenti satu inci di depan hidung Lin Xuan. Tak mampu mengenainya sama sekali.

"Uhuk...!"

Bukannya berhasil memukul, Zhao Tian justru memuntahkan darah hitam kental dalam jumlah banyak.

Bruk!

Lututnya menghantam lantai keras-keras, tepat di depan kaki Lin Xuan. Ia berlutut, mencengkeram dadanya, tak sanggup menggerakkan satu jari pun. Qi-nya sendiri berbalik menyerang organ dalamnya.

Keheningan pun menyelimuti ruangan.

Rahang Lin Hai mengeras. Cangkir di tangan Tetua Zhao Kuang terjatuh dan pecah. Xiao Ya membuka matanya perlahan, tak percaya dengan apa yang disaksikannya.

Seorang jenius Kondensasi Qi Tingkat 5, yang hendak membunuh orang cacat tanpa Qi, justru memuntahkan darah dan berlutut di hadapannya?

"Ilmu iblis apa yang kau pakai?!" Tetua Zhao Kuang akhirnya tersadar dan meraung, Qi Tingkat 8-nya meledak dari tubuhnya. "Kau...!"

"Coba saja sentuh dia, dan ia akan mati," ucap Lin Xuan dingin bagai es.

Zhao Kuang seketika terhenti.

Lin Xuan menghela napas pelan. "Dia terkena penyimpangan Qi. Fondasi apinya sudah membusuk karena kebanyakan menelan pil murahan," katanya datar. "Kalau kau alirkan Qi-mu yang berbeda aliran ke tubuhnya sekarang, paru-parunya akan meledak. Kau mau jadi pembunuh Tuan Muda-mu sendiri? Silakan saja."

Keringat dingin mengucur di dahi Zhao Kuang. Ia tak berani mengambil risiko itu.

Lin Xuan menunduk, menatap Zhao Tian yang masih berlutut dan merintih di bawahnya.

"Membatalkan pertunangan?"

Ia mengulurkan tangan ke belakang tanpa menoleh. "Xiao Ya, ambilkan kertas dan kuas."

Xiao Ya yang masih terguncang langsung berlari membawakan kuas dan kertas. Lin Xuan menuliskan beberapa baris dengan goresan tajam.

Selesai, ia melemparkan kertas itu ke wajah Zhao Tian.

"Baca baik-baik. Ini bukan surat persetujuan pembatalan pertunangan dari kalian."

"Ini surat pembatalanku sendiri. Aku, Lin Xuan, yang menolak Zhao Ningshuang. Mulai saat ini, ia tak pantas lagi menginjakkan kaki di gerbang Keluarga Lin-ku."

Suasana aula membeku seketika.

Lin Xuan menatap Tetua Zhao Kuang.

"Sekarang bawa sampahmu ini dan enyahlah dari rumahku. Sebelum aku berubah pikiran dan membakar kalian jadi abu di sini."

Wajah Zhao Kuang memerah menahan malu dan amarah. Namun nyawa Zhao Tian lebih penting baginya. Ia menarik dan mengangkat tubuh Zhao Tian.

"Keluarga Lin... kalian harus membayar mahal untuk ini!" desisnya penuh dendam, lalu melangkah pergi.

Aula kembali sunyi.

Lin Xuan perlahan membalikkan badan, menatap Lin Hai yang gemetar di kursinya. Pemuda tanpa Qi ini auranya seratus kali lebih mengerikan daripada Kepala Keluarga mereka saat ini.

"Dan kau, Paman Ketiga."

Lin Hai tersentak.

"Obat dengan Serbuk Bunga Jarum Hitam tadi? Simpan saja untuk anakmu sendiri. Kalau kau berani main licik lagi padaku atau orang-orangku..." Lin Xuan melangkah maju selangkah, suaranya pelan namun menusuk jiwa. "...jangan harap kau bisa hidup tenang."

Lin Hai tak sanggup berkata apa-apa. Kakinya melemas seperti tersiram air es.

Lin Xuan tak menunggu jawaban. Ia berbalik dan melangkah keluar dari aula.

Begitu ia berbelok di koridor dan yakin tak ada yang melihat, tubuhnya limbung keras. Ia menabrak pilar untuk menahan diri. Wajahnya kembali pucat pasi, dan darah segar menetes dari sudut bibirnya.

Menggerakkan Kekuatan Jiwa dengan tubuh tanpa Qi seperti ini bebannya terlalu berat.

Aku harus segera berkultivasi. Kuali Naga Hitam harus segera kubangkitkan, atau tubuh ini tak akan mampu bertahan lama.

Ia mengusap darah di bibirnya, matanya menatap langit senja di luar.

Perjalanan kembali ke puncak baru saja dimulai.

Terpopuler

Comments

Aman Wijaya

Aman Wijaya

mantull Thor lanjut terus semangat semangat semangat

2026-08-23

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Kematian Sang Kaisar
2 BAB 2: Mengalahkan Qi dengan Alkimia
3 BAB 3: Tubuh Sebagai Kuali
4 BAB 4: Bangkitnya Kuali Naga Hitam
5 BAB 5: Jejak Tubuh Kutub Es
6 BAB 6: Membekukan Api, Darah di Pegunungan Abu
7 BAB 7: Menelan Api Surgawi
8 BAB 8: Array yang Hancur dan Tubuh Tembaga
9 BAB 9: Pengadilan Darah di Aula Penatua
10 BAB 10: Janji Satu Bulan
11 BAB 11: Formasi Ledakan Sembilan Istana
12 BAB 12: Kehancuran Keluarga Zhao
13 BAB 13: Perjalanan Menuju Ibukota
14 BAB 14: Menara Kuali Raksasa
15 BAB 15: Reuni Tak Terduga
16 BAB 16: Peringatan Berdarah
17 BAB 17: Koin Peledak Jiwa
18 BAB 18: Pembukaan Lelang Kekaisaran
19 BAB 19: Perang Harga
20 BAB 20: Mekarnya Teratai Kematian
21 BAB 21: Kuali Darah dan Domain Naga Sejati
22 BAB 22: Kesepakatan Nyawa
23 BAB 23: Penantang dari Benua Tengah
24 BAB 24: Konspirasi Malam
25 BAB 25: Awan Pil Keemasan
26 BAB 26: Kayu Tulang Naga Kuno
27 BAB 27: Fenomena Langit Berdarah
28 BAB 28: Tamparan Sang Kaisar
29 BAB 29: Memasuki Lautan Pasir
30 BAB 30: Altar Segel Sembilan Naga
31 BAB 31: Menelan Api Pembakar Surga
32 BAB 32: Lahirnya Paviliun Jiwa Bintang
33 BAB 33: Pembukaan Paviliun Jiwa Bintang
34 BAB 34: Ledakan Cincin Penatua Gu
35 BAB 35: Pembantai Bayangan
36 BAB 36: Badai Pil Darah
37 BAB 37: Kemurkaan Kekosongan Ilahi
38 BAB 38: Pertemuan dengan Kafilah Angin Perak
39 BAB 39: Gerbang Awan Surgawi
40 BAB 40: Murka Sang Kaisar
41 BAB 41: Kehancuran Pil Awan Emas
42 BAB 42: Aliansi Angin Perak
43 BAB 43: Hancurnya Batu Pengukur Jiwa
44 BAB 44: Hancurnya Sang Jenius Palsu
45 BAB 45: Penaklukan Api Hantu Kegelapan
46 BAB 46: Penyatuan Tiga Api
47 BAB 47: Bunga Es Kematian
48 BAB 48: Menyusupkan Kesengsaraan Langit
49 BAB 49: Kehancuran Petir Merah
50 BAB 50: Runtuhnya Langit Api Suci
51 BAB 51: Mata Rantai Benua Atas
52 BAB 52: Susunan Sembilan Naga Penelan Dewa
53 BAB 53: Pelabuhan Tulang Naga
54 BAB 54: Kapal Selam Tengkorak
55 BAB 55: Palung Keputusasaan dan Penguasa Naga Laut
Episodes

Updated 55 Episodes

1
BAB 1: Kematian Sang Kaisar
2
BAB 2: Mengalahkan Qi dengan Alkimia
3
BAB 3: Tubuh Sebagai Kuali
4
BAB 4: Bangkitnya Kuali Naga Hitam
5
BAB 5: Jejak Tubuh Kutub Es
6
BAB 6: Membekukan Api, Darah di Pegunungan Abu
7
BAB 7: Menelan Api Surgawi
8
BAB 8: Array yang Hancur dan Tubuh Tembaga
9
BAB 9: Pengadilan Darah di Aula Penatua
10
BAB 10: Janji Satu Bulan
11
BAB 11: Formasi Ledakan Sembilan Istana
12
BAB 12: Kehancuran Keluarga Zhao
13
BAB 13: Perjalanan Menuju Ibukota
14
BAB 14: Menara Kuali Raksasa
15
BAB 15: Reuni Tak Terduga
16
BAB 16: Peringatan Berdarah
17
BAB 17: Koin Peledak Jiwa
18
BAB 18: Pembukaan Lelang Kekaisaran
19
BAB 19: Perang Harga
20
BAB 20: Mekarnya Teratai Kematian
21
BAB 21: Kuali Darah dan Domain Naga Sejati
22
BAB 22: Kesepakatan Nyawa
23
BAB 23: Penantang dari Benua Tengah
24
BAB 24: Konspirasi Malam
25
BAB 25: Awan Pil Keemasan
26
BAB 26: Kayu Tulang Naga Kuno
27
BAB 27: Fenomena Langit Berdarah
28
BAB 28: Tamparan Sang Kaisar
29
BAB 29: Memasuki Lautan Pasir
30
BAB 30: Altar Segel Sembilan Naga
31
BAB 31: Menelan Api Pembakar Surga
32
BAB 32: Lahirnya Paviliun Jiwa Bintang
33
BAB 33: Pembukaan Paviliun Jiwa Bintang
34
BAB 34: Ledakan Cincin Penatua Gu
35
BAB 35: Pembantai Bayangan
36
BAB 36: Badai Pil Darah
37
BAB 37: Kemurkaan Kekosongan Ilahi
38
BAB 38: Pertemuan dengan Kafilah Angin Perak
39
BAB 39: Gerbang Awan Surgawi
40
BAB 40: Murka Sang Kaisar
41
BAB 41: Kehancuran Pil Awan Emas
42
BAB 42: Aliansi Angin Perak
43
BAB 43: Hancurnya Batu Pengukur Jiwa
44
BAB 44: Hancurnya Sang Jenius Palsu
45
BAB 45: Penaklukan Api Hantu Kegelapan
46
BAB 46: Penyatuan Tiga Api
47
BAB 47: Bunga Es Kematian
48
BAB 48: Menyusupkan Kesengsaraan Langit
49
BAB 49: Kehancuran Petir Merah
50
BAB 50: Runtuhnya Langit Api Suci
51
BAB 51: Mata Rantai Benua Atas
52
BAB 52: Susunan Sembilan Naga Penelan Dewa
53
BAB 53: Pelabuhan Tulang Naga
54
BAB 54: Kapal Selam Tengkorak
55
BAB 55: Palung Keputusasaan dan Penguasa Naga Laut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!