Dewa Alkemis Sembilan Benua

Dewa Alkemis Sembilan Benua

BAB 1: Kematian Sang Kaisar

"Yao Chen... mengapa?!"

Raungannya pecah di Puncak Nirwana. Di dalam kuali perunggu raksasa di hadapannya, Api Matahari Sembilan Langit yang berwarna emas kemerahan mengamuk liar, lepas kendali.

Lin Xuan, Kaisar Pil Jiwa Bintang, berlutut. Jubah putihnya banjir darah keemasan, dan sebilah pedang es transparan menembus punggungnya, menghancurkan jantungnya.

Yang menggenggam gagang pedang itu adalah Yao Chen, murid satu-satunya, anak yang ia pungut dan besarkan sendiri selama seratus tahun.

Yao Chen menatapnya tanpa sedikit pun penyesalan.

"Maaf, Guru. Tapi selama Guru masih hidup, aku akan selamanya menjadi bayangan—bayangan dari 'Dewa Alkemis'," bisiknya dingin. "Dan Resep Pil Keabadian itu terlalu berharga untuk sekadar jadi koleksi orang tua yang sudah tak berminat menguasai dunia lagi, seperti Guru."

Lin Xuan terbatuk darah. Tubuhnya mulai retak, dan energi jiwanya bocor ke udara.

"Dasar pengkhianat... tanpa aku, kau bahkan tidak bisa menyalakan api surgawi itu!"

Yao Chen menyeringai. "Untuk saat ini aku tak perlu bisa menyalakannya. Aku hanya perlu Guru mati."

Ia lalu mencabut pedangnya. Seketika, api di dalam kuali meledak dan menelan tubuh Lin Xuan sepenuhnya.

Pada detik terakhir sebelum kesadarannya lenyap, cahaya hitam dari cincin penyimpanannya melesat keluar, membungkus sisa jiwanya dan merobek ruang hampa.

Dalam kegelapan yang begitu pekat, hanya satu sumpah yang tersisa.

Yao Chen. Bahkan jika aku harus merangkak dari dasar Neraka Sembilan Mata Air, aku akan mencabikmu.

*****

Lima ratus tahun kemudian, Benua Tanah Merah, Wilayah Timur, Kota Awan Merah.

Rasa sakit yang merobek sumsum menjadi hal pertama yang menyambut Lin Xuan. Ia membuka mata dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi bajunya.

Bukan wangi dupa ribuan tahun. Yang pertama menusuk hidungnya justru bau ramuan gosong akibat direbus terlalu lama.

"Di mana... aku?"

Tiba-tiba ingatan asing menghantam kepalanya sekaligus. Ia memegangi pelipisnya dan mengerang kesakitan.

Tubuh ini juga bernama Lin Xuan. Seorang pemuda berusia enam belas tahun, Tuan Muda Keluarga Lin di Kota Awan Merah—salah satu wilayah di Benua Tanah Merah yang energinya begitu tipis hingga dianggap sekadar desa terpencil oleh Benua Atas.

Dan pemilik asli tubuh ini adalah seorang sampah sejati.

Tiga hari lalu, ia disergap saat ujian perburuan klan. Seseorang sengaja menembakkan jarum beracun ke punggungnya.

Racun itu tak membunuhnya seketika, melainkan menghancurkan seluruh meridiannya secara bertahap.

Bagi seorang kultivator, itu sudah termasuk kecacatan permanen, dan pemilik asli tubuh ini akhirnya mati dalam keputusasaan, membuka jalan bagi jiwa sang Kaisar Pil untuk bangkit kembali.

Lin Xuan menyeringai dingin. "Anak ini dibunuh perlahan oleh keluarganya sendiri, demi memperebutkan warisan. Hah, sungguh sebuah drama."

Ia akhirnya memejamkan mata, memeriksa tubuhnya dengan sisa Kekuatan Jiwa yang ia miliki.

"Meridian putus di delapan puluh titik. Racun Bubuk Peluruh Tulang... racun kelas rendahan yang diracik asal-asalan. Pantas saja efeknya pada tubuh pemuda ini butuh tiga hari untuk terlihat. Kalau aku yang membuatnya, tubuh pemuda ini sudah meleleh dalam tiga detik."

Sementara itu, di kedalaman Lautan Jiwanya, Lin Xuan merasakan sesuatu berdenyut pelan. Tampak sebuah kuali kecil sehitam tinta, dengan ukiran sembilan naga berkarat yang seolah tertidur lelap.

"Kuali Naga Hitam. Haha, rupanya kau ikut juga." Sudut bibirnya terangkat. "Bagus. Bagus sekali. Dengan adanya dirimu, jalanku kembali ke puncak akan jauh lebih mudah."

Ceklek.

Pintu kayu terbuka. Seorang gadis berusia lima belas tahun berlari masuk dengan mata sembab. Xiao Ya, satu-satunya pelayan yang masih mau merawatnya setelah ia dianggap cacat.

"Tuan Muda, akhirnya Anda sadar." Ia bergegas ke sisi ranjang sambil membawa mangkuk berisi cairan cokelat pekat yang masih mengepul. "Syukurlah... Penatua Ketiga mengirim obat. Katanya ini bisa mengurangi nyeri di dada. Minum selagi hangat ya, Tuan Muda."

Lin Xuan tak langsung menjawab. Namun begitu tatapannya jatuh ke mangkuk obat itu, matanya seketika menajam.

Bahkan tanpa mencicipinya, ia sudah bisa melihat setiap unsur dari uap yang mengepul itu.

Akar Rumput Pahit, Daun Darah Besi... dan Serbuk Bunga Jarum Hitam.

Dua yang pertama hanyalah obat luka biasa. Sementara yang terakhir adalah zat pemicu energi Yang. Bagi orang sehat, itu hanya akan membuat tubuh terasa panas.

Namun bagi tubuh yang meridiannya telah hancur oleh racun Yin seperti Bubuk Peluruh Tulang, benturan energi itu akan membuat jantungnya meledak.

"Berhenti," gumamnya.

"Hm? Kenapa, Tuan Muda? Biar Xiao Ya suapi..."

Tepat saat sendok itu hampir menyentuh bibirnya, Lin Xuan menepisnya.

Prang!

Mangkuk itu pecah. Cairan cokelatnya tumpah ke karpet dan langsung mendesis, mengeluarkan asap hitam sambil melubangi karpet seperti air keras.

Xiao Ya terjatuh terduduk. Wajahnya seketika pucat pasi. "I-itu... racun?!"

"Jangan sentuh itu," ucap Lin Xuan serak sambil memaksakan diri duduk. "Penatua Ketiga ingin aku mati malam ini. Supaya anaknya bisa jadi pewaris."

"Apa? Beraninya Penatua Ketiga! Tuan Muda, kita harus segera melapor. Tapi... kakek Tuan Muda sedang menutup diri untuk berkultivasi. Selain Kepala Keluarga, tak ada yang bisa membantu kita. Ah, iya—tadi pagi ada Keluarga Zhao datang."

Lin Xuan menatap Xiao Ya. "Keluarga Zhao?"

Xiao Ya mengangguk panik. "Iya, Tuan Muda. Tuan Muda Zhao Tian bersama tetua mereka. Mereka sekarang ada di Aula Utama."

"Apa yang mereka lakukan, Xiao Ya?" tanya Lin Xuan dengan nada dingin.

"Yang aku dengar dari anggota keluarga lain, mereka ingin meminta tiga paviliun obat milik Keluarga Lin sebagai ganti rugi atas pembatalan pertunangan Tuan Muda dengan Nona Zhao Ningshuang. Katanya... Keluarga Zhao tak mungkin menikahkan putri jeniusnya dengan..." Xiao Ya menggigit bibir, tak berani melanjutkan kata "sampah" itu.

Lin Xuan tertawa pelan, lalu tawanya mengeras.

"Hahaha, mau membatalkan pertunangan sambil merampok? Keluarga Zhao ini pandai sekali memanfaatkan kesempatan."

Ia akhirnya turun dari ranjang.

"Tuan Muda, jangan banyak bergerak dulu. Meridian Anda masih hancur..."

"Yang hancur meridianku, bukan kakiku."

Ia berjalan tertatih ke meja di sudut ruangan, mengambil jepit perak milik Xiao Ya, dan tanpa ragu menusukkannya ke dua titik di dadanya—titik Hati dan Gerbang Kehidupan.

"Tuan Muda!" Xiao Ya menjerit, mengira tuannya hendak bunuh diri saat menyaksikan apa yang dilakukannya.

Detik berikutnya, Lin Xuan membungkuk dan memuntahkan gumpalan darah hitam kental yang berbau busuk.

Begitu darah itu keluar, warna cerah kembali ke wajahnya. Napasnya kini terasa jauh lebih teratur.

Ia membuang jepit yang kini menghitam terkena racun, lalu mengambil jubah abu-abunya.

"Xiao Ya, ayo ke Aula Utama."

"T-tunggu, Tuan Muda. Kalau kita ke sana, Tuan Muda Zhao Tian bisa membunuh Anda. Ia sudah berada di Kondensasi Qi Tingkat 5."

Lin Xuan menoleh dan tersenyum tipis.

"Membunuhku?"

Sorot matanya berubah. Seketika, aura kaisar yang telah tertidur lima ratus tahun itu menyala kembali.

"Energiku memang belum pulih. Tubuh ini memang sangat lemah. Tapi untuk menginjak seekor serangga... aku bahkan tak perlu mengangkat tangan atau kakiku."

Terpopuler

Comments

Aman Wijaya

Aman Wijaya

semangat Lin Xuan

2026-08-22

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Kematian Sang Kaisar
2 BAB 2: Mengalahkan Qi dengan Alkimia
3 BAB 3: Tubuh Sebagai Kuali
4 BAB 4: Bangkitnya Kuali Naga Hitam
5 BAB 5: Jejak Tubuh Kutub Es
6 BAB 6: Membekukan Api, Darah di Pegunungan Abu
7 BAB 7: Menelan Api Surgawi
8 BAB 8: Array yang Hancur dan Tubuh Tembaga
9 BAB 9: Pengadilan Darah di Aula Penatua
10 BAB 10: Janji Satu Bulan
11 BAB 11: Formasi Ledakan Sembilan Istana
12 BAB 12: Kehancuran Keluarga Zhao
13 BAB 13: Perjalanan Menuju Ibukota
14 BAB 14: Menara Kuali Raksasa
15 BAB 15: Reuni Tak Terduga
16 BAB 16: Peringatan Berdarah
17 BAB 17: Koin Peledak Jiwa
18 BAB 18: Pembukaan Lelang Kekaisaran
19 BAB 19: Perang Harga
20 BAB 20: Mekarnya Teratai Kematian
21 BAB 21: Kuali Darah dan Domain Naga Sejati
22 BAB 22: Kesepakatan Nyawa
23 BAB 23: Penantang dari Benua Tengah
24 BAB 24: Konspirasi Malam
25 BAB 25: Awan Pil Keemasan
26 BAB 26: Kayu Tulang Naga Kuno
27 BAB 27: Fenomena Langit Berdarah
28 BAB 28: Tamparan Sang Kaisar
29 BAB 29: Memasuki Lautan Pasir
30 BAB 30: Altar Segel Sembilan Naga
31 BAB 31: Menelan Api Pembakar Surga
32 BAB 32: Lahirnya Paviliun Jiwa Bintang
33 BAB 33: Pembukaan Paviliun Jiwa Bintang
34 BAB 34: Ledakan Cincin Penatua Gu
35 BAB 35: Pembantai Bayangan
36 BAB 36: Badai Pil Darah
37 BAB 37: Kemurkaan Kekosongan Ilahi
38 BAB 38: Pertemuan dengan Kafilah Angin Perak
39 BAB 39: Gerbang Awan Surgawi
40 BAB 40: Murka Sang Kaisar
41 BAB 41: Kehancuran Pil Awan Emas
42 BAB 42: Aliansi Angin Perak
43 BAB 43: Hancurnya Batu Pengukur Jiwa
44 BAB 44: Hancurnya Sang Jenius Palsu
45 BAB 45: Penaklukan Api Hantu Kegelapan
46 BAB 46: Penyatuan Tiga Api
47 BAB 47: Bunga Es Kematian
48 BAB 48: Menyusupkan Kesengsaraan Langit
49 BAB 49: Kehancuran Petir Merah
50 BAB 50: Runtuhnya Langit Api Suci
51 BAB 51: Mata Rantai Benua Atas
52 BAB 52: Susunan Sembilan Naga Penelan Dewa
53 BAB 53: Pelabuhan Tulang Naga
54 BAB 54: Kapal Selam Tengkorak
55 BAB 55: Palung Keputusasaan dan Penguasa Naga Laut
Episodes

Updated 55 Episodes

1
BAB 1: Kematian Sang Kaisar
2
BAB 2: Mengalahkan Qi dengan Alkimia
3
BAB 3: Tubuh Sebagai Kuali
4
BAB 4: Bangkitnya Kuali Naga Hitam
5
BAB 5: Jejak Tubuh Kutub Es
6
BAB 6: Membekukan Api, Darah di Pegunungan Abu
7
BAB 7: Menelan Api Surgawi
8
BAB 8: Array yang Hancur dan Tubuh Tembaga
9
BAB 9: Pengadilan Darah di Aula Penatua
10
BAB 10: Janji Satu Bulan
11
BAB 11: Formasi Ledakan Sembilan Istana
12
BAB 12: Kehancuran Keluarga Zhao
13
BAB 13: Perjalanan Menuju Ibukota
14
BAB 14: Menara Kuali Raksasa
15
BAB 15: Reuni Tak Terduga
16
BAB 16: Peringatan Berdarah
17
BAB 17: Koin Peledak Jiwa
18
BAB 18: Pembukaan Lelang Kekaisaran
19
BAB 19: Perang Harga
20
BAB 20: Mekarnya Teratai Kematian
21
BAB 21: Kuali Darah dan Domain Naga Sejati
22
BAB 22: Kesepakatan Nyawa
23
BAB 23: Penantang dari Benua Tengah
24
BAB 24: Konspirasi Malam
25
BAB 25: Awan Pil Keemasan
26
BAB 26: Kayu Tulang Naga Kuno
27
BAB 27: Fenomena Langit Berdarah
28
BAB 28: Tamparan Sang Kaisar
29
BAB 29: Memasuki Lautan Pasir
30
BAB 30: Altar Segel Sembilan Naga
31
BAB 31: Menelan Api Pembakar Surga
32
BAB 32: Lahirnya Paviliun Jiwa Bintang
33
BAB 33: Pembukaan Paviliun Jiwa Bintang
34
BAB 34: Ledakan Cincin Penatua Gu
35
BAB 35: Pembantai Bayangan
36
BAB 36: Badai Pil Darah
37
BAB 37: Kemurkaan Kekosongan Ilahi
38
BAB 38: Pertemuan dengan Kafilah Angin Perak
39
BAB 39: Gerbang Awan Surgawi
40
BAB 40: Murka Sang Kaisar
41
BAB 41: Kehancuran Pil Awan Emas
42
BAB 42: Aliansi Angin Perak
43
BAB 43: Hancurnya Batu Pengukur Jiwa
44
BAB 44: Hancurnya Sang Jenius Palsu
45
BAB 45: Penaklukan Api Hantu Kegelapan
46
BAB 46: Penyatuan Tiga Api
47
BAB 47: Bunga Es Kematian
48
BAB 48: Menyusupkan Kesengsaraan Langit
49
BAB 49: Kehancuran Petir Merah
50
BAB 50: Runtuhnya Langit Api Suci
51
BAB 51: Mata Rantai Benua Atas
52
BAB 52: Susunan Sembilan Naga Penelan Dewa
53
BAB 53: Pelabuhan Tulang Naga
54
BAB 54: Kapal Selam Tengkorak
55
BAB 55: Palung Keputusasaan dan Penguasa Naga Laut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!