BAB 4: Bangkitnya Kuali Naga Hitam

Pintu pemandian terbuka.

Xiao Ya yang dari tadi berlutut sambil nangis langsung mendongak. Dan langsung bengong.

Pemuda yang keluar dari uap itu bukan lagi Tuan Muda yang sekarat tadi. Sekarang jubahnya bersih, punggungnya tegak. Dan kulitnya yang pucat sekarang berkilau sehat.

"T-Tuan Muda? Ini... ini benar benar Tuan Muda?" Xiao Ya terbata bata.

Lin Xuan tersenyum tipis.

"Sudah selesai. Mulai sekarang tidak ada lagi yang bisa menginjak nginjak kita lagi di sini. Beresin ruangan pemandian nya, terus istirahat."

Tanpa menunggu jawaban, Lin Xuan melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Waktunya sangat mepet. Paman Ketiga pasti tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan di aula tadi. Begitu Lin Hai tau Lin Xuan bisa berkultivasi lagi, yang dikirim untuknya pasti bukan lagi obat beracun, tapi para pembunuh.

Ia duduk bersila di ranjang.

Matanya terpejam, dan kesadarannya tenggelam ke Lautan Jiwanya.

Kuali Naga Hitam masih mengambang diam, karatnya masih tebal. Tapi untuk saat ini Lin Xuan sudah memiliki Qi.

"Bangunlah, teman lama."

Ia mengumpulkan semua Qi Tingkat 2-nya dan menghantamkannya langsung ke kuali itu.

Dungggh!

Dengungan menggema di kepalanya. Karat tebal itu retak. Cahaya emas hitam menyembur dari celahnya. Lapisan karat rontok satu per satu, memperlihatkan perunggu hitam legam di bawahnya.

Sembilan naga di dinding kuali yang tadinya mati mulai bergerak pelan. Lalu, mata naga pertama menyala merah darah.

Naga itu membuka mulutnya. Semburan api kecil seukuran lilin yang warnanya merah gelap kehitaman, melesat keluar dan mendarat di telapak tangan Lin Xuan di dunia nyata.

Lin Xuan membuka matanya. Di tangannya, api itu menari-nari. Suhu kamar seketika langsung naik drastis.

"Api Nafas Naga," gumamnya puas. "Bukan Api Surgawi, tapi api bawaan kuali. Api ini masih di level Binatang menengah, tapi buat meracik pil di kota kecil ini sudah lebih dari cukup."

Bersamaan dengan api itu, sebuah koordinat samar masuk ke kepalanya.

"Pegunungan Abu Kematian... lima ratus mil ke utara." Matanya seketika menyipit. "Resonansi Api... Teratai Bumi Terdalam. Jadi kau bisa melacak keberadaan Api Surgawi juga ya?"

Target pertama ketemu. Tapi Lin Xuan tidak bodoh buat langsung ke sana. Api itu ada di rawa magma. Dengan tubuh Tingkat 2 sekarang, ia masuk ke sana cuman mencari kematian.

Hukumnya sangat mutlak, mau menaklukkan api super panas, butuh penawar super dingin. Ia butuh Pil Pelindung Jantung Kutub Es.

"Masalahnya, butuh Teras Es Binatang Tingkat 3 sama Teratai Salju Seratus Tahun. Di tempat lelang harganya bisa 500 Batu Roh." Ia langsung menghitung dengan cepat. Untuk saat ini ia tidak memiliki uang sepeser pun.

Satu-satunya cara mendapatkan uang sebesar itu dalam semalam, menjual pil tingkat tinggi.

Ia tersenyum miring. "Di mata orang biasa, bahan bagus sama dengan pil bagus. Tetapi di mata Kaisar Pil, bahan sampah bisa menjadi harta.."

Ia kemudian berjalan ke dapur kecil Halaman Bambu Hijau. Disana tidak ada kuali alkimia, jadi ia mengambil periuk tanah liat yang sudah usang bekas Xiao Ya masak sup. Kemudian mencucinya.

Di sakunya masih ada sisa Koin Tembaga Spiritual yang nggak jadi dipakai Xiao Ya tadi.

Koin Tembaga di Benua bawah ini dibuat dari debu bijih roh kotor dicampur bubuk herbal. Makanya cuma jadi uang receh.

"Ekstraksi Ekstrem."

Ia melemparkan lima keping koin ke dalam periuk, dan menyalakan Api Nafas Naga di bawahnya.

Kalau seorang alkemis lain melihat apa yang dilakukan Lin Xuan, pasti mereka akan ketawa sampai mati. Bikin pil dari uang receh? Pakai periuk sup? itu sungguh gila.

Tapi apa yang terjadi, Lin Xuan mengontrol suhu di level tertinggi. Kekuatan Jiwanya menyelimuti periuk, memisahkan kotoran logam dan debu roh dengan sangat presisi.

Cuma dengan sepuluh napas, koin itu meleleh. Kotoran hitamnya jadi asap, sementara sisanya menjadi setetes cairan bening yang murni di dasar periuk.

Tangannya bergerak cepat, ia memasukan sisa Rumput Darah Ayam sebagai pengikat.

Wusss!

Api itu ia tarik. Aura dingin dan panas bertabrakan, cairan itu berputar cepat menjadi bola kecil.

Blam!

Aroma manis yang luar biasa meledak memenuhi ruangan. Lin Xuan buru-buru menahan aromanya, memakai Kekuatan Jiwa biar tidak bocor keluar. Kalau kecium para Tetua, itu bakal repot.

Ia membalik periuknya. Sebutir pil seukuran kelereng jatuh ke telapak tangannya. Pil itu putih bersih kayak mutiara. Di permukaannya, ada sembilan garis emas melingkar.

"Pil Pengumpul Qi, Sembilan Cincin," nilainya santai. "Sayang sekali, periuknya jelek, jadi cuma sembilan cincin. Kalau pakai kuali asli alkimia bisa sepuluh cincin Tapi buat kota kecil ini, ini sudah menjadi harta legenda."

Di Kota Awan Merah, alkemis bisa bikin Tiga Cincin saja sudah disebut jenius. Enam Cincin cuma bisa dibikin oleh seorang master. Sembilan Cincin? Cuma ada di dongeng dan cerita legenda.

Pil Pengumpul Qi biasa harganya sepuluh Koin Tembaga. Pil Sembilan Cincin ini tidak memiliki racun sama sekali. Kalau dikonsumsi kultivator Tingkat 9, bisa menembus tahap selanjutnya dengan akurasi 100% tanpa efek samping sedikitpun. Di pasar gelap, harganya nggak bisa diukur pakai uang.

Lin Xuan langsung mengambil jubah hitam bertudung panjang dari lemarinya. Ia membungkus dirinya rapat rapat.

Malam semakin larut, bayangan hitam melesat keluar dari Kediaman Keluarga Lin.

Tujuannya bukan paviliun keluarga Lin, melainkan Paviliun Seratus Herbal - cabang Asosiasi Alkemis, faksi paling netral dan paling kaya di kota.

Jalanan semakin sepi, tapi paviliun itu masih terang benderang.

Begitu Lin Xuan yang tertutup tudung hitam melangkah untuk masuk, seketika dua penjaga besar Tingkat 6 menyilangkan tombak.

"Tunjukan Identitas atau plakat VIP!" bentak penjaga yang berada di sebelah kiri.

Di balik tudung, Lin Xuan mendengus.

Ia tidak membuangnya waktu untuk berbicara. Ia hanya melepaskan sedikit tekanan Kekuatan Jiwanya, dan dihantamkan ke kedua penjaga itu.

Dua penjaga itu langsung pucat. Kakinya gemetar. Rasanya kayak gunung dijatuhkan ke pundaknya. Tombak mereka jatuh berdenting ke lantai marmer.

Suara serak yang sengaja dipalsukan keluar dari balik tudung, pelan tapi bikin bulu kuduk berdiri.

"Panggil Penilai Utama kalian. Bilang, ada Tuan Tua bawa obat yang seumur hidup kalian belum pernah lihat di kota kecil ini."

Terpopuler

Comments

Aman Wijaya

Aman Wijaya

gaaas pooolll Thor 💪💪💪 terus

2026-08-23

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Kematian Sang Kaisar
2 BAB 2: Mengalahkan Qi dengan Alkimia
3 BAB 3: Tubuh Sebagai Kuali
4 BAB 4: Bangkitnya Kuali Naga Hitam
5 BAB 5: Jejak Tubuh Kutub Es
6 BAB 6: Membekukan Api, Darah di Pegunungan Abu
7 BAB 7: Menelan Api Surgawi
8 BAB 8: Array yang Hancur dan Tubuh Tembaga
9 BAB 9: Pengadilan Darah di Aula Penatua
10 BAB 10: Janji Satu Bulan
11 BAB 11: Formasi Ledakan Sembilan Istana
12 BAB 12: Kehancuran Keluarga Zhao
13 BAB 13: Perjalanan Menuju Ibukota
14 BAB 14: Menara Kuali Raksasa
15 BAB 15: Reuni Tak Terduga
16 BAB 16: Peringatan Berdarah
17 BAB 17: Koin Peledak Jiwa
18 BAB 18: Pembukaan Lelang Kekaisaran
19 BAB 19: Perang Harga
20 BAB 20: Mekarnya Teratai Kematian
21 BAB 21: Kuali Darah dan Domain Naga Sejati
22 BAB 22: Kesepakatan Nyawa
23 BAB 23: Penantang dari Benua Tengah
24 BAB 24: Konspirasi Malam
25 BAB 25: Awan Pil Keemasan
26 BAB 26: Kayu Tulang Naga Kuno
27 BAB 27: Fenomena Langit Berdarah
28 BAB 28: Tamparan Sang Kaisar
29 BAB 29: Memasuki Lautan Pasir
30 BAB 30: Altar Segel Sembilan Naga
31 BAB 31: Menelan Api Pembakar Surga
32 BAB 32: Lahirnya Paviliun Jiwa Bintang
33 BAB 33: Pembukaan Paviliun Jiwa Bintang
34 BAB 34: Ledakan Cincin Penatua Gu
35 BAB 35: Pembantai Bayangan
36 BAB 36: Badai Pil Darah
37 BAB 37: Kemurkaan Kekosongan Ilahi
38 BAB 38: Pertemuan dengan Kafilah Angin Perak
39 BAB 39: Gerbang Awan Surgawi
40 BAB 40: Murka Sang Kaisar
41 BAB 41: Kehancuran Pil Awan Emas
42 BAB 42: Aliansi Angin Perak
43 BAB 43: Hancurnya Batu Pengukur Jiwa
44 BAB 44: Hancurnya Sang Jenius Palsu
45 BAB 45: Penaklukan Api Hantu Kegelapan
46 BAB 46: Penyatuan Tiga Api
47 BAB 47: Bunga Es Kematian
48 BAB 48: Menyusupkan Kesengsaraan Langit
49 BAB 49: Kehancuran Petir Merah
50 BAB 50: Runtuhnya Langit Api Suci
51 BAB 51: Mata Rantai Benua Atas
52 BAB 52: Susunan Sembilan Naga Penelan Dewa
53 BAB 53: Pelabuhan Tulang Naga
54 BAB 54: Kapal Selam Tengkorak
55 BAB 55: Palung Keputusasaan dan Penguasa Naga Laut
Episodes

Updated 55 Episodes

1
BAB 1: Kematian Sang Kaisar
2
BAB 2: Mengalahkan Qi dengan Alkimia
3
BAB 3: Tubuh Sebagai Kuali
4
BAB 4: Bangkitnya Kuali Naga Hitam
5
BAB 5: Jejak Tubuh Kutub Es
6
BAB 6: Membekukan Api, Darah di Pegunungan Abu
7
BAB 7: Menelan Api Surgawi
8
BAB 8: Array yang Hancur dan Tubuh Tembaga
9
BAB 9: Pengadilan Darah di Aula Penatua
10
BAB 10: Janji Satu Bulan
11
BAB 11: Formasi Ledakan Sembilan Istana
12
BAB 12: Kehancuran Keluarga Zhao
13
BAB 13: Perjalanan Menuju Ibukota
14
BAB 14: Menara Kuali Raksasa
15
BAB 15: Reuni Tak Terduga
16
BAB 16: Peringatan Berdarah
17
BAB 17: Koin Peledak Jiwa
18
BAB 18: Pembukaan Lelang Kekaisaran
19
BAB 19: Perang Harga
20
BAB 20: Mekarnya Teratai Kematian
21
BAB 21: Kuali Darah dan Domain Naga Sejati
22
BAB 22: Kesepakatan Nyawa
23
BAB 23: Penantang dari Benua Tengah
24
BAB 24: Konspirasi Malam
25
BAB 25: Awan Pil Keemasan
26
BAB 26: Kayu Tulang Naga Kuno
27
BAB 27: Fenomena Langit Berdarah
28
BAB 28: Tamparan Sang Kaisar
29
BAB 29: Memasuki Lautan Pasir
30
BAB 30: Altar Segel Sembilan Naga
31
BAB 31: Menelan Api Pembakar Surga
32
BAB 32: Lahirnya Paviliun Jiwa Bintang
33
BAB 33: Pembukaan Paviliun Jiwa Bintang
34
BAB 34: Ledakan Cincin Penatua Gu
35
BAB 35: Pembantai Bayangan
36
BAB 36: Badai Pil Darah
37
BAB 37: Kemurkaan Kekosongan Ilahi
38
BAB 38: Pertemuan dengan Kafilah Angin Perak
39
BAB 39: Gerbang Awan Surgawi
40
BAB 40: Murka Sang Kaisar
41
BAB 41: Kehancuran Pil Awan Emas
42
BAB 42: Aliansi Angin Perak
43
BAB 43: Hancurnya Batu Pengukur Jiwa
44
BAB 44: Hancurnya Sang Jenius Palsu
45
BAB 45: Penaklukan Api Hantu Kegelapan
46
BAB 46: Penyatuan Tiga Api
47
BAB 47: Bunga Es Kematian
48
BAB 48: Menyusupkan Kesengsaraan Langit
49
BAB 49: Kehancuran Petir Merah
50
BAB 50: Runtuhnya Langit Api Suci
51
BAB 51: Mata Rantai Benua Atas
52
BAB 52: Susunan Sembilan Naga Penelan Dewa
53
BAB 53: Pelabuhan Tulang Naga
54
BAB 54: Kapal Selam Tengkorak
55
BAB 55: Palung Keputusasaan dan Penguasa Naga Laut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!