BAB 3: Tubuh Sebagai Kuali

Begitu pintu Halaman Bambu Hijau tertutup, punggung Lin Xuan yang tegak di aula tadi langsung ambruk.

Uhuk!

Darah segar menetes dari sudut bibirnya.

"Tuan Muda!" Xiao Ya langsung panik memapahnya ke ranjang. Wajahnya masih pucat karena kejadian di aula. "Tuan Muda, apakah yang dilakukan tadi itu benar ilmu iblis? Saya pernah dengar di pasar, ada yang melakukan hal seperti itu. dan keesokan nya dia langsung mati!"

Lin Xuan pengen ketawa mendengar ocehan pelayanan nya ini, tapi dadanya masih sakit.

"Xiao Ya, imajinasimu kebanyakan mendengarkan tukang cerita di pasar," katanya sambil duduk bersila. "Itu bukan ilmu iblis. Cuma trik kecil. Tapi kau benar, tubuh ini sudah di ambang batasnya."

Kekuatan Jiwa yang ia gunakan buat ngerjain Zhao Tian tadi memang menguras habis tenaganya. Sisa racun di meridiannya mulai berontak lagi. Kalau dibiarkan terus, meridiannya akan membusuk secara permanen.

Ia merogoh saku jubahnya, mengambil isinya ke telapak tangannya

Sepuluh keping Koin Tembaga Spiritual. Itu seluruh harta Lin Xuan yang dimiliki saat ini.

"Xiao Ya, dengerin baik-baik."

"Ya, Tuan Muda!"

"Bawa ini ke pasar pinggiran. Jangan ke paviliun keluarga kita, Paman Ketiga pasti akan mengusirmu. Belikan tiga batang Rumput Darah Ayam, dua kelopak Bunga Api Liar, sepotong Akar Tembaga Berkarat. Sisanya belikan arang kayu keras yang paling panas."

Xiao Ya melongo.

"Hah? Tuan Muda, Rumput Darah Ayam dan Bunga Api Liar, itu kan bahan makanan kuda tanduk kita. Sementara Akar Tembaga Berkarat malah beracun! Tuan Muda mau ngapain membeli bahan sampah seperti itu?"

"Buat ku jadikan obat."

"Obat? Apa tidak salah, Tuan Muda!"

"Belikan saja Xiao Ya, jangan banyak tanya. Terus nanti siapin aku bak mandi kayu terbesar, isi air sampai penuh dan panasin sampai mendidih."

Nada suaranya Tuannya tidak bisa dibantah. Xiao Ya yang masih bingung akhirnya mengangguk dan berlari keluar dengan keranjang bambu.

Begitu sendirian, Lin Xuan memejamkan matanya. Kesadarannya masuk ke Lautan Jiwa.

Di tengah kegelapan, Kuali Naga Hitam melayang diam. Karatnya tebal dan tidak bergerak sama sekali.

Seperti dugaanku, batinnya. Mau membangunkannya membutuhkan Qi murni. Tapi untuk saat ini ia tidak memiliki Qi sama sekali, karena meridiannya putus di 80 titik. Sementara untuk memperbaiki meridian itu membutuhkan pil, dan membuat pil membutuhkan kuali dan Qi.

Semua alkemis lain kalau di posisi ini pasti putus asa, dan menjadi cacat seumur hidup.

Tapi Lin Xuan bukan alkemis biasa.

"Kalau tidak punya kuali... tubuhku saja yang menjadi kualinya."

Ada satu catatan terlarang dari Era Primordial yang pernah ia baca: Teknik Tungku Daging Sembilan Kesengsaraan. Manusia tidak dipakai sebagai wadah kultivasi, tapi sebagai kuali hidup.

Tidak ada yang berani mencobanya, karena teknik ini bisa membuat jiwa hancur menjadi debu.

Tapi bagi Lin Xuan yang pernah merasakan sakit di jantung nya. Rasa sakit fisik hanya seperti digigit semut.

Satu jam kemudian, Xiao Ya kembali dengan napas ngos-ngosan. Keranjang yang berisi bahan sampah itu dan sekantong arang hitam ada di punggungnya. Ia langsung menyalakan api di ruang pemandian, mengisi bak kayu besar sampai penuh.

Airnya mulai menggelembung dan uap panas mulai memenuhi ruangan.

"Kau bsia keluar, Xiao Ya." kata Lin Xuan.

"Tapi Tuan Muda, airnya sangat mendidih! Nanti kulit Tuan Muda bisa melepuh!"

"Tidak apa apa. Apapun yang kau dengar nanti dari dalam, jangan mencoba masuk sebelum aku panggil."

Satu kata itu bikin Xiao Ya mundur dengan gemetar dan menutup pintu.

Lin Xuan melepaskan jubahnya. Tubuhnya kurus dan pucat, bahkan penuh urat hitam yang merambat di meridian yang mulai membusuk.

Tanpa ragu, ia melompat masuk ke dalam bak yang airnya mendidih.

Ssssst!

Kulitnya langsung memerah. Rasa terbakar menyapu seluruh tubuhnya. Tapi Lin Xuan cuma menggertakkan gigi dan duduk bersila di dalamnya.

Ia kemudian memasukan semua Rumput Darah Ayam dan Bunga Api Liar ke dalam bak. Air langsung berubah merah darah dan kental. Bau karat langsung menyengat. Terakhir, ia mematahkan Akar Tembaga Berkarat dan menelan getahnya.

Duar!

Tubuhnya meledak seperti gunung berapi meletus dari dalam.

Energi liar dari rumput dan bunga itu menerobos pori-porinya, mengamuk di pembuluh darah. Getah Akar Tembaga meledak di perutnya, mengeras dan mencoba merobek organnya.

Tungku Daging, Putaran Pertama, Kupas tulang dan rebus meridian.

Ia pakai teknik kuno itu. Ia kunci semua energi buas itu di dalam tubuh, tidak boleh keluar. Ia paksa energi itu untuk menabrak sisa racun Bubuk Peluruh Tulang yang mengendap di 80 titik meridian yang putus.

Ini bukan penyembuhan. Ini adalah perang di dalam tubuhnya sendiri.

Energi Yang melawan Energi Yin, tempat perangnya adalah meridian Lin Xuan. Rasanya seperti jutaan jarum panas ditusukkan ke saraf lalu ditarik paksa. Darah menetes dari hidung, telinga, dan matanya, dan bercampur dengan air bak yang mendidih.

Kalau konsentrasinya terputus sedetik saja, tubuhnya akan meledak.

Tapi Lin Xuan adalah Kaisar Pil. Ia atur Kekuatan Jiwanya. Ia paksa energi liar itu tidak cuma membakar racun, tapi melelehkannya jadi sesuatu untuk menyambung kembali meridiannya.

Krak... krak...

Suara retakan halus terdengar dari dalam tubuhnya. Meridian yang busuk itu terbakar habis, lalu tumbuh lagi. Yang baru ini berbeda. Lebih lebar, dan lebih keras, luarnya mengkilap seperti dilapisi tembaga.

Di luar, Xiao Ya berlutut sambil menangis, mendengar rintihan tertahan tuannya dari celah pintu.

Di dalam, air merah darah itu perlahan berubah hitam pekat, bau busuk menyengat, itu semua kotoran dan racun yang dipaksa keluar dari pori-pori Lin Xuan.

Saat meridian ke-80 tersambung, angin di atas Halaman Bambu Hijau berputar.

Energi Spiritual dari seluruh Kota Awan Merah tertarik, menembus atap dan masuk ke ubun-ubun Lin Xuan dengan kecepatan mengerikan.

BOOM!

Gelombang udara meledak. Bak kayu raksasa itu hancur jadi kepingan. Air hitam berbau busuk muncrat ke seluruh dinding.

Akhirnya Kondensasi Qi Tingkat 1.

Belum berhenti. Meridian barunya jauh lebih besar dari orang normal. Ia menyedot Qi terus menerus.

BOOM!

Kondensasi Qi Tingkat 2.

Lin Xuan langsung menghentikannya. Ia tahu, naik tingkat terlalu cepat akan membuat pondasinya rapuh. Tingkat 2 sudah lebih dari cukup untuk saat ini.

Ia membuka matanya. Mata hitamnya berkilat seperti bintang.

Ia berdiri di tengah puing bak mandi. Tubuh kurus yang tadi pucat kini berubah. Otot dan kulitnya tidak pucat lagi tapi berkilau sehat seperti giok.

Ia mengepalkan tangannya dan udara di sekitarnya berderak pelan.

"Tidak buruk," gumamnya dengan senyum miring. "Meridiannya bukan cuma sembuh, tapi ditempa jadi Tembaga. Ketahanan tubuhku sekarang di atas kultivator Tingkat 2."

Ia meraih handuk, menutupi tubuhnya, dan menatap pintu.

"Paman Ketiga, Keluarga Zhao... kalian pikir jenius sudah jatuh? Sayang sekali. Kalian baru saja membangunkan monster."

Terpopuler

Comments

baca yg gue suka

baca yg gue suka

ini cerita silat, tp pemilihan katanya bhs milenial
dibaca jd gak nyaman

2026-08-17

2

Aman Wijaya

Aman Wijaya

lanjut terus

2026-08-23

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Kematian Sang Kaisar
2 BAB 2: Mengalahkan Qi dengan Alkimia
3 BAB 3: Tubuh Sebagai Kuali
4 BAB 4: Bangkitnya Kuali Naga Hitam
5 BAB 5: Jejak Tubuh Kutub Es
6 BAB 6: Membekukan Api, Darah di Pegunungan Abu
7 BAB 7: Menelan Api Surgawi
8 BAB 8: Array yang Hancur dan Tubuh Tembaga
9 BAB 9: Pengadilan Darah di Aula Penatua
10 BAB 10: Janji Satu Bulan
11 BAB 11: Formasi Ledakan Sembilan Istana
12 BAB 12: Kehancuran Keluarga Zhao
13 BAB 13: Perjalanan Menuju Ibukota
14 BAB 14: Menara Kuali Raksasa
15 BAB 15: Reuni Tak Terduga
16 BAB 16: Peringatan Berdarah
17 BAB 17: Koin Peledak Jiwa
18 BAB 18: Pembukaan Lelang Kekaisaran
19 BAB 19: Perang Harga
20 BAB 20: Mekarnya Teratai Kematian
21 BAB 21: Kuali Darah dan Domain Naga Sejati
22 BAB 22: Kesepakatan Nyawa
23 BAB 23: Penantang dari Benua Tengah
24 BAB 24: Konspirasi Malam
25 BAB 25: Awan Pil Keemasan
26 BAB 26: Kayu Tulang Naga Kuno
27 BAB 27: Fenomena Langit Berdarah
28 BAB 28: Tamparan Sang Kaisar
29 BAB 29: Memasuki Lautan Pasir
30 BAB 30: Altar Segel Sembilan Naga
31 BAB 31: Menelan Api Pembakar Surga
32 BAB 32: Lahirnya Paviliun Jiwa Bintang
33 BAB 33: Pembukaan Paviliun Jiwa Bintang
34 BAB 34: Ledakan Cincin Penatua Gu
35 BAB 35: Pembantai Bayangan
36 BAB 36: Badai Pil Darah
37 BAB 37: Kemurkaan Kekosongan Ilahi
38 BAB 38: Pertemuan dengan Kafilah Angin Perak
39 BAB 39: Gerbang Awan Surgawi
40 BAB 40: Murka Sang Kaisar
41 BAB 41: Kehancuran Pil Awan Emas
42 BAB 42: Aliansi Angin Perak
43 BAB 43: Hancurnya Batu Pengukur Jiwa
44 BAB 44: Hancurnya Sang Jenius Palsu
45 BAB 45: Penaklukan Api Hantu Kegelapan
46 BAB 46: Penyatuan Tiga Api
47 BAB 47: Bunga Es Kematian
48 BAB 48: Menyusupkan Kesengsaraan Langit
49 BAB 49: Kehancuran Petir Merah
50 BAB 50: Runtuhnya Langit Api Suci
51 BAB 51: Mata Rantai Benua Atas
52 BAB 52: Susunan Sembilan Naga Penelan Dewa
53 BAB 53: Pelabuhan Tulang Naga
54 BAB 54: Kapal Selam Tengkorak
55 BAB 55: Palung Keputusasaan dan Penguasa Naga Laut
Episodes

Updated 55 Episodes

1
BAB 1: Kematian Sang Kaisar
2
BAB 2: Mengalahkan Qi dengan Alkimia
3
BAB 3: Tubuh Sebagai Kuali
4
BAB 4: Bangkitnya Kuali Naga Hitam
5
BAB 5: Jejak Tubuh Kutub Es
6
BAB 6: Membekukan Api, Darah di Pegunungan Abu
7
BAB 7: Menelan Api Surgawi
8
BAB 8: Array yang Hancur dan Tubuh Tembaga
9
BAB 9: Pengadilan Darah di Aula Penatua
10
BAB 10: Janji Satu Bulan
11
BAB 11: Formasi Ledakan Sembilan Istana
12
BAB 12: Kehancuran Keluarga Zhao
13
BAB 13: Perjalanan Menuju Ibukota
14
BAB 14: Menara Kuali Raksasa
15
BAB 15: Reuni Tak Terduga
16
BAB 16: Peringatan Berdarah
17
BAB 17: Koin Peledak Jiwa
18
BAB 18: Pembukaan Lelang Kekaisaran
19
BAB 19: Perang Harga
20
BAB 20: Mekarnya Teratai Kematian
21
BAB 21: Kuali Darah dan Domain Naga Sejati
22
BAB 22: Kesepakatan Nyawa
23
BAB 23: Penantang dari Benua Tengah
24
BAB 24: Konspirasi Malam
25
BAB 25: Awan Pil Keemasan
26
BAB 26: Kayu Tulang Naga Kuno
27
BAB 27: Fenomena Langit Berdarah
28
BAB 28: Tamparan Sang Kaisar
29
BAB 29: Memasuki Lautan Pasir
30
BAB 30: Altar Segel Sembilan Naga
31
BAB 31: Menelan Api Pembakar Surga
32
BAB 32: Lahirnya Paviliun Jiwa Bintang
33
BAB 33: Pembukaan Paviliun Jiwa Bintang
34
BAB 34: Ledakan Cincin Penatua Gu
35
BAB 35: Pembantai Bayangan
36
BAB 36: Badai Pil Darah
37
BAB 37: Kemurkaan Kekosongan Ilahi
38
BAB 38: Pertemuan dengan Kafilah Angin Perak
39
BAB 39: Gerbang Awan Surgawi
40
BAB 40: Murka Sang Kaisar
41
BAB 41: Kehancuran Pil Awan Emas
42
BAB 42: Aliansi Angin Perak
43
BAB 43: Hancurnya Batu Pengukur Jiwa
44
BAB 44: Hancurnya Sang Jenius Palsu
45
BAB 45: Penaklukan Api Hantu Kegelapan
46
BAB 46: Penyatuan Tiga Api
47
BAB 47: Bunga Es Kematian
48
BAB 48: Menyusupkan Kesengsaraan Langit
49
BAB 49: Kehancuran Petir Merah
50
BAB 50: Runtuhnya Langit Api Suci
51
BAB 51: Mata Rantai Benua Atas
52
BAB 52: Susunan Sembilan Naga Penelan Dewa
53
BAB 53: Pelabuhan Tulang Naga
54
BAB 54: Kapal Selam Tengkorak
55
BAB 55: Palung Keputusasaan dan Penguasa Naga Laut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!