KEPUTUSAN DAN JEJAK LUKISAN MALAM

​Cahaya keemasan matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah tirai tipis kamar utama, membiaskan sinar ke atas lantai marmer dan tempat tidur berukuran king-size. Elara perlahan membuka matanya. Rasa pening yang luar biasa langsung menyerang kepalanya, menyisakan ketidaknyamanan yang asing di sekujur tubuhnya. Efek obat perangsang yang semalam membakar aliran darahnya kini telah sepenuhnya hilang, meninggalkan ingatan samar-samar yang menghantam kesadarannya bagai petir di siang bolong.

​Saat Elara menoleh ke samping, dadanya mendadak sesak dan napasnya tertahan.

​Di sebelahnya, terbaring seorang pria berparas tampan dengan rahang tegas dan rambut sedikit berantakan. Pria itu tertidur lelap tanpa mengenakan atasan, memperlihatkan dada bidang serta bahu kokoh yang dipenuhi beberapa bekas luka tipis. Mereka berada di bawah satu selimut yang sama. Seketika itu juga, memori malam sebelumnya berputar kencang di kepala Elara—suasana klab, kejaran dua pria, tembakan senjata di tengah hutan, dan keputusan nekat yang ia ambil di kamar ini.

​Rasa panik dan malu yang luar biasa membakar wajahnya. Tanpa membuang waktu, Elara mencoba menyibak selimut dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Jemarinya yang gemetar meraba-raba pakaiannya yang berserakan di tepi tempat tidur, berniat untuk merapikan diri dan melarikan diri sesegera mungkin dari tempat berbau bahaya tersebut.

​Namun, sebelum Elara berhasil menegakkan tubuhnya, sebuah gerakan kilat terjadi.

​Tangan kekar berurat milik Haidar bergerak cepat memotong jarak. Cengkeraman jemarinya yang hangat namun erat melingkari pergelangan tangan Elara, menarik tubuh mungil gadis itu kembali merapat ke atas kasur tanpa kesulitan sedikit pun.

​Elara terperanjat, membelalakkan matanya saat tubuhnya kembali terhempas pelan ke atas bantal. Ia mendongak dan langsung bersatunya tatapan matanya dengan manik mata tajam bernuansa gelap milik Haidar. Pria itu kini sudah sepenuhnya terbangun, menatap Elara dengan pandangan dingin yang sulit dibaca dari balik jarak mereka yang begitu dekat.

​"Kau mau pergi ke mana?" suara Haidar terdengar berat dan serak khas bangun tidur, menggempa di dalam heningnya kamar pagi itu.

​Suasana di dalam kamar tidur yang luas itu mendadak menjadi begitu berat dan mencekik. Elara mencoba menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman Haidar, namun lingkaran jemari pria itu masih begitu kokoh, seolah menahannya dalam orbit dominasi yang tak terelakkan. Dengan napas yang masih tidak teratur dan mata yang menampung genangan air mata menahan panik, Elara memberanikan diri menatap tepat ke dalam manik mata tajam milik pria di hadapannya.

​"A-aku harus pulang..." bisik Elara dengan suara gemetar, berusaha sekuat tenaga mempertahankan keutuhan harga dirinya yang tersisa.

​Haidar tidak menyela. Ia hanya diam mematung, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir gadis itu dengan tatapan yang semakin dingin dan tak tersentuh.

​"Orang tuaku... perusahaan Ayahku hancur. Mereka telah menjodohkanku dengan seorang pria tua kaya raya demi menyelamatkan bisnis keluarga," Elara menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya, nada suaranya terdengar pasrah dan penuh keputusasaan. "Jika aku melarikan diri atau menolak pernikahan ini... orang tuaku akan benar-benar bangkrut dan hancur. Aku tidak punya pilihan lain."

​Kalimat itu melayang di udara, membawa kenyataan pahit yang harus ia hadapi setelah malam kebebasan yang kelam. Elara menundukkan kepalanya, menunggu reaksi dari bos mafia yang baru saja membagikan malam dengannya. Apakah pria ini akan marah? Menahannya? Atau justru menertawakan kemalangannya?

​Namun, Haidar sama sekali tidak memberikan respons verbal. Tidak ada raut terkejut, kasihan, apalagi amarah di wajahnya yang bak pahatan marmer. Tatapannya tetap datar, memancarkan aura dingin yang tak terekspresikan. Perlahan, cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Elara mengendur, lalu terlepas sepenuhnya.

​Haidar memalingkan wajahnya, mengubah posisi duduknya di tepi ranjang membelakangi Elara tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan itu adalah izin implisit—sebuah penolakan dingin untuk mencampuri urusan hidup sang gadis lebih jauh.

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Elara segera memungut pakaiannya, membenahi penampilannya dengan jemari yang gemetar, dan melangkah keluar dari kamar utama tersebut. Sepanjang lorong mansion hingga melewati gerbang tinggi, tak satu pun pengawal yang menghentikannya; perintah tacit sang bos telah melapangkan jalannya.

​Elara melangkah meninggalkan mansion megah itu menuju jalan raya, kembali ke dalam pelukan takdir mengerikan yang telah menunggunya di rumah, tanpa menyadari bahwa jejak kehadirannya telah membakar sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya di dalam dada seorang Haidar.

Episodes
1 BAYANG-BAYANG JEBAKAN DAN MALAM YANG GELAP
2 KEPUTUSAN DI BALIK KETENANGAN MALAM
3 KEPUTUSAN DAN JEJAK LUKISAN MALAM
4 RATAPAN DI BALIK PINTU TERKUNCI
5 NAMA YANG TERTINGGAL DI KANVAS MALAM
6 ISTANA DENGAN RANTAI TAK TERLIHAT
7 PATUH DALAM INTRIK
8 TANDA-TANDA YANG MENAKUTKAN
9 AMARAH SANG BOS MAFIA
10 HILANG TANPA JEJAK
11 SECERCAH KEBENARAN DI BALIK PINTU
12 DUA GARIS DAN HAK MILIK MUTLAK
13 KEPUTUSAN DAN JANJI SEDERHANA
14 HANGATNYA PAGI YANG BEDA
15 IRING-IRINGAN SANG PENGUASA
16 BUKTI DI BALIK LENGAN KEMEJA
17 KELEGAAN DI AMBANG PINTU
18 ANGGUN DALAM BALUTAN HITAM
19 KECUPAN DAN KEHANGATAN MALAM
20 PERTEMUAN YANG TAK DIUNDANG
21 PENOLAKAN DAN KETEGASAN SANG BOS
22 BATAS KESABARAN SANG BOS
23 KEHILANGAN YANG MENGHANCURKAN
24 TANGISAN YANG MEMECAH KEHENINGAN
25 HARAPAN DI BALIK DUKA
26 PERMINTAAN SEDERHANA
27 DENDAM DAN KEKESALAN DI PINGGIRAN KOTA
28 TELEPON DARI TETUA
29 PUTUSNYA TALI HARAPAN
30 RESTU DARI KELUARGA
31 AWAL YANG BARU
32 ANCAMAN DI BALIK KETENANGAN
33 PANGGILAN DI TENGAH PERJALANAN
34 PERMAINAN SANG MUSUH
35 AKHIR SANG MUSUH
36 RAHASIA DALAM PELUKAN
37 KETENANGAN SETELAH BADAI
38 PENGKHIANATAN DI DALAM DINDING BESI
39 ANCAMAN DI RUANG REMANG
40 RAHASIA DI BALIK PINTU TERTUTUP
41 AMARAH SANG PENGUASA
42 KEBENARAN YANG TERBONGKAR
43 PERHITUNGAN TERAKHIR
44 DI BALIK PINTU YANG TERKUNCI
45 KABAR YANG MENGUBAH DUNIA
46 PERHATIAN YANG MELIMPAH
47 SEMANGKUK HANGAT DAN PELUKAN KELUARGA
48 DUA DETAK JANTUNG
49 TANGISAN DIBALIK RASA MANIS
50 JANJI DI UJUNG SENJA
Episodes

Updated 50 Episodes

1
BAYANG-BAYANG JEBAKAN DAN MALAM YANG GELAP
2
KEPUTUSAN DI BALIK KETENANGAN MALAM
3
KEPUTUSAN DAN JEJAK LUKISAN MALAM
4
RATAPAN DI BALIK PINTU TERKUNCI
5
NAMA YANG TERTINGGAL DI KANVAS MALAM
6
ISTANA DENGAN RANTAI TAK TERLIHAT
7
PATUH DALAM INTRIK
8
TANDA-TANDA YANG MENAKUTKAN
9
AMARAH SANG BOS MAFIA
10
HILANG TANPA JEJAK
11
SECERCAH KEBENARAN DI BALIK PINTU
12
DUA GARIS DAN HAK MILIK MUTLAK
13
KEPUTUSAN DAN JANJI SEDERHANA
14
HANGATNYA PAGI YANG BEDA
15
IRING-IRINGAN SANG PENGUASA
16
BUKTI DI BALIK LENGAN KEMEJA
17
KELEGAAN DI AMBANG PINTU
18
ANGGUN DALAM BALUTAN HITAM
19
KECUPAN DAN KEHANGATAN MALAM
20
PERTEMUAN YANG TAK DIUNDANG
21
PENOLAKAN DAN KETEGASAN SANG BOS
22
BATAS KESABARAN SANG BOS
23
KEHILANGAN YANG MENGHANCURKAN
24
TANGISAN YANG MEMECAH KEHENINGAN
25
HARAPAN DI BALIK DUKA
26
PERMINTAAN SEDERHANA
27
DENDAM DAN KEKESALAN DI PINGGIRAN KOTA
28
TELEPON DARI TETUA
29
PUTUSNYA TALI HARAPAN
30
RESTU DARI KELUARGA
31
AWAL YANG BARU
32
ANCAMAN DI BALIK KETENANGAN
33
PANGGILAN DI TENGAH PERJALANAN
34
PERMAINAN SANG MUSUH
35
AKHIR SANG MUSUH
36
RAHASIA DALAM PELUKAN
37
KETENANGAN SETELAH BADAI
38
PENGKHIANATAN DI DALAM DINDING BESI
39
ANCAMAN DI RUANG REMANG
40
RAHASIA DI BALIK PINTU TERTUTUP
41
AMARAH SANG PENGUASA
42
KEBENARAN YANG TERBONGKAR
43
PERHITUNGAN TERAKHIR
44
DI BALIK PINTU YANG TERKUNCI
45
KABAR YANG MENGUBAH DUNIA
46
PERHATIAN YANG MELIMPAH
47
SEMANGKUK HANGAT DAN PELUKAN KELUARGA
48
DUA DETAK JANTUNG
49
TANGISAN DIBALIK RASA MANIS
50
JANJI DI UJUNG SENJA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!