RATAPAN DI BALIK PINTU TERKUNCI

​Mobil taksi yang ditumpangi Elara akhirnya berhenti tepat di depan gerbang besi rumahnya. Setelah membayar dengan sisa uang tunai yang ada di dalam tas kecilnya, Elara melangkah masuk dengan tubuh yang terasa lemas dan hati yang dipenuhi kecemasan. Setiap jengkal langkahnya menuju pintu depan terasa begitu berat, seolah ia sedang berjalan menuju panggung eksekusinya sendiri.

​Begitu pintu kayu jati itu terdorong terbuka, suasana dingin dan mencekik langsung menyambutnya. Di ruang tamu yang luas namun kini terasa hampa, sang ayah berdiri dengan wajah merah padam dan napas memburu. Sementara itu, ibunya hanya duduk di sudut sofa dengan mata sembap, tak berani menyela aura amarah yang mengudara di ruangan tersebut.

​"Dari mana saja kamu, Elara?!" suara sang ayah menggelegar, memecah keheningan rumah.

​Elara menundukkan kepala, memegang erat tali tasnya dengan jemari yang gemetar. Ia tahu persis alasan kemarahan ayahnya. Ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi sejak semalam—benda itu telah dilempar dan dihancurkan oleh dua pria jahat di klab malam sebelum mereka mengejarnya ke hutan. Namun, Elara memilih untuk menelan rapat-rapat kenyataan mengerikan itu. Ia tak mungkin menceritakan insiden semalam, apalagi mengakui bahwa ia baru saja menghabiskan malam di mansion seorang bos mafia asing.

​"Ponselku... hilang, Pa," bisik Elara lirih, berusaha menutupi kebenaran di balik suara pelannya.

​Jawaban itu bukannya meredakan situasi, melainkan menyulut sulur emosi sang ayah hingga mencapai Puncaknya. Pria setengah baya yang dilanda frustrasi akibat kehancuran bisnisnya itu melangkah lebar mendekati Elara.

​PLAK!

​Sebuah tamparan keras melayang dan mendarat telak di pipi kanan Elara. Sentakan kuat itu membuat kepala Elara terlempar ke samping, menyisakan rasa panas yang membakar kulit pipinya dan dengungan bising di dalam telinganya. Elara meringis pelan, memegangi pipinya yang kini merona merah akibat hantaman tersebut.

​"Jangan pernah berakting polos di hadapanku!" gertak ayahnya dengan telunjuk mengacung tepat di depan wajah Elara, mata pria itu melotot penuh ancaman. "Pernikahan ini tinggal menghitung hari! Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri atau bertindak bodoh yang bisa menggagalkan perjodohan ini! Jika kau merusaknya, keluarga ini akan benar-benar hancur dan membusuk di jalanan!"

​Elara tetap bungkam, menahan gumpalan air mata yang mendesak keluar dari sudut matanya. Di dalam kamar dan rumah yang dulu menjadi tempat berlindungnya, ia kini tak lebih dari sekadar barang dagangan yang dipaksa menyerah pada takdir.

​Elara menyeret langkahnya yang terasa seribu kali lebih berat menuju lantai atas. Setiap pijakan tangga kayu seolah menyedot habis sisa kekuatan yang masih bertengger di tubuhnya. Begitu mencapai kamarnya, ia langsung memutar kunci rapat-rapat, memutus rapat interaksi dengan dunia luar yang baru saja menghantamnya tanpa ampun.

​Ia melangkah perlahan menuju tepi tempat tidur, lalu perlahan meluncur turun hingga terduduk di atas lantai marmer yang dingin. Elara menyandarkan punggungnya pada sisi tempat tidur bersepuh emas yang dulu menjadi simbol kemewahan hidupnya. Di kamar yang luas dan sunyi ini, benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah akhirnya hancur lebur.

​Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menetes deras membasahi pipinya yang masih terasa panas dan perih akibat tamparan sang ayah. Tangannya yang gemetar naik menutupi wajahnya, menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan agar tidak terdengar sampai ke luar pintu.

​Segalanya terasa begitu tidak adil. Dalam kurun waktu singkat, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk yang tak bersudahan. Perusahaan ayahnya hancur, kehormatan keluarganya dipertaruhkan, dan dirinya dijadikan jaminan untuk diserahkan kepada seorang pria tua yang bahkan tak pernah ia kenal. Belum sempat ia memproses nasib tragis itu, malam mengerikan di klab dan insiden bersama Haidar—seorang bos mafia dingin bersenjata—makin mencabik-cabik sisa kesadaran dan kehidupannya.

​Elara memeluk kedua lututnya rapat-rapat ke dada, menenggelamkan wajahnya di sana. Di tengah kegelapan kamarnya yang pengap, ia meratapi kemalangannya sendiri, merasa benar-benar terisolasi dan tak punya lagi tempat untuk melarikan diri dari takdir kelam yang menunggunya besok

Episodes
1 BAYANG-BAYANG JEBAKAN DAN MALAM YANG GELAP
2 KEPUTUSAN DI BALIK KETENANGAN MALAM
3 KEPUTUSAN DAN JEJAK LUKISAN MALAM
4 RATAPAN DI BALIK PINTU TERKUNCI
5 NAMA YANG TERTINGGAL DI KANVAS MALAM
6 ISTANA DENGAN RANTAI TAK TERLIHAT
7 PATUH DALAM INTRIK
8 TANDA-TANDA YANG MENAKUTKAN
9 AMARAH SANG BOS MAFIA
10 HILANG TANPA JEJAK
11 SECERCAH KEBENARAN DI BALIK PINTU
12 DUA GARIS DAN HAK MILIK MUTLAK
13 KEPUTUSAN DAN JANJI SEDERHANA
14 HANGATNYA PAGI YANG BEDA
15 IRING-IRINGAN SANG PENGUASA
16 BUKTI DI BALIK LENGAN KEMEJA
17 KELEGAAN DI AMBANG PINTU
18 ANGGUN DALAM BALUTAN HITAM
19 KECUPAN DAN KEHANGATAN MALAM
20 PERTEMUAN YANG TAK DIUNDANG
21 PENOLAKAN DAN KETEGASAN SANG BOS
22 BATAS KESABARAN SANG BOS
23 KEHILANGAN YANG MENGHANCURKAN
24 TANGISAN YANG MEMECAH KEHENINGAN
25 HARAPAN DI BALIK DUKA
26 PERMINTAAN SEDERHANA
27 DENDAM DAN KEKESALAN DI PINGGIRAN KOTA
28 TELEPON DARI TETUA
29 PUTUSNYA TALI HARAPAN
30 RESTU DARI KELUARGA
31 AWAL YANG BARU
32 ANCAMAN DI BALIK KETENANGAN
33 PANGGILAN DI TENGAH PERJALANAN
34 PERMAINAN SANG MUSUH
35 AKHIR SANG MUSUH
36 RAHASIA DALAM PELUKAN
37 KETENANGAN SETELAH BADAI
38 PENGKHIANATAN DI DALAM DINDING BESI
39 ANCAMAN DI RUANG REMANG
40 RAHASIA DI BALIK PINTU TERTUTUP
41 AMARAH SANG PENGUASA
42 KEBENARAN YANG TERBONGKAR
43 PERHITUNGAN TERAKHIR
44 DI BALIK PINTU YANG TERKUNCI
45 KABAR YANG MENGUBAH DUNIA
46 PERHATIAN YANG MELIMPAH
47 SEMANGKUK HANGAT DAN PELUKAN KELUARGA
48 DUA DETAK JANTUNG
49 TANGISAN DIBALIK RASA MANIS
50 JANJI DI UJUNG SENJA
Episodes

Updated 50 Episodes

1
BAYANG-BAYANG JEBAKAN DAN MALAM YANG GELAP
2
KEPUTUSAN DI BALIK KETENANGAN MALAM
3
KEPUTUSAN DAN JEJAK LUKISAN MALAM
4
RATAPAN DI BALIK PINTU TERKUNCI
5
NAMA YANG TERTINGGAL DI KANVAS MALAM
6
ISTANA DENGAN RANTAI TAK TERLIHAT
7
PATUH DALAM INTRIK
8
TANDA-TANDA YANG MENAKUTKAN
9
AMARAH SANG BOS MAFIA
10
HILANG TANPA JEJAK
11
SECERCAH KEBENARAN DI BALIK PINTU
12
DUA GARIS DAN HAK MILIK MUTLAK
13
KEPUTUSAN DAN JANJI SEDERHANA
14
HANGATNYA PAGI YANG BEDA
15
IRING-IRINGAN SANG PENGUASA
16
BUKTI DI BALIK LENGAN KEMEJA
17
KELEGAAN DI AMBANG PINTU
18
ANGGUN DALAM BALUTAN HITAM
19
KECUPAN DAN KEHANGATAN MALAM
20
PERTEMUAN YANG TAK DIUNDANG
21
PENOLAKAN DAN KETEGASAN SANG BOS
22
BATAS KESABARAN SANG BOS
23
KEHILANGAN YANG MENGHANCURKAN
24
TANGISAN YANG MEMECAH KEHENINGAN
25
HARAPAN DI BALIK DUKA
26
PERMINTAAN SEDERHANA
27
DENDAM DAN KEKESALAN DI PINGGIRAN KOTA
28
TELEPON DARI TETUA
29
PUTUSNYA TALI HARAPAN
30
RESTU DARI KELUARGA
31
AWAL YANG BARU
32
ANCAMAN DI BALIK KETENANGAN
33
PANGGILAN DI TENGAH PERJALANAN
34
PERMAINAN SANG MUSUH
35
AKHIR SANG MUSUH
36
RAHASIA DALAM PELUKAN
37
KETENANGAN SETELAH BADAI
38
PENGKHIANATAN DI DALAM DINDING BESI
39
ANCAMAN DI RUANG REMANG
40
RAHASIA DI BALIK PINTU TERTUTUP
41
AMARAH SANG PENGUASA
42
KEBENARAN YANG TERBONGKAR
43
PERHITUNGAN TERAKHIR
44
DI BALIK PINTU YANG TERKUNCI
45
KABAR YANG MENGUBAH DUNIA
46
PERHATIAN YANG MELIMPAH
47
SEMANGKUK HANGAT DAN PELUKAN KELUARGA
48
DUA DETAK JANTUNG
49
TANGISAN DIBALIK RASA MANIS
50
JANJI DI UJUNG SENJA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!