Kartu Cinta Di Atas Meja
Hujan deras mengguyur Jakarta jam dua pagi. Lampu neon kasino “Black Queen” masih menyala merah, tapi kali ini bukan karena pesta—melainkan karena tembakan.
Keadaan tidak terkendali malam itu, dan ada 1 perempuan yang keluar dari kasino tersebut, Zeka.
Zeka berlari.
Sepatu hak tingginya sudah patah sebelah, kaki telanjang menginjak genangan air kotor. Rambutnya basah kuyup menempel di wajah, lipstik merahnya luntur jadi garis darah palsu. Napasnya tersengal, dada sesak, tapi dia tetap lari, terus berlari walaupun bingung dia mau kemana.
Di belakangnya ada tiga antek Jon—tangan kanan bos kartel—mengejar dengan motor.
“CEWEK GATAU DIRI! BERHENTI!” teriak salah satu antek jon itu, ditambah terdedngar suara knalpot menggelegar.
Zeka menoleh sekilas. Matanya liar. *Gue nggak boleh mati di sini.*
Dia belok ke gang sempit, badan menabrak tumpukan kardus basah. Jatuh. Lutut berdarah. Tangan gemetar meraba dinding bata.
“Ketemu!”
Dua antek turun dari motor, senjata api terhunus.
Zeka bangkit pelan. Napasnya berat, aroma keringat dan alkohol masih menempel dari VVIP room tadi malam. Dalam hati Zeka *Gue jago berantem. Gue bisa.*
Satu antek maju. Zeka langsung tendang selangkangannya—*brak!* Orang itu ambruk. Tidak terima temannya diserang Zeka, antek Jon Yang kedua angkat pistol, diarahkan ke arah Zeka.
*Dor!*
Tembakannya meleset, malah memecah kaca toko yang ada di sekitar sana.
Karena ini memonteum, Zeka lari lagi. Tapi kakinya sudah terasa lemas. *Sial, mabuk semalem masih kerasa.*
Dia tersandung, jatuh keras ke aspal. Tangan teriris pecahan botol. Darah menetes.
“Udah, Zek. Lo habis.” gumamnya.
Antek ketiga—yang paling gede—mendekat, sambil membawa pipa besi di tangan.
Zeka menatapnya. Matanya penuh api. *Gue nggak takut mati. Tapi gue nggak mau mati gara-gara Jon.*
Tiba-tiba—
*VROOOM!*
Lampu mobil xenon menyilaukan. Sebuah sedan hitam melaju kencang, berhenti mendadak di depan Zeka. Pintu penumpang terbuka, dan dari dalam mobil itu terdengar suara,
“MASUK!”
Suara perempuan. Tegas. Dingin. Tapi familiar.
Zeka menoleh.
Dan itu Eva.
Rambutnya basah hujan, jaket kulit hitam, mata tajam seperti ratu judi yang selalu menang.
Zeka nggak mikir dua kali. Dia merangkak masuk, dengan kondisi badan yang gemetar.
Eva langsung injak gas. Ban berdecit. Mobil melesat meninggalkan antek-antek yang masih bengong.
Di dalam mobil, hujan masih deres. AC dingin. Zeka gemetar—bukan karena takut, tapi karena adrenalin.
“Lo... kenapa selamatin gue?” tanya Zeka, suara serak.
Eva nggak jawab langsung. Dia cuma nyalain wiper, mata tetap ke depan, fokus menyetir.
“Karena taruhan ini baru mulai,” katanya pelan.
Zeka menatapnya. Napasnya pelan-pelan tenang. Tapi dadanya masih sesak.
*Eva... lo beneran nggak tau apa yang lo lakuin.*
Mobil melaju ke arah tol. Lampu kota semakin mengecil di kaca spion.
Di belakang, kasino “Black Queen” masih terbakar.
Terbakar karena ada rival yang tiba-tiba menyerang kasino Jon, dan ditambah Jon yang masih trauma atas tragedi yang menimpa keluarga nya beberapa tahun lalu, dan persis seperti sekarang yang sedang dialami oleh Jon.
Karena Jon—duda yang baru saja kehilangan segalanya—dia duduk sendirian di ruang bos, memegang foto istri dan anaknya yang sudah mati.
Matanya kosong.
Tangan gemetar.
“Zeka...” gumamnya. “Lo bakal nyesel.”
BLACKOUT.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 14 Episodes
Comments