Malam terakhir kartu dibuka.
Kasino “Black Queen” ditutup untuk umum. Lampu neon merah semua mati, tinggal lampu darurat kuning berkedip-kedip. Bau darah dan bensin udah tercium dari parkiran.
Zeka masuk sendirian.
Dress hitam ketat, rambut tergerai, lipstick merah darah. Tangan kiri di saku jaket — nyantol pistol kecil yang Eva kasih tadi pagi.
Jon nunggu di lantai VIP. Kursi bos kosong. Dia duduk di sana, kaki kanan diperban karena tembakan Eva kemarin. Di sebelahnya: ibu Zeka, tangan terikat, mulut dilakban, mata merah nangis.
Jon senyum lebar. “Akhirnya lo dateng juga, sayang.”
Zeka berhenti 5 meter di depan. “Lepas ibu gue.”
Jon angkat pistol ke kepala ibu Zeka. “Flashdisk mana?”
Zeka lempar flashdisk merah kosong ke lantai. “Ini cuma umpan. Aslinya udah gue upload ke cloud. Besok pagi seluruh Jakarta tau lo pembunuh keluarga sendiri.”
Jon ketawa gila. “Lo pikir gue takut media? Gue punya polisi, hakim, menteri.”
Zeka senyum dingin. “Makanya gue nggak kasih ke media. Gue kasih ke anak buah lo sendiri.”
Tiba-tiba semua lampu mati total.
Gelap.
Hanya suara nafas dan detik jam.
Lalu lampu merah darurat nyala.
Eva berdiri di pintu masuk VIP, jaket kulit basah hujan, dua pistol di tangan, belakangnya 15 orang bersenjata — anak buah Jon yang sudah dibeli Eva selama ini.
Jon pucat. “Lo... lo khianatin gue semua?”
Eva nyanyi pelan: “Kartu terakhir udah dibuka, Jon.”
Zeka jalan pelan ke arah ibunya. Jon coba tembak — *klik* — kosong lagi.
Zeka: “Gue ganti pelurunya lagi pagi ini.”
Zeka buka ikatan ibunya. Ibu Zeka langsung peluk anaknya nangis.
Jon coba lari ke pintu belakang. Eva tembak lutut kirinya.
Jon ambruk jerit.
Eva jalan mendekat. “Lo bunuh keluarga sendiri. Lo lecehin cewek gue. Lo pikir lo bakal mati gampang?”
Jon merangkak. “Tolong… gue kasih lo segalanya…”
Eva jongkok. Bisik: “Gue nggak mau apa-apa dari lo. Gue cuma mau lo mati.”
Eva arahkan pistol ke kepala Jon.
Zeka pegang tangan Eva. “Jangan.”
Semua orang kaget.
Zeka ambil pistol dari tangan Eva. Jalan ke Jon.
“Lo pernah bilang gue cuma mantan LC murahan. Lo salah.”
Zeka tembak kaki Jon lagi. Lalu tangan. Lalu bahu.
Jon jerit kayak babi disembelih.
Zeka bisik di telinga Jon: “Gue kasih lo rasa sakit yang lo kasih ke istri sama anak lo.”
Lalu Zeka tembak tepat di dada Jon.
Jon ambruk. Darah muncrat ke lantai marmer.
Zeka buang pistol. Badannya gemetar.
Eva peluk Zeka dari belakang. “Selesai.”
Zeka balik badan. Nangis di dada Eva.
“Gue… gue bunuh orang.”
Eva usap rambut Zeka. “Lo selamatin kita semua.”
Mereka cium di tengah genangan darah Jon.
Ciuman penuh air mata, tapi juga penuh kemenangan.
Lampu neon merah nyala lagi. Kali ini warna merah darah.
Dua minggu kemudian.
Kasino “Black Queen” buka lagi — tapi sekarang atas nama Eva & Zeka.
Lampu neon baru: “RED QUEENS”
Dua kursi bos. Dua ratu baru.
Zeka duduk di kursi kiri, Eva di kursi kanan. Tangan mereka saling genggam di bawah meja.
Zeka senyum ke arah kamera pengawas:
“Dari meja hitam ini, gue belajar satu hal:
Kartu cinta nggak pernah bohong.
Cuma orang yang main curang yang kalah.”
Eva cium pipi Zeka. “Dan kita menang selamanya.”
Lampu neon merah berkedip pelan.
TARUHAN SELESAI.
Atau… baru mulai?
BLACKOUT.
RED.
QUEENS.
Dari mantan LC yang cuma mau duit, sampai ratu kasino yang punya segalanya. Terima kasih udah nemenin Zeka & Eva dari Bab 0 sampe Jon mati berdarah-darah ♠️🩸 Komen “RED QUEENS”
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 14 Episodes
Comments