Motel kecil di pinggir tol Cikampek. Jam 03.17 pagi. Lampu neon biru berkedip-kedip. Bau kopi instan dan rokok murah.
Eva duduk di meja kecil. Laptop terbuka. Peta digital “Black Queen” dan semua gudang kartel Jon terpampang.
Zeka mandi, keluar cuma pake handuk. Rambut basas. Bekas tamparan Jon masih merah di pipi.
Eva nengok. Matanya lembut sesaat. “Duduk sini.”
Zeka duduk di sebelah. Bahu mereka nyentuh.
Eva buka file: daftar anak buah Jon, rekening bank, rute pengiriman obat, lokasi kasino ilegal.
“Jon punya 4 gudang utama. Kita hancurin satu per satu,” kata Eva, suaranya dingin tapi pasti.
Zeka pegang tangan Eva. “Gue ikut. Apa pun caranya.”
Eva senyum tipis. “Lo udah nggak sama lagi kayak mantan LC dulu.”
Zeka cium pipi Eva pelan. “Karena sekarang gue punya alasan.”
Eva balas cium bibir Zeka. Lembut. Tapi kali ini nggak berhenti di situ.
Ciuman jadi panas. Handuk Zeka jatuh. Mereka jatuh ke kasur.
Malam itu, mereka resmi jadi satu.
Bukan cuma pelarian. Ini janji.
Pagi harinya, rencana dimulai.
Target pertama: Gudang Senayan. Tempat penyimpanan obat senilai 200 miliar.
Eva punya 3 orang dalam yang udah dia beli:
- Dedi (security malam)
- Rio (akuntan Jon)
- Lila (dealer cewek yang benci Jon karena pernah dilecehin)
Mereka ketemu di warung kopi pinggir jalan. Meja plastik. Hujan gerimis.
Dedi: “Gue buka pintu jam 23.00. Cuma 10 menit sebelum shift ganti.”
Rio: “Gue kasih kode akses brankas. Isinya cash 50 miliar.”
Lila: “Gue matiin CCTV dari ruang kontrol.”
Eva angguk. “Zeka sama gue masuk. Kalian jaga luar.”
Zeka senyum. “Gue udah siap.”
Malamnya. Jam 22.45.
Zeka pake jaket hitam ketat, celana cargo, sepatu boots. Rambut diikat tinggi. Lipstik merah darah.
Eva pake jaket kulit sama, tato ular keliatan. Dua pistol Glock di pinggang.
Mereka naik motor hitam. Sampai gudang Senayan.
Dedi buka gerbang. “Cepet. 9 menit lagi.”
Mereka masuk. Lorong gelap. Bau sabu dan uang.
Zeka buka brankas pake kode Rio. Uang numpuk tinggi.
Eva isi tas besar. “Ambil 30 miliar. Sisanya bakar.”
Zeka nyiram bensin. Nyalain korek.
Api langsung gede. Alarm bunyi.
Mereka lari. Tembakan dari anak buah Jon terdengar.
*DOR DOR DOR!*
Eva tembak balik. Dua orang jatuh.
Zeka naik motor duluan. Eva nyusul.
Motor ngebut. Api gudang terlihat dari kejauhan. Ledakan besar.
Di jalan tol, Zeka teriak: “SATU TURUN!”
Eva ketawa. “Tiga lagi!”
Mereka berhenti di pinggir tol. Hujan deras.
Zeka peluk Eva dari belakang. “Gue nggak takut lagi.”
Eva balik badan. Cium Zeka di bawah hujan. “Gue juga.”
Tiba-tiba HP Eva bunyi. Nomor tidak dikenal.
Eva angkat. Suara Jon.
“Lo pikir gue selesai? Lo berdua mati minggu ini.”
Eva senyum dingin. “Kita lihat, Jon.”
Jon: “Zeka, lo masih punya ibu di Bandung, kan?”
Zeka pucat. “Lo sentuh ibu gue, gue bunuh lo pelan-pelan.”
Jon ketawa. “Dateng ke Black Queen besok malam. Sendirian. Atau ibu lo jadi mayat.”
Telpon mati.
Zeka gemetar. “Gue harus pergi.”
Eva pegang bahu Zeka. “Nggak. Kita pergi bareng. Ini jebakan.”
Zeka nangis. “Gue nggak mau ibu gue mati...”
Eva peluk Zeka erat di tengah hujan. “Gue janji. Kita selamatin ibu lo. Lalu kita bunuh Jon bareng.”
Zeka angguk. “Bareng.”
Malam berikutnya adalah malam terakhir kartu dibuka.
BLACKOUT.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 14 Episodes
Comments