Malam itu. Kasino “Black Queen” lagi penuh. Lampu neon merah berkedip cepat. Musik techno keras bikin dada bergetar. Aroma rokok, parfum mahal, dan keringat bercampur jadi satu.
Zeka masuk VVIP room. Pintu besi tebal ditutup pelan. Kamera pengawas mati—Jon yang matiin tadi pagi, katanya “biar privasi”. Hanya dia dan Eva.
Meja bundar hitam mengkilap. Lampu spotlight kuning jatuh tepat di tengah. Dua gelas whiskey on the rocks. Satu dek kartu baru, plastiknya masih nempel.
Eva duduk santai di kursi kulit. Jaket kulit hitam dibuka, digantung di sandaran. Kaos hitam ketat nempel di badan atletisnya. Tato ular hijau melilit lengan kanan—kepala ularnya nyampe bahu, mata merah ruby.
“Lo dateng juga,” kata Eva, suaranya rendah, kayak bisik tapi bikin bulu kuduk berdiri.
Zeka duduk di depan. Dress hitam ketat yang Jon beliin kemarin—potongan rendah di punggung. Rambutnya diikat ponytail tinggi. Lipstik merah darah masih segar.
“Gue bilang mau,” jawab Zeka, coba tenang. Tapi jantungnya udah kayak drum techno di luar.
Eva buka dek kartu. Jari-jarinya panjang, kuku pendek hitam matte. “Texas Hold’em. 100 juta per game. No limit. Lo siap?”
Zeka angguk. “Siap.”
Eva senyum tipis. “Bagus. Gue suka lawan yang nggak banyak omong.”
Kartu dibagikan.
Zeka: 7♥ 2♠ (sampah banget).
Eva: ? (rahasia).
Flop: 7♣ K♦ 3♠
Zeka punya pair 7. Lumayan buat pemula.
Eva raise 50 juta tanpa ragu. Chip merah ditarik ke tengah meja.
Zeka call. *Gue nggak boleh takut.*
Turn: 7♦
Zeka three of a kind. Kuat banget.
Eva all-in 200 juta. Chipnya numpuk kayak gunung kecil.
Zeka ragu. *Dia bluff? Atau beneran monster?*
Dia liat mata Eva—tajam, nggak kedip. Kayak elang liat mangsa.
“Call,” kata Zeka, suaranya sedikit gemetar.
River: 2♥
Zeka full house (7-7-7-2-2). Monster hand.
Eva buka kartu: K♠ K♥
Eva three of a kind raja. Kalah.
Zeka menang 400 juta.
Eva ketawa pelan—bukan ketawa kalah, tapi ketawa puas. “Lo pinter. Gue suka.” Kata Eva.
Zeka tarik napas panjang. Tangan gemetar. Chipnya ditarik pelan.
Eva deketin. Jari telunjuknya sentuh pipi Zeka—dingin. “Lo takut?”
Zeka nggak jawab. Tapi badannya panas. Napasnya pendek.
Eva bisik di telinga: “Jon tau lo di sini?”
Zeka geleng pelan. “Nggak.”
Eva senyum. “Bagus. Ini rahasia kita.”
Dia ambil gelas whiskey. Minum setengah. Sisanya disodorin ke Zeka.
“Minum. Buat tenang.”
Zeka minum. Whiskey bakar tenggorokan. Tapi enak.
Eva duduk di meja, kaki menggantung. “Lo tau nggak, Jon dulu pacaran sama cewek kayak lo?”
Zeka kaget. “Apa?”
Eva mainin kartu. “Cewek itu mati. Kecelakaan mobil. Jon bilang... karena dia terlalu sibuk bisnis.”
Zeka diam. Tangan gemetar lagi.
Eva deketin lagi. Jari sentuh dagu Zeka, angkat pelan. “Lo yakin Jon sayang lo? Atau cuma... gantiin dia?”
Zeka nggak jawab. Dadanya sesak.
Eva senyum. “Main lagi?”
Zeka angguk. “Main.”
---
Game kedua.
Zeka: A♠ K♣ (strong).
Eva: ?
Flop: A♥ 5♦ 9♠
Zeka top pair ace.
Eva check. Zeka bet 100 juta.
Turn: K♦
Zeka two pair (A-A-K-K).
Eva raise 300 juta.
Zeka all-in 800 juta.
Eva call.
River: 5♣
Zeka full house (A-A-K-K-5).
Eva buka: 5♥ 5♠
Eva four of a kind.
Eva menang 1.6 miliar.
Zeka pucat. “Lo... curang?”
Eva ketawa. “Nggak. Lo ceroboh. Lo terlalu agresif pas turn.”
Zeka diam. Tapi matanya berapi-api.
Eva deketin lagi. Kali ini lebih dekat. Napasnya terasa di leher Zeka.
“Lo marah?” bisik Eva.
Zeka dorong Eva pelan. “Jangan main-main.”
Eva nggak mundur. Malah pegang tangan Zeka. “Gue serius. Lo beda. Lo nggak takut kalah.”
Zeka tarik tangan. Tapi nggak kuat.
Eva senyum. “Satu game lagi. Kalau lo menang, gue kasih rahasia Jon.”
Zeka ragu. Tapi mata Eva... hipnotis.
“Oke.”
Game ketiga. Taruhan: 2 miliar.
Zeka: Q♥ Q♠ (pocket queens).
Eva: ?
Flop: 10♦ 8♣ 2♥
Aman.
Eva check. Zeka bet 500 juta.
Turn: Q♦
Zeka three of a kind queens.
Eva all-in 3 miliar.
Zeka call.
River: 7♠
Zeka menang.
Eva buka: J♠ 9♠ (open ended straight draw—gagal).
Zeka menang 6 miliar.
Eva tepuk tangan pelan. “Lo ratu beneran.”
Zeka tarik napas. “Rahasia Jon?”
Eva deketin. Bisik di telinga:
“Jon bunuh istri dan anaknya. Bukan kecelakaan. Dia takut mereka tau bisnis kartelnya. Makanya dia selalu sendirian.”
Zeka pucat. Badannya dingin.
“Lo bohong,” katanya lemah.
Eva senyum. “Cek laci meja kerjanya. Ada flashdisk merah. Isinya... video.”
Zeka nggak jawab. Tapi otaknya penuh pikiran tetang itu.
Tiba-tiba, pintu diketuk keras.
*TOK TOK TOK*
“BUKA! POLISI! ADA RAZIA JUDI ILEGAL!”
Eva dan Zeka saling pandang.
Eva cepet ambil pistol Glock dari jaket. “Ikut gue.”
Mereka lari ke pintu belakang. Lorong gelap. Tangga darurat.
Di bawah, motor Ducati Monster hitam udah nunggu. Mesin hidup.
“Naik!” kata Eva.
Zeka naik. Eva gas pol.
Motor melaju kenceng. Lampu polisi ngejar dari belakang—3 mobil.
Eva belok ke gang kecil. Hujan mulai turun deras.
Zeka peluk pinggang Eva erat. Baju basah kuyup.
“Lo gila!” teriak Zeka.
Eva ketawa. “Hidup!”
Mereka keluar ke jalan tol. Polisi masih ngejar.
Eva buka throttle full. 200 km/jam.
Zeka tutup mata. Tapi entah kenapa, dia ngerasa... bebas.
Mereka masuk terowongan. Lampu kuning berkedip.
Eva belok ke exit darurat. Masuk gudang tua.
Motor mati. Hujan masih deras di luar.
Eva turun. Buka helm. Rambut basah.
Zeka turun. Badannya gemetar—bukan dingin, tapi adrenalin.
Eva deketin. Tangan pegang bahu Zeka.
“Lo oke?”
Zeka angguk. Tapi matanya liar.
Eva senyum. “Ini baru awal.”
Dia deketin lagi. Kali ini... cium Zeka.
Ciuman pendek. Tapi dalam.
Zeka nggak tolak.
Hujan masih deras di luar.
Di kejauhan, sirene polisi masih terdengar.
Tapi di gudang tua itu, hanya ada mereka berdua.
*Taruhan ini... baru mulai.*
BLACKOUT.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 14 Episodes
Comments
Choi Sylvester Jung
Thank you so much for reading until 3am! 😭✨
I’m really glad the story kept you hooked. I’ll do my best to make every chapter even more worth losing sleep over
2025-11-18
0
Lalula09
Just couldn't stop reading until 3am! Author, you stole my sleep tonight.
2025-11-18
0