Biasanya, Al berangkat kerja lebih awal dari orang lain namun hari ini ia melaju ke sebuah kafe di pusat kota karena Al sudah berjanji kepada Reyhan untuk menemaninya menemui seorang klien. Sebenarnya Al sangat malas, ia dulu mendaftar ke jurusan akutansi agar bisa menghindari bertemu klien dan semacamnya, Al sangat benci bersosialisasi itu sebabnya ia tidak memiliki terlalu banyak teman.
'Harusnya semalam gua tolak walaupun Rey masang muka memelas gitu. Lu goblok banget emang Al, goblok banget!!' batin Al dalam hatinya sambil melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Hari ini Al memutuskan menggunakan mobil alasannya karena saat kembali ke kantor ia akan terperangkap pada jam yang panas dan jalanan yang sangat sibuk. Untuk tampilan ia tetap pada tampilan yang simple saja kemeja biru dan celana dengan warna yang sedikit lebih gelap, ditutup sepatu sneakers putih. Al lalu mencari ikat rambut lalu menggulung rambut panjangnya, sedikit memoles wajahnya dengan make up setelah semua keriwehan itu Al meraih tas ransel birunya lalu bergegas pergi.
Al dan Rey akan bertemu pada pukul sembilan maka dari itu Al memutuskan sarapan di jalan. Butuh waktu hampir satu jam menuju titik pertemuan mereka. Dengan menimbang bahwa jalanan akan ramai penduduk muka bumi, Al sudah bergerak sejak pukul setengah tujuh. Di perjalanan dia menyempatkan diri pergi ke drive thru salah satu cafe kopi Al memesan kopi ukuran venti dan sandwich daging. Selama perjalanan Aleta makan, minum, dan bernyanyi ria dalam mobil. Dibalik orang yang dingin dan malas bersosialisasi ada perempuan yang menyukai musik dan jalan-jalan, juga seorang penghibur yang baik dan pemberi nasehat handal.
Setelah melalui jalanan yang sesuai dengan firasatnya, Al berhasil sampai di titik pertemuan tepat waktu. Disana sudah ada Reyhan yang sedang menikmati sarapan dan secangkir kopinya dengan sigap Aleta memarkirkan mobilnya dan melenggak masuk menyapa Reyhan.
"Yo what’s up brother!! Tumben sarapan di luar? Istri lu ngak masak??" sapa Al sambil menepuk bahu Reyhan. Pria itu berbalik dan memberi senyum hangat pada Al lalu menggeleng kepalanya halus.
"Dia lagi sibuk beberapa hari ini banyak wartawan yang penasaran sama sosok presiden direktur kita, lu tau lah meski jarang datang ke kantor popularitasnya behh…" jelasnya membuat Al hanya mengangguk paham.
'Ngak heran sih gua walau ngak pernah liat mukanya gua juga penasaran kali si Raja Iblis ini bentukannya gimana…' batin Al sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Reyhan.
"Oh iya??? Kasian banget sih itu," ungkap Al dengan tawa kecil meledek. Sambil berbincang mereka menunggu sang klien, dua puluh menit berlalu disela perbincangan Al permisi ke toilet bersamaan dengan itu seorang pria tinggi altetis masuk ke dalam kafe. Dengan rambut berwarna ungu kebiruan, mata yang hitam legam, dan pakaian formal. Ia kemudian menyapa Reyhan dan disambut hangat oleh Reyhan. Lima menit kemudian akhirnya Al keluar dari kamar mandi ia langsung bergerak ke arah Reyhan yang sedang berbicara kepada seorang berpakaian rapi.
'Kayanya ini nih klien yang buat seorang Reyhan Aditya Yuda memelas memohon biar gua ikutan nih,' batin Al lalu berjalan ke arah kursinya.
Reyhan melihat Al datang pria itu dengan sigap mengenalkan Al kepada pria yang duduk di hadapannya. Saat itu Aleta berdiri tepat di belakang sang klien, akhirnya sang klien berbalik ke belakang sedangkan Aleta bersiap menyapa dengan sopan. Namun belum sempat menyapa Aleta dan pria itu sama sama terkaget dengan mata yang membulat dengan sempurna namun Al begitu mudah kembali normal lalu tersenyum seraya memberikan tangannya seolah ingin berkenalan.
"YOU?!??!" hentak sang pria sambil mengacungkan jari telunjuknya pada Al. Namun Al hanya menatap dengan senyum bingung dan menarik kembali tangannya karena sudah tahu tidak akan di salam balik. Al lalu berjalan menuju bangkunya ia melihat tasnya sudah dipindahkan ke samping Reyhan.
"Ehhh are you know me sir??" tanya Aleta sambil duduk di bangkunya.
"Non fare lo stupido con me!!" ancam sang klien.
"Apa kamu kenal dengan tuan muda Alvaro?? Or did you know my friend Mr. Alvaro?" tanya Reyhan yang kebingungan dan bahasa inggris yang agak kacau. Al memang diajak Reyhan karena Rey tahu Al fasih berbahasa Inggris dan kliennya hari ini adalah seorang Italia namun pandai berbahasa Inggris. Suasana begitu membingungkan namun Al hanya mengangkat kedua bahunya dan menggeleng kepalanya tidak tahu.
"Yoo Cresse hai intenzione di fingere di non conoscermi??" tanya pria yang dipanggil Alvaro oleh Reyhan.
"What are you talking sir?? Do you know me or we meet somewhere???" tanya Aleta dengan santai.
"Ehi bambino empio, sono io...???" belum sempat Alvaro menyelesaikan kalimatnya dering ponsel Aleta menginterupsi keadaan. Al langsung izin keluar dan mengangkat panggilan telepon itu lalu kembali lima menit kemudian.
"Reyhan, barusan Alex nelpon gua, di suruh balik ke kantor sekarang juga juga. Jadi dengan hormat gua izin yah?" ucap Al sambil mengambil tasnya.
Reyhan terbelalak bingung dan mengangguk mengiyakan permintaan Al sedangkan Alvaro ia sudah mengetik pesan di ponselnya. Segera Al melenggak pergi ke pintu depan ia menunduk sedikit karena bersamaan dengan dirinya berjalan keluar ada pria tinggi dengan rambut agak gondrong diikat setengah dan berkacamata masuk ke dalam kafe saat pria itu masuk Alvaro lalu berteriak.
"Lux quella ragazza è Cressen!!!" senggak Alvaro, sedang Lux hanya memasang wajah bingung dan menghampiri bangku Alvaro dan duduk santai.
"Halo pak Reyhan," sapa Lux dengan bahasa Indonesia fasih dibalas senyum dan kaget oleh Reyhan.
"Eh mending lu duduk semua aja lu bilang Cressen udah lama kita cari dan dia ngak mungkin ada disini. Ini bukan cara dia buat sembunyi goblok!!" maki Lux.
"Udah mending lu duduk selesaiin tugas bisnis nih. Capek telinga gua denger bapak lu ribut terus tentang masalah ini udah cepetan dah" tekan Lux yang nampak seperti orang yang sudah tiga hari tidak tidur. Kembali ke Aleta ia ingin masuk ke dalam mobilnya berbarengan dengan seorang pria sampai menggendarai mobil atap terbuka dan style pakaian yang manis. Ia hampir menabrak Aleta yang akan masuk mobil segera pria itu memperbaiki posisi mobilnya dan menghampiri Aleta.
"I'm so sorry I don't pay attention to the road. Are you okay miss?" tanya pria itu dengan manis. Al hanya menganggukkan kepalanya menyatakan ia baik baik saja lalu masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya pergi dari tempat itu secepat kilat. Kemudian pria manis itu hanya menggeleng lalu masuk ke dalam kafe dan berjalan menuju kedua kakaknya yang sudah ada di dalam.
"Brother Varo!! Brother Lux!! I'm coming!! Did your job done yet? Let's go having fun!! I see a park on the way here." ucap pria itu sambil duduk di kursi yang bersebelahan dengan Alvaro.
"Eh bocah lu diem dulu deh. Gua blom tidur seminggu nih! Kakak lu lagi nih lama bener ngerjain tugasnye nyariin anak ilang mulu anak ilang mulu." emosi Lux.
"Emang kak Varo ketemu sama Cressen?? mana?? mana Cressen??" cari pria itu sambil celingak celinguk.
"Pak Reyhan lihat adek saya ngak??" tanya pria itu dengan wajah bingung yang begitu imut. Sontak Reyhan berhenti membahas pekerjaan dengan Alvaro dan menatap pria dengan tubuh lebih pendek dari kedua pria yang sudah ada di samping dan hadapannya.
"Saya bahkan tidak tahu tuan Kevin punya adik," jelas Reyhan sopan.
"Udah yah Kevin gua mau lanjutin ini sama pak Reyhan nanti ngak selesai bapak lu ngamuk entar. Jadi pak Reyhan saya hanya perlu tanda tangan disini kan?" tanya Alvaro dengan mata tajam menatap Reyhan dan hanya dibalas anggukan oleh pria yang duduk di hadapannya itu. Reyhan sudah tidak kaget lagi ternyata meski berasal dari Italia Alvaro, Lux, dan Kevin adalah orang Indonesia jadi mereka juga fasih berbahasa Indonesia.
"Kalau begitu apa pak Reyhan bisa membuat saya bertemu dengan presiden direktur anda dan membahas ini lebih dalam? Setelah bertemu baru saya tanda tangan." jelas Alvaro dengan raut wajah yang tiba-tiba serius. Lalu Reyhan menaikkan alisnya kemudian mengambil ponselnya dan menelepon seseorang tak sampai sepuluh menit telepon berakhir kemudian Reyhan menatap Alvaro.
"Baik tuan Alvaro, saya akan berikan email presiden direktur silakan anda yang berbicara langsung dengan beliau." Jelas Reyhan dengan profesional sambil memberikan secarik kertas berisi alamat email. Mereka berempat berbincang sebentar sebelum Reyhan kembali ke kantor. Di sisi lain ada Al yang tertegun di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang terdiam dalam keheningan lalu tiba-tiba berkata.
"Perché quei bastardi sono di nuovo qui?" ucapnya. Lalu dia emosi membanting setirnya dengan keras dan melajukan mobilnya dan berteriak.
"VOI TUTTI MORTI DANNATI BASTARDI!!!" teriaknya dan mengebut di jalanan yang lumayan lempang.
Hanya butuh tiga puluh menit mengebut akhirnya Al sampai di kantor segera berlari menuju lift dan menekan tombol sembilan belas. Saat ia sampai seluruh ruangan sedang terdiam bingung tak tahu mau berbuat apa.
"Apa mereka sudah lama di dalam??" tanya Al ke Naira yang sedang membawa nampak berisi dua cangkir kopi.
"Oh... eh… Belum mereka… Mereka belum lama," ucapnya gagu. Aleta lalu mengambil nampan yang ada di tangan Naira.
"wish me luck, Ok!!" ucap Al dengan senyum mengesalkan dan hanya dibalas anggukan dari Naira.
Akhirnya Al mengetuk pintu dan masuk ketika berbalik ia terdiam dua pria duduk di sofa yang ada di depan meja kerjanya yang berantakan dengan banyak dokumen keuangan. Namun wajah Al tidak terkejut ia meletakkan nampan di atas meja menggerakkan tangan mengisyaratkan hendak mempersilakan dua orang itu minum. Ia kemudian duduk lalu menaikkan kakinya menimpa kaki yang lain
"So who is this??" ucap Aleta dengan nada yang professional.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 34 Episodes
Comments
Ververr
You have a gift for storytelling. Keep sharing your talent!
2025-11-20
0