"So… who is this?" tanya Al dengan nada sopan.
Saat ini, di ruangan ini, ada sang wakil direktur Alexander dan satu orang pria yang berpakaian rapi dengan kepala tertunduk duduk di samping Alex.
"Ahh, kenalin Al ini bapak presiden direktur utama kita. Namanya pak Zain, dan pak Zain ini ketua divisi akunting kita, nona Aleta" ujar Alex.
Suasana agak hening sesaat, lalu Zain mulai hendak membuka perbincangan. Hari ini Alex tampak lebih berantakan dari biasanya mungkin kerena orang yang ada di sampingnya ini yang memang sejak tadi memancarkan aura siap menerkam orang. Entah apa tujuannya memasang wajah yang begitu sinis dan malas begitu.
'Ngeselin banget sih mukanya bikin kesel, tapi gapapa Al gara-gara dia lu bisa kabur dari manusia-manusia laknat tadi. Jadi mari bersabar karena ini ujian' batin Al tetap sabar dan menunggu jawaban dari sang direktur.
"Ahhh saya pikir Al yang anda bicarakan adalah seorang lelaki. Ternyata hanya seorang wanita yang berpakaian seperti lelaki" jelas Zain menaikkan kepalanya dan menatap langsung ke biji mata Al sambil menyungging senyum sinis.
Di saat yang sama Al terkejut melihat orang itu, dia adalah pria yang bertanya dimana lantai ruangan Alex padanya semalam. Dan Al juga mengerti jika maksud perkataan presiden direkturnya itu adalah sindiran, ia menghina cara berpakaian Aleta yang memang agak bergeser dari gendernya namun Aleta tak ambil pusing. Ia selalu berpikir bahwa tetaplah berpakaian sopan namun nyaman itulah sebabnya Al selalu nampak seperti gadis tomboy karena baju-baju itu membuatnya lebih aman. Bukan tidak bisa Al mengenakan rok span dan high heels namun apa itu sepadan dari segi kenyamanannya sendiri tentu tidak.
'Oh jadi lu mau bahas bahas hal itu, ouhhhh jadi dia diskriminasi nih disini okeyy gue terima sindiran lu itu PAK ZAIN ihhhh ngeselin banget heran.' batin Al ia lalu membuka mulutnya menyambung ucapan sang direktur. Di sisi lain ada Alex yang menatap tajam kearah keduanya orang dihadapannya, ia sebenarnya sudah mewanti akan keadaan ini dari awal namun nasi sudah jadi bubur seluruh ruangan sudah terasa begitu dingin bahkan tanpa AC.
'Hadehhh.... semoga aja nih anak dajjal kagak ngomong yang bukan bukan ini juga Zain lu ngapain sih anjir!?!?!!' kesal Alex dalam hatinya.
"Ohh" ucap Aleta agak panjang sambil mengangguk ia terdiam sesaat, memandang ke atas meja lalu menatap tajam ke arah Zain dan tersenyum. Sontak Alex membulatkan matanya terkaget.
'No no no no not that smile ouh God. God pleassee help me!!!' mohon Alex sambil memijit pelipisnya ia tahu senyum Al ini adalah sebuah ancaman baginya dan bagi karir Al sendiri. Tidak terhitung sudah berapa banyak orang yang jatuh dengan senyum itu.
"Saya memang ber-style aneh, jangan salah paham tentang itu. Lagipula sudah banyak wanita dan pria yang berpakaian agak melenceng dari gendernya jadi mengapa kita tidak berpikiran terbuka??" ucap Al dengan santai.
Aura ruangan makin menghitam, Zain marah, pria itu tidak suka ditentang baginya Al adalah orang pertama yang cukup punya mental untuk mengembalikan sindirannya. Belum pernah ada orang selain Al dan orang itu yang berani berucap balik padanya dengan tatapan sesantai itu.
"Oh iya saya sangat open minded kok, hingga seorang presiden direktur utama yang lupa lantai di gedungnya sendiri tidak saya umbar ke media itu bisa menjadi pembicaraan hangat loh." tambah Aleta dengan santainya dan sempat tersenyum hangat melirik Alex yang sudah ingin menanamnya hidup-hidup.
Zain benar-benar gerah, ini pertama kali dalam hidupnya ada orang yang bisa mengugah kesabarannya. Di sisi lain ada Alex yang sudah murka pada Al, ia sudah menatap Al tajam sejak tadi siap melengserkan leher wanita dua puluh tiga tahun itu dari tempatnya. Pria itu lalu membuka tawa lalu menarik napas dalam, kedua manusia yang ada di hadapannya terkejut.
'Njay muka Alex serem bener nih. Bau-bau gua bakal di tebas ahhhh dahlah mau gimanapun gua juga tetep di hajar sih. Lagian nih presiden direktur rese banget sih' sedih Al membatin. Ia menyesap teh yang ia bawa tadi dan menunggu tanggapan dari sang presiden direktur. Namun sepertinya Alex ingin mengakhiri perang sindir ini, ia kemudian angkat suara.
"Bagaimana jika Tuan Zain membahas yang perlu saja? Daripada pusing memikirkan pakaian seseorang. Dan Nona Al bagaimana jika anda mendengar dan mengiyakan saja AC di ruanganmu sudah dingin tidak usah ditambahi. OK!" ucap Alex sambil menyinisi dua ciptaan Tuhan yang sejak tadi berdebat.
"Anda ada benarnya tuan Alex, jadi tanpa basa-basi saya datang ke sini hanya untuk mengapresisasi pekerjaan anda yang menurut saya sangat luar biasa nona Al. Penghitungan yang sesuai dan teliti belum lagi tingkat kerapian yang perlu diacungi jempol saya harap anda bisa tetap mempertahankan hasil kerja ini di pertemuan kita selanjutnya." jelas Zain dengan singkat, padat, dan jelas.
"Terima kasih Tuan Zain saya sangat bangga bisa disanjung oleh orang sehebat anda semoga saya bisa tetap mempertahankan hasil kerja saya ini. Sekali lagi terima kasih tanpa mengurangi rasa hormat silahkan Tuan Zain dan Tuan Alex meninggalkan ruangan saya karena saya bisa lembur jika anda berdua masih diruangan saya S. E. K. I. A. N" ucap Al dengan senyum lempang-lempang tanpa dosa sedangkan Alex sudah siap untuk melepas kepala gadis itu dari tempatnya.
'Al anjir lu yah liat aja lu nanti gua gorok lu astafirullahalazim sabar ya ampun sabar.... eh bentar gua Kristen anjir!!! ini semua karna lo Al liat aja lu nanti abis lu sama gua' ungkap Alex dalam hatinya sambil menatap tajam ke arah Al. Gadis muda itu sudah tahu selepas ini pilihannya hanya dua menghadap dokter atau menghadap Tuhan, ia sudah menumpuk emosi Alex sejak tadi soalnya.
'Yahhh kalo gini ceritanya sih gua sabar ajalah yah. Yang mancing emosi siapa yang di damprat siapa sabar.... sabar' batin Al sambil mengelus dadanya. Di sisi ruangan lain masih ada Zain, pria itu sudah bersiap akan memecat Al namun ia mengingat masih membutuhkan seorang seperti Aleta di kantornya.
"Anda ada benarnya Nona Al sebaiknya kami kembali terima kasih sudah menyambut kami dengan hangat. Semoga kita bisa B. E. R. T. E. M. U lagi" jelas Zain sambil menekan kata 'bertemu' pada setiap hurufnya. Setelah kepergian kedua orang paling penting itu, ruangan Al kembali hening namun tidak dengan emosi Aleta ia memutuskan melepas emosinya kepada hitungan dan angka-angka yang menumpuk di meja kerjanya.
~.....~
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, ini sudah lewat dari jam kerja namun Al memilih menyelesaikan tumpukan berkas yang ada di atas mejanya. Usai bergelut dengan pekerjaannya ia segera membereskan meja kerjanya dan seketika gunungan kertas tadi sudah bersih serta disusun dengan rapi agar mudah dibuang bagi yang dibuang dan dikirim bagi yang dikirim esok hari. Al lalu merapikan penampilannya yang berubah menjadi seperti anak hilang, sepatu yang entah ada dimana, lengan baju yang dilipat-lipat, rompi yang tergeletak di sofa benar-benar berserakan dimana-mana. Akhirnya Al pulang tepat pukul setengah sembilan malam. Segera berjalan menuju parkiran yang sudah kosong yang hanya ada mobilnya dan lampu yang berdiri tegak di beberapa tempat ia lalu memasuki mobilnya. Menyalakan mobilnya lalu menyalakan lampu sorot panjang tepat saat lampunya menyala ada pria menatap kosong di depan mobilnya sontak Al berteriak.
"OH MERDA!?!?" teriak Al bersamaan dengan suara klakson mobilnya yang tak sengaja di tekannya. Setelah hampir dua menit menutup mata, ia membuka matanya perlahan orang itu sudah tidak ada disana Al menarik napas panjang.
"Yah Tuhan gua pasti capek banget. Catatan, lain kali gua jangan melepas stress berlebihan" ucapnya pada dirinya sendiri. Gadis itu kemudian mengangkat rem tangan mobilnya dan mulai membelok ke kanan. Saat melihat jendela ke kanan betapa paniknya ia melihat seorang pria menempelkan wajahnya tepat di jendela pengemudi.
"Nel nome del padre e del figlio e dello spirito santo amen" ucap gadis dua puluh tiga tahun itu sambil membuat tanda salib. Ia menutup matanya dalam gelapnya parkiran yang dimana hanya dirinya yang ada di sana. Ia berusaha menarik napas dalam lalu membuka matanya, saat itu ada yang mengetuk ngetuk jendelanya ternyata pria itu adalah Alex, Al menatapnya dengan penuh emosi ia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Bastardo Alexander Kresna Adinatha. Sei un dannato umano senza cervello!!" bentaknya di dalam mobil. Dan tentu saja Alex tidak bisa mendengarnya pria itu hanya bisa melihat Al mengacak acak rambutnya dan marah-marah pada setir mobilnya. Beberapa menit kemudian Al tiba-tiba terdiam menarik napas dalam lalu merapikan diri dan membuka jendela mobilnya dengan seram Al melotot sambil tersenyum kepada Alex.
"Hai.... Alex mau ngapain? Ngapain lu masih di kantor di jam pulang yang udah lewat begini. Wow kelangkaan yang perlu gua catet" Ucap Al dengan nada sinis dan senyum tertekan.
"Gua mau besok siang lu ikut gua makan siang. Ngak perlu bawa mobil ngak usah bawa motor dan plus lu libur sehari, terakhir yang antar jemput itu gua. Gimana mau ngak??" ajaknya dengan nada lembut yang membuat Al sontak memasang wajah jijik tanpa aba-aba.
'Nih orang kejedot dimana nih kenapa jadi creepy gininih nih bocah?? Apa ngak salah nih telinga ama mata gua?? Efek kecapean parah banget gini ya??' batin Al tidak percaya apa yang ia lihat dan dengar. Berulang kali ia menaikkan dan menurunkan kacamatanya serta memastikan telinganya tidak kotor.
"Lu ... ditolak Naira yah??" semprot Al tiba-tiba dengan wajah yang masih merasa jijik.
"NGAK!?!?" senggak Alex kemudian pria itu sadar dengan tindakannya yang tiba-tiba dan memperbaiki tutur katanya.
"Maksud gua enggak, gua bahkan belum nembak masa belom nembak ditolak ada gila lu yah. Ini itu untuk masalah kerjaan ngapain juga gua ngajak lu makan siang bareng mending ngajakin Naira makan bareng pede amat lu!" Hujat Alex. Sontak pria dua puluh tiga tahun itu mendapat tinju mentah di lengan kanannya.
"Ouch... kampret mukul ngak kira-kira mantan petinju lu yah??" tanya Alex sambil memegangi lengannya yang benar-benar sakit.
"Makanya jangan banyak gaya lu ye. Udah deh jangan banyak ngadi-ngadi gua ngak mau bye." ucapnya sambil masuk ke dalam mobil dan melenggak pergi. Sedangkan Alex ia tau dirinya sudah dalam masalah. Ia tahu bahwa Al bukan gadis yang mudah mengubah keputusannya, ia juga tahu gadis itu bahkan tidak mau menemui orang sepenting apapun di jam yang tidak sesuai. Alex menarik napas panjang lalu mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk seseorang. Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar wajah alex tampak masam melihat balasan yang dikirim orang itu.
"Now I'm technically in big trouble really big trouble so you too Al" ucapnya sambil memijat lehernya. Ia bisa melihat banyaknya huruf capslock dalam pesan teks itu. Coba tebak siapa orang itu, benar sekali orang yang sejak tadi mengirimi Alex pesan adalah Zain. Entah apa yang menghantam otak pria itu hingga memerintahkan Alex untuk mengajak Al makan siang besok, intinya sekarang ia hanya bisa menggeleng namun tidak pasrah karena kita semua tahu seorang Zain Rajendra Zavier tidak akan mungkin melepas sesuatu begitu saja.
Di sisi lain Al sedang menyetir dalam kebingungan dengan sikap Alex barusan. Namun kebingungan itu tidak lama hingga ia melihat kaca dasbornya.
NB:
OH MERDA!?!? \= OH SHIT!?!?
Nel nome del padre e del figlio e dello spirito santo amen \= Dalam nama ayah dan anak dan roh kudus amin
Bastardo Alexander Kresna Adinatha. Sei un dannato umano senza cervello!! \= Bajingan Alexander Kresna Adinatha. Anda adalah manusia berdarah tanpa otak !!
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 34 Episodes
Comments