EMOSI...

Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi dan jam weker sudah berdering kencang sejak tadi tapi Al masih asik menggulung diri dalam selimutnya. Jika seperti biasa seharusnya Al bangun namun ia malah mematikan jam wekernya lalu kembali bergumul dengan selimut dan bantalnya. Ia terdiam berusaha tidur kembali.

'Apa gua izin aja yah....astaga malas banget datang seminar' batin Al.

Setiap saat Al memang selalu kalem dan pendiam ia juga cerdas dan tegas namun sayangnya manusia adalah makluk yang tidak sempurna. Semua kelebihan dan kesempurnaannya itu dibungkus dengan jiwa introvert yang bisa membuatnya memilih mengurung diri di rumah.

Kembali ke Al yang hendak melanjutkan kemalasannya namun di interupsi oleh dering ponsel yang berteriak kencang, Al melihat nama Naira terpampang dengan jelas di layar ponselnya segera Al mengatur intonasi suaranya agar tidak terdengar seperti orang baru bangun ia mendehem beberapa kali lalu mengangkat telepon itu.

"Halo? Apaan Ra?" Tanya Al dengan santai.

"Halo Ibu ketua kami selamat pagi! Jangan lupa datang ke seminar jam delapan yahh, habis itu jam setengah sebelas lu ada janji temu sama klien perusahaan yang mau bahas perhitungan saham tempatnya gua sharelock nanti. Habis itu, jam dua siang balik kantor bentar rapat bareng pak Reyhan, jam tiga ada beberapa dokumen yang harus lu tanda tangan sekalian pertemuan bahas tuh berkas, dan jangan lupa jam enam lu ada meeting buat bahas pembagian tugas rutin bareng akuntan-akuntan lain. Itu aja jadwal lu untuk sekarang ada pertanyaan??" jelas Naira tentang jadwal Al hari ini. Hanya ada satu kata yang sedang terpampang jelas di kepala Aleta 'MENYUSAHKAN' namun Aleta hanya diam dan mengiyakan saja.

'Anjirrr ini gua bagian keuangan apa merambat jadi pimpinan perusahaan nih banyak banget tuh jadwal kagak ada sesi napas lagi?!?!?' batinnya hampir menangis.

"Ngak...ngak ada pertanyaan. Udah itu doang kah??" ucap Al.

"Untuk sekarang itu doang kok semangat yah gua mau siap-siap jumpain pak Reyhan. Byeee Al and GOOD MORNING" hibur Naira dengan semangat.

"Hmmm" dehem Aleta malas lalu telpon berakhir Al kembali berselimut belum sempat menutup mata ponselnya berdering lagi. Segera dengan kasar Al mengambil hpnya menarik napas dalam dan membuangnya kasar.

"In the name of God, I swear I going kill anyone who called me right now!!" teriak Al emosi ia menarik napas panjang lalu melihat ke arah ponselnya kini nama 'The Hellhound' yang terpampang disana. Yup benar sekali itu Alex hampir saja Al hendak membanting ponselnya namun ia mengurung niat itu.

"You have exactly three second to explain why you just woke me up!!" ucap Al dengan aura hitam legam.

"Because it's morning and you should be awake???" bingung Alex di sisi lain.

"Huh... intresthing... I don't know you wanted to die today!!" ancam Al sambil terus menggulung diri di selimutnya.

"Al you can't kill me." datar Alex karena memang sejahat-jahatnya kemanusiaan Al ia tidak membunuh orang apalagi itu teman dekatnya sendiri ia tidak akan sanggup itulah yang ada dipikiran Alex.

"It's too late, I've already decided how!!" ucapnya hampir mematikan telpon.

"Uhhhh don't be childish and wake up you ...." suara Alex mulai meninggi.

"What!?!? Lu mau apaan hah!?!?" Al menyerah, lebih baik mendengar penjelasan Alex yang panjang lebar membosankan dari pada kata-kata dari mulutnya ketika marah karena rasanya hmmm seperti anda menjadi iron man.

"Lo udah berubah pikiran ngak?? Ikut gua dong yahh please..." ucap Alex dengan nada sok imut, Al menghela napas.

'So here we go again,' batinnya setengah melayang menyerah.

"Jangan buat gua muntah gua baru buka mata. Yahh enggak lah jadwal gua numpuk anjir! Lu mau ngerjain hah?!?!" kata Aleta dengan nada sinis.

"Ah, he’s going to kill me because of this, Aleta please in the name of God I am begging you please change your decision" pinta Alex dengan sungguh kali ini.

"Ngak bisa Alexander Kresna Adinatha mau sumpah pake ape gua lu buat!! Udah yah gua bilang enggak yah enggak bye gua mau mandi" jelas Aleta tegas lalu mematikan telpon namun tidak cukup sampai disitu ia juga men- turn off  ponselnya sekalian. Beberapa saat ia terbaring lalu kemudian secara tiba-tiba berteriak di tempat tidurnya.

"Ahhhh!?!?!" teriaknya kencang.

Jika saja Al punya tetangga mungkin sekarang rumahnya sudah ramai orang yang mengira sedang terjadi sesuatu di rumahnya. Dengan segenap kemalasannya akhirnya gadis dua puluh tiga tahun itu melompat bangun dan mengambil handuknya lalu pergi mandi. Setelah mandi Al berjalan menuju walk-in closet miliknya, setelah hampir sepuluh menit Aleta memilih mengunakan jas hitam dipadukan kemeja putih dan dasi senada jas lalu celana bahan hitam karena ini acara yang penting ia memakai hells hitamnya dan membawa sneekersnya berjaga jaga lalu mengakhiri semua kerempongan itu dengan mengikat rambut dengan ponytails style kemudian memoles make up yang agak bold dengan lipstik merah merona.

Ia lalu berjalan menuju garasi rumahnya saat masuk lampu otomatis menyala Al bisa melihat jejeran 10 mobil mewah miliknya, jangan bertanya dari mana gadis itu mendapatkannya, kecerdasannya dalam dunia bisnis membuatnya benar-benar jadi gadis 'kaya raya'. Setelah berjalan lurus matanya tertuju pada BMW i8 dengan warna hitam nan elegan segera mengambil kunci mobilnya di lemari gantungan kunci lalu melesat pergi.

Butuh waktu hampir tiga puluh menit untuk sampai di tempat seminar yang dituju Al tapi gadis itu malah memilih datang terlambat, jangan tanya kenapa karena sejak awal dia memang malas menghadiri acara seperti ini. Seminar diadakan di sebuah convention hall terbesar di pusat kota segera Al memarkirkan mobilnya di parkiran dan berjalan santai menuju aula pertemuan tepat saja, ia terlambat acara sudah dimulai. Al ingin meninggalkan acara itu namun ia ingat jika saja ia tidak datang ke sana Naira akan memastikan dirinya mati di tempat dan ia tidak mau mengambil resiko itu. Jadi dengan keterpaksaan gadis itu masuk, di depan pintu sudah berjaga dua bodyguard pemeriksa undangan masuk.

"Permisi nona bisa saya lihat undangannya?" tanya salah seorang dari mereka, segera Al mengeluarkan kartu undangannya hanya butuh satu menit untuk men-scan barcode yang ada di kartu undangan. Sesaat setelah menyerahkan kartunya ia merasa mengenal dua bodyguard ini namun Al tidak memperdulikannya dan memilih asik dengan dirinya.

"Ini undangan anda nona selamat menikmati seminar" ucap keduanya bersamaan. Al, dia hanya tersenyum miris lalu memasuki ruangan sudah ada seorang pria di mimbar mempresentasikan powerpointnya dengan semangat. Entah apapun isi seminar itu Al tidak memberi perhatian ia hanya datang duduk dan merekam suara agar ada bukti bagi Naira. Belum sepuluh menit Aleta sudah memasang airpodsnya dan mendengar lagu, asik dengan lagunya Al memilih tidak perduli dengan lingkungan sekitarnya dan kemudian membaca komik. Bergumul dengan komik dan lagunya tiba-tiba saja sorot lampu mengarah padanya gadis itu kesilauan ia membuka airpodsnya lalu melihat ke depan. Matanya terbelalak terkejut ia benar-benar tidak percaya apa yang ia lihat di atas panggung dan dia saat yang bersamaan pula orang di sampingnya berbicara padanya.

"Ahhh dia benar-benar sudah kehilangan akal." ucapnya dengan penuh rasa depresi. Sontak Aleta memandang ke samping orang yang berkata itu, dan betapa terkejutnya Al melihat pria itu dan kemudian melihat lagi ke panggung dengan mata tidak percaya apa yang dilihatnya.

“Kalian berdua benar-benar akan aku bunuh” ucap Al pelan dengan tatapan penuh amarah.

Hot

Comments

ღYaraღ

ღYaraღ

This book is my new favorite. I couldn't put it down!

2025-11-23

0

See all

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play