Aleta
Jam weker berdering kencang meneriakkan bunyi lantang untuk membangunkan seorang gadis yang sedang tergulung nyaman oelh selimutnya. Gadis itu bernama Aleta akrab dipanggil Al yang dijuluki 'Clown Smile' ia diberi julukan itu karena terkadang senyum Al memberikan sinyal ambigu. Saat ini ia sedang bergumul dengan selimutnya hingga akhirnya ia bergerak dari tempat tidurnya berusaha menguatkan tekad untuk bangkit dari kasurnya namun tidak bisa
'Ahhh malas banget pergi ke kantor sekarang... pergi ngak yah. Pergi ajalah nanti kena amuk kelar gua' ungkapnya dalam hatinya.
Pada akhirnya ia bergerak malas, bangun dari kasurnya sambil mematikan jam weker yang masih berdering itu. Al lalu berjalan menuju tirai di kamarnya, menyibak tirai itu lebar-lebar membiarkan sinar matahari menembus kaca jendelanya dan memberi kehangatan pagi pada tubuhnya yang pendek. Saat ini jam masih menunjuk pukul lima pagi, Aleta memutuskan untuk berolahraga di basement rumahnya. Gadis itu tinggal sendiri di rumah dua lantai miliknya yang lumayan jauh dari area perkotaan. Ia sudah tinggal sendiri sejak magang di tempat kerjanya, saat ini sudah tiga tahun sejak itu. Kini ia sudah duduk sebagai ketua divisi akuntansi di perusahaannya. Usai dengan olahraga, Aleta mandi dan berganti pakaian siap untuk bekerja ia menggendong tas ransel hitam di bahunya.
'Laptop sudah, handphone juga sudah… ehh… charger siap, kacamata ada, dompet juga sudah. Oke udah siap semua' batinnya.
Sambil memastikan seluruh bawaannya ia berjalan turun ke ruang makan di lantai satu. Hari ini Al malas untuk sarapan berat jadi ia hanya memanggang roti dengan selai cokelat dan segelas kopi. Selesai sarapan ia meraih kunci motornya. Tidak lupa membawa helm dan sarung tangan kemudian menggulung rambutnya dan memakai helmnya. Setelah semua persiapan selesai ia melajukan sepeda motornya. Butuh tiga puluh menit untuk sampai di kantornya ia memilih untuk tidak terburu-buru.
Al sampai di kantornya segera memarkir motornya dan memasuki gedung kantor besar itu. Biasanya, kantor masih sepi jam segini apalagi untuk gedung utama. Kantor Al terdiri dari tiga gedung, gedung pertama atau disebut gedung utama memiliki empat puluh lantai setiap lantai diisi oleh divisi yang berbeda-beda dan bisnis yang berbeda beda. Untuk gedung kedua disebut sayap kanan merupakan tempat untuk meeting, convension hall, dan pagelaran besar lainnya. Dan gedung ketiga disebut sayap kiri, adalah tempat istirahat terdapat beberapa kamar yang biasa dihuni oleh orang-orang yang lembur ada juga kafetaria dan tempat olahraga. Kembali ke Al, gadis itu membuka pintu gedung utama betapa terkejutnya dia ketika melihat bahkan lantai resepsionis dipenuhi banyak orang dari berbagai divisi lari kesana-kemari ada yang naik lift bahkan lari melalui tangga.
Al bingung apa yang sedang terjadi, ingin bertanya namun orang-orang sepertinya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Asik kebingungan kepala Al di tepuk sangat kencang dari belakang Al yang terkejut siap memasang kuda-kuda dengan tangan dikepal lalu menghadap belakang. Belum sempat tangannya melayang ia menghentikan gerakannya karena yang menepuk kepalanya adalah seorang gadis dengan perawakan lebih pendek dari Al dan begitu manis. Gadis itu menatap tajam ke arah Al begitu siap untuk meledak ia adalah sekretaris Aleta.
"ALLLL......LOE DARI MANA AJA KAMPRET!?! DITELPON NGAK DIANGKAT DI KIRIM PESAN NGAK DIBALAS. DI SPAM JUGA NGAK DITANGGAPIN!!!" emosi gadis itu dengan mata berair yang siap untuk menangis. Al yang terkejut dengan statement gadis itu segera ia mengambil ponselnya benar saja ponselnya 'MATI' segera Al menyalakan ponselnya itu, mata Al membulat sempurna melihat ratusan panggilan tak terjawab dan ribuan pesan dari semua medsos yang ia miliki, ia menepuk jidatnya sambil menyebut dirinya sendiri tolol.
'Mampus gua!! Pantesan Ra marah banget. Sialan pake acara lupa nyalain handphone lagi. Ini juga lagi kenapa sihh?!!' batinya syok.
Ia kemudian kembali menatap gadis yang ia panggil dengan panggilan Ra yang sedang berdiri tegap di depannya. Gadis itu bernama lengkap Naira Euphor Dimitri akrab dipanggil Ra usianya sama dengan Al.
"Ra sebelum loe lanjut marah lagi gimana kalo dijelasin dulu ini kenapa??" tanya Al dengan hati-hati.
"Presdir mau datang ke kantor hari ini, tadi Wakil Presdir ngabarin semua divisi buat ngasih semua hasil kerjanya hari ini juga. Dia juga minta semua laporan dan data pemasukan serta pengeluaran dari Divisi Accounting!?!?!" ungkap Naira dengan air mata yang siap tumpah di pucuk matanya, Al terdiam sesaat.
'Presdir....ta..tadi Naira bilang Presdir kan?? Ahh gampang kan semua laporan udah gua selesaiin' ungkap Al dalam hatinya dengan tenang sebelum akhirnya ia membulatkan matanya kembali.
'Anjir lupa belum dipindahin bangke mana banyak lagi!?!? Presdir mau datang goblok!!' dari posisi berpikir Al menampar dirinya sendiri lalu mengenggam kedua bahu Naira dan menatap ke dalam biji mata gadis itu.
"Naira Euphor Dimitri dengerin gue panggilin semua anak-anak ke lantai sembilan belas. Suruh semua balik oke!" ucapnya dengan mata terbelalak.
Segera Naira mengangguk lalu memanggil semua akuntan dan naik ke lantai divisi mereka di lantai sembilan belas. Sesampainya disana betapa terkejutnya mereka Al sudah ada di ruangannya mengenakan kacamatanya, jas serta tasnya terbuang di sofa, komputer sudah menyala, rambutnya serta lengan baju sudah digulung. Jika sudah dengan style ini maka Al sedang serius semua orang tahu style serius seorang Aleta, orang-orang disana berjumlah enam belas orang sedang terdiam memandang Al bekerja. Sepuluh menit dalam keheningan tidak ada satu orang pun yang berani bicara semua mata tertuju pada seorang Al.
"Woi sini flashdisk lu pada yang kosong sekarang!!" pinta Al membuat seisi ruangan terkejut dan malah panik mencari flashdiks.
Mereka mengumpulkan kira-kira sepuluh flashdisk lalu dimasukkan ke dalam keranjang kecil lalu memberikannya kepada Aleta. Secepat kilat gadis itu menyelesaikan pekerjaan yang membuat seluruh divisi akuntan hampir menangis. Usai dengan pekerjaannya ia merapikan dirinya lalu menyeret Naira masuk lift bersamanya. Bersamaan dengan masuknya dua gadis itu ke dalam lift semua akuntan terkagum dengan pekerjaannya.
"Oi ... oi..oi kita mau kemana kok nyeret-nyeret gua sih??" ucap Naira.
"Yah mau keruangan wakil direkturlah mau kemana lagi Ra???" balas Aleta sambil menekan tombol tiga puluh delapan mereka memberi julukan HELLHOUND pada wakil direkturnya karena, terhitung sampai saat ini sudah dua tahun pria itu menduduki posisi itu hingga saat ini. Di perusahaan Al yang mampu menjabat hampir dua bulan saja menjadi wakil direktur sudah termasuk hebat mengingat direktur mereka yang unik. Direktur perusahaan Al hanya datang sesekali ke kantor namun sekali ia datang kantor akan seperti komputer yang di-restart ulang, semua pimpinan dan orang-orang yang tidak becus akan langsung digantikan tidak perduli pekerjaannya dulu sangat baik atau bagaimanapun. Bagi Direkturnya barang rusak tetaplah rusak jadi harus diganti membuatnya mendapat julukan RAJA IBLIS.
Kembali ke Al dan Naira mereka sudah di lantai tiga puluh delapan mereka disambut oleh sekretaris sang wakil direktur, ia adalah Yeodira Grace Harun akrab dipanggil Dira usia nya setahun lebih muda dari Al dan Naira. Ia gadis yang bersemangat dan ceria serta sekretaris yang kompeten.
"Selamat datang nona Aleta dan nona Naira, Bapak sudah menuggu di ruangan." Ucap Dira sopan.
"Yoek, makasih Dira" balas Al dengan santai dan melenggak masuk tanpa mengetuk sedangkan Naira membalas dengan senyum dan anggukan sopan lalu mengejar Al yang dengan gamblangnya masuk tanpa mengetuk.
Di dalam ruangan sudah ada sang wakil direktur Alexander Kresna Adinatha akrab dipanggil Alex. Alex dan Al sudah saling kenal sejak masih kuliah dan mereka mengenal Naira saat magang di kantor dulu. Alex sedang duduk memandang ke luar jendela saat Aleta dan Naira masuk ke ruangannya. Ia membalikkan kursinya lalu menyambut Aleta dan Naira, namun tangannya siap untuk menebas leher Aleta. Karena Alex tahu orang yang mendobrak masuk pasti Al. Mana ada manusia yang berani masuk kantor atasannya segamblang itu tanpa salam atau mengetuk pintu kecuali Al, bagi Alex ia sudah menobatkan Al sebagai setan tidak beradap.
Al tidak peduli apapun ekspresi wajah Alex saat ini ia hanya masuk dan meletakkan flashdisk di tangannya di atas meja pria itu lalu merebahkan diri di sofa. Alex langsung bangun dari kursinya dan tangannya siap menepas kepala Al, namun bersamaan dengan itu Al melompat dari sofa dan menahan tangan Alex.
"Ehh tidak kena," ucap Al lalu menepis tangan Alex lalu kembali rebah di sofa.
"Ngak bisa yah lu ngetok gitu ngucap syalom atau assalamualaikum atau apa kek. Main masuk aje lu kek dedemit tau ngak" hina Alex lalu duduk di sofa. Sesaat ia memandang Naira yang enggan duduk lalu tersenyum.
"Duduk Ra ngak usah segan gitu kalo Al mah udah biasa itu emang setan nih anak." ungkap Alex.
"Ini mau otw Lex kaget aja si Al maen lenggak" ucap Naira. Hampir lima belas menit Al, Naira, Alex, dan Dira yang diseret masuk oleh Al dengan alasan ngak seru kalo tidak ada dirinya. Mereka mengobrol sambil membantu Alex mengerjakan dan menyusun semua laporan yang akan ia serahkan kepada direktur. Tepat di menit ke tiga puluh Al dan Naira pamit karena Al baru teringat ia ada janji dengan Reyhan ketua divisi marketing mereka.
"Udah yah gua balik dulu mau ketemu Reyhan kemaren dia nyuruh mampir" ucap Al.
"Ngapain Al??" tanya Alex.
"Yah mana gua tau bambang?!?!? Kalo gua tau elu juga pasti tau!?!?" emosi Al.
"Oh.. ya udah pergi sono hush hush" usir Alex.
"Biasa aja ngusirnya Lex, biasa aja!! Ra, lu ikut ngk??" tanya Al sambil berjalan keluar ruangan memasuki lift lalu menekan tombol angka dua puluh empat yah disana adalah lantai divisi marketing dan tempat ruangan Reyhan selaku ketua divisi marketing berada. Tepat di lantai dua puluh empat pintu lift terbuka namun mereka mendapati pria berpakaian serba hitam dan masker berdiri di depan lift, mereka bertiga bertatapan hampir lima menitan. Hingga Al dan Naira keluar lift saat di posisi berpapasan mereka menyapa pria itu dengan anggukan sopan dibalas anggukan juga oleh pria itu. Sebelum mereka berdua berlalu pria itu menahan tangan Al, ia menatap ke belakang dengan tatapan sinis nan dingin.
"Boleh saya tahu dimana lantai ruangan wakil direktur?" tanya dengan nada datar.
"Oh itu ada di lantai tiga puluh delapan pak." jawab Al sambil melepas paksa tangannya.
"Terima Kasih" ucap pria itu lalu masuk ke dalam lift.
Seusai pria itu berlalu Al mengejar Naira.
"Dasar pria aneh!" gumamnya.
"Ha?? ngomong apaan lu??" tanya Naira.
"Kagak ada udah masuk sana!" ucap Al.
Mereka menjumpai Reyhan, nama panjangnya Reyhan Aditya Yuda. Mereka membicarakan pertemuan yang akan dihadiri Rey minggu depan dan Rey berencana membawa Al bersamanya. Dan Al segera meminta Naira selaku sekretarisnya untuk mengaturkan jadwalnya. Setelah pembicaraan itu Aleta dan Naira kembali ke lantai mereka dan kembali bekerja. Setelah hari yang panjang jam pulang pun tiba Aleta segera bersiap pulang ia lalu turun ke lantai utama. Saat akan meninggalkan gedung kantor ia melihat Alex yang berjalan cepat ke arahnya yang membuat Al berasa ada di film Conjuring. Ia lalu berlari menuju parkiran menghindari Alex yang membawa aura seram sangking seramnya Aleta sampai tidak bisa memasukkan kunci motornya pada tempatnya.
"ALETA!!" Senggak Alex yang berdiri menahan motor Al.
"APA??? APA ALEX??" teriak Al merinding.
"Gue baru bertemu Pak direktur abis kalian keluar." jelas Alex.
"Terus?" tanya Al.
"Dia mau ketemu elu besok kapan lo bisa?" tanya Alex
"Jam makan siang kayaknya gua kosong soalnya Pak Reyhan ngajak ketemu klien besok pagi. Kalo jelasnya tanya Naira deh sana dia yang tau semua jadwal gua. Udah sana-sana gua mau pulang!" jelasnya.
"Oh oke berarti gua nelpon Naira aja kan?" ucap Alex sambil mengambil ponselnya mencari nomor Naira.
"Ingat nanya jadwal gua aja bukan jadwal nikahan!!" ejek Al sambil melenggak pergi menhindari amukan Alex Al tahu bahwa pria itu menaruh hati pada sekretarisnya itu sebabnya Al selalu berusaha menyeret Naira ikut bersamanya jika Alex ada dalam kegiatan itu. Sebelum pulang Al mampir ke warung sate madura kesukaannya saat ia memesan ia melihat pria yang sekilas ada di kantornya tadi pagi masih dengan pakaian serba hitamnya. Namun Al agak kurang yakin sehingga ia memilih bodoh amat lalu memesan makanan kesukaannya, setelah mendapatkan yang ia inginkan segera ia melaju pulang.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 34 Episodes
Comments