BAB 2: HAL-HAL KECIL

Orang bilang, cinta itu datang tiba-tiba kayak

petir di siang bolong.

Menurutku, itu omong kosong.

Cinta itu datengnya pelan-pelan. Kayak air mendidih. Kamu nggak sadar suhu naik, sampai suatu hari—byar—gelembung-gelembung itu muncul, dan kamu baru sadar kalau ternyata udah kepanasan dari tadi.

Dengan Nadia, gelembung pertama muncul waktu suatu pagi.

---

Pagi itu, jam 05.45, aku udah di garasi kayak biasa. Nyalain AC, setel radio, cek mobil—rutinitas yang udah hafal di luar kepala.

Tapi Nadia nggak turun jam 06.00.

Jam 06.05, belum.

Jam 06.10, masih kosong.

Aku mulai mikir. Mungkin dia sakit. Mungkin ada urusan. Mungkin—

Pintu belakang mobil terbuka.

"Maaf, Mas Jaka, aku telat."

Aku noleh. Nadia masuk, tapi matanya... beda. Matanya sembab. Merah. Kayak orang baru nangis semalaman.

"Si—siap, Neng. Langsung?"

"Iya, Mas. Buruan. Aku udah telat."

Aku gas. Macet pagi itu kayaknya nggak peduli sama kesedihan orang. Lampu merah di mana-mana. Klakson di kiri kanan. Jakarta nggak pernah punya hati.

Di spion, aku liat Nadia diem aja. Nggak baca buku. Nggak main hape. Cuma liat ke luar

jendela, dengan mata kosong.

Aku pengen ngomong sesuatu. Tapi ngomong apa? "Kenapa Neng nangis?" Bukan urusanku. "Ada apa, Neng?" Juga bukan urusanku.

Aku cuma sopir.

Tapi di lampu merah keempat, aku nggak tahan.

Udara di dalam mobil rasanya berat banget. Kayak ada raksasa lagi duduk di atap.

Aku puterin radio sedikit. Mencari lagu yang nggak terlalu ceria, nggak terlalu sedih. Dapet satu—instrumental, piano doang. Pelan.

Di spion, aku liat Nadia lirik ke arahku sebentar. Lalu dia senyum tipis.

Senyum tipis itu kayak sinar matahari di

tengah kabut.

---

Di lampu merah kelima—iya, Jakarta memang sial—Nadia buka suara.

"Mas Jaka."

"Ya, Neng?"

"Mas Jaka pernah patah hati?"

Aku hampir keselek. Pertanyaan apa ini jam setengah tujuh pagi?

"Eh... pernah kali, Neng."

"Cerita dong."

"Cerita?"

"Iya. Biar aku lupa sama punya aku."

Aku mikir keras. Masa lalu yang mau diceritain ke anak majikan? Tapi dia minta. Dan matanya... matanya itu kayak anak kecil yang lagi sedih dan butuh hiburan.

"Dulu waktu di kampung, Neng. Aku suka sama anak tetangga. Cantik. Baik. Kita deket. Tapi pas aku bilang mau merantau ke Jakarta, dia bilang..."

"Bilang apa?"

"Dia bilang, 'Jaka, kamu nggak usah jauh-jauh. Nanti lupa kampung halaman.' Aku pikir itu kode buat aku jangan pergi. Tapi ternyata..."

"Ternyata?"

"Ternyata dia udah deket sama laki lain pas aku masih di kampung. Aku tahu pas aku udah di Jakarta. Dari status Facebook. Tagar #Jadian."

Nadia ketawa. Beneran ketawa. Buat pertama kalinya pagi itu.

"Mas Jaka, itu sedih tapi lucu."

"Iyah, Neng. Pahit-getir kehidupan."

Dia ketawa lagi. Kali ini lebih lega.

"Makasih, Mas."

"Buat apa, Neng?"

"Buat cerita. Buat... ngalihin."

Aku cuma angguk. Lampu hijau. Kita jalan lagi.

Tapi di dalem hati, aku mikir: siapa yang bikin dia nangis semalaman? Dan kenapa laki-laki sebodoh itu nyakitin dia?

---

Seminggu kemudian, aku tahu jawabannya.

Namanya Reza. Anak pengusaha. Kuliah di kampus yang sama. Ganteng. Mobilnya Mercy. Sering jemput Nadia—tapi belakangan udah jarang.

Ceritanya sampainya dari obrolan nggak sengaja. Nadia lagi nelpon sama temennya di mobil. Mungkin kira aku nggak denger. Atapi mungkin emang udah nggak peduli.

"Iya, dia udah deket sama cewek Fakultas Kedokteran... Iya, anak dekan... Iya, udah sebulan lalu... Nggak, nggak apa-apa kok, aku udah ikhlas..."

Aku denger, tapi pura-pura sibuk sama jalanan.

Di spion, aku liat dia ngelap air mata. Cepet-cepet. Kayak malu kalau ketahuan.

Aku muter lagu sedikit lebih keras. Biar dia ngerasa ada suara lain selain isak tangisnya.

---

Hari-hari setelah itu, Nadia berubah sedikit.

Dia lebih banyak ngobrol di mobil. Nggak melulu soal kuliah atau tugas. Kadang nanya soal kampungku. Soal orang tuaku. Soal kenapa aku milih jadi sopir.

"Mas Jaka, sopir itu cita-cita dari kecil?"

"Bukan, Neng. Cita-cita kecil saya jadi astronot. Tapi ternyata butuh matematika."

Dia ketawa. Aku suka dengar dia ketawa.

"Terus kenapa jadi sopir?"

"Karena cuma ini yang bisa saya lakuin pas pertama kali sampe Jakarta. Nggak punya

ijazah tinggi, nggak punya koneksi. Tapi bisa nyetir. Alhamdulillah, ada rejeki lewat sini."

"Mas Jaka nggak pengen sekolah lagi?"

"Pengen. Tapi nanti. Nabung dulu."

"Mas Jaka mau sekolah dimana?"

Aku mikir. "Nggak tahu, Neng. Yang penting bisa. Yang penting naik kelas."

Dia diam sebentar. Lalu bilang, "Mas Jaka itu... baik. Dan pinter. Tapi nggak pede aja."

Aku tersenyum kecil. "Bukan nggak pede, Neng. Tahu diri."

Dia liat aku dari spion. Lama.

"Apa bedanya?"

"Pede itu yakin bisa. Tahu diri itu tahu batasan."

Dia nggak jawab. Tapi matanya... matanya kayak mau bilang sesuatu.

Untung kita udah sampe gerbang kampus.

---

Sore itu, pas jemput, Nadia bawa bungkusan.

"Ini buat Mas Jaka."

Aku bengong. "Apa ini, Neng?"

"Buka aja."

Aku buka. Isinya buku. Dua buku. Satu buku motivasi, satu lagi buku soal-soal matematika.

"Mas Jaka bilang mau sekolah. Ini... aku pinjemin. Buat latihan."

Aku diam. Nggak tahu harus ngomong apa.

"Jangan salah sangka dulu. Bukan apa-apa. Cuma... aku punya banyak buku bekas. Daripada nganggur. Mending dipake."

Aku liat dia. Dia liat ke luar jendela. Malu-malu.

"Makasih, Neng."

"Iyah. Makasih udah mau dengerin cerita aku."

Sepanjang jalan pulang, aku nggak bisa berhenti mikir.

Siapa yang nyangka? Dari nganterin anak kampus, sekarang dapet buku les.

Dan siapa yang nyangka, dari sekadar sopir, sekarang ada anak majikan yang peduli sama masa depanku.

---

Malam itu, di mess, aku buka buku motivasi itu.

Di halaman pertama, ada tulisan tangan. Tulisan Nadia.

"Untuk Mas Jaka, yang lebih tahu diri daripada kebanyakan orang yang aku kenal. - N"

Aku baca tulisan itu berulang-ulang.

Lalu aku tutup buku. Lalu aku buka lagi. Lalu aku tutup lagi.

Jantungku berdetak kencang. Nggak jelas kenapa.

Mungkin karena gelembung-gelembung itu mulai muncul. Mungkin karena air mulai mendidih.

Dan aku—aku cuma bisa diam, nunggu siapa yang bakal matiin kompor sebelum semuanya meluap.

---

Bersambung...

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play