BAB 4: HUJAN YANG TAK PERNAH TEPAT WAKTU

Sejak "serangan hati di siang bolong" itu, aku memutuskan satu hal: jaga jarak.

Bukan karena aku nggak sayang. Justru karena aku sayang—aku nggak mau bikin hidupnya tambah runyam. Udah cukup Pak Hartawan lihatku dengan mata curiga. Udah cukup Nadia nangis karena omongan orang.

Aku harus jadi sopir yang baik. Sopir yang nggak pernah noleh ke belakang. Sopir yang cuma fokus ke jalan.

Hari pertama.

Pagi-pagi, jam 06.00, Nadia turun. Bajunya putih. Rambutnya diikat ekor kuda. Mata

agak sembab—apa semalem nangis lagi?

"Pagi, Mas Jaka."

"Pagi, Neng."

Aku lurus ke depan. Nggak noleh. Nggak liat spion terlalu lama. Mata fokus ke jalan kayak lagi belajar nyetir pertama kali.

Diam.

Sepanjang jalan, Nadia nggak ngomong. Biasanya dia muterin lagu dari hape, nyambung ke Bluetooth mobil. Tapi pagi ini, nggak ada suara.

Cuma deru mesin dan suara klakson dari luar.

Di lampu merah, aku nggak sengaja liat spion. Dia lagi liat aku. Cepat-cepat aku alihin pandangan.

"Mas Jaka."

"Ya, Neng?"

"Kamu... lagi ngapain sih?"

"Nyetir, Neng."

"Bukan. Maksud aku... kamu lagi..."

Dia berhenti. Susah nyari kata.

Aku diem. Nggak bantu nyariin.

"Udah, nggak apa-apa."

Lampu hijau. Kita jalan lagi.

---

Hari kedua. Hari ketiga. Hari keempat.

Pola yang sama.

Aku sopir profesional. Nadia penumpang yang sopan. Nggak ada obrolan lebih. Nggak ada tawa. Nggak ada pertanyaan "kenapa orang suka pilih yang salah".

Cuma diam.

Tapi di dalem mobil yang sunyi, rasanya ribut banget. Pikiranku kayak pasar tumpah. Nadia di belakang, mungkin juga sama.

Aku tau dia sakit hati. Tapi aku juga tau, ini yang terbaik.

Terbaik buat siapa?

Suara dalam kepala itu muncul tiap malam.

---

Hari Jumat.

Sore itu, awannya gelap. Udara panas dan pengap—tanda mau hujan deras. Aku jemput

Nadia jam 4, mampir dulu ke kampus buat ambil dia.

Pas sampe gerbang, dia udah nunggu. Tapi di sampingnya ada cowok.

Ganteng. Pake kemeja linen putih. Celana bahan. Tas selempang mahal. Masih muda, seumuran Nadia.

Mereka ngobrol. Cowok itu megang pundak Nadia sebentar. Nadia ketawa.

Perutku rasanya diaduk-aduk.

Siapa itu?

Temen kuliah?

Mantan?

Yang baru?

Aku coba tenang. Ini bukan urusanku. Jaka, lo cuma sopir. Jaga jarak. Udah.

Nadia masuk mobil. Cowok itu melambai. Nadia balas lambai.

"Neng, itu...?"

"Oh, itu Reza. Temen kuliah."

Reza. Mantannya. Yang bikin dia nangis di mobil beberapa waktu lalu.

Aku diem. Jalan.

"Nggak tanya lagi, Mas?"

"Tanya apa, Neng?"

"Tanya... kenapa aku bisa ketawa sama dia. Padahal dia yang nyakitin aku."

Aku napas. Mikir. Lalu...

"Nggak, Neng. Bukan urusan saya."

Nadia diem. Tapi setelah beberapa menit, dia

ngomong pelan.

"Dia minta maaf. Katanya mau balikan."

Dunia rasanya berhenti. Tangan di setir gemeter dikit. Tapi muka tetep datar.

"Trus... Neng mau?"

"Belum tau."

Aku diem. Mau ngomong apa? "Jangan, Neng" — itu bukan hakku. "Iya, Neng, diterima aja" — itu bunuh diri.

Jadi aku pilih opsi ketiga: diem.

---

Di lampu merah, tiba-tiba setetes air jatuh di kaca depan.

Lalu satu. Lalu banyak.

Hujan.

Bukan hujan biasa. Ini hujan lebat. Deras. Kayak lagi marah sama Jakarta. Wiper mobil jalan paling kenceng, tapi masih aja susah liat jalan.

Macet total. Air mulai naik di beberapa titik.

Aku muter, cari jalur alternatif. Tapi hujan makin gila. Di satu tikungan, aku lihat jalan di depan udah kayak sungai. Air setinggi setengah meter.

"Neng, kita berhenti dulu. Bahaya kalau diterusin."

Aku minggirin mobil ke pinggir. Tempat teduh di bawah jembatan tol. Masih agak kering. Di luar, hujan menderas. Suaranya kayak dipukul-pukul.

Nadia diem aja. Liat ke luar jendela. Lalu tiba-

tiba...

"Mas Jaka, aku takut."

Aku noleh. "Takut apa, Neng?"

"Takut sama... banyak hal."

Mata dia liat aku. Basah. Mungkin karena hujan di luar, mungkin karena sesuatu di dalam.

Aku inget omongan Pak Hartawan. Jaga jarak.

Tapi di sini, di mobil yang jadi pulau kecil di tengah banjir, di tengah hujan yang kayak nggak mau berhenti, gimana caranya jaga jarak?

Dia di kursi belakang. Aku di depan. Jarak fisiknya cuma satu meter. Tapi jarak hatinya—aku nggak tau lagi.

"Aku takut salah milih. Takut salah ambil keputusan. Takut nyakitin orang. Takut... ditinggal lagi."

Aku diem. Napas.

"Nadia."

Aku manggil namanya. Tanpa "Neng" untuk pertama kalinya.

Dia kaget. Tapi matanya... matanya kayak bilang: akhirnya.

"Saya... aku cuma sopir. Aku nggak punya apa-apa. Tapi satu hal yang aku tau: orang yang bener-bener sayang, nggak bakal nyakitin kamu dua kali."

Dia diem.

"Reza udah nyakitin kamu sekali. Dia bisa aja minta maaf sekarang. Tapi nanti? Aku nggak

tau. Kamu juga nggak tau. Yang aku tau, kamu pantas dapet yang lebih baik dari sekadar 'maaf'."

Nadia nunduk. Tangannya di pangkuan, gemeter.

"Terus... siapa yang lebih baik itu?"

Aku diem. Jantung berdetak kenceng.

Dia angkat muka. Liat aku.

"Jaka."

Dia manggil namaku. Lagi.

"Aku nggak minta kamu jadi apa-apa. Aku cuma minta kamu... ada. Buat aku. Di sini. Sekarang."

Hujan masih deres di luar. Dunia kayak kiamat kecil. Tapi di dalam mobil ini, rasanya

adem.

Aku napas. Lalu...

"Aku di sini, Nadia. Nggak ke mana-mana."

Dia senyum. Senyum pertama dalam beberapa hari.

Lalu dia buka pintu belakang. Pindah. Duduk di kursi depan. Di sampingku.

"Nadia..."

"Aku cuma mau duduk di sini. Sebentar. Sampe hujan reda."

Aku nggak bisa nolak. Nggak punya alasan.

Dan kita diem. Liat hujan. Liat air naik di pinggir jalan. Liat dunia yang kayak lagi mulai ulang.

Di sela suara hujan, aku denger dia napas.

Pelan. Tenang.

Kepalanya nyender ke jok. Matanya setengah merem.

Dan aku—aku cuma bisa diem. Nyetir sih nggak, tapi kayaknya lagi nyetir di jalan yang nggak tau ujungnya.

---

Satu jam kemudian, hujan reda.

Air surut. Jalan mulai kelihatan.

Aku anter Nadia pulang. Dia turun di garasi. Tapi sebelum nutup pintu, dia balik badan.

"Jaka."

"Ya?"

"Makasih udah... ada."

Dia pergi. Pintu rumah nutup.

Aku diem di mobil. Liat pintu itu. Liat langit yang udah cerah.

Di spion, aku liat muka sendiri.

Muka sopir yang baru aja nyelametin anak majikan dari banjir. Atau nyelametin hatinya? Entahlah.

Yang jelas, batas yang udah susah payah aku bangun selama beberapa hari, hari ini runtuh lagi.

Gara-gara hujan. Gara-gara dia. Gara-gara suara "Jaka" yang diucapin kayak gitu.

Aku napas.

Lalu muter mobil. Balik ke mess.

Malam itu, aku susah tidur. Kebayang terus:

dia duduk di sampingku. Wanginya. Suaranya. Caranya bilang "ada".

Untung besok Sabtu. Nggak ada jemputan. Ada waktu buat nata hati.

Tapi hati itu, kayak Jakarta pas hujan. Susah diredain. Gampang banjir. Dan kalau udah banjir, lama surutnya.

Mudah-mudahan aku nggak tenggelam.

---

Bersambung

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play