BAB 3: ATAP KACA

Ada satu aturan tak tertulis di rumah Pak Hartawan: kalau dipanggil ke ruang kerjanya, itu bukan buat ngobrol santai.

Ruangan itu di lantai dua. Dindingnya kaca semua—katanya biar keliatan modern, tapi menurutku biar keliatan siapa aja yang lewat.

Mejanya gede, hitam, mengkilap. Ada deretan penghargaan di belakangnya, foto-foto dengan pejabat, dan satu pigura foto keluarga ukuran besar: Pak Hartawan, Ibu, dan Nadia waktu masih kecil, pake baju seragam SD.

Aku masuk. Berdiri di depan meja. Tangan di samping, tegak kayak Paskibraka lagi upacara.

"Duduk, Jaka."

Aku duduk. Sofanya empuk banget—nyesek. Masa iya sopir duduk di sofa sekelas ini?

Pak Hartawan lagi megang hape. Matanya liat layar, tapi aku tau dia lagi ngamatin aku dari balik kaca matanya yang tebal.

"Jaka, kamu udah setahun lebih di sini, ya?"

"Iya, Pak. Setahun tiga bulan."

"Betah?"

"Betah, Pak. Alhamdulillah."

Diem. Suasana hening kayak ruang tunggu dokter gigi. Aku denger detak jantung sendiri.

"Nadia."

Satu kata. Tapi langsung bikin perutku mules.

"Iya, Pak?"

"Kamu anter dia tiap hari?"

"Iya, Pak. Pagi ke kampus, sore jemput. Kadang ada jadwal tambahan—bimbingan, organisasi, atau..."

"Atau?"

Aku mikir cepat. "Atau nongkrong sama temen-temennya, Pak. Tapi saya anter sampe

tempat, jemput pas udah selesai."

Pak Hartawan angguk. Tarik napas. Lalu...

"Belakangan ini Nadia keliatan beda. Ibu dia bilang, Nadia lebih sering diem. Tapi kalo lagi ngomong, sering nyeritain kamu."

Jantungku lompat. Tapi muka tetep usahain bego.

"Saya... nggak tahu, Pak. Mungkin karena sering di mobil, jadi banyak ngobrol. Neng Nadia emang... ramah."

Pak Hartawan liat aku tajam. Mata kecil di balik kacamata itu kayak sinar X.

"Ramah. Iya. Tapi Nadia itu bukan tipe yang ramah ke semua orang. Kamu tau itu?"

Aku diem. Nggak tahu harus jawab apa.

"Jaka." Beliau nyender ke kursi. "Bapak nggak punya anak laki-laki. Cuma Nadia. Dan Bapak sayang banget sama dia. Apa pun yang Bapak lakuin, tujuannya buat Nadia."

"Iya, Pak. Saya ngerti."

"Nadia itu masa depan Bapak. Sekolahnya bagus, masa depannya cerah. Bapak mau dia nikah sama orang yang... sepantar."

Kata "sepantar" itu diucapin pelan. Tapi keras di telingaku.

Maksudnya jelas. Sepantar. Sekelas. Sekasta.

Bukan sopir.

Aku nunduk. Napas dalem.

"Pak, saya cuma sopir. Saya tau posisi saya. Saya nggak pernah... nggak pernah berani mikir aneh-aneh soal Neng Nadia."

Pak Hartawan diam. Lalu...

"Bapak percaya kamu orang baik, Jaka. Tapi Bapak juga tau, orang baik belum tentu... cocok."

Aku angkat muka. Tatap beliau. Sopan, tapi nggak takut-takut amat.

"Saya paham, Pak."

"Jaga jarak. Jangan terlalu deket. Ngerti?"

Aku telan ludah. "Ngerti, Pak."

"Bagus. Kamu boleh pergi."

Aku berdiri. Berjalan ke pintu. Tapi sebelum keluar, Pak Hartawan bersuara lagi.

"Jaka."

Aku noleh.

"Bapak nggak benci kamu. Bapak cuma... jagain anak Bapak."

Aku angguk. Lalu buka pintu.

---

Di luar, aku napas panjang kayak baru selesai lari 10 kilometer.

Tuhan. Baru kali ini aku di-interogasi kayak maling. Padahal aku nggak ngapa-ngapain. Nggak pernah pegang tangannya. Nggak pernah liat matanya lebih dari 3 detik. Nggak pernah—yah, oke, pernah mikirin dia. Tapi itu kan dosa dalam hati. Belum tentu dihisab, kan? Kan?

Aku turun ke garasi. Duduk di kursi sopir. Pegang setir. Kosong.

Di dalam kepala, kata "jaga jarak" muter terus.

Jaga jarak.

Maksudnya, jaga jarak fisik. Atau jaga jarak hati?

Karena kalau jaga jarak fisik, itu gampang. Aku bisa duduk di depan, dia di belakang. Aku bisa nggak noleh. Aku bisa diem sepanjang jalan.

Tapi kalau jaga jarak hati... itu kayak nyuruh mata buat berhenti liat. Udah telanjur liat. Udah telanjur nyimpen.

Mobil ini, kursi ini, spion ini—semuanya udah nyimpen ribuan frame tentang dia.

Gimana caranya hapus?

---

Sore itu, pas jemput, Nadia beda.

Dari jauh, aku liat dia udah nunggu di

gerbang. Bawa buku kayak biasa. Tapi pas masuk mobil, dia langsung tanya.

"Mas Jaka, Papa manggil kamu ya tadi?"

Aku kaget. "I... iya, Neng. Tahu dari mana?"

"Dari Mama. Mama bilang Papa ngomong sesuatu ke kamu."

Aku diem. Nyetir pelan. Macet sore itu bantu banget buat mikir.

"Papa ngomong apa?"

"Nggak papa, Neng. Cuma nanya kabar. Nanya... saya betah atau nggak."

Nadia diem. Lalu...

"Mas Jaka, aku nggak bodoh."

Aku liat spion. Dia tatap aku.

"Aku tau Papa pasti ngomong sesuatu. Soal aku. Soal... kita."

Kita. Kata itu nyengat di telinga.

"Neng, nggak ada 'kita'. Cuma ada Neng, dan ada saya. Dua orang beda."

Nadia diem. Tapi matanya... matanya kayak mau nangis.

"Mas Jaka, kenapa sih susah banget?"

"Apa, Neng?"

"Deket sama kamu."

Aku nahan napas.

"Neng, saya cuma sopir. Tugas saya anter jemput. Selesai. Nggak usah... nggak usah dipikirin lebih."

"Tapi aku pikirin."

Dia bilang itu. Langsung. Tegas. Nggak malu-malu.

"Mas Jaka, aku pikirin kamu. Setiap hari. Setiap malam. Aku tau ini salah. Aku tau kata orang nggak pantas. Tapi aku nggak bisa bohong."

Lampu merah. Aku berhenti. Tangan di setir gemeter.

"Neng..."

"Jaka."

Dia manggil namaku. Tanpa "Mas". Tanpa embel-embel.

"Aku sayang kamu."

---

Macet di Jakarta sore itu kerasa kayak adegan film.

Mobil di kiri kanan. Klakson di mana-mana. Tapi di dalam Fortuner ini, sunyi.

Aku nggak bisa ngomong. Mulutku kaku.

Nadia nunggu jawaban. Matanya basah.

Dan aku—aku cuma bisa liat lampu merah yang entah kenapa lama banget berubah hijau.

---

"Jaka, bilang sesuatu."

Aku napas. Panjang. Berat.

"Neng... Nadia."

Aku liat dia di spion. Cantik. Baik. Tulus.

Dan aku tau, satu kata dariku bisa bikin dia hancur. Atau bikin dia berharap.

Tapi kata "jaga jarak" dari bapaknya masih nempel di kepala.

"Nadia, saya..."

Tiiiiin!

Klakson dari belakang. Lampu udah hijau. Mobil di belakang udah pada nggak sabar.

Aku gas. Jalan lagi. Dan kesempatan itu lewat.

Nadia diem di belakang. Nggak nangis. Tapi nggak ngomong lagi.

Dan aku—aku cuma bisa nyetir. Lurus ke depan. Padahal hati pengen belok ke tempat lain.

---

Sampai di rumah, Nadia turun tanpa bilang apa-apa.

Pintu ditutup pelan.

Aku diem di mobil. Liat dia jalan masuk ke rumah. Bayangannya ilang di balik pintu besar itu.

Sore itu, aku nggak langsung balik ke mess. Aku parkir di pinggir jalan kompleks, matiin mesin, dan duduk.

Satu jam.

Liat langit Jakarta yang abu-abu. Liat burung-burung gelap terbang entah ke mana. Liat orang-orang pulang kerja, capek, bawa keresahan masing-masing.

Di dalem hati, aku nanya.

Tuhan, ini salah?

Nggak ada jawaban. Cuma suara adzan magrib dari mushola kecil di ujung jalan.

Aku turun. Salat. Minta petunjuk.

Tapi kayaknya, Tuhan lagi diem. Atau mungkin emang pengen aku ngerasain ini semua.

Pahit. Tapi manis.

Entahlah.

---

Bersambung...

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play