CHAPTER 3 : A TRUE BLOOD OMEGA

...“Aku lahir di bawah bulan yang sama dengan mereka. Lalu mengapa rasanya seakan langit tidak pernah mengakui keberadaanku?”...

...°°°...

Langit malam menggantung bagai kanvas hitam, dipenuhi taburan bintang yang berkilau lembut. Bulan purnama tampak pucat namun menawan, menggantung seakan menatap bumi dengan tatapan dingin sekaligus penuh rahasia. Angin malam berhembus perlahan, membawa aroma embun, menyapu dedaunan yang bergetar pelan. Di antara hening dan kelam itu, langkah kaki terdengar samar, menapak pada jalan setapak yang diterangi cahaya bulan.

Di bawah cahaya itu berdiri seorang pemuda sosok yang begitu kontras dengan gelapnya malam. Rambutnya sedikit panjang, jatuh berombak melewati tengkuknya, berkilau halus seakan benang perak tersentuh sinar bulan. Wajahnya pucat dan tenang, dengan hidung mancung, bibir indah yang terkadang membentuk senyum samar, serta mata teduh yang memantulkan dunia seakan cermin air jernih.

Dialah Hyungwon.

Nama yang terdengar sederhana, tetapi ketika terucap, seakan membawa resonansi yang berbeda. Sosoknya begitu rapuh sekaligus kuat, lembut sekaligus misterius. Banyak orang berkata, jika ada bidadari yang turun ke bumi, mungkin wujudnya tak jauh berbeda dengan dirinya.

Ia berjalan pelan, langkahnya ringan, seolah bumi enggan membiarkan kakinya benar-benar menyentuh tanah. Setiap gerakan tubuhnya begitu anggun, seakan ia lahir bukan untuk dunia fana, melainkan untuk langit itu sendiri. Ada keindahan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sebuah aura yang membuat siapa pun yang menatapnya merasa kecil, namun juga damai.

Hyungwon mendongak, menatap bulan purnama di atas sana. Seolah ia berbicara dengan sang rembulan, matanya berkilau, menyimpan sesuatu yang tak terucapkan.

"Apakah aku juga sedang hidup di bawah bulan yang sama? Atau aku hanya mimpi yang lahir dari cahayanya?" pikirnya.

Bulan itu, baginya, bukan sekadar benda langit. Ia adalah penanda kesepian, saksi diam atas kerinduan yang tak pernah terucap. Setiap malam, bulan menjadi temannya, satu-satunya yang selalu ada, meski tak pernah menjawab.

Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin memenuhi dadanya. Suara jangkrik samar terdengar di kejauhan, berpadu dengan desir angin. Tapi di telinganya, semua itu hanya latar kosong. Yang nyata hanyalah degup jantungnya sendiri pelan, teratur, seolah menyatu dengan ritme malam.

Lalu, tanpa sadar, ia tersenyum tipis. Senyum itu lembut, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat bulan seakan lebih terang. Hyungwon bukan sekadar pemuda yang berdiri di bawah cahaya rembulan. Ia adalah puisi hidup, yang lahir dari kesunyian, berjalan di antara dunia nyata dan bayangan mimpi.

Dan pada malam itu, entah mengapa, bulan terasa lebih dekat. Seakan sedang menunduk, menyapa sosok rapuh namun agung yang berdiri di bawahnya.

Sebuah awal dari cerita yang belum pernah ditulis, tentang Hyungwon, sang bidadari bulan.

...°°°...

Pondok kayu itu kecil. Tersembunyi di antara pohon-pohon pinus yang tinggi dan pekat, seolah dunia sengaja melupakan keberadaannya. Malam itu, kesunyian menggantung berat di udara, hanya diselingi oleh suara angin yang menyeret serpihan salju melewati jendela.

Hyungwon duduk di kursi tua dekat jendela. Sebuah buku terbuka di pangkuannya, namun sudah lebih dari satu jam halaman itu tak tersentuh. Teh di cangkir porselennya telah lama dingin, permukaannya buram, tak lagi beruap.

Matanya kosong, menatap keluar, pada salju yang jatuh perlahan, butirannya berkilau terkena cahaya bulan, melayang seperti abu yang beterbangan setelah api padam.

Udara malam membawa aroma hutan, tapi tidak ada kehangatan di dalamnya. Hanya dingin, hanya sepi.

Suara Changkyun pecah, pelan tapi tajam, memotong keheningan itu.

“Dia melihatmu, kan?”

Hyungwon tidak menjawab. Tidak perlu. Matanya tetap mengarah ke jendela, wajahnya tak bergeming.

Di dapur kecil, Jooheon bersandar di meja kayu, lengannya terlipat di dada. Raut wajahnya jelas, keras, tegang, sarat frustrasi. Naluri Alpha yang menggelegar membuat udara di ruangan semakin berat.

“Kau seharusnya berubah wujud saat pertama kali mencium aromanya,” suaranya dalam, menahan amarah. “Kau seharusnya pergi sebelum dia melihatmu.”

Sudut bibir Hyungwon terangkat samar, membentuk senyum yang bahkan tidak mencapai matanya.

“Mengapa? Supaya ia bisa menolakku sebagai wujud serigalaku, bukan sebagai seorang manusia?”

Keheningan kembali jatuh. Tidak ada yang bisa membantah kata-kata itu.

Mereka bertiga sudah hidup seperti ini selama bertahun-tahun, seorang Beta, seorang Alpha, dan seorang Omega?

Hyungwon pernah memiliki keluarga. Hingga malam itu. Malam ketika Pack mereka diserang para rogue, malam ketika jeritan memenuhi udara, dan bau darah bercampur dengan tanah basah. Ia baru lima belas tahun ketika orang tuanya tewas dibantai. Bulan, yang katanya memberi berkat pada setiap sosok serigala, tidak memberinya apa-apa. Tidak perlindungan, tidak penghiburan.

Hanya tubuh yang rapuh, yang menggigil di musim dingin. Hanya sosok serigala yang meraung kesakitan setiap kali bulan penuh menggantung.

Sang Serigala yang bahkan membuat para Alpha gentar.

Hyungwon bangkit perlahan dari kursinya. Buku jatuh menutup di pangkuan, diabaikan. Ia melangkah keluar, pintu kayu berderit lirih di belakangnya.

Salju menyambut kakinya yang telanjang. Udara menusuk paru-parunya, mengubah setiap hembusan napas menjadi kabut putih. Ia berdiri diam, menatap hutan yang hitam pekat, seolah mendengar bisikan tak kasatmata yang hanya bisa dipahami oleh darah serigalanya.

Lalu tubuhnya mulai bergetar. Bukan sekadar gemetar kedinginan ini adalah panggilan dari dalam, tarikan takdir yang tak bisa dilawan. Kulitnya berdenyut, seakan ada cahaya yang merambat di bawah permukaan, menyusuri setiap urat dan nadi. Tulangnya bergeser perlahan, berderak nyeri sekaligus megah, seperti sebuah instrumen yang sedang disetel ulang oleh tangan dewa.

Tidak ada jeritan. Tidak ada tangisan. Hanya hening, hening yang begitu sakral, ditemani cahaya bulan yang jatuh lurus ke tubuhnya.

Dan sekejap kemudian, tubuh manusia itu lenyap.

Berganti bulu putih yang merekah satu per satu, berkilau laksana serpihan salju yang hidup. Tubuhnya meninggi, ramping, namun anggun, setiap garisnya bercerita tentang keindahan dan kekuatan. Dari matanya terpancar cahaya biru, tajam bagai es yang membakar.

Sang serigala putih itu kini berdiri di tengah salju. Nafasnya mengepul di udara, melayang seperti mahkota yang tak kasatmata. Angin malam berhenti berembus sejenak, seolah bumi pun terdiam untuk menyaksikan kelahirannya.

Indah. Mengerikan. Sebuah keajaiban. Sebuah kutukan.

Bulu putihnya tampak nyaris bersinar, menyatu dengan cahaya bulan, membuatnya terlihat seperti jelmaan roh langit. Tatapannya menusuk, bukan sebagai hewan, bukan pula sebagai manusia, melainkan sebagai sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang melampaui keduanya.

Malam ini, sosok serigala itu telah mencium aroma pasangan hidupnya.

Hyungwon tetap berdiri di sana, tegak, mulutnya menghembuskan uap yang melayang seperti mahkota. Tidak ada yang bisa menggoyahkannya. Ia tampak anggun, tenang, nyaris seperti raja.

Namun saat tubuhnya kembali menyusut, bulu itu lenyap, dan hanya sosok manusia yang tersisa, kurus, pucat, rapuh dalam baju tidur tipis dingin itu tidak lagi hanya di udara. Dingin itu telah masuk ke dalam dirinya.

Ia menengadah, menatap bulan. Bulan penuh, bulat sempurna, menggantung di langit seperti dewa yang hanya bisa melihat, tak pernah mendengar.

Dan pelan, nyaris tak terdengar, suara Hyungwon mengalun.

“Jika aku memang ditakdirkan untuknya… mengapa rasanya begitu menyakitkan?”

Bulan tetap diam.

Seperti biasanya.

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play