...“Tubuhku terbakar demi seseorang yang bahkan tak ingin menyentuhku.”...
...°°°...
Itu datang lebih cepat dari yang ia duga.
Hyungwon meringkuk di lantai kamarnya, tubuhnya gemetar tak terkendali. Keringat mengalir di pelipisnya, menempel pada kemeja tipis yang kini basah dan lengket di kulitnya.
Pucat wajahnya kontras dengan rona merah samar yang menjalar di pipi dan leher, heat yang menyala seperti bara dari dalam. Napasnya tersengal, pendek-pendek, seakan setiap tarikan udara adalah pertempuran kecil yang tak pernah dimenangkan.
Setiap saraf tubuhnya berteriak. Menjerit minta diisi, minta dipenuhi, oleh sesuatu yang tak ia miliki… oleh seseorang yang tak menginginkannya.
Heat.
Kutukan seorang Omega.
Ia menggigit ujung selimut, menahan suara yang hampir pecah, tangis bercampur erangan. Ia tidak bisa membiarkan Changkyun atau Jooheon mendengar ini.
Tidak dalam keadaan selemah ini. Tidak dalam kondisi sehancur ini. Mereka selalu mengkhawatirkannya, dan Hyungwon tak sanggup menjadi beban lebih dari yang sudah ia rasa.
Namun rasa sakit itu tak tertahankan.
Tuhan… sakit sekali.
Tulang belakangnya terasa seperti terbakar, darahnya mendidih, dan kulitnya hipersensitif terhadap setiap sentuhan udara dingin malam. Bahkan jari-jarinya bergetar, seolah tubuhnya mencari sesuatu yang tak ada di sana.
Setiap detik, tubuhnya memanggil nama yang sama.
Alpha-nya.
Yang seharusnya menjadi pelindung.
Yang seharusnya hadir di sisinya.
Hoseok.
Tapi di kepalanya, Hyungwon tahu. Hoseok tidak akan datang. Hoseok pasti kini berada entah di mana, mungkin sedang berbaring nyaman dalam pelukan Minhyuk. Tenang. Damai. Jauh dari api yang kini melalap habis dirinya.
Hyungwon mencoba berubah wujud, berharap bisa menemukan ketenangan dalam sosok serigalanya. Tapi usahanya sia-sia. Bahkan serigalanya meraung kesakitan, meraung seperti binatang terluka. Menangis. Ditolak. Tidak diklaim.
“Berhenti…” ia berbisik pada dirinya sendiri, suaranya pecah. “Tolong… berhenti…”
Tapi heat itu tidak berhenti.
Ia tidak akan pernah berhenti.
Tubuhnya melengkung ke belakang, seperti ditarik paksa oleh sesuatu yang tak kasatmata. Air mata jatuh membasahi pipinya, bercampur dengan keringat yang asin. Seluruh tubuhnya bergetar, rapuh, lemah, seakan sebentar lagi akan hancur berkeping-keping.
Hampir tengah malam ketika pintu depan kabin terbuka keras, terhempas oleh kekuatan yang liar.
Aroma itu datang lebih dulu. Pekat. Gelap. Menghantam udara dengan amarah dan kegelisahan yang menyesakkan.
Hoseok.
“Hyungwon—! Alpha???cepat! Dia di atas!!” Suara Changkyun pecah, panik, serak oleh ketakutan. Ia berlari ke arah Hoseok, wajahnya memucat, napasnya terengah. “Heat-nya… dia tidak bisa bertahan lama lagi!”
Hoseok tidak menjawab. Ia hanya berlari menaiki tangga, langkahnya menggetarkan lantai kayu.
Di sisi lain, Jooheon berdiri mematung di ruang tamu. Nafasnya berat, dadanya naik turun tak terkendali. Aroma heat Hyungwon membanjiri seluruh kabin, menusuk paru-parunya, menyalakan naluri Alpha yang selama ini ia kuasai. Giginya bergemeletuk, jemarinya mengepal sampai sendi-sendi tangan memutih.
Matanya memerah, pupilnya menyempit. Naluri itu… terlalu kuat. Terlalu menggiurkan.
Ia menutup wajah dengan telapak tangan, lalu mundur satu langkah, dua langkah.
“Changkyun -ah…” suaranya serak, bergetar. “Aku… aku tidak bisa berada di dekatnya sekarang.”
Changkyun menoleh sekilas, matanya penuh kecemasan. Ia tahu. Ia paham. Bahkan Alpha sekuat Jooheon pun bisa kehilangan kendali di bawah aroma Omega yang sedang terbakar heat apalagi Omega itu adalah Hyungwon.
“Pergi saja keluar sebentar, hyung. Aku jaga di bawah,” katanya cepat.
Jooheon mengangguk, wajahnya tegang, lalu berbalik, keluar dari kabin, membiarkan udara dingin malam membekukan nalurinya yang bergejolak.
Ia bersandar pada batang pinus tinggi, mencoba menarik napas panjang. Tapi aroma itu tetap merayap keluar dari celah-celah kayu, menusuk jauh ke dalam inderanya. Naluri Alpha di dalam dirinya meraung, menuntut sesuatu yang terlarang.
Dan saat itu, sebuah desahan pecah dari dalam kabin, suara rapuh, patah, penuh sakit. Tidak keras, tidak nyaring. Tapi cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri.
Jooheon memejamkan mata, dadanya sesak. Bahkan sejak lama, Hyungwon sudah jadi pusat dunianya.
Kecantikan yang terlalu asing untuk dunia ini. Kelembutan yang bisa meruntuhkan amarah sekalipun.
Ya… siapa yang tak akan jatuh?
Bahkan Alpha sekuat dirinya pun tak kebal.
Tapi Jooheon tahu, Hyungwon bukan untuknya. Takdir itu bukan miliknya. Karena itu ia menutup rapat rahasianya, memilih diam. Membiarkan rasa itu membusuk perlahan dalam dirinya. Sebagai gantinya, ia mencintai dengan cara lain, menjaga. Melindungi. Menjadi tameng.
“Maka jagalah dia, Hoseok,” bisiknya, suaranya serak. “Karena kalau bukan kau… aku tidak tahu apakah aku mampu menahan diriku.”
...°°°...
Sementara itu, di atas sana, Hoseok membuka pintu kamar. Dan dunia pun berhenti berputar.
Hyungwon tergeletak di lantai. Tubuhnya pucat, bibirnya pecah dengan sedikit noda darah kering, mungkin akibat gigitan yang ia lakukan sendiri. Matanya berkaca penuh air, nyaris tertutup, seolah sisa tenaga terakhirnya habis hanya untuk bernapas. Seluruh tubuhnya gemetar, terbungkus aroma heat yang liar, kacau, menjerit ketakutan sekaligus kerinduan.
Pemandangan itu menghantam Hoseok lebih keras dari luka apa pun yang pernah ia rasakan.
Hoseok berdiri membeku di ambang pintu.
Nafasnya tercekat. Darahnya berdegup, brutal.
Aroma heat itu menjeratnya, mengikatnya seperti rantai tak kasatmata. Insting Alpha-nya meraung, menuntut, memaksa. Tubuhnya bergetar hebat menahan dorongan naluriah untuk bergerak untuk mendekat, untuk mengklaim Omega yang ditakdirkan untuknya.
Hyungwon mengangkat wajahnya perlahan. Hampir tidak kuat. Hampir pingsan. Bibirnya bergetar saat ia mencoba bicara.
“Jangan…” suaranya retak, nyaris hilang. “Tolong… jangan.”
Hoseok melangkah maju tanpa sadar, seperti gravitasi menariknya. “Kau… kau terluka. Aku harus—”
“Aku tahu,” Hyungwon memotong, senyumnya getir di tengah air mata. Senyum yang gagal, rapuh, hancur.
“Tapi kau tidak menginginkanku.”
Hoseok mengepalkan tangannya begitu keras hingga buku-bukunya memutih. “Itu tidak—”
“Kau mencintai orang lain.”
Ucapan itu meluncur, berat, menyesakkan, menusuk lebih dalam dari luka apa pun.
Hyungwon menarik napas pendek, tubuhnya gemetar makin hebat. “Aku tidak ingin kau menyentuhku… hanya karena kau merasa harus. Aku tidak ingin sentuhanmu lahir dari keterpaksaan.”
Hening.
Begitu pekat hingga hanya suara napas Hyungwon yang terputus-putus memenuhi kamar.
Air mata jatuh membasahi pipinya tanpa suara. Tangannya yang lemah berusaha menopang tubuh untuk bangkit, namun segera menyerah, membuatnya ambruk ke depan.
Dan Hoseok… akhirnya bergerak. Ia menangkapnya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memeluknya.
Tubuh Hyungwon yang dilalap heat bersandar rapuh di dada Hoseok. Matanya setengah terpejam, suaranya begitu lemah hingga hampir tak terdengar.
“Jika menolongku… menyakitimu,” bisiknya, “maka biarkan aku…” ia berhenti, napasnya patah. “…biarkan aku pergi.”
Dan setelah itu, tubuhnya jatuh sepenuhnya. Tak sadarkan diri.
Hoseok mematung. Tangannya bergetar hebat saat ia mendekap erat Omega yang seharusnya menjadi miliknya. Nafasnya tercekat, dadanya sesak.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, True Blood Alpha itu merasakan apa artinya menjadi… tidak diinginkan.
✨Tbc…
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments