Chapter 3 — Korban Pertama

Dua minggu berlalu sejak pertemuan rahasia itu.

Kehidupan di Westbridge Academy kembali berjalan seperti biasa.

Kelas berlangsung normal.

Klub-klub sekolah tetap aktif.

Para siswa sibuk mempersiapkan ujian tengah semester.

Namun bagi lima penerima surat misterius, rasa penasaran belum hilang sepenuhnya.

Terutama Alya.

Ia masih menyimpan kedua surat itu di dalam laci meja belajarnya.

Beberapa kali ia mencoba mencari tahu siapa pengirimnya.

Tetapi hasilnya nihil.

Tidak ada petunjuk.

Tidak ada nama.

Tidak ada saksi.

Seolah surat-surat itu muncul begitu saja.

---

Bel pulang sekolah berbunyi.

Alya dan Luna berjalan bersama menuju gerbang.

"Aku serius, Ly. Itu pasti cuma prank," kata Luna.

"Aku juga mulai berpikir begitu."

"Kalau ada secret admirer, harusnya dia muncul, kan?"

Alya tertawa kecil.

"Benar juga."

Mereka berpisah di persimpangan jalan.

Luna pulang ke arah barat.

Sedangkan Alya menuju halte bus yang berada tidak jauh dari sekolah.

Saat sedang berjalan, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Alya berhenti.

Perlahan ia membuka pesan tersebut.

> Aku menunggumu.

Datang ke ruang arsip lama pukul 18.00.

Jangan beri tahu siapa pun.

Wajah Alya langsung berubah.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Tidak ada tanda tangan.

Namun ia tahu siapa pengirimnya.

Secret admirer.

---

Pukul 17.55.

Matahari hampir tenggelam.

Alya berdiri di depan gedung tua yang terletak di belakang perpustakaan sekolah.

Gedung itu sudah lama tidak digunakan.

Sebagian besar siswa bahkan tidak tahu keberadaannya.

Ruang arsip lama berada di lantai bawah tanah.

Tempat yang jarang dikunjungi siapa pun.

Tangannya terasa dingin.

Entah kenapa, kali ini suasananya berbeda.

Tidak seperti pertemuan sebelumnya.

Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Namun rasa penasaran lebih besar daripada rasa takutnya.

Ia membuka pintu perlahan.

Kreeekk...

Suara engsel tua bergema.

Lorong gelap menyambutnya.

Lampu di langit-langit berkedip lemah.

Alya melangkah masuk.

"Halo?"

Tidak ada jawaban.

"Halo? Ada orang di sini?"

Tetap sunyi.

Hanya suara langkah kakinya sendiri.

---

Di ujung lorong terdapat sebuah pintu.

Pintu menuju ruang arsip.

Pintu itu sedikit terbuka.

Alya menelan ludah.

Kemudian mendorongnya perlahan.

Ruangan tersebut kosong.

Tidak ada siapa pun.

Seperti sebelumnya.

"Kenapa selalu begini..."

gumamnya kesal.

Tepat saat ia berbalik untuk pergi—

BRAK!

Pintu tertutup dengan keras.

Alya tersentak.

Jantungnya hampir berhenti.

"Halo?!"

Ia berlari menuju pintu.

Menarik gagangnya.

Tidak bisa dibuka.

Terkunci.

"Ada orang di luar?!"

Tidak ada jawaban.

Napasnya mulai memburu.

Ketakutan perlahan menguasai dirinya.

"Apa ini lelucon?!"

Tiba-tiba lampu ruangan padam.

Gelap.

Semuanya gelap.

Alya memekik.

Tangannya meraba-raba mencari ponsel.

Lalu—

Terdengar suara langkah kaki.

Dekat.

Sangat dekat.

Tok.

Tok.

Tok.

Bukan dari luar ruangan.

Melainkan dari dalam.

Alya membeku.

Suara itu semakin mendekat.

Dan untuk pertama kalinya sejak menerima surat pertama...

Ia benar-benar merasa takut.

---

Keesokan paginya.

Westbridge Academy diguncang kabar mengejutkan.

Sejumlah siswa berkerumun di depan gedung utama.

Suasana panik menyelimuti sekolah.

Mobil polisi memenuhi area parkir.

Garis kuning dipasang di sekitar gedung arsip lama.

Para guru terlihat tegang.

Siswa-siswa berbisik satu sama lain.

Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi.

Sampai akhirnya kabar itu menyebar.

Seseorang ditemukan meninggal.

Di ruang arsip lama.

Dan orang itu adalah—

Alya Mahendra.

---

Luna menjatuhkan ponselnya.

"Tidak..."

Matanya membesar.

"Tidak mungkin..."

Air mata langsung mengalir.

Beberapa siswa mulai menangis.

Yang lain hanya berdiri membeku.

Tidak percaya.

Kemarin Alya masih tertawa.

Kemarin Alya masih berada di kelas.

Kemarin semuanya baik-baik saja.

Lalu bagaimana mungkin hari ini ia sudah tiada?

---

Di antara kerumunan siswa, seorang pria muda berseragam polisi keluar dari gedung.

Wajahnya serius.

Di tangannya terdapat sebuah amplop putih.

Amplop yang ditemukan di dekat tubuh korban.

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada sidik jari.

Hanya satu kalimat yang ditulis dengan tinta hitam.

> Pertandingan telah dimulai.

---

Di tempat lain.

Seseorang sedang duduk di sebuah ruangan gelap.

Di depannya terdapat papan berisi lima foto.

Foto Alya perlahan dicabut.

Kemudian dibuang ke tempat sampah.

Tersisa empat foto lainnya.

Darren.

Clara.

Kevin.

Nadia.

Senyuman tipis muncul di wajah orang itu.

Lalu sebuah tanda silang merah digambar di atas foto Alya.

Korban pertama telah jatuh.

Dan permainan mematikan itu baru saja dimulai.

Bersambung...

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play