Chapter 4 — Bukan Kecelakaan

Suasana Westbridge Academy berubah drastis setelah kematian Alya Mahendra.

Koridor yang biasanya dipenuhi tawa kini terasa sunyi.

Kelompok-kelompok siswa berbisik saat jam istirahat.

Beberapa orang menangis.

Sebagian lainnya hanya diam, masih berusaha menerima kenyataan.

Tidak ada yang menyangka siswi paling ramah di angkatan mereka akan meninggal secara tiba-tiba.

---

Pagi itu, seluruh siswa dikumpulkan di aula sekolah.

Pak Budi, kepala sekolah, berdiri di atas panggung dengan wajah muram.

Di sampingnya terdapat beberapa guru dan petugas kepolisian.

"Anak-anak," ucap Pak Budi pelan.

"Ada kabar duka yang harus saya sampaikan."

Aula langsung hening.

"Kemarin malam, salah satu siswi kita, Alya Mahendra, ditemukan meninggal dunia."

Suara isak tangis terdengar dari berbagai sudut ruangan.

Luna menundukkan kepalanya.

Tangannya gemetar.

Ia masih tidak percaya sahabatnya telah pergi.

"Kami meminta seluruh siswa tetap tenang dan tidak menyebarkan rumor yang belum terbukti kebenarannya."

Pak Budi menarik napas panjang.

"Pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan."

---

Setelah pengumuman selesai, para siswa kembali ke kelas.

Namun tidak ada yang benar-benar fokus belajar.

Topik pembicaraan mereka hanya satu.

Alya.

"Aku dengar dia jatuh dari tangga ruang arsip."

"Aku dengar dia terkunci di dalam."

"Aku dengar ada orang lain di sana."

Rumor berkembang dengan cepat.

Setiap orang memiliki cerita berbeda.

Tetapi tidak ada yang tahu fakta sebenarnya.

---

Di ruang guru.

Seorang detektif muda sedang memeriksa barang-barang milik Alya.

Namanya Detektif Arga Pranata.

Usianya tidak terlalu jauh dari para siswa.

Namun sorot matanya menunjukkan pengalaman yang jauh lebih matang.

Di atas meja terdapat beberapa barang bukti.

Tas sekolah.

Ponsel.

Dan dua amplop putih.

Arga membuka salah satu surat.

Membacanya kembali.

Lalu membuka surat kedua.

Keningnya berkerut.

"Menarik..."

gumamnya.

Di laporan awal, kematian Alya disebut sebagai kecelakaan.

Kemungkinan terpeleset saat berada di area arsip tua.

Namun ada sesuatu yang tidak cocok.

Terlalu banyak hal yang tidak masuk akal.

Mengapa Alya berada di sana sendirian?

Siapa yang mengirim surat-surat ini?

Dan yang paling penting...

Siapa yang menulis pesan terakhir yang ditemukan di dekat tubuhnya?

> Pertandingan telah dimulai.

Kalimat itu tidak terdengar seperti pesan seseorang yang sedang bercanda.

Kalimat itu terdengar seperti ancaman.

---

Sementara itu, di perpustakaan sekolah.

Raka Pratama duduk sambil memandangi halaman buku yang sama selama hampir sepuluh menit.

Ia tidak membaca.

Pikirannya berada di tempat lain.

Di meja seberang, Maya Anindita sedang mengetik sesuatu di laptopnya.

Maya adalah anggota majalah sekolah.

Dan sejak pagi ia sibuk mengumpulkan informasi tentang kejadian tersebut.

"Kau juga merasa ada yang aneh?" tanya Maya tiba-tiba.

Raka mengangkat kepala.

"Maksudmu?"

"Kematian Alya."

Raka menatap jendela.

"Aku tidak tahu."

"Kau bohong."

Maya menutup laptopnya.

"Aku bisa melihatnya dari wajahmu."

Raka terdiam sesaat.

Kemudian berkata pelan.

"Alya bukan tipe orang yang masuk ke gedung tua sendirian tanpa alasan."

Maya mengangguk.

"Itu juga yang kupikirkan."

"Mungkin ada seseorang yang memintanya datang ke sana."

"Kau punya bukti?"

Raka menggeleng.

Belum.

Namun firasatnya mengatakan bahwa kematian Alya bukan sekadar kecelakaan.

---

Di sisi lain sekolah.

Darren sedang berdiri sendirian di dekat lapangan basket.

Tangannya berada di dalam saku jaket.

Menggenggam sesuatu.

Sebuah amplop putih.

Surat misterius yang ia terima beberapa minggu lalu.

Ia belum memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Tidak kepada teman-temannya.

Tidak kepada guru.

Tidak kepada polisi.

Karena ia takut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Ia benar-benar takut.

Jika Alya menerima surat yang sama dengannya...

Maka kemungkinan besar ia bukan satu-satunya target.

---

Sore hari.

Saat para siswa mulai pulang, sebuah amplop putih kembali muncul.

Kali ini berada di dalam loker Darren.

Tidak ada seorang pun yang melihat siapa yang meletakkannya.

Tidak ada kamera yang mengarah ke lokasi tersebut.

Darren membukanya dengan tangan gemetar.

Di dalamnya terdapat secarik kertas.

Hanya satu kalimat.

> Korban pertama telah jatuh.

Sampai jumpa di pertemuan berikutnya.

Wajah Darren langsung pucat.

Jantungnya berdetak keras.

Ia membaca ulang pesan itu.

Lalu sekali lagi.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin ini kebetulan.

Pengirim surat mengetahui kematian Alya.

Dan seolah sedang merayakannya.

---

Di suatu tempat yang gelap.

Seseorang kembali berdiri di depan papan foto.

Empat foto masih tersisa.

Darren.

Clara.

Kevin.

Nadia.

Tangan itu bergerak perlahan.

Kemudian sebuah pin merah ditancapkan tepat pada foto Darren.

Senyuman dingin muncul di wajahnya.

Target berikutnya telah dipilih.

Dan tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa mereka sedang berjalan menuju jebakan yang sama.

Bersambung...

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play