Terimakasih, Karena Telah Ada

Terimakasih, Karena Telah Ada

Arc 1 - Ch 1

Arc 1 — Bunga yang Mulai Mekar

Benih 1 — Kehidupan Kedua

Chapter 1 — Akhir yang Menyedihkan

Hujan turun membasahi ibu kota Kekaisaran Aurelia.

Tetesan air menghantam jendela kaca istana, sementara suara musik memenuhi aula utama yang dipenuhi para bangsawan.

Malam itu seharusnya menjadi malam yang paling membahagiakan bagi seluruh kekaisaran.

Hari penobatan sang Ratu.

Gaun putih dengan sulaman benang emas menjuntai menyapu lantai marmer.

Mahkota suci perlahan diletakkan di atas kepala seorang wanita berambut pirang keemasan.

Sorak sorai langsung memenuhi aula.

"Hidup Ratu Emilia!"

"Hidup Kekaisaran!"

"Hidup Ratu!"

Puluhan penyihir istana melepaskan sihir cahaya ke langit malam.

Bunga-bunga bercahaya bermekaran memenuhi udara.

Pemandangan itu begitu indah.

Begitu sempurna.

Namun...

Tidak semua orang ikut merayakannya.

Di balik lorong istana yang gelap, seorang gadis muda berdiri memeluk kedua lengannya.

Rambut cokelat panjangnya tampak kusut.

Gaun putih sederhana yang dikenakannya dipenuhi bekas lumpur dan noda darah yang telah mengering.

Tubuhnya gemetar.

Bukan karena dingin.

Melainkan karena lelah.

Sepuluh tahun.

Selama sepuluh tahun...

Ia hidup di keluarga Marquis dengan satu tujuan.

Menjadi bayangan bagi Emilia.

Setiap kali Emilia dipuji karena mukjizatnya...

Tidak ada yang tahu bahwa keajaiban itu berasal dari dirinya.

Setiap kali Emilia menyembuhkan seseorang...

Kekuatan sucinya lah yang diambil melalui artefak sihir.

Setiap kali Emilia dielu-elukan sebagai gadis suci...

Alicia hanya bisa berdiri jauh di belakang.

Diam.

Tidak ada yang tahu.

Dan...

Tidak ada yang akan percaya.

Langkah kaki terdengar dari ujung lorong.

Tok.

Tok.

Tok.

Seorang pelayan berhenti di hadapannya.

Tatapannya datar.

"Nona Emilia memanggil."

Alicia menundukkan kepala.

"...Baik."

Ia mengikuti pelayan itu menuju sebuah ruangan pribadi.

Di sana...

Emilia telah menunggu.

Gaun kebesaran ratu membuatnya tampak begitu anggun.

Di sampingnya berdiri Marquis dan Marchioness yang selama ini membesarkannya.

Tatapan mereka sama sekali tidak hangat.

Marquis tersenyum tipis.

"Alicia."

"Kau telah bekerja keras."

Kalimat yang dulu selalu ingin ia dengar...

Kini justru membuat dadanya terasa sesak.

Emilia berjalan mendekat.

Senyumnya begitu indah.

Namun mata birunya sama sekali tidak menyimpan kehangatan.

"Cincinnya."

Alicia perlahan melepas cincin sihir yang melingkar di jari manisnya.

Artefak itu adalah belenggu.

Selama bertahun-tahun, benda itulah yang mengalirkan kekuatan sucinya kepada Emilia.

Begitu cincin itu berpindah tangan...

Tubuh Alicia terasa jauh lebih ringan.

Namun bersamaan dengan itu...

Ia sadar.

Dirinya tidak lagi memiliki nilai.

Emilia memandangi cincin itu sejenak.

Lalu berkata tanpa ekspresi,

"Usir dia."

Alicia membeku.

"...Apa?"

Marchioness memalingkan wajah.

"Kami sudah tidak membutuhkanmu lagi."

Marquis bahkan tidak repot menatapnya.

"Jangan sampai mengotori istana."

Dua ksatria segera menarik kedua lengan Alicia.

Tidak ada perlawanan.

Ia terlalu lelah.

Pintu istana tertutup di belakangnya.

Hujan masih turun.

Alicia terjatuh di jalan berbatu.

Gaunnya basah kuyup.

Ia menatap langit malam.

Di balik cahaya pesta yang begitu megah...

Tidak ada satu pun tempat yang bisa ia sebut rumah.

"...Lucu sekali."

Suaranya lirih.

"Aku..."

"...bahkan tidak pernah hidup untuk diriku sendiri."

Air mata bercampur dengan hujan.

Perlahan...

Kesadarannya mulai memudar.

Saat itulah...

Cahaya lembut turun dari langit.

Hujan seakan berhenti.

Suara dunia menghilang.

Seorang wanita berambut perak dengan enam sayap cahaya berdiri di hadapannya.

Wajahnya begitu tenang.

Seolah seluruh dunia tunduk pada kehadirannya.

"Alicia."

Suara itu terdengar hangat.

"Aku telah melihat seluruh hidupmu."

Alicia memaksakan senyum kecil.

"...Apa... aku sudah mati...?"

Wanita itu menggeleng pelan.

"Bunga sepertimu..."

"...tidak seharusnya layu sebelum sempat mekar."

Ia mengulurkan tangannya.

"Kalau kali ini..."

"Apakah kau ingin hidup untuk dirimu sendiri?"

Pandangan Alicia mulai kabur.

Air matanya kembali jatuh.

Untuk pertama kalinya...

Ada seseorang...

Yang memilih bertanya tentang keinginannya.

"...Aku..."

"...ingin..."

"...punya rumah."

Cahaya putih memenuhi seluruh dunia.

Dan ketika Alicia kembali membuka matanya...

Ia mendengar suara yang sangat dikenalnya.

"Alicia."

"Bangun."

"Besok keluarga Marquis akan datang menjemputmu."

...

Mata Alicia membelalak.

Air matanya kembali mengalir.

Ia... kembali ke hari sebelum semua penderitaan itu dimulai.

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play