Arc 1 — Bunga yang Mulai Mekar
Chapter 3 — Pertemuan di Jalan
Kabut tipis masih menyelimuti jalan setapak di pinggiran desa.
Langkah kecil Alicia terus bergerak perlahan.
Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit ketika ia meninggalkan rumah sederhana tempat ia dibesarkan.
Di punggungnya tergantung tas kain kecil.
Isinya hanya beberapa potong roti kering, sebotol air, dan selembar selimut tipis.
Tidak ada tujuan yang pasti.
Ia hanya tahu satu hal.
Selama tidak bertemu keluarga Marquis... masa depannya masih bisa berubah.
"..."
Langkahnya semakin jauh meninggalkan desa.
Semakin jauh pula suara ayam dan tawa anak-anak menghilang.
Yang tersisa hanyalah jalan tanah yang membelah hutan.
Di kehidupan sebelumnya...
Ia bahkan tidak pernah melihat jalan ini.
Karena sejak hari ketika keluarga Marquis datang...
Seluruh hidupnya hanya berada di dalam rumah besar mereka.
Alicia menggenggam tali tasnya lebih erat.
"Kalau aku terus ke selatan..."
"Aku akan keluar dari wilayah ini."
Ingatan masa lalunya perlahan membimbing setiap langkah.
Meski dunia terasa asing...
Ia masih mengingat letak beberapa kota besar.
Wilayah Selatan.
Wilayah yang terkenal keras.
Dipenuhi para ksatria.
Berbatasan langsung dengan Hutan Kematian.
Bahkan di kehidupan sebelumnya...
Banyak bangsawan menganggap wilayah itu sebagai tempat paling berbahaya di seluruh kekaisaran.
Namun...
Justru karena itu...
Keluarga Marquis hampir tidak memiliki pengaruh di sana.
"Maaf..."
bisiknya pelan.
"...aku harus pergi."
Beberapa jam berlalu.
Matahari mulai tinggi.
Langkah Alicia semakin lambat.
Roti yang dibawanya telah habis.
Botol airnya hampir kosong.
Tubuh anak berusia empat tahun jelas tidak sanggup berjalan sejauh itu.
Namun setiap kali ia ingin berhenti...
Bayangan kehidupan sebelumnya kembali muncul.
Suara cambuk.
Ruangan gelap.
Cincin yang menyerap kekuatan sucinya.
Emilia yang tersenyum sambil menerima pujian.
"..."
"Tidak..."
Alicia kembali melangkah.
Walaupun kedua kakinya mulai terasa mati rasa.
Menjelang sore.
Hutan mulai semakin lebat.
Suara burung perlahan berganti dengan lolongan binatang yang belum pernah ia dengar.
Angin dingin berembus di antara pepohonan.
Alicia menelan ludah.
Ia takut.
Sangat takut.
Namun kembali ke desa...
Bukanlah pilihan.
Langkahnya mulai goyah.
Pandangannya semakin kabur.
"..."
Perutnya terasa kosong.
Kakinya kehilangan tenaga.
Bruk.
Tubuh kecil itu akhirnya terjatuh di tepi jalan.
Ia mencoba bangkit.
Namun kedua tangannya sudah terlalu lemah untuk menopang tubuhnya.
"Apa..."
"Aku akan mati lagi...?"
Kelopak matanya perlahan menutup.
Saat itulah...
Terdengar suara derap kaki kuda.
Duk.
Duk.
Duk.
Suara itu semakin mendekat.
Tak lama kemudian...
Beberapa kereta besar berhenti di depan tubuh kecil Alicia.
Lambang seekor serigala hitam dengan pedang perak terukir di setiap bendera yang berkibar.
Puluhan ksatria segera turun.
Salah seorang dari mereka berlutut memeriksa napas Alicia.
"Yang Mulia."
"Anak ini masih hidup."
Suasana menjadi hening.
Beberapa saat kemudian...
Seseorang turun dari kereta utama.
Sepasang sepatu bot hitam berhenti tepat di depan Alicia.
Mantel hitam panjang berkibar pelan diterpa angin.
Alicia membuka matanya sedikit.
Pandangannya masih kabur.
Namun ia sempat melihat...
Seorang pria bertubuh tinggi.
Rambut hitam.
Mata merah yang tajam.
Tatapannya dingin.
Wibawanya begitu besar hingga para ksatria bahkan tidak berani mengangkat kepala.
Salah seorang pengawal berkata pelan.
"Yang Mulia Duke."
"Sepertinya dia anak desa."
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang Alicia beberapa detik.
Tatapannya datar.
Sulit ditebak.
"..."
"Berapa usianya?"
"Kurang lebih empat tahun."
Hening kembali menyelimuti rombongan.
Alicia mencoba menggerakkan bibirnya.
Namun tak ada suara yang keluar.
Pria itu menghela napas pelan.
"Kalau dibiarkan di sini..."
"...dia akan mati sebelum matahari terbenam."
Ia menoleh kepada kepala pelayannya.
"Bawa dia."
"Obati."
"Ya, Yang Mulia."
Seorang pelayan wanita segera mengangkat tubuh Alicia dengan hati-hati.
Alicia masih sempat melihat pria itu sekali lagi.
Anehnya...
Tatapan merah yang begitu ditakuti banyak orang...
Tidak memperlihatkan sedikit pun rasa jijik atau penghinaan seperti yang pernah ia lihat dari keluarga Marquis.
Namun...
Trauma di hatinya sudah terlalu dalam.
Sebelum kehilangan kesadaran...
Hanya satu pikiran yang memenuhi benaknya.
"Jangan percaya..."
"Jangan mudah percaya kepada bangsawan lagi..."
Dan perlahan...
Dunia kembali diselimuti kegelapan.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments