Arc 1 — Bunga yang Mulai Mekar
Chapter 4 — Rumah yang Asing
Hangat.
Perasaan pertama yang Alicia rasakan adalah kehangatan.
Bukan hawa dingin lantai batu istana.
Bukan tanah basah yang menjadi tempat ia terjatuh.
Melainkan kasur empuk yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Kelopak matanya perlahan terbuka.
Langit-langit kamar berwarna putih gading memenuhi pandangannya.
Tirai biru tua bergoyang pelan diterpa angin sore.
Sinar matahari masuk melalui jendela besar, membuat ruangan itu terasa begitu terang.
"..."
Alicia perlahan duduk.
Selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya terjatuh ke pangkuannya.
Pakaiannya...
Sudah berganti.
Gaun lusuh yang dikenakannya sebelumnya telah diganti dengan pakaian tidur berwarna krem yang lembut.
Tubuh kecilnya langsung menegang.
"A..."
Tangannya gemetar.
Siapa yang mengganti bajuku...?
Di mana aku...?
Apa mereka sudah menemukanku...?
Napasnya mulai memburu.
Ingatan tentang keluarga Marquis kembali memenuhi kepalanya.
Pintu kamar perlahan terbuka.
Ceklek.
Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun masuk sambil membawa nampan berisi semangkuk sup hangat.
Rambutnya disanggul rapi.
Seragam pelayan berwarna hitam putih tampak begitu bersih.
Begitu melihat Alicia telah bangun, wanita itu tersenyum ramah.
"Syukurlah..."
"Nona kecil sudah sadar."
Alicia langsung mundur hingga punggungnya menempel ke kepala ranjang.
Tatapan matanya dipenuhi kewaspadaan.
Wanita itu menghentikan langkahnya.
Senyumnya perlahan menghilang.
Ia menyadari...
Anak di depannya sedang ketakutan.
"Aku tidak akan mendekat."
katanya lembut.
"Aku hanya ingin meletakkan makanan."
Tanpa menunggu jawaban, wanita itu meletakkan nampan di atas meja kecil di dekat ranjang.
Kemudian mundur beberapa langkah.
"Aku Martha."
"Kepala pelayan di kediaman Duke."
"..."
Tidak ada jawaban.
Alicia hanya memeluk kedua lututnya.
Martha tidak memaksa.
Ia hanya berdiri dengan tenang.
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar dari luar kamar.
"Bagaimana keadaannya?"
Suara pria.
Dalam.
Berat.
Alicia membeku.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Martha membuka pintu sedikit.
"Yang Mulia."
"Nona kecil sudah sadar."
Pria itu hanya mengangguk singkat.
Ia tidak masuk ke dalam kamar.
Dari celah pintu, Alicia hanya sempat melihat mantel hitam yang dikenakannya.
Tatapan merah itu...
Pria yang menemukannya kemarin.
"..."
"Kalau dia lapar..."
"Biarkan dia makan."
"Kalau dia ingin pergi..."
"Jangan ditahan."
Suara Duke tetap datar.
Tidak tinggi.
Tidak lembut.
Hanya terdengar seperti seseorang yang sedang menyampaikan fakta.
"Baik, Yang Mulia."
Langkah kaki itu kembali menjauh.
Alicia terdiam.
...Dia tidak masuk?
Dalam kehidupan sebelumnya...
Setiap bangsawan selalu ingin menunjukkan kekuasaan mereka.
Namun pria itu...
Bahkan tidak berusaha berbicara dengannya.
Martha kembali menoleh kepada Alicia.
"Yang Mulia memang seperti itu."
"Beliau tidak pandai berbicara."
"Tapi..."
Martha tersenyum kecil.
"Beliau orang yang baik."
Kalimat itu membuat tubuh Alicia kembali menegang.
"Orang yang baik."
Dulu...
Orang-orang juga mengatakan hal yang sama tentang keluarga Marquis.
"..."
Beberapa menit berlalu.
Sup di atas meja mulai mengeluarkan aroma yang menggugah selera.
Perut Alicia berbunyi pelan.
Namun ia tidak berani menyentuhnya.
Martha memperhatikan dari kejauhan.
"Kau tidak perlu takut."
"Sup itu tidak beracun."
Alicia menundukkan kepala.
"..."
"Boleh..."
Suaranya sangat pelan.
"...aku bekerja?"
Martha mengedipkan mata.
"Apa?"
Alicia menggenggam ujung selimutnya erat.
"Aku bisa..."
"...membersihkan kamar."
"...mencuci pakaian."
"...menyapu."
"...apa saja."
"Asalkan..."
Ia menahan air mata yang mulai menggenang.
"...jangan usir aku..."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Martha membeku.
Selama puluhan tahun menjadi kepala pelayan...
Belum pernah ia melihat seorang anak berusia empat tahun mengatakan kata-kata seperti itu.
Bukan meminta mainan.
Bukan meminta makanan.
Melainkan...
Memohon agar diizinkan bekerja.
Martha perlahan memalingkan wajah.
Dadanya terasa sesak.
Ia akhirnya mengerti...
Mengapa Duke membawa pulang anak itu tanpa banyak bicara.
Di balik senyum kecil yang dipaksakan...
Tersimpan luka yang bahkan seorang anak seusianya tidak seharusnya miliki.
Dan untuk pertama kalinya...
Martha berharap...
Kediaman Duke yang selama ini terasa dingin...
Bisa menjadi tempat di mana bunga kecil itu perlahan belajar untuk mekar kembali.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments