Arc 1 — Bunga yang Mulai Mekar
Chapter 2 — Hari Sebelum Takdir
Cahaya matahari yang hangat menembus celah-celah atap rumah kayu sederhana.
Burung-burung berkicau riang di luar jendela.
Semilir angin membawa aroma rerumputan yang masih basah oleh embun pagi.
"..."
Alicia membuka matanya perlahan.
Langit-langit kayu yang mulai lapuk.
Selimut tipis yang terasa kasar.
Lemari kecil di sudut ruangan.
Semuanya begitu familiar.
Namun justru karena terlalu familiar...
Tubuhnya mulai gemetar.
"..."
Ia perlahan mengangkat kedua tangannya.
Kecil.
Masih tangan seorang anak berusia empat tahun.
Tanpa sadar, ia menyentuh lehernya.
Masih terasa.
Perasaan dingin ketika para ksatria menyeretnya keluar dari istana seolah belum benar-benar menghilang.
Napasnya mulai memburu.
"Tidak..."
Tubuh kecil Alicia meringkuk di atas ranjang.
Potongan-potongan kenangan terus memenuhi kepalanya.
Tatapan dingin Emilia.
Suara Marquis.
Cincin yang selama bertahun-tahun merampas kekuatan sucinya.
Lalu...
Kalimat terakhir.
"Kami sudah tidak membutuhkanmu lagi."
"..."
Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan.
Ia memeluk lututnya erat.
Selama bertahun-tahun...
Ia selalu berpikir.
Kalau dirinya bekerja lebih keras...
Kalau dirinya lebih patuh...
Kalau dirinya lebih berguna...
Mungkin...
Mereka akan menganggapnya sebagai keluarga.
Namun pada akhirnya...
Ia hanyalah alat.
Sebuah alat yang dibuang setelah tidak lagi berguna.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu membuat Alicia tersentak.
"Alicia."
Suara seorang wanita tua terdengar dari luar.
"Sudah bangun?"
"Ayo sarapan."
Alicia menutup mulutnya.
Suara itu...
Ia masih mengingatnya.
Wanita tua yang merawatnya di panti desa.
Orang yang selama ini berusaha membesarkannya dengan segala keterbatasan.
Bukan orang jahat.
Namun...
Esok hari.
Wanita itu akan menyerahkan Alicia kepada keluarga Marquis.
Bukan karena membencinya.
Melainkan karena percaya Alicia akan hidup lebih baik di sana.
Ironisnya...
Keputusan baik itulah yang menghancurkan seluruh hidupnya.
"...Baik."
Suara Alicia terdengar pelan.
Ia turun dari ranjang.
Lalu berjalan menuju meja kecil.
Di atasnya terdapat sebuah kalender tua.
Matanya perlahan membelalak.
14 Musim Semi.
Hari ini.
Hari sebelum keluarga Marquis datang.
Jantung Alicia berdetak semakin cepat.
Besok.
Mereka akan tiba.
Besok...
Seluruh penderitaannya akan dimulai.
"Tidak..."
Ia menggeleng kuat.
"Tidak..."
Tangannya mengepal.
"Aku tidak akan pergi."
Untuk pertama kalinya...
Ia menolak takdir yang pernah dijalaninya.
Sarapan berlangsung sederhana.
Sepotong roti.
Sup hangat.
Susu kambing.
Wanita tua itu tersenyum lembut.
"Besok orang-orang dari keluarga Marquis akan datang."
"Mereka keluarga bangsawan."
"Kau pasti akan hidup jauh lebih bahagia."
Sendok di tangan Alicia berhenti.
Kalimat itu...
Persis seperti kehidupan sebelumnya.
Tidak ada yang berubah.
Wanita tua itu melanjutkan dengan wajah penuh harapan.
"Mereka bilang akan memperlakukanmu seperti anak sendiri."
Alicia hanya menundukkan kepala.
Dalam kehidupan sebelumnya...
Ia juga mempercayai kata-kata itu.
Dan ia membayarnya dengan seluruh masa kecilnya.
"..."
"Alicia?"
Wanita tua itu memiringkan kepala.
"Kau tidak senang?"
Alicia memaksakan senyum kecil.
"...Aku senang."
Namun jauh di dalam hatinya...
Ia berbisik.
Maafkan aku...
Kali ini aku tidak bisa mempercayai mereka lagi.
Malam tiba.
Desa kecil itu mulai diselimuti keheningan.
Satu demi satu lampu rumah dipadamkan.
Alicia membuka jendela kamarnya perlahan.
Angin malam menyentuh wajahnya.
Di kejauhan terlihat jalan tanah yang membelah hutan menuju wilayah selatan.
Ia masih mengingatnya.
Kalau terus mengikuti jalan itu...
Beberapa hari kemudian akan tiba di wilayah milik Duke Selatan.
Dalam kehidupan sebelumnya...
Ia tidak pernah melewati jalan itu.
Karena hidupnya berakhir jauh sebelum sempat mengenal dunia.
Alicia menggenggam erat sebuah kantong kain kecil.
Isinya hanya beberapa potong roti kering, botol air, dan selimut tipis.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk seorang anak kecil yang berniat melarikan diri.
Ia menoleh sekali lagi ke arah kamar sederhana itu.
Tempat yang mungkin tak akan pernah ia lihat lagi.
"Terima kasih..."
bisiknya pelan.
Lalu...
Dengan langkah kecil namun penuh tekad...
Alicia keluar melalui jendela.
Meninggalkan desa.
Meninggalkan takdir lamanya.
Dan untuk pertama kalinya...
Berjalan menuju kehidupan yang akan ia pilih sendiri.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments