Arc 1 — Bunga yang Mulai Mekar
Benih 5— Kehidupan Kedua
Chapter 5 — Langit Selatan
Suara burung memenuhi udara pagi.
Embun yang masih menempel di atas dedaunan berkilau diterpa cahaya matahari.
Untuk pertama kalinya...
Alicia bangun tanpa mimpi buruk.
Meski hanya semalam.
Namun itu sudah cukup membuatnya terdiam beberapa saat.
Ia menatap langit-langit kamar.
Ruangan ini masih sama seperti kemarin.
Kasur empuk.
Selimut hangat.
Aroma teh yang samar masih memenuhi udara.
"..."
Ini... bukan mimpi.
Perlahan ia turun dari tempat tidur.
Di atas kursi telah tersedia pakaian baru berwarna putih dengan pita hijau muda.
Di sampingnya terdapat sepasang sepatu kecil.
Alicia menggigit bibir bawahnya.
"Untukku...?"
Ia belum pernah memiliki pakaian yang benar-benar baru.
Di kehidupan sebelumnya.
Semua pakaian yang dikenakannya adalah milik Emilia.
Bekas.
Sudah dipendekkan ukurannya.
Dan selalu diingatkan bahwa ia harus bersyukur karena masih diberi pakaian.
Tangannya perlahan menyentuh kain itu.
Lembut.
Tanpa sadar.
Matanya mulai memanas.
Tok.
Tok.
Tok.
"Nona Alicia."
Suara Martha terdengar dari luar.
"Boleh saya masuk?"
Alicia buru-buru mengusap matanya.
"...Iya."
Pintu terbuka perlahan.
Martha tersenyum hangat.
"Pakaiannya pas?"
Alicia mengangguk pelan.
"...Terima kasih."
"Itu hadiah dari Yang Mulia."
Alicia membeku.
"Duke...?"
"Beliau meminta kami menyiapkannya pagi-pagi sekali."
"..."
Alicia kembali menundukkan kepala.
Ia tidak mengerti.
Mengapa seorang Duke melakukan hal seperti itu kepada anak asing.
Setelah sarapan.
Martha mengajak Alicia berjalan mengelilingi mansion.
Koridor-koridor batu yang luas.
Taman bunga yang tertata rapi.
Perpustakaan yang bahkan lebih besar daripada rumah tempat ia dulu tinggal.
Halaman latihan tempat para ksatria berlatih sejak pagi.
Semua terlihat begitu megah.
Namun...
Tidak terasa menyesakkan.
Para pelayan yang mereka lewati selalu membungkukkan badan.
"Selamat pagi, Nona Alicia."
Alicia refleks ikut membungkuk lebih dalam.
Hal itu justru membuat para pelayan saling berpandangan.
Tak ada yang menertawakannya.
Tak ada pula yang memarahinya.
Mereka hanya tersenyum kecil.
Martha memperhatikan semua itu tanpa berkata apa pun.
Mereka kemudian keluar dari gerbang utama mansion.
Dari atas bukit, Alicia bisa melihat wilayah Selatan untuk pertama kalinya.
Hamparan ladang gandum membentang sejauh mata memandang.
Asap tipis mengepul dari cerobong rumah-rumah penduduk.
Kereta dagang hilir mudik membawa hasil panen.
Di kejauhan, benteng batu raksasa berdiri kokoh menghadap hutan yang tampak gelap.
"Itu Hutan Kematian."
ucap Martha pelan.
"Di balik sana... banyak monster tinggal."
"Karena itulah Yang Mulia Duke selalu berada di wilayah ini."
"Beliau melindungi seluruh Selatan."
Alicia memandang benteng itu cukup lama.
Dalam kehidupan sebelumnya...
Ia hanya pernah mendengar namanya.
Namun sekarang...
Ia benar-benar berada di sini.
"Kalau begitu..."
gumam Alicia pelan.
"Semua orang di sini..."
"...selalu hidup berdampingan dengan bahaya?"
Martha tersenyum tipis.
"Itulah sebabnya mereka saling menjaga."
Kalimat sederhana itu entah mengapa terasa hangat di hati Alicia.
Sore hari.
Alicia duduk sendirian di taman belakang mansion.
Angin musim semi bertiup lembut.
Kelopak-kelopak bunga beterbangan mengikuti arah angin.
Ia mengangkat kepalanya.
Langit Selatan begitu luas.
Begitu biru.
Berbeda dengan langit yang selalu ia lihat dari balik jendela sempit rumah Marquis.
Tak lama kemudian...
Dari balkon lantai dua, Duke berdiri memandang ke arah benteng.
Tatapannya tetap setajam biasanya.
"Apa anak itu sudah makan?"
tanyanya tanpa menoleh.
Martha yang berdiri di belakangnya mengangguk.
"Sudah, Yang Mulia."
"Dia juga sudah berkeliling wilayah."
Duke hanya mengangguk singkat.
"Mulai hari ini..."
"...siapkan satu kamar untuknya."
"Dan pastikan tidak ada yang memperlakukannya dengan buruk."
"Baik."
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada alasan.
Duke berbalik dan kembali masuk ke ruang kerjanya.
Namun bagi Martha...
Itu sudah cukup.
Yang Mulia telah mengambil keputusan.
Anak itu...
Akan tinggal di sini.
Menjelang senja.
Alicia masih berdiri di depan mansion yang perlahan diselimuti cahaya matahari terbenam.
Bangunan batu putih itu tampak bersinar keemasan.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu...
Dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Namun rasa takut itu belum benar-benar hilang.
Ia menggenggam ujung bajunya pelan.
Lalu berbisik pada dirinya sendiri.
"...Apa aku benar-benar boleh tinggal di sini?"
Angin sore berembus pelan.
Membawa harum bunga yang memenuhi taman.
Dan tanpa Alicia sadari...
Di balik jendela ruang kerja, sepasang mata merah diam-diam memperhatikan sosok kecil itu.
Bukan dengan tatapan curiga.
Melainkan dengan satu pertanyaan yang sama.
"Luka seperti apa... yang membuat anak sekecil itu terus hidup dalam ketakutan?"
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments