Bab 2 - 2:13 A.M.

Alya bangun karena suara hujan.

Bukan alarm.

Bukan suara kendaraan dari jalan depan rumah.

Hujan.

Ia membuka mata perlahan dan menatap langit-langit kamar yang masih gelap. Untuk beberapa detik, ia lupa hari apa sekarang.

Tangannya meraba-raba meja di samping tempat tidur.

Ponsel.

07.12.

Terlalu pagi.

Alya menarik selimut sampai dagu.

Lima menit lagi.

Itu yang selalu ia katakan.

Lima menit kemudian, ia akan bangun.

Lima menit kemudian, ia akan mandi.

Lima menit kemudian, ia akan membuka laptop.

Lima menit kemudian—

Ponselnya bergetar.

Alya membuka satu mata.

Sebuah notifikasi.

Instagram.

Dari Ethan.

Ia mengernyit.

Membuka pesan.

Good morning, Bandung.

Alya melihat jam.

Kemudian melihat pesan itu lagi.

07.13.

Ia mengetik dengan mata setengah tertutup.

It's morning here.

Balasan datang.

Exactly. Good morning.

Alya tersenyum kecil.

What time is it there?

7:13 PM.

Alya berhenti.

Ia baru sadar.

Tujuh pagi di Bandung.

Tujuh malam di New York.

Kemarin mereka hanya membicarakan perbedaan waktu.

Sekarang perbedaan itu sudah terasa seperti sesuatu yang harus diingat.

Alya mengetik:

You're having dinner?

Trying to.

Trying?

My roommate stole my fries.

Alya tertawa pelan.

That's not a roommate. That's an enemy.

Tiga titik muncul.

Finally. Someone who understands me.

Alya menggigit bibir menahan senyum.

I understand fries. Not you.

Balasan datang beberapa detik kemudian.

Ouch.

Alya meletakkan ponsel di dada.

Aneh.

Mereka baru berbicara semalam.

Tidak sampai satu jam.

Tetapi percakapan itu terasa seperti sesuatu yang sudah berlangsung lebih lama.

Ia bangkit dari tempat tidur.

Di dapur, ibunya sedang membuat sarapan.

“Kamu bangun pagi?”

Alya membuka kulkas.

“Bangun karena hujan.”

“Terus?”

“Terus sadar hidup masih harus dijalani.”

Ibunya tertawa kecil.

“Drama pagi-pagi.”

Alya mengambil air mineral.

Ponselnya kembali bergetar.

Ia melirik.

Do you always wake up this early?

Alya mengetik sambil berjalan kembali ke kamar.

No.

Then why are you awake?

Ia berhenti di depan pintu.

Ada banyak jawaban.

Karena hujan.

Karena kebangun.

Karena kamu mengirim pesan.

Alya memilih yang paling aman.

Because I have class.

Balasan:

Right. College.

How do you remember that?

You told me yesterday.

Alya terdiam sebentar.

Ia memang pernah mengatakan bahwa dirinya mahasiswa.

Tetapi itu hanya percakapan kecil.

Ethan mengingatnya.

Ia tidak tahu kenapa hal sekecil itu membuatnya sedikit senang.

You actually listen.

Sometimes.

That's disappointing.

I'm trying to keep expectations low.

Alya tertawa.

Kemudian ia menyadari sesuatu.

Ia sedang tersenyum melihat layar ponsel.

Sendirian.

Di kamar.

Jam tujuh pagi.

Karena seorang laki-laki yang tinggal di belahan dunia lain membuat lelucon tentang ekspektasi.

Alya menggeleng.

“Ridiculous.”

Hari itu berlalu lebih cepat daripada yang ia kira.

Kampus.

Kelas.

Tugas.

Makan siang yang hampir terlambat.

Satu presentasi yang membuatnya ingin pulang sebelum waktunya.

Namun di sela-sela semuanya, ada satu kebiasaan baru.

Alya sesekali membuka ponselnya.

Tidak selalu ada pesan.

Kadang hanya satu foto dari Ethan.

Sebuah jalan.

Kopi.

Gedung.

Sebuah kamera yang tergeletak di meja.

Tanpa penjelasan.

Alya membalas dengan foto-fotonya sendiri.

Jalan kampus.

Langit.

Kucing yang tidur di bawah kursi.

Makanan.

Kadang tidak ada kata-kata.

Hanya foto.

Aneh.

Mereka seperti sedang menunjukkan kehidupan masing-masing tanpa benar-benar berusaha.

Menjelang sore, Ethan mengirim sebuah foto.

Sebuah bioskop kecil.

Working tonight.

Alya membalas:

You work at a cinema?

Part-time.

That's actually cool.

It's not. People leave popcorn everywhere.

Still cool.

You want free movie tickets?

Alya berhenti.

Kemudian mengetik:

Are you asking me to fly to New York?

Maybe.

Alya tertawa.

Very affordable suggestion.

I know. I'm generous.

I'll let you know when I win the lottery.

Deal.

Percakapan berhenti.

Tidak ada yang aneh.

Tetapi beberapa menit kemudian Alya kembali membuka chat itu.

I'll let you know when I win the lottery.

Ia tidak tahu kenapa kalimat itu membuatnya tersenyum.

Malam datang.

Bandung kembali diguyur hujan.

Alya sedang menyelesaikan tugas ketika notifikasi dari Ethan muncul.

11:42 PM.

Are you awake?

Alya mengetik:

Unfortunately.

Good.

Why?

I need a distraction.

Alya menatap pesan itu.

What happened?

Tidak ada balasan.

Satu menit.

Dua menit.

Kemudian:

Nothing serious. Just had a bad day.

Alya tidak langsung menjawab.

Ia tahu rasanya mengatakan nothing serious ketika sebenarnya sesuatu sedang mengganggu pikiran.

Ia mengetik:

Want to talk about it?

Balasan:

Not really.

Alya mengangguk kecil.

Kemudian:

Okay.

Selesai.

Ia kembali ke tugasnya.

Tidak bertanya lagi.

Tidak memaksa.

Lima menit kemudian—

You didn't ask again.

Alya tersenyum.

You said you didn't want to talk about it.

Most people ask anyway.

I'm not most people.

Pesan itu terkirim sebelum sempat ia pikirkan.

Alya langsung menatap layar.

“Why did I say that?”

Ethan membalas:

No. I guess you're not.

Kemudian:

Can I call you?

Alya membeku.

Mereka belum pernah melakukan panggilan.

Hanya pesan.

Panggilan berarti suara.

Suara berarti sesuatu yang lebih nyata.

Ia melihat jam.

00:07.

Di New York:

12:07 PM.

Alya mengetik:

Now?

If you're okay with it.

Ia menggigit bibir.

Kemudian menekan tombol panggilan.

Suara pertama yang terdengar bukan kata-kata.

Hanya napas.

Kemudian Ethan tertawa kecil.

“Hi.”

Alya menelan ludah.

“Hi.”

Suara Ethan terdengar berbeda dari yang ia bayangkan.

Lebih rendah.

Sedikit serak.

Hangat.

“You sound tired.”

Alya tersenyum.

“So do you.”

“I am.”

“Then why did you call?”

Ada jeda.

“I don't know.”

Alya tertawa pelan.

“Great reason.”

“I know.”

Mereka diam.

Aneh.

Percakapan melalui teks terasa mudah.

Tetapi ketika suara mereka benar-benar bertemu, tiba-tiba keduanya tidak tahu harus berkata apa.

Ethan memecah keheningan.

“So...”

“So?”

“You're real.”

Alya tertawa.

“Unfortunately.”

“That's disappointing.”

“Why?”

“I was hoping you were an AI.”

“I'm sorry to disappoint you.”

Ethan tertawa.

Dan entah kenapa, ketegangan itu menghilang.

Mereka mulai berbicara.

Tentang kelas Alya.

Tentang pekerjaan Ethan.

Tentang makanan.

Tentang cuaca.

Tentang New York.

Tentang Bandung.

Tentang film.

Tentang betapa Alya tidak suka orang yang mengunyah terlalu keras.

Tentang betapa Ethan tidak bisa memasak apa pun selain telur.

Satu jam berlalu.

Kemudian dua.

Alya berbaring di tempat tidur dengan lampu kamar sudah dimatikan.

Ponsel berada di samping telinganya.

“Are you still there?” tanyanya.

“Yeah.”

“Why?”

“I don't know.”

Alya tersenyum dalam gelap.

“That's becoming your favorite answer.”

“Maybe.”

Jam menunjukkan 2:13 A.M.

Alya memejamkan mata.

Di ujung telepon, suara Ethan semakin pelan.

“You should sleep.”

“You too.”

“I have work later.”

“I have class.”

“So we're both stupid.”

“Apparently.”

Mereka tertawa pelan.

Tidak ada pernyataan besar.

Tidak ada janji.

Tidak ada alasan untuk menganggap malam itu penting.

Hanya dua orang asing yang berbicara terlalu lama.

Sampai akhirnya Ethan berkata,

“Good night, Alya.”

Alya membuka mata.

“Good night, Ethan.”

Panggilan berakhir.

Layar ponselnya menjadi gelap.

Alya menatap pantulan wajahnya sendiri di sana.

Ia tersenyum kecil.

Kemudian menarik selimut.

Di New York, Ethan meletakkan ponselnya di meja dan melihat jam.

2:13 P.M.

Ia tersenyum.

Dua belas jam.

Dua kota.

Dua kehidupan yang sama sekali berbeda.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, jarak terasa seperti sesuatu yang bisa dilupakan.

Setidaknya selama beberapa jam.

Dan tanpa mereka sadari—

2:13 A.M. akan menjadi waktu yang suatu hari nanti paling mereka rindukan.

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play