Bab 4 — Your Favorite Song

Alya mulai mengenali suara notifikasi itu.

Bukan suara yang berbeda.

Bukan nada khusus.

Hanya bunyi pendek dari ponselnya.

Tetapi entah bagaimana, setelah beberapa hari, ia bisa membedakannya dari notifikasi lain.

Ding.

Tangannya otomatis meraih ponsel.

Are you awake?

Alya melihat jam.

00.18.

Ia sedang berbaring dengan lampu kamar mati.

Unfortunately.

Balasan datang.

Good.

Alya tersenyum.

Why do you always say good when I'm awake?

Because I have someone to talk to.

Ia membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian meletakkan ponsel di dada.

Beberapa detik kemudian, ia mengambilnya lagi.

That's a terrible reason.

It's an honest one.

Alya tidak membalas.

Bukan karena tidak tahu harus berkata apa.

Justru karena terlalu banyak yang ingin dikatakan.

Malam itu Ethan sedang duduk di lantai apartemennya.

Laptop terbuka.

Tugas kuliah belum selesai.

Kamera tergeletak di sebelahnya.

Headphone menggantung di leher.

Ia seharusnya menyelesaikan editing video.

Tetapi sejak beberapa menit lalu, ia hanya menatap layar percakapan dengan Alya.

What are you listening to?

Alya membaca pesan itu.

Ia mengambil earphone yang tergeletak di meja.

Satu sisi masih terpasang di telinganya.

A song.

Obviously.

Wow. Detective.

What's the song?

Alya melihat layar musik.

Ia hampir menyebutkan judulnya.

Tetapi kemudian berpikir.

You won't know it.

Try me.

Alya mengirimkan judul lagu tersebut.

Ethan mencarinya.

Beberapa detik kemudian:

Okay. I don't know it.

Alya tertawa.

Told you.

Is it Indonesian?

Yeah.

Can you translate it?

Alya menatap layar.

The whole song?

Maybe.

That's a lot of work.

I'll pay you in fries.

Alya langsung menjawab:

Deal.

Ethan tertawa sendiri.

Kemudian:

So what's it about?

Alya tidak langsung menjawab.

Ia tidak ingin menerjemahkan liriknya.

Bukan karena tidak bisa.

Hanya saja, lagu itu terasa terlalu personal ketika dijelaskan kepada orang lain.

Jadi ia memilih cara lain.

It's about missing someone.

Ethan mengetik:

You miss someone?

Alya berhenti.

Ia tahu pertanyaan itu mungkin hanya bercanda.

Tetapi entah mengapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Maybe the song does.

Nice save.

Thank you.

You're avoiding the question.

Alya tersenyum.

Maybe.

Ethan tidak memaksa.

Ia hanya mengirim:

Fair enough.

Kemudian beberapa detik kemudian:

What's your favorite song then?

Alya menghela napas.

Pertanyaan sederhana.

Tetapi ia membutuhkan waktu untuk menjawab.

I don't have one.

Everyone has one.

I don't.

That's a lie.

How do you know?

Because you look like someone who has a favorite song.

Alya tertawa.

What does that even mean?

I don't know. It sounded better in my head.

Alya menutup mulut agar tidak tertawa terlalu keras.

Ibunya sudah tidur.

Ia mengetik:

Okay. Maybe I have one.

Knew it.

But I'm not telling you.

Why?

Because then you'll judge me.

I promise I won't.

Alya menatap layar.

Kemudian mengetik judul lagu yang sudah lama menjadi bagian dari playlist-nya.

Tidak ada penjelasan.

Hanya judul.

Ethan mencarinya.

Beberapa saat kemudian:

I like it.

Alya mengangkat alis.

You listened that fast?

I'm listening now.

Alya terdiam.

Ia bisa membayangkan Ethan mengenakan headphone di apartemennya, mendengarkan lagu yang selama ini hanya ia dengarkan sendirian.

Aneh.

Tiba-tiba lagu itu terasa berbeda.

You don't understand the lyrics.

No.

Then how can you like it?

Ethan membalas:

I like the way it sounds.

Alya tersenyum.

Kemudian:

And maybe someday you'll translate it for me.

Alya mengetik:

Maybe.

Hari berikutnya, mereka mulai saling bertukar lagu.

Bukan playlist.

Belum.

Hanya satu lagu sehari.

Ethan mengirim lagu ketika pagi di Bandung.

Alya mengirim lagu ketika malam di New York.

Kadang lagu itu cocok dengan suasana hati.

Kadang tidak.

Kadang mereka bahkan tidak menjelaskan alasannya.

Listen to this.

Itu saja.

Alya mulai mengenali selera Ethan.

Ia menyukai musik yang terdengar seperti kota pada malam hari.

Sedikit berisik.

Sedikit sentimental.

Kadang terlalu bahagia.

Kadang terlalu sedih.

Ethan mulai mengenali selera Alya.

Lagu-lagu yang membuatnya berkata:

This sounds depressing.

Dan Alya selalu menjawab:

It's not depressing. It's beautiful.

Those are usually the same thing.

You're impossible.

And yet you keep sending me songs.

Alya tidak pernah punya jawaban untuk itu.

Suatu malam, Ethan mengirim sebuah lagu tanpa pesan.

Alya sedang mengerjakan ilustrasi ketika notifikasi muncul.

Ia membuka chat.

Sebuah tautan.

Tidak ada kata apa pun.

Alya memutarnya.

Lagu mengalun melalui earphone.

Ia melanjutkan menggambar sambil mendengarkan.

Beberapa menit kemudian, Ethan mengirim:

Well?

Alya mengetik:

I like it.

That's it?

What do you want? A five-page review?

Maybe.

It's good.

You always say that.

Alya berpikir sebentar.

Kemudian:

Okay. I like the lyrics.

Why?

Ia mengetik:

Because it feels honest.

Ethan tidak langsung menjawab.

Beberapa menit berlalu.

Kemudian:

I think that's why I like your drawings.

Alya berhenti menggambar.

What?

They're honest.

Alya menatap layar.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Ia akhirnya mengetik:

You don't know me.

Balasan Ethan datang cukup cepat.

I know.

But I think I'm starting to.

Alya menelan ludah.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi terasa seperti seseorang baru saja mengetuk pintu yang selama ini ia biarkan tertutup.

Ia tidak membukanya.

Belum.

Alya hanya membalas:

Good night, Ethan.

Beberapa detik kemudian:

Good night, Alya.

Malam berikutnya, Alya menunggu.

Tidak ada pesan.

Pukul sembilan.

Tidak ada.

Sepuluh.

Tidak ada.

Sebelas.

Masih tidak ada.

Ia mencoba tidak memikirkannya.

Membuka laptop.

Menggambar.

Menonton video.

Membuat kopi.

Menggambar lagi.

Pukul 00.27.

Ponselnya masih diam.

Alya menatap layar.

Kemudian tertawa kecil.

“See?”

Ia berbicara kepada dirinya sendiri.

“It's nothing.”

Tidak ada yang menjanjikan mereka harus berbicara setiap hari.

Tidak ada hubungan.

Tidak ada alasan untuk merasa kecewa.

Ia meletakkan ponsel dan mematikan lampu.

Lima menit kemudian—

Ding.

Alya membuka mata.

Pesan.

Sorry. Crazy day.

Ia menatapnya.

Kemudian:

Did I miss the sky today?

Alya tersenyum tanpa sadar.

Ia membuka jendela.

Malam Bandung masih basah.

Langit gelap.

Tidak banyak yang bisa dilihat.

Ia mengambil foto.

Mengirimkannya.

It's ugly tonight.

Balasan Ethan:

Still want to see it.

Alya terdiam.

Ia melihat foto yang baru dikirimnya.

Kemudian membaca kalimat Ethan sekali lagi.

Still want to see it.

Mungkin itu yang membuat semuanya terasa berbeda.

Ethan tidak membutuhkan langit yang indah.

Ia hanya ingin melihat apa yang Alya lihat.

Alya mengetik:

You missed it earlier.

I'll see tomorrow's.

Promise?

Pesan itu terkirim sebelum Alya sempat menariknya kembali.

Tiga titik muncul.

Kemudian:

Promise.

Alya menatap satu kata itu.

Promise.

Sebuah kata yang bagi sebagian orang mungkin tidak berarti apa-apa.

Tetapi bagi Alya, janji selalu memiliki berat yang berbeda.

Ia tidak tahu mengapa.

Belum.

Ia hanya tahu bahwa malam itu, untuk pertama kalinya, ia menunggu hari berikutnya bukan karena ada kelas, tugas, atau deadline.

Ia menunggu karena seseorang di kota lain berjanji akan mengirim foto langit.

Dan tanpa mereka sadari, sesuatu yang awalnya hanya percakapan mulai berubah menjadi rutinitas.

Rutinitas mulai berubah menjadi kebiasaan.

Dan kebiasaan—

perlahan mulai berubah menjadi kebutuhan.

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play