THE DISTANCE BETWEEN US
Hujan turun sejak sore.
Tidak deras. Tidak juga cukup ringan untuk diabaikan.
Hanya hujan Bandung yang seperti tahu bagaimana caranya membuat malam terasa lebih panjang.
Alya duduk di depan meja kerjanya dengan rambut diikat seadanya. Lampu kamar hanya menyala dari lampu meja kecil di sebelah laptop. Di depannya, sebuah ilustrasi hampir selesai.
Seorang perempuan berdiri sendirian di sebuah halte.
Payung transparan.
Jalanan basah.
Lampu kota yang dibuat buram.
Alya memperbesar gambar.
Menggeser sedikit bagian bahu.
Memperkecil lagi.
Mendengus.
“Ugly.”
Ia menghapusnya.
Menggambar ulang.
“Still ugly.”
Dihapus lagi.
Alya menyandarkan punggung ke kursi.
Jam di sudut laptop menunjukkan 23.41.
Deadline besok siang.
Klien pasti akan bertanya kenapa ilustrasinya belum selesai.
Dan Alya pasti akan mengatakan hal yang sama seperti biasanya.
Sorry, I had some revisions.
Padahal sebenarnya ia hanya terlalu banyak berpikir.
Tentang warna.
Tentang garis.
Tentang apakah ekspresi karakter itu terlihat sedih atau hanya terlihat seperti orang kurang tidur.
Tentang hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan.
Alya mengambil gelas kopi di samping laptop.
Dingin.
Ia menyesap sedikit.
“Great.”
Ia kembali melihat layar.
Kemudian ponselnya bergetar.
Bukan pesan.
Hanya notifikasi Instagram.
Alya membuka aplikasi itu dengan satu tangan.
Ia baru saja mengunggah ilustrasi tersebut beberapa detik lalu.
Tanpa caption.
Tanpa penjelasan.
Hanya gambar.
Kadang ia merasa karya yang terlalu banyak dijelaskan justru kehilangan sesuatu.
Ia membuka kolom komentar.
Kosong.
Alya mengangguk.
“Of course.”
Ia meletakkan ponsel.
Lima detik kemudian mengambilnya lagi.
Masih kosong.
“Wow. Pathetic.”
Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Lalu kembali menggambar.
Di New York, hari baru saja dimulai.
Ethan Carter berdiri di trotoar Manhattan dengan kamera menggantung di leher dan secangkir kopi di tangannya.
Udara pagi cukup dingin.
Orang-orang berjalan cepat di sekelilingnya.
Tak ada yang benar-benar memperhatikan satu sama lain.
New York selalu seperti itu.
Semua orang punya tempat untuk pergi.
Semua orang sedang terlambat.
Semua orang terlihat sibuk.
Ethan justru berhenti.
Ia mengangkat kamera.
Click.
Sebuah taksi kuning melintas.
Click.
Seorang perempuan membawa dua gelas kopi sambil berlari menyeberang jalan.
Click.
Lampu lalu lintas berubah merah.
Ethan memasukkan kameranya kembali.
Ponselnya bergetar.
Ia membuka Instagram sambil berjalan.
Scroll.
Scroll.
Scroll.
Sampai jarinya berhenti.
Sebuah ilustrasi muncul di layar.
Halte.
Hujan.
Seorang perempuan sendirian.
Lampu-lampu kota terlihat buram di belakangnya.
Ethan memperhatikan gambar itu lebih lama daripada postingan lain yang baru saja ia lihat.
Ada sesuatu yang sederhana.
Tapi juga sepi.
Ia membuka profil pembuatnya.
Alya Maheswari.
Bio-nya pendek.
Illustrator | Bandung
Ethan mengangkat alis.
“Bandung?”
Ia pernah mendengar nama kota itu.
Entah dari mana.
Mungkin dari sebuah video perjalanan.
Mungkin dari internet.
Ia tidak yakin.
Ia kembali melihat ilustrasinya.
Jarinya bergerak ke kolom komentar.
Mengetik:
This feels lonely. In a good way.
Ia membaca ulang.
Terlalu sok puitis.
Hapus.
Ia mengetik lagi.
I really like the lighting.
Kirim.
Sederhana.
Aman.
Selesai.
Ethan memasukkan ponselnya ke saku.
Lalu berjalan lagi.
Di Bandung, Alya sedang berdiri di depan wastafel ketika ponselnya bergetar.
Ia melihat notifikasi.
@ethancarter commented on your post.
Alya membukanya.
I really like the lighting.
Ia membuka profil Ethan.
Laki-laki.
23, mungkin.
Foto-fotonya sebagian besar tentang kota.
New York.
Subway.
Kedai kopi.
Gedung-gedung tinggi.
Beberapa foto manusia yang tidak diketahui Alya.
Dan hampir semuanya terlihat seperti potongan adegan film.
Alya kembali ke komentarnya.
Ia mengetik:
Thank you.
Berhenti.
Terlalu formal.
Ia menambahkan:
I wasn't sure about the lighting, actually.
Kirim.
Alya menatap layar.
Tidak ada balasan.
“Okay.”
Ia kembali ke meja.
Duduk.
Membuka aplikasi gambar.
Tiga puluh detik.
Ponselnya bergetar.
Alya langsung melihatnya.
Ia bahkan tidak sempat berpura-pura tidak menunggu.
Balasan Ethan muncul.
Then you were overthinking it.
Alya mengerutkan dahi.
Senyum kecil muncul.
Ia mengetik:
Maybe.
Balasan datang cepat.
Definitely.
Alya tertawa pelan.
Kemudian mengetik:
Do you draw too?
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Not really. I take pictures. Does that count?
Alya bersandar di kursi.
Ia mengetik:
No.
Beberapa detik.
Wow. Harsh.
Alya tertawa lagi.
You asked.
Balasan datang hampir seketika.
Fair enough.
Kemudian:
So what counts as drawing?
Alya memandang ilustrasinya.
Ia berpikir sebentar sebelum menjawab.
Making something that wasn't there before.
Kali ini Ethan tidak langsung menjawab.
Ia sudah sampai di apartemen ketika membaca pesan itu lagi.
Making something that wasn't there before.
Ethan duduk di tepi tempat tidur.
Ia membaca kalimat tersebut sekali.
Kemudian sekali lagi.
Tidak tahu kenapa kalimat sederhana dari orang asing membuatnya berhenti.
Ia mengambil kamera.
Berjalan ke jendela.
New York terlihat dari atas sana.
Gedung-gedung.
Lampu.
Kendaraan.
Orang-orang yang terlalu kecil untuk dikenali.
Ia mengambil satu foto langit.
Mengirimkannya.
Like this?
Di Bandung, Alya menerima foto itu.
Langit New York.
Tidak ada yang istimewa.
Setidaknya secara objektif.
Tetapi Alya memperhatikannya cukup lama.
Kemudian ia berjalan ke jendela kamar.
Hujan masih turun.
Ia mengambil foto langit Bandung.
Gelap.
Abu-abu.
Sedikit cahaya dari rumah tetangga.
Ia mengirimkannya.
Like this.
Ethan tersenyum.
Okay. I think I'm getting it.
Alya membalas:
Good student.
Excuse me?
You heard me.
You're bossy.
Alya menahan tawa.
And you're still talking to me.
Ethan terdiam sejenak.
Kemudian mengetik:
Yeah. I noticed.
Alya membaca kalimat itu.
Jarinya berhenti di atas layar.
Ada sesuatu dalam cara Ethan menulis.
Tidak berlebihan.
Tidak mencoba terlalu keras.
Tetapi cukup membuat percakapan terasa ringan.
Ia melihat jam.
00.03.
Alya baru menyadari bahwa mereka sudah berbicara hampir dua puluh menit.
Ia mengetik:
What time is it there?
Balasan:
12:03 PM.
Alya mengerutkan kening.
Wait.
What?
It's noon there?
Yep.
That's weird.
Very.
Alya tersenyum.
It's 12:03 a.m. here.
Ethan membalas:
So we're twelve hours apart.
Apparently.
That's kind of crazy.
Alya melihat hujan di luar jendela.
Kemudian melihat foto langit New York yang masih ada di percakapan mereka.
Dua tempat.
Dua waktu.
Dua orang yang beberapa menit lalu bahkan tidak tahu keberadaan satu sama lain.
Ia mengetik:
So you're basically having lunch while I'm trying to sleep.
And you're probably having coffee while I just finished mine.
Alya melirik gelas kopi dinginnya.
Mine is already dead.
Coffee can die?
This one did.
RIP coffee.
Alya tertawa.
Amen.
Ethan mengirim emoji tertawa.
Kemudian:
So, Alya from Bandung...
Alya membaca namanya.
Ada sesuatu yang aneh ketika seseorang yang baru dikenal menyebut namanya.
Ia mengetik:
Yes?
Why do you draw lonely people?
Senyumnya perlahan hilang.
Pertanyaan sederhana.
Tetapi entah kenapa terasa terlalu dekat.
Alya menatap ilustrasi di layar.
Perempuan di halte itu.
Sendirian.
Menunggu sesuatu.
Atau seseorang.
Ia bisa saja menjawab dengan bercanda.
Bisa mengatakan bahwa itu hanya konsep.
Bisa mengatakan bahwa ia suka hujan.
Tetapi setelah beberapa detik, ia mengetik:
I don't know.
Lalu menghapusnya.
Menulis lagi:
Maybe lonely things are easier to draw.
Ia menekan kirim.
Ethan tidak langsung membalas.
Kali ini Alya tidak menunggu.
Setidaknya ia mencoba untuk tidak menunggu.
Ia mematikan layar laptop.
Merebahkan tubuh ke tempat tidur.
Ponsel masih berada di tangannya.
Beberapa detik kemudian—
ding.
Alya membuka mata.
Pesan Ethan.
Maybe.
Lalu pesan berikutnya:
Good night, Alya.
Alya menatap layar.
Di New York, hari Ethan bahkan belum selesai.
Di Bandung, malam Alya hampir berakhir.
Dua belas jam.
Dua kota.
Satu percakapan yang seharusnya tidak berarti apa-apa.
Alya mengetik:
Good afternoon, Ethan.
Ia berhenti.
Kemudian menambahkan:
See you tomorrow.
Kirim.
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
Yeah. See you tomorrow.
Alya tersenyum kecil.
Ia tidak tahu kenapa ia mengatakan see you tomorrow.
Mereka bahkan tidak tahu apakah besok akan berbicara lagi.
Tetapi malam itu, sebelum benar-benar tidur, Alya membuka percakapan mereka sekali lagi.
Dua foto langit masih berada di sana.
Bandung.
New York.
Tidak ada yang istimewa.
Hanya dua langit dari dua sisi dunia yang berbeda.
Alya mematikan layar.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu, ia tidur tanpa merasa perlu memikirkan apa pun.
Sementara di New York, Ethan masih duduk di dekat jendela.
Menatap foto langit dari Bandung yang baru saja dikirim seseorang yang bahkan belum pernah ia temui.
Ia tersenyum.
Lalu bergumam pelan,
“See you tomorrow.”
Padahal mereka belum tahu—
besok akan menjadi awal dari kebiasaan yang jauh lebih sulit untuk dihentikan.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 15 Episodes
Comments