Pukul 07.06 pagi.
Alya membuka mata sebelum alarm berbunyi.
Hal pertama yang ia lakukan bukan mematikan alarm.
Bukan melihat jam.
Bukan juga bangun.
Tangannya langsung mencari ponsel.
Layar menyala.
Satu pesan.
Morning.
Alya tersenyum.
Ia membalas dengan mata masih setengah tertutup.
Morning.
Beberapa detik kemudian:
Did you sleep well?
Yes. You?
Not yet.
Alya melihat jam.
Tujuh pagi.
Kemudian menghitung cepat.
Tujuh malam di New York.
You haven't slept?
Not yet.
Why?
Editing.
Alya mengerutkan dahi.
You should sleep.
You sound like my mom.
Your mom is probably right.
I don't like this side of you.
Alya tersenyum.
What side?
The responsible one.
Sorry. I'll try to be worse.
Please do.
Alya tertawa kecil.
Percakapan mereka berakhir beberapa menit kemudian.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada percakapan panjang.
Hanya beberapa pesan.
Tetapi cukup untuk membuat pagi Alya terasa sedikit lebih ringan.
Ia bangun.
Mandi.
Sarapan.
Pergi ke kampus.
Sementara di New York, Ethan akhirnya tidur.
Siang itu, Alya mendapat pesan ketika sedang duduk di kantin.
I slept for four hours.
Ia langsung membalas:
That's terrible.
I survived.
Barely.
I'm fine.
Sure.
You worry too much.
Alya membaca pesan itu.
Ia mengetik:
I don't worry about you.
Berhenti.
Hapus.
Menulis:
I'm just being polite.
Kirim.
Balasan Ethan datang:
Sure, Alya.
Alya tersenyum.
What's that supposed to mean?
Nothing.
Liar.
Maybe.
Alya menggeleng.
Temannya yang duduk di depannya memperhatikan.
“Kamu senyum-senyum sendiri dari tadi.”
Alya langsung mematikan layar.
“Nggak.”
“Bohong.”
“Serius.”
Temannya menyipitkan mata.
“Pacar?”
Alya hampir tersedak minuman.
“Apaan?”
“Pacar?”
“Bukan.”
“Gebetan?”
“Bukan.”
“Cowok?”
Alya diam.
Temannya langsung menunjuk wajah Alya.
“HA!”
“Apaan?”
“Ada cowok!”
“Bukan.”
“Terus kenapa kamu merah?”
“Aku panas.”
“Di ruangan ber-AC?”
Alya menatapnya datar.
“Diam.”
Temannya tertawa.
Alya kembali melihat ponselnya.
Satu pesan baru.
Who are you texting?
Alya mengerutkan kening.
Ia tidak mungkin tahu.
How do you know I'm texting someone?
You disappeared for ten minutes.
And?
You came back and replied very quickly.
Alya tersenyum.
Are you keeping track?
Balasan Ethan:
Maybe.
Jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia mengetik:
You're weird.
You like weird.
Alya berhenti.
Kemudian tersenyum kecil.
Maybe I do.
Ia tidak menyadari bahwa Ethan membaca pesan itu berkali-kali.
Malamnya mereka melakukan video call untuk pertama kalinya.
Bukan rencana.
Hanya karena Ethan mengatakan:
I want to show you something.
Alya mengira ia akan mengirim foto.
Ternyata panggilan video.
Ketika layar menyala, Alya langsung membeku.
Wajah Ethan muncul.
Rambut sedikit berantakan.
Kaos hitam.
Headphone menggantung di leher.
Ia terlihat berbeda dari foto profilnya.
Lebih nyata.
Ethan tersenyum.
“Hi.”
Alya masih diam.
“Are you there?”
“Yeah.”
“You're quiet.”
“I'm processing.”
“Processing what?”
“You look different.”
Ethan tertawa.
“Different good or different bad?”
Alya mengangkat bahu.
“I don't know yet.”
“Wow.”
“Apa?”
Ethan tersenyum.
“Nothing.”
Alya baru sadar.
“You understand Indonesian?”
“Very little.”
“Then why did you say apa?”
“I learned it.”
Alya tertawa.
“Okay. Show me what you wanted to show.”
Ethan membalik kamera.
Di luar jendela, New York terlihat terang.
Gedung-gedung tinggi berdiri dengan ribuan jendela menyala.
“Wow.”
“First time seeing New York?”
“From a phone, yes.”
“Not very impressive.”
“It is.”
Ethan mengarahkan kamera ke langit.
“Look.”
Alya tersenyum.
“That's the sky.”
“Your favorite thing.”
Alya terdiam.
Ia tidak pernah menyebutnya sebagai favorit.
Tetapi mungkin memang begitu.
“Yeah.”
Ethan kembali mengarahkan kamera ke wajahnya.
“I told you I'd send you one.”
“You did.”
“I wanted to show you instead.”
Alya tersenyum.
“Why?”
Ethan mengangkat bahu.
“Because I could.”
Sederhana.
Tidak romantis.
Tidak dramatis.
Tetapi entah kenapa membuat Alya diam beberapa detik.
Malam itu mereka berbicara hampir dua jam.
Tentang hal-hal yang tidak penting.
Tentang makanan yang mereka sukai.
Tentang tempat yang ingin mereka kunjungi.
Tentang bagaimana Alya takut pada kecoa.
Tentang bagaimana Ethan tidak bisa membedakan beberapa makanan Indonesia.
Tentang film.
Tentang musik.
Tentang keluarga.
Sampai percakapan itu tiba-tiba berhenti.
Ethan menatap layar.
“Can I ask something?”
Alya mengangguk.
“Why don't you ever talk about your family?”
Alya terdiam.
Pertanyaan itu membuat suasana berubah.
Ia memainkan ujung rambutnya.
“Nothing interesting.”
“That wasn't an answer.”
“I know.”
Ethan tidak memaksa.
“Okay.”
Alya menatap wajahnya di layar.
Ia hampir mengatakan sesuatu.
Tentang rumah.
Tentang ayahnya.
Tentang hal-hal yang sudah lama ia simpan.
Tetapi belum.
Belum malam ini.
“Maybe someday.”
Ethan mengangguk.
“Okay.”
Alya tersenyum tipis.
“Your turn.”
“My family?”
“Yeah.”
Ethan bersandar.
“My dad passed away when I was in high school.”
Alya langsung diam.
“I'm sorry.”
“It's okay.”
“No, I mean—”
“I know.”
Mereka kembali diam.
Dua orang.
Dua rahasia.
Dua masa lalu yang belum siap dibuka.
Alya menyadari sesuatu malam itu.
Mereka mulai mengenal satu sama lain.
Tetapi mengenal seseorang bukan berarti mengetahui semuanya.
Ada bagian dari manusia yang selalu disimpan.
Bagian yang hanya dibuka ketika seseorang sudah cukup dipercaya.
Pukul 02.13 pagi, Alya masih belum tidur.
Ethan juga masih terjaga.
“It's late,” katanya.
“You're the one who called.”
“You answered.”
“Fair.”
Ethan tersenyum.
“Do you think this is weird?”
“What?”
“This.”
Alya memandang layar.
“Talking?”
“Yeah.”
“To a stranger?”
“Yeah.”
Alya berpikir.
“Maybe.”
“That's it?”
“It's weird.”
“Good weird?”
Alya tersenyum.
“Good weird.”
Ethan tertawa kecil.
Kemudian berkata,
“Good night, Bandung.”
Alya tersenyum.
“Good night, New York.”
Panggilan berakhir.
Alya meletakkan ponsel di samping bantal.
Ia menatap langit-langit.
Ada sesuatu yang berbeda malam itu.
Bukan karena Ethan mengatakan sesuatu yang luar biasa.
Bukan karena mereka membicarakan masa lalu.
Bukan pula karena mereka melakukan video call untuk pertama kalinya.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, Alya mulai membayangkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.
Bagaimana rasanya bertemu Ethan secara langsung?
Ia langsung menggeleng.
“Stop.”
Itu tidak masuk akal.
Bandung dan New York bukan dua halte bus yang bisa ditempuh dalam satu perjalanan.
Ada lautan di antara mereka.
Ada ribuan kilometer.
Ada kehidupan yang berbeda.
Dan mungkin, suatu hari nanti, percakapan ini akan berhenti begitu saja.
Tetapi malam itu, Alya tidak memikirkan itu terlalu jauh.
Ia hanya tersenyum.
Di New York, Ethan melakukan hal yang sama.
Dua orang yang belum pernah bertemu.
Dua kota yang terpaut dua belas jam.
Dan sebuah hubungan yang belum memiliki nama.
Namun tanpa mereka sadari, mereka sudah mulai menyisakan ruang satu sama lain dalam kehidupan masing-masing.
Dan ruang kosong yang sudah terisi seseorang ternyata jauh lebih sulit untuk dikosongkan kembali.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 15 Episodes
Comments