Bab 3 — The Habit

Hari ketiga seharusnya tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Setidaknya itu yang Alya pikirkan ketika bangun pukul enam lewat empat puluh pagi.

Ia membuka mata.

Menatap langit-langit.

Mengambil ponsel.

Tidak ada notifikasi.

Alya menghela napas lega.

Kemudian mengerutkan kening.

Lega karena apa?

Ia membuka Instagram.

Tidak ada pesan.

Ia membuka WhatsApp.

Tidak ada pesan.

Ia kembali ke Instagram.

Masih tidak ada.

Alya meletakkan ponselnya di atas bantal.

“Kenapa aku nungguin?”

Tidak ada yang menjawab.

Tentu saja.

Ia bangun, mandi, kemudian membuat sarapan.

Setelah hampir dua puluh menit, ia kembali ke kamar.

Ponselnya bergetar.

Alya langsung mengambilnya.

Satu pesan.

Morning.

Ia tersenyum sebelum sempat mencegahnya.

Morning.

Balasan Ethan muncul beberapa detik kemudian.

Did you sleep well?

Not really.

Because of me?

Alya mengangkat alis.

Don't flatter yourself.

Too late.

Alya tertawa.

Kemudian menyadari sesuatu.

Ia bahkan belum menggosok gigi ketika mulai mengobrol dengannya.

“Great.”

Ia menaruh ponsel.

Kemudian mengambilnya lagi.

How's your day?

It's 8 PM here.

Alya berhenti.

Oh. Right.

You're still getting used to the time difference.

Maybe.

You'll get used to it.

Alya membaca kalimat itu.

Entah kenapa terdengar seperti sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perbedaan waktu.

Ia tidak membalas.

Hari itu mereka tidak banyak bicara.

Alya punya kelas dari pagi sampai sore.

Ethan bekerja.

Pesan mereka hanya sesekali muncul.

Have you eaten?

I'm starving.

What are you eating?

Don't judge me.

I'm already judging you.

Tidak ada percakapan panjang.

Tidak ada panggilan.

Namun setiap kali ponsel Alya bergetar, tangannya otomatis mencarinya.

Satu pesan.

Dua pesan.

Kemudian tidak ada lagi.

Alya kembali ke tugas.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

Ketika malam datang, ia baru menyadari bahwa Ethan belum mengirim pesan lagi.

Ia membuka percakapan mereka.

Pesan terakhir:

I'm going back to work. Talk later.

Alya melihat waktu pesan tersebut.

Tiga jam lalu.

Ia mengetik:

Hey.

Ia menatapnya.

Hapus.

Mengetik lagi.

How's work?

Hapus.

“Why am I doing this?”

Ia meletakkan ponsel.

Lima menit kemudian mengambilnya lagi.

Kali ini tidak ada pesan.

Ia menghela napas.

Alya memaksa dirinya kembali menggambar.

Pukul 10:18 PM, sebuah pesan masuk.

I'm alive.

Alya langsung membalas:

Congratulations.

Thank you. It was a difficult journey.

I'm sure.

How was your day?

Alya mulai mengetik.

Kemudian berhenti.

Ia hampir mengatakan bahwa hari ini menyebalkan.

Kelasnya membosankan.

Dosen memberikan tugas tambahan.

Kopinya tumpah.

Temannya membuat kesal.

Tetapi semuanya terasa seperti terlalu banyak informasi untuk seseorang yang baru dikenalnya tiga hari.

Jadi ia memilih:

Fine. Yours?

Balasan Ethan datang:

Long.

That's it?

You asked how it was. I said long.

Alya tertawa kecil.

You're terrible at conversations.

And yet you're still here.

Alya terdiam.

Ia tidak tahu harus membalas apa.

Akhirnya:

Unfortunately.

Sure.

Ia bisa membayangkan Ethan tersenyum.

Aneh.

Ia bahkan belum pernah melihat senyum itu secara langsung.

Pukul 11:47 PM, mereka melakukan panggilan lagi.

Kali ini tidak canggung.

Ethan sedang berjalan pulang.

Suara langkah kakinya terdengar dari seberang telepon.

“You walk everywhere?” tanya Alya.

“Sometimes.”

“Why?”

“New York.”

“That doesn't answer my question.”

“It does if you've lived here long enough.”

Alya tersenyum.

“What's New York like?”

Ethan diam sebentar.

“Loud.”

“That's it?”

“Very loud.”

Alya tertawa.

“Bandung isn't that loud.”

“Then I should visit.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi Alya terdiam.

Ethan menyadarinya.

“What?”

“Nothing.”

“You went quiet.”

“I was thinking.”

“That's dangerous.”

Alya tertawa.

“Shut up.”

“There she is.”

“Who?”

“The girl from the messages.”

Alya tersenyum.

“I'm the same person.”

“Not exactly.”

“What's different?”

“You're quieter on the phone.”

Alya memandang langit-langit.

“Maybe because I'm thinking in English.”

“Oh.”

“It's tiring.”

“I'm sorry.”

“Don't be. It's good practice.”

“You don't have to speak English perfectly with me.”

Alya tersenyum.

“I know.”

“You can mix it.”

“Like what?”

“I don't know. Teach me Indonesian.”

Alya tertawa.

“You want to learn Indonesian?”

“Maybe.”

“Okay.”

Ethan berhenti berjalan.

“First word.”

Alya berpikir.

“Terima kasih.”

“What does that mean?”

“Thank you.”

“Terima kasih.”

Pengucapannya terdengar sangat buruk.

Alya langsung tertawa.

“No.”

“What?”

“You sound ridiculous.”

“I'm trying!”

“Again.”

“Terima kasih.”

“Better.”

“I'm learning.”

Alya tersenyum.

“Good.”

“What's the next one?”

“Selamat malam.”

“What does that mean?”

“Good night.”

“Selamat malam.”

Alya diam sebentar.

Kemudian menjawab:

“Selamat malam.”

“Was that right?”

“Yeah.”

“Good.”

Mereka diam beberapa detik.

Alya tidak tahu kenapa dua kata sederhana itu terasa berbeda ketika Ethan mengucapkannya.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan cara yang hampir sama.

Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa mereka akan berbicara setiap hari.

Tidak ada aturan.

Tidak ada jadwal.

Tetapi setiap pagi Alya mulai menemukan satu pesan.

Good morning.

Dan setiap malam Ethan mulai menunggu satu hal.

Foto langit.

Kadang Alya mengirimkannya tanpa kata.

Kadang hanya:

Today was weird.

Ethan akan menjawab:

Want to talk?

Kadang Alya mau.

Kadang tidak.

Begitu pula Ethan.

Mereka tidak selalu menceritakan semuanya.

Tetapi mereka mulai tahu kapan harus bertanya.

Dan kapan harus diam.

Pada hari ketujuh, Ethan mengirim pesan:

Can I ask you something?

Alya sedang berada di perpustakaan.

Ia mengetik:

Sure.

Why do you always send pictures of the sky?

Alya melihat foto terakhir yang baru saja ia kirim.

Langit sore.

Jingga.

Sedikit mendung.

Ia berpikir cukup lama.

I don't know.

You said that before.

Alya tersenyum.

Maybe I don't like saying what I actually mean.

Pesan itu membuat Ethan berhenti.

Kemudian:

What do you mean when you send me the sky?

Alya melihat sekeliling.

Orang-orang sibuk membaca.

Tidak ada yang memperhatikannya.

Ia mengetik:

Sometimes I just want someone to know what I'm looking at.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Kemudian muncul lagi.

I like that.

Alya tersenyum.

Good.

I'll send you one too.

Beberapa detik kemudian sebuah foto masuk.

Langit New York.

Dari sela gedung-gedung tinggi.

Tidak sebagus foto Alya.

Tetapi ia menyukainya.

It's pretty.

You think so?

Yeah.

Then I'll send you one tomorrow.

Alya berhenti.

Besok.

Satu kata sederhana.

Tetapi mulai hari itu, ada sesuatu yang berubah.

Mereka tidak lagi sekadar berbicara ketika kebetulan sedang online.

Mereka mulai menunggu.

Menunggu pagi.

Menunggu malam.

Menunggu foto.

Menunggu suara.

Menunggu satu sama lain.

Dan tanpa pernah membicarakannya, sebuah kebiasaan kecil mulai tumbuh di antara dua kota yang berbeda.

Alya tidak menyadari kapan tepatnya Ethan menjadi bagian dari rutinitasnya.

Mungkin ketika ia mulai melihat ponselnya sebelum membuka mata sepenuhnya.

Mungkin ketika ia mulai mencari foto langit yang bagus hanya untuk dikirim kepadanya.

Atau mungkin ketika suatu malam, setelah percakapan mereka selesai, Alya meletakkan ponselnya di samping bantal dan berpikir:

Besok dia pasti mengirim pesan lagi.

Ia tidak tahu bahwa di New York, Ethan sedang melakukan hal yang sama.

Mereka belum menyebutnya rindu.

Belum menyebutnya suka.

Belum menyebutnya apa-apa.

Hanya sebuah kebiasaan.

Setidaknya untuk sekarang.

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play