Angeline memasuki Gedung perusahaan itu bersama Pak Dior (Supir Keluarganya).
Dia cukup di kenal oleh orang-orang di dalam Perusahaan itu dan baru saja di pintu kaca terbuka beberapa orang menyapa nya sambil tersenyum.
Kemudian Angeline dan Pak Dior tiba di resepsionis disana.
"Selamat Pagi Angeline.". Ucap Resepsionis menyapa dengan ramah.
"Selamat Pagi Mbak." Ucap Angeline sembari tersenyum hangat
"Bunga Mawar, Aster dan Camelia Ya. Cantik banget loh. "
"hehe iya nih mbak saya mau mengantarkan pesanan bunga-bunga ini ke Pak indra, dan Bu Megan." sambil melihat sekali lagi nama kartu yang ia selipkan di bunga.
"Oke Tunggu sebentar ya. "
Angeline mengangguk dan menunggu informasi dari Resepsionis itu beserta Pak Dior duduk di kursi tamu yang tak jauh dari area Angeline berada.
Angeline terlihat asik memperhatikan interior desain Gedung ini, entah kenapa ia cukup takjub setiap memasuki tempat ini.
ia juga menyaksikan orang-orang berlalu lalang saat memasuki gedung ini, sampai-sampai ada yang memperhatikan dirinya dari jauh.
karena merasa di perhatikan oleh seseorang, pandangannya spontan teralih dan tidak menemukan seseorang yang tengah memperhatikannya tadi.
"perasaan tadi ada yang memperhatikan ku deh. " batinnya.
................
"Pak Dior dan Ibu Megan sudah dari tadi di dalam ruangannya, di lantai 15 ya. " ucap resepsionist itu.
"Makasih ya Mbak. " Sahut Angeline tersenyum ramah.
setelah itu mereka berdua memasuki lift dan Pak Dior menekan tombol ke lantai atas, Pintu itu pun tertutup.
****************
Setibanya di sana tak lupa Angeline mengetuk pintu Ruangan Ibu Megan, sesudah mengantarkan bunga ke Pak Indra.
"Selamat Pagi Ibu. " ucap Angeline
"Selamat pagi Angeline. " sahut Ibu Megan tersenyum senang karena melihat se buket Camelia pesanannya.
mereka berbincang cukup lama di ruangan itu, membahas bunga-bunga an dan lain-lainnya.
................
"Ayok pak saya sudah selesai. " Angeline menepuk pelan Pak Dior yang ketiduran di kursi depan ruangan itu.
"Ayo non."
baru saja ia tengah menggerakkan kursi rodanya tiba-tiba saja dari tangga darurat terlihat seorang laki-laki tengah berlari dengan wajah emosi bercampur sedih yang amat dalam.
Angeline memperhatikan laki-laki itu dengan sesama dan mengingat mimik wajah itu penuh keputusasaan.
la merasa tidak tenang dengan orang itu takut terjadi sesuatu sama orang itu.
................
setelah sarapan Gideon bercemin lagi di dalam kamarnya memastikan semua nya sudah rapi dalam dirinya.
kemudian ia kenakan sepatu Pantofel (pemberian dari pamannya) berwarna hitam sesuai dengan celana beserta dasi nya. Tidak lupa juga ia membawa berkas lawatannya.
"Bu, Don berangkat ya doakan anakmu ini berhasil. " sambil mencium tangan Ibunya
"Iya nak pasti itu. " ucap Ibu Berliana sambil tersenyum hangat.
"Jaga Ibu ya To, Kak Don berangkat dulu. " melambaikan tangannya
"Pasti kak hati-hati."
.
.
.
Dalam perjalanan Gideon asik menyapa orang-orang di daerah rumah sekitar nya.
"Pagi Don. " ucap seorang gadis dari arah belakangnya
Gideon mengalihkan pandangannya ke belakang menemukan sosok wanita bernama Marrisa.
Marissa adalah Sahabat masa kecil Gideon saat masih duduk di bangku kelas SD, wajar saja mereka sangat akrab sejak dulu, Marissa termasuk sangat tahu betul seluk beluk keluarga Gideon. karena ia melihat sendiri saat Ayah Gideon meninggalkan Mereka.
Dan karena keakraban mereka lah para tetangga sibuk membahas kecocokan mereka melebihi dari seorang teman.
Tetapi Gideon tetap menganggap Marissa adalah seorang teman dan Saudara yang baik itu sudah cukup, walaupun Marissa dalam diam sangat menginginkan hubungan lebih dari seorang Sahabat.
"Tambah keren aja kamu Don. " ucap Marissa sembari menepuk bahu gagahnya Gideon.
"bisa saja kamu Mar., bercanda mulu. "
"ih.. Seriusan deh. "
"ya sudah kalau gitu, Don berangkat dulu." ucap Gideon sembari melambaikan tangan berlari kecil.
"oke Hati-hati Don sore tempat biasa. " lantang Marissa
"Siap Bu Bos. "
Perlahan punggung badan Don menjauh dari pandangan, meninggalkan senyuman kecut Marissa
"Andai kamu tahu Don. " Batin Marissa
Setelah itu Marissa berjalan pergi.
.
.
.
Setiba nya di depan gedung kantor ritual sebelum masuk ke tempat lamaran pekerjaan Gideon menarik nafas dan ia menghembuskannya.
"Jangan gugup kamu sudah sering melakukannya. " batinnya
Setelah itu Gideon memperhatikan orang menatapnya dengan ekspresi yang sulit di tebak, dia tak mengerti kenapa ia merasa risih saat di perhatikan oleh khayalak ramai.
"Ihh ganteng banget deh siapa sih. " ucap salah satu rombongan karyawan berbisik melihat paras tampan Gideon.
"eh mintaiin nomor whatssapnya oke ni. "
"ngga ah malu malu in aja."
Gideon tak perduli akan hal itu ia dengan gagah memasuki pintu utama Gedung xx itu.
.................
................
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments