4

Berkasnya sudah lengkap? " tanya Resepsionis

"Sudah mbak." ucap Gideon menyerahkan Map berwarna merah kepada nya.

"oke silahkan duduk ya, saya akan panggil nama kamu nanti" tangan kanan respsionis menunjukkan arah tempat duduk yang kosong.

"sama-sama. " ucap mbak resepsionis itu lagi

"Loh, baru saja mau bilang terima kasih mbak. " sahut Gideon menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Maaf.... Mmmas saya tidak Fokus. " jawab Mbak Resepsionis itu salah tingkah.

Gideon hanya tersenyum kecil langsung bergegas duduk di kursi yang diarahkan Mbak Resepsionis

"Duh betapa bodohnya aku. Bikin malu saja. " batin Mbak Resepsionis itu menahan wajahnya yang dari sudah panas.

Setelah itu Resepsionis itu masuk kedalam ruangannya.

.

.

.

Gideon duduk di kursi panjang itu di penuhi dengan orang-orang yang menunggu antrian untuk di interview, orang-orang sibuk berlalu lalang dan ada juga kaum wanita memperhatikannya juga.

Ia tidak sadar karena sibuk memikirkan nasibnya nanti lolos atau gagalnya sehabis di interview, sampai pandangannya berhenti ke arah seorang wanita yang tengah mendorong pelan kursi rodanya.

Pandangannya cukup lama menatap paras wanita itu hidung mancung rambut coklat bergelombang ,mata bulat dengan bulu mata lentik alami serta bagian akhir senyum manis wanita itu yang menghiasi kecantikkannya.

"Cantik. " gumamnya

"Gideon Ferdinan" Resepsionis memanggil namanya

Spontan Gideon bangun dari tempat bergegas menghampiri Resepsionis itu.

"Silahkan masuk ke dalam ruangan untuk di interview. " ucap mbak Resepsionis mengarahkan ruangan itu.

Gideon mengangguk dan masuk ke dalam ruangan.

.

.

.

"Oke penyampaian mu sangat logis dan memuaskan saya, dan nilai ipk mu cocok untuk bisa masuk ke sini." ucap Manager perusahaan itu tersenyum lebar

Mendengar pujian itu Gideon senang akan hal itu iya sudah percaya lolos kali ini.

Tiba-tiba saja seorang bapak masuk ke dalam ruangan kemudian membisikan sesuatu hal kepada manager itu,  seketika wajah pak manager itu yang tersenyum seketika berubah menjadi wajah yang serius.

Kemudian bapak itu perlahan mundur dan keluar dari ruangan. 

"Jadi gimana pak?." ucap Gideon memecah keheningan di ruangan itu.

"Maaf nak,  kamu tidak lolos interview silahkan cari perusahaan lain. "

Gideon sudah tau itu dirinya akan gagal kembali, kemudian ia hanya menundukkan kepala nya sambil mengepalkan tangannya erat.

"Tapi kenapa pak?  Saya sudah menjawab semua pertanyaan yang bapak beri kan kepada saya., nilai saya tidak mengecewakan saya sudah ke 9 kali mencoba sebelum saya di sini."

"Dari semua Manager yang telah menolak saya semua sama saja mengatakan seperti anda katakan sebelumnya."

"Dan ini adalah yang ke-10 kali saya gagal" ucap Gideon menatap Manager itu dengan tatapan sinis.

Pak Manager itu terpaku diam setelah mendengar ucapan nada bicara Gideon yang terdengar putus asa, ia merasa iba dengan anak itu di hadapannya.

"Permisi. " Gideon bergegas pergi begitu saja.

.

.

.

.

Resepsionis itu mengembalikan Map merah miliknya,  dia merasa kasihan kepada Gideon gagal dalam interviewnya. dia mendengar teman-teman sekitarnya membahas Gideon yang memiliki nilai Ipk yang melebihi rata-rata, kenapa bisa-bisanya tidak lolos?

"Semangat mas." ucap Mbak resepsionis itu menyerahkan kembali map merah milik Gideon.

Gideon hanya tersenyum miris kemudian pergi keluar dari gedung dengan kepala yang di tekuk ke bawah.

"Sayang sekali padahal ganteng,  pintar kurang apa coba ya?. " batin Mbak Resepsionis itu sambil menggelengkan kepala nya.

.

.

.

.

Setibanya keluar dari pintu utama yang cukup mengurangi rasa semangatnya, ia menghembuskan nafas nya perlahan mengontrol rasa emosi nya dan pikiran yang berkecamuk..

"Ingat kata Ibu, kamu pasti bisa Don. " batin Gideon menyemangati dirinya kembali.

Hendak baru saja berjalan ia melihat seseorang yang familiar baginya,  seketika Gideon terpaku dalam dirinya matanya terbelalak deru nafas yang tidak bisa di kontrol, karena emosi yang amat dalam.

Sosok itu berjalan dengan angkuh kemudian melipatkan kedua tangannya kedepan, ia melepas kacamata hitamnya pakaian dan tas ia kenakan branded ternama.

Wanita itu memperhatikan ujung kepala dan ujung kaki Gideon, seketika wajahnya tersenyum sinis...

.

.

.

.

.

Entah apa yang sedang di pikirkan Seorang Gideon yang baru berapa menit saja menyemangati diri nya sendiri. Ia kembali lagi kedalam Gedung itu, ia terus berlari tanpa hentinya.

" eh mas! " seru Mbak Resepsionis yang melihat Gideon bak seorang Atlet yang berlari kencang.

Dia tidak peduli pada orang-orang yang kaget melihat tingkah Gideon berlari bagaikan dikejar setan, ia mulai menaiki tangga darurat di balik pintu kaca disamping lobby.

Tangga demi tangga ia naiki bahkan 2 atau 3 anak tangga ia loncati, pikirannya kacau ia sudah tidak tahan dengan semuanya setelah mendengar wanita itu adalah daisy, dia wanita yang bersama ayahnya sekarang pada saat sang ayah kabur meninggalkan mereka.

Turn off

"wah sudah besar aja ya anak berliana, gimana?  Senang?  tidak lolos dari interview?  Eh bukan sekali tapi berkali-kali hahaha. " ucap wanita itu sambil tertawa puas.

"apa maksudmu?!. " sahut Gideon menggertakkan giginya berusaha menahan amarah.

"Ya, saya merencanakan semuanya dari awal.  Dari beberapa perusahaan yang kamu coba lamar itu telah bekerja sama dengan saya." ucap lagi wanita itu dengan bangganya.

Mendengar wanita penyihir itu,  tangannya semakin erat

Dikepalkannya keringat mengucur dengan deras,  ia sudah merasakan rasa mual terhadap dirinya.

ya Gideon memiliki "syndrom Attack panick" semenjak kepergiaan ayah nya bersama wanita yang berada di hadapannya sekarang, penyakitnya akan kambuh jika emosi yang di milikinya melebihi batas.

"Pantas saja Ayahmu mau sama saya yang lebih cantik, ketimbang istri sebelumnya yang sudah tua bangka itu hahaha. " ucap lagi Daisy dengan menekan kata"Tua Bangka" itu.

"CUKUP!!!. " Gideon sudah muak mendengar Ibu nya dijelekkan oleh wanita sialan di hadapannya.

Mendengar hal itu Daisy mendekati Gideon.

"semangat loh ya hahaha. " wanita itu menepuk pelan bahu bidang Gideon.

Setelah itu Daisy meninggalkan Gideon yang masih terpaku diam dengan penuh emosi.

Entah apa yang merasukinya, ia bergegas berlari memasuki pintu utama gedung xx itu kembali.

Turn On

Perkataan Daisy menghantui pikirannya ia tak tahan melihat wajah wanita dan ayahnya yang membuat dirinya trauma,  ia terus melangkah tanpa berhenti dia tak peduli dan terus membiarkan kaki nya melangkah

Nafasnya naik turun dengan hebat karena dari tadi kaki nya memaksakan dirinya untuk melangkah.  Hingga ia tiba di bagian yang ia tuju.

.

.

.

.

.

**JANGAN LUPA VOTE AND LIKE& KOMEN

XOXO:D**

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play