5. Nyaris

Angeline merasa sangat khawatir apa yang akan terjadi kepada Laki-laki asing tengah berlari kesetanan yang baru saja ia temui tadi, karena ia yakin hal yang tidak diinginkan akan terjadi.

Ia sangat tahu betul wajah laki-laki itu sama seperti dirinya pada kejadian 8 tahun lalu yang menimpanya, tanpa berpikir panjang ia telah mengambil keputusan.

"Pak Dior tunggu saja disini sebentar,  saya mau ikuti laki-laki itu tadi. " ucap Angeline mulai mendorong kursi rodannya.

"Non jangan bahaya ,kan disuruh nyonya langsung pulang kan?  Sahut Pak Dior menghalangi jalan Angeline.

"Ya sudah, Bapak ikut saya sekalian tolong pak saya punya firasat buruk sama laki-laki itu tadi. " jawab Angeline memohon.

"Baiklah non saya ikut dengan Nona. " ucap Pak Dior mengangguk..

Angeline tersenyum sambil ikut menganggukan kepalanya juga.

.

.

.

.

Kursi roda miliki Angeline didorong oleh Pak dior yang tengah berlari kecil menuju lift di sebrang ruangan sana, kemudian Angeline mulai menekan tombol lantai bagian teratas dari gedung ini.

.

.

.

Setibanya di atas,  pak dior dan Angeline sudah tiba di pintu darurat yang telah di buka oleh seseorang dari luar.  Mereka berdua perlahan mulai mendekati pintu,  kemudian Angeline memperhatikan seseorang yang tengah berdiri di ujung Rooftop itu sembari kepala orang itu ditekuk..

"Bapak tunggu disini saja,  biar saya bujuk laki-laki itu. " ucap Angeline mulai menjalankan rodanya.

"Hati-hati nona. " ucap Pak dior.

.

.

.

Angeline menggerakkan perlahan kursi rodannya berusaha untuk bersikap tenang ke arah laki-laki itu yang tengah menatapnya dengan tatapan kosong.

"jangan lakukan seperti itu ya,  saya mohon anda mundur disitu. "

"TIDAK BISA!. " jawab Gideon menutup telinganya ia masih bertahan dalam pendiriannya,  walah orang-orang di bawah sibuk meneriakinya.

Polisi beserta pemadam kebakaran telah dikerahkan pada saat Gideon yang dari tadi berdiri di atas sana. Salah satu polisi mengambil Toa dari mobil patroli kemudian..

"Anda yang berbaju putih sana, jangan melakukan percobaan lompat disana."

Gideon tak beraksi mendengar ucapan bapak polisi itu,  ia masih berdiri di sana.

"masuk kedalam gedung tangkap anak itu. " ucap salah satu polisi menghubungi rekannya melalui walkie talkie.

Sementara Angeline...

"jangan pernah melakukan di luar batas anda,  banyak orang terdekat sayang anda " ucap Angeline dengan wajah tegang.

"Anda tidak akan bisa merasakan menjadi saya,  saya tidak tahan. Saya... " air mata Gideon jatuh begitu saja.

"Saya pernah merasakkan jadi anda,  saya pernah sama seperti anda. " sahut Angeline memotong ucapan Gideon.

"Saya pernah disituasi seperti yang kamu. Seperti yang kamu Lakukan sekarang,  ketika saya kehilangan kedua orang tua saya dan adik kecil saya. Lebih parahnya saya kehilangan kekuatan untuk berjalan,  setelah tragedi kecelakaan yang menimpa saya" jawab Angeline tersenyum kecut jika mengingat kembali tragedi yang menewaskan orang yang ia cintai.

Gideon menunduk ia tak menyangka ada seseorang yang memiliki nasib parah dari dirinya.

"Saya tahu anda punya masalah berat sekarang, saya paham itu. " ucap Angeline tersenyum hangat.

"Jangan melewati batas. "

Seketika kata-kata "jangan melewati batas" pernah di ucapkan sang Ibu,  ketika 8 tahun yang lalu ia mengalami serangan panik. Nya.

Dan akal sehat nya kembali,  ia jadi merindukan Ibu dan adiknya yang tengah menunggu kepulangannya,  ia tak pernah membayangkan jika ia melompat sekarang, apa yang akan terjadi pada mereka jika dia pergi?.

Gideon kembali mendur dari tempat nya tidak melompat dari gedung itu,  seketika tubuhnya terkulai lemas dan jatuh.  Deru nafasnya yang masih tak beraturan.

Air mata nya jatuh begitu deras nya sempat ia terisak didalam pikirannya apa yang sudah ia lakukan selama ini.

"gunakan lah ini, untuk menghapus air mata mu. " Angeline memberikan sapu tangannya kepada Gideon sembari tersenyum kecil.

"Terima kasih. " ucap Gideon sambil mengambil sapu tangan berwarna biru tosca

"Kamu perlu ingat menyerah adalah bagian para kaum pengecut. " ucap Angeline mengingatkan agar Gideon tidak melakukan hal senekat itu.

Gideon telah menyeka air mata nya, kemudian ia hanya tersenyum sesaat tidak banyak bicara.  Pandangan tatapan antara mereka berdua cukup lama, Angeline merasakan sesuatu geli di dalam hatinya.

"nama kamu sia.... "

Baru saja Gideon mau menanyakan nama wanita itu,  ia merasakan sebuah sengatan yang menyerang di bagian belakangnya.

Seketika ia terjatuh dalam pendiriannya penglihatannya mulai buram dan seisinya menjadi gelap gulita....

...****************...

JANGAN LUPA VOTE AND LIKE

Hot

Comments

Lou

Lou

Interesting fic! Do you happen to have any social media or fan page i can follow? I want to support you :D

2022-09-05

0

See all
Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play