Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pengkhianatan berencana
"apa kamu marah?...." ujar Clare, tangannya di ikat pakai dasi, mengepal tak berdaya.
"Diam!" Bisik Jhon di telinga Clare sambil menggigitnya, ia mencium dengan agresif
"Jangan!" Teriak Clare "aku sudah lelah" lanjutnya
"tapi kau tak berhak melarang ku!"
Suara Jhon terdengar dingin dan penuh kemarahan. Genggamannya di pergelangan tangan Clare semakin kuat hingga menimbulkan rasa sakit.
Clare menggeleng dengan air mata yang sudah menggenang. "Jhon... lepaskan aku. Kita bisa bicarakan ini baik-baik"
"Terlambat. Di dunia ini tak ada yang pernah berani mengkhianati ku selain kamu!"
"Aku tidak mengkhianatimu!" teriak Clare. "Kau yang tidak pernah mendengarkan ku!"
"untuk apa! Kamu hanya akan mencari alasan!"
Clare menghembuskan napas pelan "tidak apa-apa jika kamu tidak percaya"
hubungan Clare dan Jhon sudah seperti pasangan pada umumnya, namun... Di balik itu Jhon hanyalah sebuah...
Semuanya berawal dari....
___________________________________
****
Di rumah yang besar namun asing. Tampak seorang gadis di ruang tamu dengan baju pembantu sedang menuangkan teh untuk seluruh tamu. Di antara deretan nona nona sosialita, gadis itu tak pernah di sebut seperti noda yang tak boleh di perlihatkan, namun nyatanya dia adalah tuan rumah itu yang sebenarnya.
Clare
Dia adalah menantu dari keluarga yang dulunya miskin, Clare menikah dengan orang yang sangat baik, setelah menikah Clare membawa seluruh keluarga suaminya untuk tinggal di istananya. tapi perbuatan Clare itu malah menjadi sebuah bencana untuknya.
Di suatu hari, di sebuah kantor yang besar. Clare duduk di kursi ruang kerjanya, sedang menandatangani puluhan dokumen. Suaminya yang bernama Hans datang membawa sebuah dokumen yang berisi "Hak pengalihan atas nama rumah dan perusahaan." Hans meminta Clare menandatanganinya dengan kedok sebuah dokumen biasa.
Clare memercayai nya dan tak membacanya terlebih dahulu.
Setelah itu, berbulan bulan berlalu tak ada keanehan, namun hari itu Clare pulang setelah bekerja, ia memasuki kamarnya. Namun ia mendapati suaminya sedang bermesraan dengan wanita yang berpakaian seksi.
Clare terhentak, ia bersembunyi di balik tembok, menutup mulut dengan tangan. Namun ia memberanikan diri untuk melabrak.
Tak... Tak... Tak... Langkah Clare di atas lantai marmer, cepat. "Sudah sejauh apa hubungan kalian." Tanya Clare tegas namun tenang, tangannya menghempaskan selimut ke lantai.
Hans tertawa kecil. "Ouw, ketahuan ya? Yaudah!... Karena nona kita ini sudah mengetahuinya, ya lanjutkan saja." Hans berciuman dengan sangat mesra di depan Clare.
Clare mendekat, menghampiri wanita di sebelah Hans.
"Beraninya kamu berselingkuh dengan suami saya!!" PLAK!!. Wanita itu terpental ke ranjang, ia memegang pipinya yang merah. Clare menampar lagi, tangan sudah berada di udara, tapi Hans mengambil tangan Clare lalu menghempasnya, kasar.
"Sialan kamu Clare!! Keluar sekarang!!" Ujar Hans, ia menunjuk pintu.
"Atas dasar apa kamu mengusirku, ini rumahku. Kamu yang harus ku usir!!" Clare melangkah menuju lemari, ia mengambil koper Hans, lalu membereskan bajunya.
Hans menyadari, ia beranjak cepat dari ranjang, lalu menghentikan Clare, ia mengambil sebuah buku panjang tebal yang di lapisi plastik di laci, menunjukkan sertipikat rumah yang sudah menjadi atas namanya.
"Lihat!!"
***
"Kapan kamu melakukan ini!!" Ujar Clare, suaranya bergetar.
"Clare, Clare... Kamu itu sangat bodoh! Bodoh sampai sangat mudah ku bohongi!" Wanita itu juga beranjak dari ranjang, Hans menjemputnya, mereka berpegangan tangan menghampiri Clare.
"Heh, wanita jalang!" Tangan wanita itu menyentuh dagu Clare. "Aku sudah tidak tahan dengan sikap angkuhmu tadi, sekarang, Udah nggak bisa lawan?" Dia berjongkok, menatap Clare yang masih lemas terjatuh. "Mungkin sekarang, seluruh tubuhmu itu tak pantas di sandingkan dengan sehelai rambutku!" Ujarnya, tangannya mendorong dagu Clare ke samping, keras.
"Jahat!" Clare berdiri menghampiri Hans, "Jahat kamu Hans!" Ujar Clare, tangannya sudah mengapung. Tangan Hans menahan lalu menghempaskannya sampai Clare terjatuh lagi.
"Aku sudah percaya sepenuhnya denganmu, tapi kenapa! Kenapa kamu seperti ini Hans!!!" Clare menoleh, wajahnya di penuhi air mata yang masih menggenang maupun yang sudah terjatuh.
Hans mendekat, jongkok, tangannya memegang rahang Clare. "Kamu tanya kenapa? Kenapa? seharusnya kamu sudah tau kenapa?Karena aku tak pernah bisa mendapatkan semua dengan cara halus, ini salahmu Clare!!" Teriak Hans di muka Clare. "Aku terpaksa melakukan cara ini, karena dengan ini kamu berada di bawahku." Hans mengusap rambut Clare yang berada pipi, halus, kejam. "Aku tidak perlu malu lagi saat semua orang mengatakan pangkatmu lebih tinggi dari aku. Karena sekarang kamu sudah berada di bawahku, Clare." Lanjut Hans, dia pergi keluar bersama wanita itu, lalu mengunci Clare di dalam.
Clare berdiri lelah, sempoyongan, berusaha mendekati pintu. DOR! DOR! DOR! "Buka!" Teriak Clare, suaranya pecah. Dor! Dor! Dor! "Buka Hans!" Clare menyender di pintu, duduk rapuh, Isaknya memenuhi ruangan yang sepi.
"Ma, maaf. Aku tidak bisa menjaga harta peninggalan mu." Ujarnya, Clare melingkar kan tangan, menutupi wajahnya yang sedang menangis.
Nitt... Nitt... Nitt... Tiba-tiba telepon masuk dari ponsel Clare, di layar tertulis "sahabatku"
Clare mengusap air matanya, menarik napas agar tidak terdengar seperti habis menangis.
"Ya, halo?" Clare berdiri, melangkah ke arah jendela.
Ada jeda beberapa detik.
"Kenapa? Kok suara kamu seperti habis menangis?" Ujar seberang telepon. Nadanya sangat gelisah.
"Tidak, tidak apa-apa. Ada apa kamu menelpon ku?" Jawab Clare.
"Ouh... Aku ingin mengajakmu minum malam ini, aku sangat sedih, ayolah?" Ajaknya.
"Aku coba pikirkan dulu, kalau sudah aku pasti akan mengabari mu." Clare menghela napas, kecil.
"Clare? Are you okey?" Tok.. tok.. tok.. "CLARE!!!" ketukan dan suara keras muncul dari pintu, Clare langsung mematikan teleponnya. Ia mendekat. Pintu terbuka pelan.
Ibu mertua Clare terlihat, wajahnya sangat tak ramah seperti biasa yang selalu Clare lihat.
Clare meraih tangan mertuanya, tapi respon itu sangat membuat Clare kecewa.
"Ma! Hans selingkuh, mama pasti membelaku kan?." Ujar Clare, mengadu.
"Kenapa kamu mengadu kepada saya, anak saya selingkuh ya terserah dia!" Jawabnya, tangan Clare di hentak lagi untuk ke sekian kalinya. Ia sangat terkejut dengan dahsyatnya perubahan sikap itu.
Biasanya sosok mertua yang Clare kenal adalah sosok yang sudah seperti ibu kandung untuknya, ia selalu membela Clare ketika ada perselisihan kecil antara Clare dan Hans, tapi saat ini semuanya berbeda. Dunia menghakimi Clare.