Indonesia
NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Zuraida yang baru pulang mengambil air dari kali dikejutkan dengan seseorang yang sudah tergeletak berlumuran darah di dalam gubuknya. Darah segar terus keluar dari luka-lukanya.

"Anda siapa?. Kenapa bisa terluka parah begini?." Zuraida panik sambil mendekati pria yang bau anyir itu. Sangat menyengat.

Pria itu tidak bicara. Di sisa kesadarannya pria itu menatap lekat perempuan berhijab yang ada begitu dekat dengannya. Sebelum akhirnya pria itu tidak sadarkan diri.

Dua hari kemudian.

Pria yang ditolong, dirawat dan diobati Zuraida berangsur pulih. Seenggaknya luka-lukanya sudah kering. Pria itu pamit hendak meninggalkan gubuk setelah mengucapkan rasa terima kasih. Sebab jika bukan karena Zuraida pasti ia sudah tiada.

Baru juga selangkah keluar dari gubuk dari arah pepohonan datang orang berbondong-bondong ke arahnya. Zuraida yang melihat pun segera berdiri di hadapan pria itu.

Sebagian dari orang-orang itu mengelilingi Zuraida dan pria itu dengan senjata tajam di tangan. Ada pisau, celurit, bambu lancip dan juga golok.

"Usir pezina itu dari desa!," seru seorang perempuan dengan pakaian paling mencolok di antara yang lain.

"Iya, benar, usir Zuraida dari desa ini. Aku nggak mau desa ini terkena sial karena pezina hina ini." Tunjuk perempuan paruh baya yang berdiri di sebelah perempuan mencolok itu.

"Jadi kamu lebih memilih tinggal gubuk ini supaya bebas berzina dengan pria ini." Pria paruh baya terlihat sendu.

"Ayah..." Zuraida tak dapat menyelesaikan kata-katanya. Ibu dan kakak tirinya sudah membungkam suaranya.

"Ayo, usir Zuraida sekarang juga!!!." Teriak ibu dan anak itu.

"Pergi! Pergi! Pergi!." Seru orang-orang yang mengelilingi Zuraida dan pria itu sambil mengacungkan senjata tajam ke arah mereka.

Tak ada pilihan lain yang dimiliki Zuraida selain harus pergi meninggalkan desa itu. Berpisah dari ayahnya. Zuraida mulai melangkah menjauh.

"Tunggu," suara ayah menahan langkahnya.

Zuraida berbalik, ia senang ayahnya menahan kepergiannya.

Namun yang terjadi bukan seperti pikiran Zuraida.

Ayah memandangi pria yang sejak tadi hanya diam. Lalu ayah menarik tangan pria itu membawanya ke hadapan putri yang sangat disayanginya.

"Kalian sudah menghabiskan waktu bersama di gubuk itu. Jadi kalian harus menikah, jangan sampai cucuku lahir tanpa ayah."

Kepala Zuraida segera menggeleng sedangkan pria itu masih diam belum ada merespon.

"Ini tidak benar, Ayah." Zuraida menangis. "Aku masih suci, aku belum tersentuh, aku masih menjadi putri kesayangan ayah yang memegang teguh ajaran ayah." Tangis Zuraida semakin terisak.

"Mana ada pezina mau ngaku?," teriak kakak tiri Zuraida.

"Kalau perlu telanjangi saja pezina itu supaya tahu kebenarannya." Teriak salah satu dari mereka.

"Baik, sekarang juga di hadapan Anda, saya menikahi putri Anda." Tegas pria itu.

Mata basah Zuraida menatapnya tidak percaya.

Pernikahan itu pun terjadi begitu cepat, ayah sendiri yang menikahkan putrinya dengan pria asing.

"Bawa putriku pergi, restuku bersama kalian." Ayah melepaskan putrinya kepada pria yang sekarang sudah menjadi suaminya.

Zuraida tidak membawa apa pun keluar dari desa selain hanya pakaian yang melekat di tubuhnya. Zuraida dan Arfan duduk di bangku terminal. Zuraida melepas kalung dari lehernya.

"Mau kamu apa kan kalung itu?."

"Saya jual, kita tidak memiliki uang sepeser pun."

Arfan terdiam.

"Anda tunggu di sini, saya mau ke toko mas seberang sana." Zuraida berjalan sendirian mendatangi toko mas. Menjual peninggalan satu-satunya dari almarhumah ibunya. Tapi sekarang ia sangat membutuhkannya. Almarhumah ibunya yang sangat baik pasti akan mengerti dan mendukungnya.

Tak lama Zuraida kembali ke Arfan.

"Naik bus apa untuk sampai di kota Anda?."

"Yang paling ujung." Tunjuk Arfan pada bus besar dan bertingkat.

"Ayo, kita naik."

Zuraida berjalan di belakang Arfan, mereka duduk bersebelahan di kursi yang paling depan. Selama perjalanan tidak ada yang bicara. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah turun dari bus keduanya masih melanjutkan perjalanan menaiki taksi. Taksi itu sekarang sudah berhenti tepat di sebuah gerbang rumah yang sangat besar.

"Anda masuklah, Tuan Arfan."

"Kamu?."

"Saya akan kembali ke desa."

"Kenapa?."

"Kota bukan tempat saya, saya tidak akan cocok."

"Tapi kamu sudah menjadi istriku, aku menikahimu secara sah walau hanya secara agama. Kamu harus ikut ke mana aku pergi seperti yang ayahmu katakan."

Zuraida menatap rumah bak istana itu. Rasanya ia tidak akan bisa hidup sana.

"Ayo, kita masuk sama-sama."

Kaki Zuraida melangkah melewati gerbang itu. Hatinya sangat berat menerima tapi ia harus mengikuti suaminya.

Brak

Arfan mendorong pelan daun itu sampai terbuka lebar. Memperlihatkan betapa megah dan mewahnya seisi rumah.

"Daddy..." sambut kedua anak laki-laki berhambur ke arah Arfan. Kedua anak itu langsung memeluk Arfan. Arfan membalasnya hangat.

Zuraida menatap interaksi hangat itu. Pria yang menikahinya sudah memiliki putra. Berarti pria itu beristri. Benar kah ia yang kedua?.

"Kamu ke mana aja dua hari ini tidak ada kabar, tidak bisa dihubungi, Arfan?." Seorang perempuan datang dari arah kamar langsung bertanya pada Arfan.

"Ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan." Tanpa menatap perempuan itu. Fokusnya hanya pada kedua putranya.

Pelukan kedua anaknya sudah terlepas, kedua anak itu berdiri mengapit perempuan yang tadi keluar dari kamar.

"Siapa perempuan ini, Arfan?." Tanyanya.

"Pelayan baru sepertinya, Mom." Salah satu anaknya yang menjawab. Melihat dari penampilan Zuraida.

"Mom?," batin Zuraida.

"Bukan, Sean, perempuan ini bukan pelayan. Perempuan ini namanya Zuraida. Istri Daddy."

"What???." Sean, Sena dan Wilona terperanjat kaget. Mata ketiganya langsung terarah pada Zuraida yang lebih pantas menjadi pelayan mereka.

"Aku tidak sudi anak-anakku punya ibu tiri model begini, Arfan." Wilona menatap sengit Zuraida seperti kata-katanya yang menghina.

"Kalian berdua ke kamar sekarang," perintah Arfan pada kedua putranya. Mereka patuh pada daddy mereka, segera ke kamar tanpa drama.

"Yang benar saja, Ar, perempuan ini tak sebanding dengan diriku." Marah Wilona.

"Hak asuh anak-anak ada di tanganku. Aku tahu yang terbaik untuk mereka. Kamu tak perlu khawatir, aku akan memberikan yang terbaik untuk kedua putraku. Sekarang silakan pergi mengejar mimpimu."

Wilona tak berkuasa lagi atas apa pun tentang kedua anaknya. Ada perjanjian hitam di atas putih yang tidak bisa dilanggarnya. Ia pun merelakan putra-putranya memiliki ibu tiri seperti pelayan. Wilona melangkah keluar meninggalkan rumah itu.

Arfan menoleh ke arah Zuraida. Mata mereka beradu.

"Namanya Wilona, ibu dari anak-anakku. Hubungan kami sebagai suami istri telah selesai tapi tidak dengan anak-anakku. Sesekali saja Wilona menginap di sini karena anak-anak. Aku harap kamu bisa menjadi ibu yang baik untuk mereka, aku juga mau kamu dekat dengan anak-anak."

"Jangan kan jadi ibu untuk mereka, jadi istri aja aku belum tentu bisa." Batin Zuraida.

Bersambung

"

1
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!