Indonesia
NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi / Tamat
Popularitas:37.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

​Wushhh.

Angin malam berhembus kencang menyapu daun-daun kering di Hutan Larangan.

Sraaat.

Sraaat.

Dua sosok manusia berjalan tergesa-gesa membelah semak belukar yang rimbun.

"Cepat sedikit, Mas."

Seorang wanita bernama Siska berbisik dengan suara bergetar.

Ia terus menoleh ke belakang karena ketakutan.

"Aku tidak mau ada warga desa yang melihat kita masuk ke hutan ini."

Pria di depannya yang bernama Raka mendengus kesal.

Raka membawa sebuah keranjang bambu kecil di pelukannya.

"Kau pikir aku tidak takut, Siska?"

Raka menghentikan langkahnya di bawah sebuah pohon beringin yang sangat besar.

"Hutan ini penuh dengan binatang buas."

Ia meletakkan keranjang bambu itu perlahan di atas akar pohon yang menonjol.

Oee.

Oee.

Suara tangisan bayi tiba-tiba memecah keheningan hutan yang mencekam.

"Ssst, diamlah."

Siska menutup telinganya rapat-rapat.

"Tinggalkan saja dia di situ, Mas."

Siska menarik lengan baju suaminya dengan kasar.

"Kita harus segera pergi sebelum serigala mencium baunya."

Raka menatap bayi di dalam keranjang itu dengan tatapan redup.

"Maafkan bapakmu ini, nak."

"Makanan di rumah sudah benar-benar habis karena gagal panen tahun ini."

"Kami tidak sanggup lagi memberimu makan di masa paceklik ini."

Raka memalingkan wajahnya dengan cepat.

"Jika kami memaksakan diri, kita bertiga akan mati kelaparan di gubuk reyot itu."

Siska menarik tangan Raka semakin keras.

"Jangan membuang waktu dengan meminta maaf."

"Ini semua juga salah bayi itu."

Siska menatap keranjang itu dengan pandangan jijik.

"Sejak dia lahir, panen kita selalu gagal dan hutang kita menumpuk pada rentenir."

"Dia memang pembawa sial di keluarga kita."

Raka mengangguk pelan dan berbalik membelakangi keranjang tersebut.

"Semoga ada keajaiban yang menyelamatkanmu."

Grep.

Raka menggandeng tangan istrinya dan mereka berlari meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.

Kegelapan malam menelan bayangan kedua orang tua yang tidak bertanggung jawab tersebut.

Oee.

Oee.

Tangisan bayi itu terdengar semakin keras seolah merasakan rasa dingin yang menusuk kulitnya.

Malam semakin larut dan suhu udara turun drastis.

Krak.

Krak.

Suara ranting kering yang terinjak sepatu bot menghentikan tangisan bayi itu sesaat.

Dari arah berlawanan, dua orang pejalan kaki muncul dengan membawa obor yang menyala terang.

"Kau dengar itu, Mira?"

Seorang pria bertubuh kekar bernama Arga menghentikan langkahnya.

Arga mengangkat obornya tinggi-tinggi untuk menerangi area sekitar hutan yang gelap.

Seorang wanita paruh baya di sebelahnya merapatkan jaket tebalnya.

"Dengar apa, Mas Arga?"

Mira menatap suaminya dengan kening berkerut bingung.

"Kita harus cepat pulang karena udara semakin dingin dan hasil buruan kita tidak seberapa."

Arga meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.

"Ssst, dengarkan baik-baik."

Oee.

Oee.

Mata Mira membelalak lebar saat mendengar suara tangisan yang terbawa angin malam.

"Itu suara bayi, Mas."

Mira langsung berlari mendahului suaminya tanpa mempedulikan semak berduri yang menggores kakinya.

"Hati-hati, Mira."

Arga bergegas menyusul istrinya dari belakang dengan langkah lebar.

Langkah Mira terhenti tepat di depan pohon beringin raksasa.

Cahaya obor Arga menerangi keranjang bambu yang tergeletak pasrah di atas akar pohon.

"Ya Tuhan."

Mira jatuh berlutut dan membuka kain lusuh yang menutupi keranjang itu.

Seorang bayi perempuan mungil sedang menangis dengan wajah membiru kedinginan.

"Siapa yang tega melakukan hal sekejam ini?"

Air mata Mira langsung menetes membasahi pipinya yang kotor oleh debu.

Ia segera mengangkat bayi itu dan mendekapnya erat di dadanya.

"Berikan kehangatan dari tubuhmu, Mira."

Arga melepaskan mantel kulitnya dan menyelimutkannya ke tubuh istri serta bayi tersebut.

"Orang tua macam apa yang membuang darah dagingnya sendiri ke Hutan Larangan?"

Arga mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan tangan bersiap di gagang pisaunya.

"Hanya orang yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat kelaparan."

Mira mengelus pipi bayi itu dengan penuh kasih sayang.

Ajaibnya tangisan bayi itu perlahan mereda.

Bayi perempuan itu membuka mata kecilnya dan menatap wajah Mira dengan polos.

Sebuah senyuman kecil muncul di bibir bayi tersebut.

"Mas, lihatlah."

Mira menatap suaminya dengan mata berbinar bahagia.

"Dia tersenyum padaku."

Arga menghela napas panjang melihat pemandangan mengharukan di depannya.

"Kita tidak bisa meninggalkannya di sini untuk dimakan binatang buas."

"Bawa dia pulang sekarang juga."

Arga berbalik dan memimpin jalan pulang untuk memastikan rute mereka aman.

"Tapi Mas, bagaimana dengan persediaan makanan kita?"

Mira berjalan mengikuti suaminya dari belakang sambil terus mendekap bayi itu.

"Hasil buruan kita akhir-akhir ini sedang tidak menentu."

Arga menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh.

"Rezeki anak selalu ada, Mira."

"Kita mungkin miskin harta, tapi kita masih punya hati nurani."

Mira tersenyum lega mendengar jawaban suaminya yang tegas.

"Terima kasih, Mas."

Mira kembali menatap bayi mungil di dekapannya.

"Mulai sekarang, kau adalah putri kami satu-satunya."

Bayi itu hanya menggeliat nyaman menikmati kehangatan di dalam pelukan barunya.

"Aku akan menamainya Natasya."

Mira menggumamkan nama itu dengan nada lembut.

"Natasya."

Arga mengulangi nama itu sambil tersenyum tipis dalam kegelapan.

"Nama yang sangat indah untuk anak kita."

Wushhh.

Angin kembali berhembus mengiringi langkah mereka keluar dari hutan yang lebat.

Namun kali ini, tidak ada lagi rasa dingin yang menusuk tulang.

Hanya ada kehangatan dari sebuah keluarga baru yang baru saja terbentuk.

Keesokan harinya, matahari bersinar cerah menyinari desa kecil di pinggir hutan.

Berita tentang Arga dan Mira yang menemukan bayi menyebar dengan sangat cepat.

Banyak tetangga yang datang berkunjung ke gubuk sederhana mereka karena penasaran.

"Kalian ini terlalu nekat."

Seorang tetangga bernama Bu Rini menggelengkan kepalanya dengan pandangan meremehkan.

"Merawat diri sendiri saja kalian masih kesusahan."

Bu Rini menatap Natasya yang sedang tertidur pulas di atas ranjang bambu beralaskan kain seadanya.

"Apalagi ditambah mulut baru untuk diberi makan setiap hari."

Mira yang sedang membuat bubur dari sisa beras hanya tersenyum maklum.

"Tuhan pasti akan memberikan jalannya, Bu Rini."

"Lagi pula kami tidak tega melihat bayi selucu ini kedinginan di hutan kemarin malam."

Bu Rini mendesah pelan sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Semoga saja keputusan kalian tidak membawa malapetaka bagi desa kita."

"Banyak yang bilang bayi yang dibuang ke Hutan Larangan adalah bayi kutukan pembawa sial."

Arga yang baru pulang membawa kayu bakar langsung meletakkan barang bawaannya dengan kasar.

Brak.

Suara tumpukan kayu yang jatuh ke tanah membuat Bu Rini terperanjat kaget.

"Tolong jaga ucapanmu, Bu Rini."

Arga menatap tetangganya itu dengan sorot mata tajam dan rahang mengeras.

"Natasya bukan bayi kutukan."

"Dia adalah anugerah terbesar untuk keluarga kami."

Bu Rini langsung pamit pulang dengan wajah kesal dan malu.

"Terserah kalian saja kalau begitu."

Sepeninggal Bu Rini, Mira mendekati suaminya dan menepuk bahunya pelan.

"Sabar, Mas."

"Biarkan saja orang berkata apa, yang penting kita menyayanginya."

Arga menatap Natasya yang masih tertidur dengan napas teratur.

"Aku berjanji akan membesarkannya dengan baik, Mira."

"Aku tidak peduli seberapa keras aku harus bekerja berburu mulai sekarang."

Waktu terus berlalu tanpa terasa mengubah banyak hal.

Musim kemarau yang panjang berganti dengan musim hujan yang membawa harapan baru.

Keluarga kecil Arga dan Mira hidup dalam kesederhanaan namun selalu dipenuhi tawa.

Kehadiran Natasya seolah benar-benar membawa keberuntungan kecil dalam hidup mereka berdua.

Setiap kali Arga pergi berburu ke hutan, ia selalu pulang membawa hasil yang lebih dari cukup.

Perlahan namun pasti, Natasya tumbuh menjadi balita yang sehat, lincah, dan penuh rasa ingin tahu.

Kaki kecilnya mulai berlarian bebas di sekitar gubuk mereka yang asri.

Tawa riangnya selalu menghiasi hari-hari Arga dan Mira yang melelahkan setelah bekerja.

Hingga suatu hari, sebuah kejadian aneh mulai terjadi di halaman belakang.

Saat Natasya baru berusia tiga tahun, ia sedang bermain tanah sendirian.

Mira sedang mencuci pakaian di pinggir sumur yang tidak jauh dari tempat Natasya bermain.

Ciap.

Ciap.

Seekor burung kecil dengan sayap terluka jatuh berdentum pelan di dekat kaki Natasya.

Natasya kecil berjongkok dan menatap burung itu dengan mata bulat yang penasaran.

"Sakit ya?"

Natasya bergumam pelan dengan bahasa balitanya yang masih sedikit cadel.

Burung itu mencicit seolah menjawab pertanyaan tulus dari Natasya.

Mira yang melihat kejadian itu dari kejauhan hanya tersenyum menganggapnya hal biasa.

"Jangan diganggu burungnya ya, sayang."

Mira berteriak pelan sambil memeras pakaian basahnya.

Natasya menoleh ke arah ibunya sejenak lalu kembali menatap burung tersebut lekat-lekat.

"Tunggu di sini sebentar."

Natasya berlari masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa sedikit remah-remah nasi di tangannya.

Ia meletakkan nasi itu tepat di depan paruh burung yang sedang kesakitan.

"Makan ini biar sayapmu cepat sembuh."

Burung itu mematuk dan memakan nasi tersebut dengan sangat lahap.

Setelah selesai makan, burung itu kembali mencicit panjang ke arah Natasya.

Natasya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah ia mengerti dengan jelas apa yang dikatakan hewan kecil itu.

"Sama-sama, burung kecil."

Natasya tertawa kegirangan saat burung itu mencoba mengepakkan sayapnya dan melompat pelan.

Mira yang masih mengamati dari jauh merasa ada sesuatu yang unik pada putrinya.

"Anak itu sepertinya sangat menyayangi binatang."

Mira bergumam sendiri sambil menjemur pakaian di bawah sinar matahari pagi.

Ia tidak pernah tahu bahwa itu hanyalah awal mula dari rahasia besar yang dimiliki putrinya.

1
Jamilah Hidirmanto
ceritanya kerennnnn banget 👍👍👍👍👍
Nissa Safira: Makasih kakak! 🥹🙏
Seneng banget kalau kakak suka perjalanan Natasya & Gaga dari hutan sampai desa.
Komen kakak ini jadi bekal semangat nissa buat nulis cerita selanjutnya🥰🙏🙏🔥
total 1 replies
░▒▓█►─═HeSideMySelf ═─◄█▓▒░
mirip kisah bocil Donghua di toktok😆🤭yg selalu ku tonton,
Dewiendahsetiowati
terima kasih untuk ceritanya dan ditunggu karya selanjutnya Thor
Nissa Safira: Terima kasih banyak kakak 🙏💛
Dari Natasya bayi yang dibuang di hutan sampai jadi penjaga Desa Cempaka bareng Gaga di bukit selatan tadi, makasih udah nemenin sampai titik TAMAT ini.
Jangan lupa follow nissa yaa kak biar gak ketinggalan rilisnya!🥰🥰🔥🤣
total 1 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
ceritanya sangat seru banget, banyak sekali petualangan yang dialami Natasya, bahkan terkadang sampai emosi karena Raden Arya, komandan dan prajurit yang sombong, pengkhianatan Jenderal Bima, dan juga pendeta gila yang membakar hutan...

Intinya, cerita ini benar-benar bagus sekali, dan bagus buat rekomendasi 🥳🥳🎉🎉🎉

⭐⭐⭐⭐⭐
☕☕☕☕☕
🎉🎉🎉🎉

semangat untuk cerita selanjutnya kak 🎉🎉🎉
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
wahhh, akhirnya tamat😱, ku pikir bakalan lebih dari 100 bab 😁, tapi Terima kasih untuk cerita yang seru ini. Bahwa kebaikan dan empati, akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga, v seperti Natasya, walaupun dia takut untuk pertama kali melihat serigala, namun empati dan kebaikannya, mengalahkan rasa takut itu. Dan kini, kalian menjadi sahabat yang tak akan pernah saling meninggalkan.

⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐ untuk cerita ini🥳🥳🎉🎉🎉
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎: wahhh, sama-sama kak 😊, padahal awalnya ini cuma pengen cari novel tentang petualangan dan hewan gitu, akhirnya nemu cerita ini, terus aku baca sinopsisnya, dan ternyata menarik, akhirnya aku subscribe, dan mulai baca. dan ternyata, memang bagus banget ceritanya /Drool/, gak sia-sia aku search itu🤭... 🤩🤩🤩


aamiin, kak juga sehat-sehat ya, biar bisa terus lanjut nulis novelnya 😊😊
total 2 replies
Nur Atika Hendarto
alhamdulillah cerita bagus banget aku suka
Nur Atika Hendarto
suka banget cerita nya 😍😍😍😍😍
Nissa Safira: Ya Allah makasih banyak kak 😭❤️
Seneng banget kalau kakak suka sama perjalanan mereka🥰
Terima kasih sudah setia nemenin Natasya dari anak kurus 7 tahun yang nawarin damai ke Gaga, sampai jadi komandan kecil 10 tahun yang dijaga satu hutan.
Semoga kedamaian Desa Cempaka yang kakak rasain di bukit selatan tadi bisa kebawa sampai ke dunia nyata kakak juga ya. Sehat selalu buat kakak🥰😍
total 1 replies
Night Watcher
secara utuh ceritanya bagus, menghanyutkan pembaca hingga terbawa emosi. tapi tetep asyik,..
mengangkat kisah jaman pramodern yg dialami manusia pd umumnya,(non sistem, non kekuatan kesaktian dll)
sedikit saran, sesuaikan suara² yg ditimbulkan oleh sesuatu, juga keberadaan tempat, sering keberadaan kejadian berubah/ tdk konsisten,(contoh awalnya di halaman rmh tasya, tau² berubah di balai desa)
utk kedepannya agar lebih jeli & teliti.
smg karya² selanjutnya lebih seru, logis dan semakin disukai banyak readers. tetap semangat, jadikan komen sadis sebagai pemicu semangat & koreksi karyamu.
semoga sukses menanti dan menyertaimu.. aamiin
Nissa Safira: MasyaAllah, terima kasih banyak kak atas komen sedetail ini 🙏🙏😭
Jujur komen kakak bikin saya merinding bacanya, karena ini komen yang bener-bener merangkum perjalanan Natasya & Gaga dari awal sampai akhir dengan hati. Terima kasih sudah hanyut bareng mereka sampai tamat kak, itu hadiah terbesar buat saya sebagai penulis.
Dan terima kasih juga untuk kritik sadis tapi membangunnya kak🙏
Jujur kak, cerita Desa Cempaka ini memang saya sengaja bikin non-sistem & non-kesaktian, biar perjuangan Natasya terasa manusiawi, kayak kisah jaman pramodern yang kakak bilang. Seneng banget kakak nangkep roh ceritanya itu😂
Doa Aamiin dari kakak saya Aamiin-kan juga, semoga karya selanjutnya lebih logis, lebih seru, dan tetap bisa menghanyutkan kayak gini.
Sekali lagi terima kasih banyak kak 🙏🙏
Sehat selalu buat kakak dan keluarga, semoga sukses juga menyertai kakak Aamiin🤲🙏🙏😅
total 1 replies
Night Watcher
kurang cocok aja dgn perayaan HUT natasya, krn dia "ditemukan" di hutan, tak tau kapan lahirnya
Night Watcher
kok bisa tau ultahnya, kan dia ditemukan di hutan masih bayi?
Buang Buang
bagus ceritanya
Buang Buang
bagus ceritanya
Buang Buang
mantap ceritanya
Dewiendahsetiowati
bisa gak Rini kena stroke aja bikin dosa terus deh
Night Watcher
ceritanya bagus, tp kadang ngeselin.
apa mungkin karna saking terbawa arus & alur cerita ya? jd sering ikut erosi..🤭🤭👍💪🙏
Aina Senja: trimakasi kk masukannya sangat bermanfaat
total 1 replies
Night Watcher
duh... tegang mulu...
up nya lanjut, tp kasih jeda penghibur kek,,, biar agak relax.🤦🙏
Night Watcher
laporan apapun pasti ke arga, padahal mereka punya "kades".😇🤦
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
kalian semua berhasil /Sob/, walaupun harus mengorbankan ladang mereka u tuk mencari makanan, tetapi, keutuhan keluarga tidak bisa dikorbankan begitu saja.... selamat Natasya, kamu berhasil lagi. Para hewan hutan larangan dan warga desa cempaka telah membuktikan bahwa hewan dan manusia bisa saling berhubungan dengan erat. dan sekarang tidak akan ada lagi ketakutan di mata para penduduk Desa Cempaka... 🎉🎉
Night Watcher
keliatan bener kalo cuma omon-omon..🤭🤭
Night Watcher
heleh.. tinggal nyuruh gaga cs nggruduk pendeta² itu pasti bubar, gaga cs kan bukan mahluk dedemit, gak ngaruh sama mantra..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!