Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang Murka
"Aku di sini saja, tidak ingin membuat Ayah marah," ucap Amara dengan bahasa isyaratnya, jemarinya bergetar ketakutan.
Gabriel begitu bingung sekali saat melihat gerakan tangan gadis di depannya. Namun dari gestur tubuh dan tatapan matanya yang penuh rasa takut, Gabriel mulai menebak.
"Apa Ayahmu di dalam sana yang membuat pesta ini?"
Amara menganggukkan kepalanya pelan.
"Baik, tunggu di sini jangan ke mana-mana."
Gabriel membalikkan badannya meninggalkan Amara yang sedang duduk kebingungan itu.
Tak lama, dia sudah kembali masuk ke dalam aula mewah mansion itu. Suasana meriah dengan denting gelas dan gelak tawa langsung menyambutnya.
Dengan langkah lebar dan aura dingin yang menusuk, Gabriel melangkah ke arah seorang pria paruh baya yang sedang tertawa lebar berbicara kepada tamu undangannya.
Tepatnya, Hendra—Ayah Amara.
"Tuan Hendra," panggil Gabriel dengan suara berat dan tenang, namun sanggup menghentikan tawa pria tua itu seketika.
Hendra buru-buru berbalik dengan wajah berseri-seri.
"Ah, Tuan Gabriel! Saya pikir Anda sudah pulang. Bagaimana menikmati pestanya?"
Gabriel tak membalas senyuman itu. Ia menatap Hendra tajam, menyandarkan sebelah tangannya di saku celana hingga tato mawar di lehernya terlihat begitu mencolok di bawah lampu gantung kristal.
"Siapa gadis di halaman belakang?" tanya Gabriel langsung pada intinya.
Raut wajah Hendra seketika berubah tegang. Senyum ramahnya meluntur perlahan.
"Gadis... di halaman belakang?"
Sisca yang berdiri di samping Hendra langsung mendekat dengan wajah panik.
"Tuan Gabriel, mohon maaf jika ada hal yang mengganggu Anda. Di belakang hanya... anak cacat kami yang tidak berguna."
"Anak cacat?" Gabriel terkekeh dingin. Tatapannya menajam bak pisau mematikan. "Kalian mengunci anak kalian sendiri di luar, tanpa makanan, di malam sedingin ini?"
"Dia bisu dan tuli, Tuan Gabriel!" sela Sisca cepat, berusaha membela diri. "Dia hanya membuat malu jika berada di tengah pesta penting ini. Lagipula, dia selalu membuat masalah!"
"Cukup, Sisca!" tegur Hendra panik, lalu beralih menatap Gabriel dengan ekspresi penuh penyesalan palsu. "Tuan Gabriel, ini hanya masalah internal keluarga kami. Jangan biarkan anak bisu itu merusak malam Anda yang berharga."
"Masalah keluarga?"
Gabriel melangkah maju satu titik, mengikis jarak. Tingginya yang menjulang membuat Hendra dan Sisca mendadak merasa kerdil.
"Mulai malam ini, investasi sepuluh miliar dari perusahaanku untuk proyekmu... resmi dibatalkan," ucap Gabriel datar namun penuh ancaman.
Hendra membelalakkan mata, wajahnya mendadak pucat pasi.
"T-Tuan Gabriel! Kenapa?! Apa salah proyek kami?!"
"Salahmu adalah membiarkan putrimu membeku di luar sana," potong Gabriel dingin. "Dan kabar buruknya untukmu, Tuan Hendra... aku akan membawa anak itu pergi malam ini."
Aula tadi yang ramai kini mendadak hening. Hendra begitu sangat terkejut saat mendengarnya.
"T-tuan, apa maksud Anda? Kenapa Anda membawa anak saya pergi?"
"Karena kau dan istrimu tidak pantas menyentuhnya sedikit pun," jawab Gabriel dingin, suaranya yang memotong keheningan seperti pisau tajam.
Sisca melangkah maju dengan wajah panik dan tak terima.
"Tuan Gabriel! Dia itu anak kami! Lagi pula dia bisu dan tuli, dia hanya akan merepotkan Anda!"
Gabriel melirik Sisca tajam. Tato mawar di lehernya tampak makin menyala di bawah lampu kristal, memancarkan bahaya yang membuat Sisca bungkam seketika.
"Dia beban untukmu, tapi bukan untukku," potong Gabriel datar. "Dan jika kau mencoba menghentikanku, Tuan Hendra... kupastikan bisnismu hancur besok pagi."
Hendra membeku di tempatnya. Lidahnya mendadak kelu, tak berani menahan pria berkuasa itu saat Gabriel membalikkan badan dan melangkah pergi.
Gabriel kembali ke halaman belakang. Amara masih di sana, duduk mendekam dengan raut bingung.
Pria itu berlutut di hadapan Amara, menatap mata gadis itu lekat-lekat dan berbicara dengan artikulasi bibir yang sangat jelas.
"Kita pergi dari sini."
Amara membelalakkan mata. Jemarinya panik bergerak meragakan bahasa isyarat.
"Tapi Ayah..."
Gabriel meraih kedua tangan Amara, menggenggamnya hangat.
"Mulai malam ini, kau aman bersamaku. Tidak ada yang boleh menyakitimu lagi."
Amara masih tampak kebingungan sekali, dia tidak mengerti ini semua takdir atau hanya merasa kasihan?
"Kamu bisa berdiri?"
Mengingat dirinya tidak ada makan dari kemarin sore, dia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Gabriel mendesah pelan. Tanpa meminta izin, ia merengkuh tubuh kurus Amara dan mengangkatnya ke dalam garapan tangannya dengan sangat mudah.
Tubuh gadis itu terasa begitu ringan—terlalu ringan untuk ukuran usianya, menegaskan betapa buruk penyiksaan yang selama ini ia terima.
Amara terperanjat, refleks memegang bahu jas Gabriel. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat jelas tato bunga mawar di leher pria itu yang tampak makin nyata di bawah cahaya rembulan.
"Pegang yang erat," ucap Gabriel pelan, memosisikan wajahnya agar Amara dapat membaca gerak bibirnya.
Gabriel melangkah lebar membawa Amara menuju mobil sedan hitam mewah yang sudah terparkir di luar gerbang mansion. Pengawal pribadinya bergegas membukakan pintu belakang.
Dengan hati-hati, Gabriel mendudukkan Amara di kursi penumpang yang empuk dan hangat, lalu ia ikut masuk dan duduk di sampingnya.
Amara menatap interior mobil yang sangat asing baginya. Jemarinya yang gemetar kembali bergerak perlahan, meragakan bahasa isyarat di atas pangkuannya.
‘Kenapa... Kamu menolongku?’
Gabriel memperhatikan pergerakan tangan Amara. Meski ia belum sepenuhnya mengerti bahasa isyarat, mata sayu dan cemas gadis itu sudah cukup menyuarakan keputusasaan.
"Mulai malam ini," kata Gabriel dengan gerakan bibir yang tegas dan jelas, "kau tidak akan pernah kembali ke neraka itu lagi."