Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 02
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama rumah baru mereka. Kirana terbangun dengan kepala yang terasa seberat batu. Ia mengucek matanya, mengerjap beberapa kali menatap langit-langit kamar yang terasa asing. Tidak ada poster band favoritnya, tidak ada boneka beruang lusuh di sudut tempat tidur.
"Aduh, kepala gue..." gumam Kirana sambil meraba-raba kasur.
Seketika memori kejadian kemarin menyeruak masuk ke otaknya bagaikan hantaman ombak. Akad nikah sederhana, ucapan "sah" yang menggema, kepindahan mendadak, dan wajah datar Kenan yang memberinya instruksi sebelum berjalan naik ke lantai atas.
Kirana menepuk jidatnya pelan, "Demi apa gue beneran udah nikah?! Sama Kenan?! Sama ketos menyebalkan itu?!"
Kirana meloncat dari kasur, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 05.45 WIB. Matanya melotot lebar. Biasanya jam segini di rumah lama, ibunya sudah menggedor pintu kamar tiga kali. Tetapi sekarang ia berada di rumah yang hanya dihuni oleh dirinya dan musuh bebuyutannya.
Dengan terburu-buru, Kirana menyambar seragam sekolah dari dalam koper yang semalam baru sempat ia keluarkan sebagian, lalu berlari menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan mengenakan seragam SMA Garuda lengkap dengan rok abu-abu dan kemeja putih, Kirana bergegas keluar kamar.
Saat langkah kakinya menuruni anak tangga menuju area dapur, aroma harum tumisan bawang dan gurihnya margarin mendadak menyapa indra penciumannya.
Kirana menghentikan langkahnya di undakan tangga terakhir, menatap pemandangan ajaib di depannya.
Di balik meja dapur yang bersih, berdiri seorang cowok jangkung yang sudah sangat rapi dengan seragam sekolah. Dasi almamaternya terikat sempurna, kemejanya dimasukkan dan celemek kain berwarna krem melingkar melingkupi pinggangnya. Cowok itu tengah memegang teflon, membalik nasi goreng dengan gerakan mahir.
Kenan Alister. Si Ketua OSIS terdingin sentero, sedang memasak sarapan memakai celemek dapur.
Kirana memegang pegangan tangga rapat-rapat, mengucek matanya kembali.
"Gue masih mimpi ya? Atau ini efek samping stres berat?"
Tanpa menoleh sedikitpun, Kenan berucap tenang, "Kalau lo cuma mau berdiri di situ sampai bel masuk berbunyi, mending balik ke kamar."
Kirana tersentak.
Bagaimana bisa cowok itu tahu ia ada di sana tanpa berbalik? Cenayang kali ya.
Dengan memasang wajah galak untuk menutupi rasa canggungnya, Kirana melangkah mendekati meja makan. "Siapa juga yang mau berdiri di situ! Gue cuma kaget aja. Lo... lo bisa masak juga ternyata?"
Kenan mematikan kompor. Ia memindahkan nasi goreng wangi itu ke dalam dua piring, membagi porsinya secara adil, lalu meletakkannya di atas meja makan. Ia melepas celemeknya, menggantungnya rapi di kait dinding, lalu duduk di salah satu kursi.
"Nasi goreng mentega. Makan. Waktu kita tinggal lima belas menit sebelum harus berangkat," kata Kenan singkat sambil meraih sendoknya.
Kirana memicingkan mata, menatap piring nasi goreng di hadapannya dengan curiga. "Lo nggak masukin racun atau bahan kimia pembersih lantai kan ke sini?" Tuduhnya mulai berprasangka buruk.
Kenan menghentikan sendoknya yang baru terangkat setengah. Ia menatap Kirana dengan mata hitamnya yang dalam dan dingin. "Gue ketua OSIS, bukan pembunuh berantai. Kalau lo nggak mau makan, buang aja. Tapi jangan komplain kalau maag lo kumat di sekolah. Gue nggak tanggung jawab"
Kirana merutuki mulutnya sendiri. Wangi nasi goreng itu sejujurnya membuat perutnya yang kosong berbunyi nyaring yang terdengar jelas di tengah keheningan dapur. Wajah Kirana merona merah, sial malu sekali dia. Ia cepat-cepat duduk di seberang Kenan, meraih sendok, lalu menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Seketika, matanya melebar. Nasi goreng itu sangat enak! Gurihnya pas, tekstur nasinya terpisah sempurna, dan ada potongan sosis serta telur orak-arik yang matang merata.
"Gimana? Kurang racunnya?" sindir Kenan tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya sendiri.
Kirana menelan nasi goreng itu susah payah, berusaha mempertahankan gengsinya yang setinggi langit. "B-biasa aja. Masakan mama gue jauh lebih enak."
Sudut bibir Kenan terangkat, dia tahu Kinara gengsi mengakui nya.
"Terserah. Yang penting piring lo bersih."
Mereka makan dalam keheningan selama lima menit. Hanya ada suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan porselen. Kirana yang pada dasarnya tidak bisa diam dalam situasi canggung, akhirnya menggeser duduknya dan berdehem pelan.
"Ehem. Kenan."
Kenan meletakkan sendoknya yang sudah bersih, lalu menyapu bibirnya dengan tisu dapur. "Apa?"
"Soal rumah ini... dan status kita. Kita harus bikin aturan jelas," ujar Kirana tegas, mengetukkan jarinya di atas meja. "Gue nggak mau hidup gue berantakan cuma gara-gara kita tinggal satu atap sama lo"
Kenan bersedekap dada, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menatap Kirana, menunggu cewek itu melanjutkan bicaranya. "Gue dengar, bilang aja”
Kirana merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan pulpen. "Aturan pertama, Di sekolah, kita asing. Nggak ada yang boleh tahu kalau kita tinggal serumah, apalagi udah nikah. Kalau ada murid yang tahu, hidup gue tamat."
"Setuju," sahut Kenan cepat. "Itu memang rencana gue dari awal. Gue nggak mau reputasi disiplin OSIS rusak gara-gara rumor rumahan."
"Heh! Maksud lo reputasi gue yang rusak kalau ketahuan nikah sama cowok judes kayak lo!" potong Kirana tidak terima, namun ia segera menulis aturan pertama itu.
"Lanjut," desak Kenan datar.
"Aturan kedua, Pembagian tugas rumah. Gue nggak mau jadi pembantu lo, dan lo juga jangan berharap gue bakal ngelayanin lo kayak suami-suami di sinetron. Pembagian harus lima puluh banding lima puluh."
Kenan mengangguk pelan. "Adil. Gue yang masak sarapan dan nyuci baju pakai mesin. Lo yang nyuci piring dan nyapu rumah."
Kirana menimbang-nimbang tawaran itu. Memasak sejujurnya bukan keahlian utamanya (ia pernah hampir membakar dapur rumahnya saat mencoba membuat telur ceplok). Jadi, penawaran Kenan memasak sarapan jelas keuntungan besar baginya.
"Oke, deal," sahut Kirana menuliskan aturan kedua. "Aturan ketiga, Kamar tidur terpisah. Lo di kamar utama lantai atas, gue di kamar sebelah."
"Kamar sebelah belum diisi kasur. Barang-barang orang tua kita baru datang nanti sore," potong Kenan tenang.
Kirana melotot. "Maksud lo apa?! Terus semalam gue tidur di kamar lo?!"
"Semalam lo tidur di kasur, gue tidur di sofa kamar utama. Gak usah drama," jawab Kenan santai sambil melirik jam tangannya.
"Satu aturan lagi dari gue."
Kirana menatap Kenan waspada. "Apa?"
Kenan menegakkan tubuhnya, memajukan badannya sedikit ke depan hingga jarak mereka menipis. "Aturan keempat, Jam malam rumah ini jam delapan malam. Lebih dari jam delapan, pintu gue kunci dari dalam dan lo harus tidur di teras."
"Gila lo ya?! Kalau gue ada tugas kelompok atau kumpul ekskul gimana?!"
"Kasih tahu gue lewat pesan singkat sebelum jam lima sore. Kalau tanpa kabar dan telat, aturan berlaku," tegas Kenan tanpa toleransi.
Ia berdiri, merapikan kemeja seragamnya, lalu meraih kunci motor di atas meja.
"Waktu habis. Berangkat sekarang."
Kirana buru-buru menghabiskan suapan terakhir nasi gorengnya, membawa piring kotor ke wastafel, lalu menyambar tas sekolahnya.
Masalah baru muncul saat mereka berdiri di depan garasi. Di sana terparkir sebuah motor sport hitam milik Kenan yang berukuran cukup besar.
"Tunggu," tahan Kirana saat Kenan sudah mengenakan helm Full Face hitamnya.
"Kita berangkat bareng naik motor ini?!"
Kenan membuka kaca helmnya. "Terus lo mau jalan kaki dua kilometer ke depan buat cari angkot?"
"Ya tapi kalau ada murid lain yang liat gue boncengan sama Ketua OSIS gimana?! Nanti gosipnya kemana-mana!" seru Kirana panik.
Kenan menghela napas panjang, tampaknya kehabisan kesabaran. "Gue turunin lo di gang samping minimarket, tiga ratus meter sebelum gerbang sekolah. Lo jalan dari sana. Aman, nggak akan ada yang liat Lo”
Kirana berpikir sejenak. Lokasi itu cukup jauh dari pandangan anak-anak yang menongkrong di depan sekolah. "Oke... aman. Tapi inget, berhenti pas di dalam gang, jangan di pinggir jalan raya!"
"Naik, Kirana. Poin keterlambatan lo di buku OSIS udah numpuk," tegur Kenan dingin.
Kirana mendengus gusar. Ia menaiki jok belakang motor sport yang cukup tinggi itu. Karena posisinya yang tinggi dan menanjak, jarak antara punggung Kenan dan dadanya terasa begitu dekat. Kirana memegang pinggiran besi di belakang jok dengan kaku, enggan menyentuh jaket Kenan.
Kenan menstarter mesin motornya. Suara raungan mesin bergema di dalam garasi. "Pegangan yang benar. Gue nggak mau tanggung jawab kalau lo jatuh."
"Gue udah pegangan besi—"
Belum sempat Kirana menyelesaikan kalimatnya, Kenan sengaja menarik gas motornya secara mendadak. Motor meluncur deras keluar dari pagar rumah.
"Aaaak! Kenan sialan!" jerit Kirana refleks. Kedua tangannya secara otomatis melingkar erat di pinggang Kenan, memeluk tubuh tegap cowok itu erat-erat dari belakang. Wajahnya menabrak punggung kokoh Kenan.
Di balik kaca helm hitamnya, sudut bibir Kenan terangkat tipis. Melalui kaca spion motor, ia bisa melihat ekspresi Kirana yang sedang memejamkan mata rapat-rapat sambil merutukinya habis-habisan. Kenan sengaja mempertahankan kecepatannya, membiarkan jemari mungil Kirana tetap mencengkeram kemeja seragam di pinggangnya sepanjang perjalanan.
Sesuai perjanjian, Kenan menghentikan motornya di dalam gang sempit samping minimarket yang sepi. Begitu mesin motor mati, Kirana langsung melompat turun seolah-olah jok motor itu terbuat dari lahar panas.
"Lo sengaja kan tadi?! Lo mau ngebunuh gue di jalanan?!" amuk Kirana sambil merapikan roknya yang sedikit tersingkap dan membetulkan tatanan rambutnya yang berantakan.
Kenan melepas helmnya, menatap Kirana dengan raut wajah tanpa dosa. "Gue cuma menjalankan kendaraan sesuai standar keselamatan. Lo-nya aja yang kurang siap."
"Alesan! Pokoknya besok-besok kalau naik motor, pelan-pelan!" omel Kirana seraya melirik kanan-kiri memastikan situasi jalanan sepi.
"Nanti malam jangan lupa nyuci piring bekas sarapan tadi pagi. Tugas lo," ingatkan Kenan santai. Ia kembali memasang helmnya.
"Iya, bawel! Udah sana jalan duluan, jangan sampai ada yang ngeliat kita barengan!" usir Kirana sambil mengibaskan tangannya.
Kenan tidak membalas. Ia memutar gas motornya, melaju keluar dari gang menuju jalan utama sekolah. Kirana menghela nafas lega, menunggu sekitar dua menit hingga suara motor Kenan menghilang sepenuhnya, baru kemudian ia melangkah keluar gang dengan gaya sesantai mungkin.
Sesampainya di kelas XII IPA 2, Maya langsung menyambut Kirana dengan tatapan curiga. Sahabatnya itu berdiri di dekat jendela, memperhatikan Kirana yang berjalan masuk sambil menyisir rambutnya dengan jari.
"Tumben lo nggak ngos-ngosan hari ini, Kir? Nggak terlambat lagi?" tanya Maya heran saat Kirana telah duduk di bangkunya.
Kirana menata napasnya, mencoba bersikap senormal mungkin. "Iya... hari ini angkotnya lancar. Nggak mogok lagi."
"Tapi kok... aroma tubuh lo beda ya?" Maya mendadak menundukkan kepalanya, mendekatkan hidungnya ke bahu seragam Kirana dan mengendusnya kuat-kuat.
Jantung Kirana terasa berhenti berdetak saat itu juga. "M-maksud lo apa, May? Parfum gue biasa aja kok!"
"Nggak, ini bukan parfum bunga-bunga murah yang biasa lo pakai," kata Maya dengan dahi berkerut, tampak berpikir keras. "Ini wangi... woody campur mint. Kayak wangi cowok mahal gitu. Lo abis naik motor bareng cowok ya?"
Kirana hampir saja tersedak air liur nya sendiri gara-gara kaget, tapi sebisa mungkin terlihat biasa saja, bisa gawat kalau ketahuan, "Sembarangan! Mana ada! Gue... gue tadi desak-desakan di angkot sama bapak-bapak kantoran! Mungkin wanginya nempel kali!"
"Masa sih?" Maya masih menatapnya penuh selidik. Masih tak percaya.
"Iya beneran! Udah ah, jangan nanya-nanya mulu! Mana PR Kimia lo? Gue mau nyalin!" alih Kirana cepat, panik setengah mati. Penciuman sahabat nya ini memang tajam, sulit membuat dia percaya begitu saja.
Di saat yang bersamaan, pintu kelas XII IPA 2 terbuka. Sosok Kenan melangkah masuk bersama dua anggota OSIS lainnya untuk mengumumkan jadwal kegiatan kerja bakti sekolah akhir pekan nanti.
Mata Kenan menyapu seluruh ruangan kelas dengan pandangan dingin yang berwibawa. Seluruh murid kelas yang tadinya riuh langsung mendadak hening. Kenan berdiri di depan papan tulis, melipat tangan di dada.
Saat tatapan mata Kenan secara tak sengaja berpapasan dengan Kirana yang sedang panik menyembunyikan wajahnya di balik buku paket Kimia, Kenan menyipitkan matanya sedikit.
"Perhatian semuanya," suara tegas Kenan bergema di ruangan. "Sabtu ini akan ada pembersihan area belakang sekolah.
Semua wajib hadir tepat waktu. Tidak ada alasan terlambat, termasuk alasan angkot mogok."
Siswa-siswi lain bersorak kecewa, tetapi Kirana tahu pasti... kalimat terakhir itu ditujukan khusus untuk dirinya. Dari balik buku paketnya, Kirana melotot tajam ke arah Kenan.
“Awas lo ya, Kenan Alister! Di rumah nanti, gue kasih garam satu sendok makan ke nasi goreng lo! batin Kirana berapi-api. Tapi disatu sisi kedatangan Kenan membantunya dari tatapan curiga sahabat nya.
Sementara di depan kelas, Ketua OSIS yang terkenal paling tak tersentuh itu hanya mengalihkan pandangannya kembali ke kertas pengumuman, menyembunyikan senyuman tipis rasa puas yang mulai mewarnai hari-harinya yang biasa membosankan.
Bersambung…