Ia terjebak dalam situasi yang sangat mengerikan. Suasana menegangkan membuatnya gemetaran. Meski itu hanya listrik yang konslet, tapi hal ini berbeda dari konslet konslet yang terjadi biasanya. Hanya rumahnya saja yang listriknya konslet. Rumah rumah tetangga yang bersebelahan dengannya tidak ada satupun dari mereka yang listrik nya konslet.
Sepertinya ada seseorang yang menyabotase listrik rumah pemuda itu. Pemuda itu pun mulai penasaran dan keluar dari kamarnya. Ia mulai menyusuri lorong panjang menuju tangga untuk turun ke lantai satu.
Tak ada sedikitpun cahaya yang menerangi jalannya. Meski begitu ia terus saja berjalan dengan menahan rasa takut yang semakin menjadi-jadi itu.
Ia sampai di depan ruang kerja ayahnya. karena menduga ayahnya berada di dalam, ia membuka pintu ruangan itu. dan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RE-jaavu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 : Seorang Teman
Kazuki berjalan meninggalkan ruang makan dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku kimono nya. Ia berjalan kembali ke kamarnya karena ia hendak kembali istirahat agar tenaganya pulih kembali saat memulai latihan esok hari. Rupanya hari sudah mulai senja. Para Renshu lainnya sudah mulai bersiap untuk latihan sesi ketiga yang dilakukan pada pukul 16.00 sampai pukul 18.00. Mereka semua telah berkumpul di taman latihan sambil menunggu sang guru datang.
Kazuki akan melintasi lorong menuju ke kamarnya. Ia harus berkelok ke kanan untuk mulai melintasi nya. Tiba-tiba kazuki terkejut karena tiba tiba Rinn muncul dari balik tembok lorong tersebut.
(Hanya Ilustrasi gambar untuk posisi berdiri Rinn. Tidak Ilustrasi untuk karakternya. Karena belum sempat digambar)
Wajah Rinn terlihat murung dan sedih. Ia memegang tangan kirinya dengan tangan kanan sambil bersandar di tembok.
Sontak kazuki langsung bertanya dengan nada cemas "Ada apa Rinn-san? Apa kau memiliki masalah? Tolong ceritakan padaku ...."
Rinn tetap saja tak berbicara dan tetap dalam posisi awal (tak bergerak sedikitpun). Kazuki pun langsung menggandeng tangannya dan menariknya sambil berjalan masuk ke kamarnya. Lalu Kazuki mendudukkan Rinn di atas kasur nya dan Kazuki juga duduk di sebelahnya.
"Sekarang ceritakan pada ku? Apa yang terjadi padamu?" Tanya Kazuki sambil menyentuh tangan Rinn dengan menumpuk kedua tangannya di atas tangan Rinn.
"Hmm, apa tidak apa-apa? Kamu sudah mendengar darinya kan?" Tanya Rinn
"Eh? Mendengar apa?"
"Aku melihat semuanya, kau dan Yuuko-chan berbicara tentang aku di ruang makan. Pasti sekarang kau sudah tau semua tentang diriku kan? Baiklah, sesegera mungkin tinggalkan aku dan jangan berbicara denganku lagi. Kumohon lakukan dengan cepat agar rasa sakitnya tidak terlalu membuat hati dan pikiranku tertekan lagi. Lagipula kau sudah menganggap ku sebagai teman kan? Kumohon! Turuti permintaan temanmu ini untuk yang terakhir kalinya." Ucap Rinn yang matanya terlihat sangat berkaca-kaca. Air mata hampir menetes ke pipinya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Kazuki langsung memeluk Rinn dengan sangat erat. Rinn menjadi tertegun dan pipinya memerah. Ia merasakan kehangatan pelukan yang sudah lama sekali ia tak merasakannya. Terbayangkan dalam pikiran Rinn bahwa yang memeluk nya adalah kakak laki-lakinya. Bahkan pelukan itu terasa lebih hangat dari rasa pelukan kakaknya. Ia merasa tak ingin dilepaskan dari pelukan itu.
"Mengapa kau mengatakan hal itu Rinn-san? Mana mungkin aku akan meninggalkan mu sebagai seorang teman! Kau itu adalah teman pertamaku yang pernah ku jumpai di dunia ini. Jadi jangan katakan hal seperti itu lagi!" Ucap Kazuki sambil melepas pelukannya.
"Habisnya semua orang yang pernah menganggap ku sebagai teman selalu berkata seperti itu setelah mengetahui rumor bahwa aku adalah seorang pembunuh. Sikap mereka berubah drastis kepadaku. Selalu dingin, mengucilkan, dan tak ingin bicara padaku. Hatiku sangatlah tersiksa. Oleh karena itu, sekarang aku tak ingin hal itu terjadi lagi. Setidaknya kau bisa meninggalkanku tapi jangan mengucilkan ku dan selalu menggunjing tentang diriku sama seperti mereka ... hiks hiks" Ucap Rinn yang mulai meneteskan air matanya tanpa henti. Ia berbicara dengan sedikit tersendat-sendat.
"Tidak! Semua hal yang kau sebutkan tak akan terjadi! Aku akan selalu berada di sisimu sebagai temanmu (Ia berhenti berbicara sejenak sambil menarik nafas lalu membuangnya ) Fyuuh ... kalau begitu, kita akan memulainya dari awal! (Ia kembali terdiam sejenak)
Rinn-san, maukah kau menjadi temanku?" Tanya Kazuki sembari berlutut di hadapan Rinn dan sambil menyodorkan telapak tangan kanannya.
Rinn langsung tersenyum, tapi air matanya masih saja mengalir. "Iya !" Begitulah ucapnya sambil meraih tangan Kazuki. Kazuki pun segera menghapus air mata Rinn dengan tangannya. Lalu ia menidurkan kepala Rinn di pangkuannya dan meluruskan kakinya agar bisa berselonjor di atas kasur.
"Eh?" Wajah Rinn memerah.
"Tenang saja, tidak apa-apa kok!" Ucap Kazuki sambil tersenyum lebar kepada Rinn.
"Oh, ya Rinn-san! Mengapa aku tadi tak melihatmu berada di ruang makan? Apa kau sudah makan siang?" Tanya Kazuki.
"Ya, sudah." Jawab Rinn sambil malu-malu.
"Aku memang tidak makan di ruang makan sejak saat itu." Lanjut Rinn
"Ya ya, aku paham. Sekarang tidurlah saja! Kita kemarin tak tidur semalaman kan?" Ucap Kazuki yang ingin mengelus kepala Rinn tapi tidak jadi.
"Apa-apaan ini? Mengapa aku ingin mengelus kepalanya? Dan selain itu, mengapa jantungku terasa berdebar keras?" Gumam Kazuki dalam hati.
Rinn akhirnya terlelap beberapa saat kemudian. Lalu Kazuki juga ikut tertidur dalam posisi duduk dengan kepala yang menunduk. Mereka lupa menutup pintu kamar sehingga terlihat oleh beberapa Renshu yang lewat sehabis latihan. Di antaranya adalah Yuuko. Ketika ia mengetahui hal itu ia langsung menutup pintunya dan menyuruh pergi Renshu-Renshu yang dari tadi terus memandangi mereka sambil berbisik-bisik dan tertawa. "Dasar payah! Dia benar-benar Ecchi-kun! Sudah Ecchi, lupa tutup pintu, lagi! Cihh!" Keluh Yuuko dalam hati.
Tak terasa pagi hari telah tiba. Sinar matahari yang sangat terang masuk ke dalam kamar Kazuki lewat ventilasi yang tembus ke taman latihan di tengah-tengah asrama. Sinar itu langsung menerpa wajah Kazuki hingga matanya terasa silau. Ia pun terbangun dari tidurnya. Ia baru sadar bahwa Rinn masih tertidur di pangkuannya.
"Rinn-san! Bangunlah! Ini sudah pagi lho!" Ucap Kazuki sambil menepuk pipi Rinn.
Tak lama kemudian Rinn pun terbangun dari tidurnya.
"Selamat pagi!"
"Ya, selamat pagi."
"Hei! Jam berapa ini? Kita harus segera berkumpul di lapangan lho!"
"Hmm, mungkin jam ... jam 9 pagi?" Ucap Kazuki yang dari tadi terus menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Eh? Kamu tahu dari mana? Iya juga, ya di sini tak ada jam dinding. Kalau begitu langsung saja kita ke lapangan !" Ujar Rinn sambil tersenyum. Setelah itu Rinn langsung berlari keluar dari kamar kazuki. Ia baru sadar kalau semalaman ia tidur di kamar Kazuki bersamanya. Pipinya pun memerah. Ia hendak menuju ke toilet untuk membasuh mukanya.
Mereka berdua datang ke taman latihan dengan terlambat. Namun, sang guru tak menghukum mereka karena mereka memang terlihat kelelahan ketika datang dari Ravage. Sang guru pun memakluminya.
"Perkenalkan! Dia adalah Renshu baru di sini, Namanya Kazuki Eiichi" Ucap sang guru pada seluruh tsugoku yang telah berkumpul di lapangan.
"Oh, jadi dia yang namanya Ecchi di ruang makan kemarin, Hahahaha !" Balas salah seorang Renshu berkelamin laki-laki.
"Hahahaha" Hampir semua Renshu menjadi tertawa karena ocehannya itu.
"Maaf, Eiichi-kun. Aku hanya salah dengar, aku tak bermaksud ingin melakukan hal itu." Ucap Yuuko dalam hati sambil memalingkan wajahnya ke samping.
"Aku ingin seorang Renshu senior dari kalian mengajari nya untuk sementara waktu. Karena jika ia mengikuti latihan Renshu junior yang lain ia sudah tertinggal jauh, siapa senior diantara kalian yang bersedia untuk melatihnya?" Tanya sang guru.
sekalian aku mau promosi novel ku judul nya awaken huanter world harap min berkunjung ke novel ku ya
untuk yang lain bisa juga berkunjung kalau ada yang punya novel aku bantu like nanti 😘😘😘