Meski tau Dayri sang CEO muda bersifat buruk dan suka main perempuan, Kilan yang seorang anak asisten rumah tangga sekaligus teman masa kecilnya diam-diam menaruh hati padanya.
Hingga Kilan dipekerjakan sebagai asisten pribadi Dayri, membuat Kilan menghabiskan lebih banyak waktu dengannya. Dan makin mencintai majikannya.
Meski Dayri tidak memandang Kilan, wanita itu cinta buta pada tuannya. Walau tau tabiat tuannya.
Hingga suatu malam, Dayri yang mabuk memangsa Kilan hingga mengandung. Namun karena Dayri masih mencintai mantan pacarnya, khawatir Dayri tidak mau mengakui anaknya.
Belum lagi kehadiran Junior sepupu Dayri memperkeruh keadaan ingin mengambil alih posisi Dayri.
Suasana makin panas antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Tentang Laura
Tentang Laura
"Laura pernah hamil anakku." Kalimat pertama Dayri cukup mengejutkan Fero.
"Aku bahagia mengetahui akan punya anak dari wanita yang sangat aku cintai. Mendampinginya melewati fase kehamilan muda, pusing lemas mual mual. Aku berharap dia nggak akan pergi." Dayri menarik napas sejenak.
"Tapi, tiba-tiba aja aku dapat kabar dari rumah sakit kalau Laura minum racun yang menggugurkan janin dalam kandungan nya." Dayri menahan perih mengingat kejadian itu.
"Dia tidak ingin hamil. Karena menurutnya, hamil hanya membuat penampilan nya tidak menarik lagi. Sebagai designer, ia dituntut tampil menarik. Akhirnya dia nekat minum racun yang membunuh calon anakku."
Fero merinding mendengarnya.
"Padahal aku sudah berjanji, aku hanya ingin mempunyai anak dari Laura. Aku tidak ingin ada wanita lain mengandung anakku. Tapi itu tidak cukup meyakinkan Laura kalau dia sangat berarti untukku."
"Tidak sampai di situ, Laura meninggalkanku untuk pria lain. Sejenak hal itu bikin aku nggak percaya ada wanita baik yang bisa mencintaiku seperti aku mencintai Laura."
"Maaf Tuan, dengan apa yang sudah Non Laura lakukan, Tuan masih mencintainya?" Tanya Fero heran. Normalnya, jika Dayri begitu menginginkan anak, harusnya dia membenci Laura yang menggugurkan kandungannya.
Dayri mengangguk. "Sudah berusaha sekuat mungkin untuk benci, tapi mungkin terlalu buta untuk mencintai Laura. Setiap memikirkannya, aku selalu tutup mata dan buta akan kesalahannya di masa lalu. Dipikir pikir lagi, sebenarnya itu kesalahanku juga. Aku terlalu terobsesi sampai tidak peka apa yang diinginkan Laura."
Dayri melirik Fero dan mendengus. "Nggak usah kasihan gitu. Kalau mau ketawa jangan disini. Pasti kamu mau ketawain tingkah konyol bos kamu yang diperbudak cinta buta."
Fero menggeleng cepat. "Nggak kok, Tuan. Saya malah kagum ngeliat Tuan barusan setelaten itu ngurus Kilan."
Dayri mengetuk-ngetuk jari di meja sambil berpikir. "Kilan nunjukin ciri ciri yang mirip ketika Laura hamil muda. Kalau begitu, siapa yang udah breng**k ngehamilin Kilan??"
Glek.
Fero menelan ludah. Anda yang breng**k, Tuan!
"Kilan sudah seperti adikku," kata Dayri membuat Fero melotot.
Kakak seperti apa yang meniduri adiknya! Fero geram namun ditutupi.
"Kamu cari tahu kebenarannya. Kalau benar Kilan hamil, cari pelakunya, bawa ke hadapanku!"
Fero mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
***
Tugas dari Dayri membuat Fero cemas setengah mati.
Apa yang harus dilakukan sekarang?
Kalau sampai ketahuan Dayri ayah dari anak dalam kandungan Kilan, apa dia akan menerima?
Tentunya tidak.
Barusan Dayri jelas bilang hanya ingin punya anak dari Laura. Dia tidak ingin wanita lain mengandung anaknya.
Apa yang akan diperbuat Dayri jika tahu?
Masalah terbesar, Dayri sedang bekerja keras untuk menunjukkan kelayakan sebagai pemimpin perusahaan. Dua bulan lagi rapat dewan direksi.
Kalau sampai berita bocor Dayri punya anak di luar nikah, bisa hancur reputasi Dayri dan Junior akan mengambil alih perusahaan.
Fero merasa ikut bertanggung jawab sudah menyuruh Kilan menjaga Dayri walau tahu Tuannya seperti apa jika sedang mabuk.
Kalau begini, ia harus bantu Kilan.
***
"Kakak yakin?" Kilan terkejut bukan main mendengar rencana Fero.
Fero mengangguk. "Demi keselamatan kamu dan bayi kamu. Aku akan mengaku sama Tuan Dayri, bahwa aku ayah dari bayi kamu."
"Tapi, Kak.. nanti Kakak bisa dipecat." Kilan khawatir. "Aku nggak bisa pergi ninggalin Ibu di sini. Dan Ibu pun nggak bisa ninggalin Tuan."
"Kamu nggak usah pikirin aku. Pikirin Ibu. Gimana kalian kalau Tuan tau, dan nggak percaya? Ibu pasti sedih. Gimana kalau kalian diusir? Kalian mau tinggal dimana?"
"Kak, kalau Kakak yang ngakuin, kita nggak bisa menghindar dari pernikahan." Kilan tidak menyukai skenario Fero.
Fero memegang kedua bahu Kilan. "Aku tau, Ki. Aku udah pikirin matang-matang. Yang perlu kamu tau, saat aku mengakui anak dalam kandungan kamu, aku khawatir Tuan tau penyakit yang membuktikan aku nggak bisa punya anak dan tau kebohongan ini."
"Maksud Kakak?" Kilan tidak mengerti.
"Aku mandul. Dan nggak bisa punya anak."
Apa??
"Maka dari itu, meski kita jalani pernikahan, kamu nggak usah takut. Aku nggak akan berbuat macam-macam." Fero merasa itu ide baik. "Dan lagi, dengan aku mengaku begitu, Tuan akan jaga jarak dengan kamu. Minimal dia nggak akan sentuh kamu ketika mabuk."
"Tapi Kak.. aku..." Kilan mulai terisak, Fero langsung paham dan memegang bahunya.
"Aku tau perasaan kamu, Ki. Kamu cinta sama Tuan Dayri. Aku paham banget. Saat ini yang aku inginkan kamu dan bayi kamu selamat. Setidaknya aku bisa beri status ayah untuk anak kamu. Walau aku berharap suatu saat Tuan Dayri mau menerima kamu dan anak kamu."
"Apa itu mungkin, Kak?" Kilan benar benar ragu.
"Asal kamu sabar. Kamu sendiri yang cinta buta sama Tuan. Udah tau tabiat Tuan kita itu gimana, tetep aja kamu cinta sama dia." Tembak Fero telak membuat Kilan salah tingkah.
"Sekarang yang penting kamu jaga kesehatan, kehamilan kamu. Nanti aku akan datang menemui Ibu. Selain kita berdua, Ibu harus tau kebenarannya. Karena jika anak kamu lahir, dan anak itu nggak mirip denganku pasti dia curiga. Ibu harus tau siapa ayah bayi dalam kandungan kamu."
Kilan menggeleng panik. "Gimana kalau Ibu marah?"
"Kilan..." Bujuk Fero. "Kamu harus berani. Kamu harus kuat. Demi anak kamu. Demi Tuan. Dan demi masa depan kalian. Percaya sama aku, jujur kenyataan sepahit mungkin jauh lebih baik daripada berbohong dari awal."
Kilan membenarkan perkataan Fero. Akhirnya menyetujui walau hati kecilnya berharap Dayri akan menerima anaknya.
***
Tapi tetep patut diapresiasi. Penulisannya rapi, gak ada yang typo, gak berantakan tanda bacanya, pokoknya buat yang terbiasa baca novel2 yang udah terbit jadi buku, karya ini memuaskan lah.