"Aku tidak akan melanjutkannya,kalau kamu keberatan." Ucapnya pelan.
"Hah?"
Seolah diriku tidak menginginkan hal ini berakhir begitu saja, aku hanya mengedipkan mata ku.
"Aku takut, saat kita melanjutkannya. Aku tidak bisa berhenti." Lanjutnya.
Seolah ada magnet dan ada sesuatu yang menarik ku,tanpa rasa malu aku langsung mencium Daffa lebih dulu. Kami pun akhirnya berciuman cukup lama dan saling bertautan satu sama lain.
"Entahlah, apakan ini salah atau tidak. Yang pasti, aku menerima ini semua."
"Tidak ada yang salah,karena baik aku atau pun Daffa kita sama-sama tidak memiliki ikatan dengan seseorang." Bisik ku dalam hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evien Alviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Eh Daf, Ran......." sapa Kenny lebih dulu.
Aku dan Daffa langsung bersalaman dengan mereka berdua.
"Kalian emang sengaja ke sini atau gimana?" tanya Hanif.
"Iya, kita sengaja ke sini. Soalnya ada yang harus kita beli,''
"Oh iya, aku dengar sekolah kalian bentar lagi study tour. Benar nggak?"
"Iya......" balas Daffa singkat.
"Sekolahan kamu sih, baru aja minggu kemarin baru menyelesaikan study tour nya."
"Berarti sekolah kamu paling belakangan dong, yang adain study tour." lanjut Hanif.
"Sepertinya,"
"Soalnya kemarin-kemarin disekolah kita habis ngadain acara. Jadinya ke tunda-tunda lagi,kalau sekarang sih kayaknya beneran berangkat deh." jelas Daffa.
"Ngomong-ngomong, aku nggak nyangka bisa ketemu sama kalian di sini. Kalian berdua saja? Mana Diaz sama Qian? Biasanya kalian kalau bergi berempat terus." lanjut Daffa.
"Ah itu........."
"Sebenarnya kita berdua tuh,pacaran sekarang."
"Hah?"
Aku dan Daffa sama-sama terkejut dengan ucapan Hanif barusan.
"Serius?" tanya ku sambil melihat ke arah Kenny.
Dia hanya tersenyum tersipu sambil merangkul tangannya Hanif.
"Tentu saja, memangnya kami terlihat becanda sekarang ini?"
"Ya aku hanya tidak menyangka saja."
"Tidak akan ada yang tahu cerita kedepannya akan seperti apa. Aku sendiri sampai saat ini,masih belum sepenuhnya menyadari dan mempercayai kalau aku dan Kenny sekarang ini berpacaran." jelas Hanif.
"Atau jangan-jangan, kalian pun sama....."
"Tidak," timpal Daffa.
Aku langsung melihat ke arah Daffa, entah kenapa aku merasakan kekecewaan di hati ku mendengar jawaban Daffa barusan. Meskipun aku sendiri masih belum bisa memastikan perasaan ku saat ini seperti apa.
"Tidak menutup kemungkinan," sambung Kenny.
Daffa hanya diam dengan wajah datarnya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah berpisah dengan Kenny dan Hanif, aku dan Daffa pun langsung naik ke lantai 3 untuk lebih dulu mencari pakaian untuk Daffa.
Kami pun pertama kali menjatuhkan pilihan untuk masuk lebih dulu ke toko H*M. Pas aku masuk, mata ku langsung tertuju pada kaos polo yang terpasang di manekin.
"Aku rasa ini cocok untuk kamu," ucap ku sambil memegang bajunya.
"Terserah kamu, soalnya aku sendiri tidak pandai untuk memilih pakaian ku sendiri."
"Baiklah, kalau gitu aku bantu carikan. Emangnya kamu butuh berapa?"
"Kaos nya aku butuh 3, sedangkan jaketnya 1 pun cukup. Soalnya aku baru-baru ini dapat hadiah jaket, dari ayah."
"Baiklah,"
Tanpa menunggu lama aku pun langsung mengambil kaos polo berwarna navy dan setelah itu kembali lagi mencari kaos yang lainnya yang cocok dengan style Daffa.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah berkeliling sekitar setengah jam, akhirnya aku pun mendapatkan barang-barang yang sesuai dengan selera ku. Sedangkan Daffa sendiri dia hanya duduk sambil main HP.
"Itu apa?" tunjuk ku.
Mata ku langsung tertuju pada sweater yang berada di sampingnya Daffa.
"Ah ini, tadi pas aku lihat-lihat aku tidak sengaja melihat sweater ini. Sepertinya ini cocok untuk kamu," jelasnya sambil memberikan sweater nya pada ku.
"Iya tapi......."
"Udah, tenang aja. Aku yang bayar ini, kamu tenang aja. Anggap saja ini sebagai imbalan,karena kamu sudah mau bantuin aku."
"Masalahnya warna sweater nya sama dengan jaket yang aku pilihkan untuk kamu. Nih....." aku langsung menunjukannya.
"Ya udah sih, nggak apa-apa."
"Ya udah yuk, kita langsung bayar saja. Aku udah lapar nih," ajaknya langsung bangkit dari duduknya.
Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung mengikuti Daffa menuju kasir untuk membayar semua barang belanjaan dia.
"Makasih ya," bisik ku.
Daffa hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Kami pun pulang dari mall nya sekitar jam 5 sore. Sesampainya di rumah ibu langsung menghampiri kami berdua.
"Kalian udah pulang?"
"Iya, balas kami bersamaan."
"Eh iya Daf, ibu kamu tadi berpesan. Kalau kamu merasa kesepian di rumah sendirian, beliau meminta kamu untuk menginap saja di rumah kami saja." jelas ibu.
"Tidak tante,"
"Aku sudah minta Dio untuk menginap di rumah malam ini."
"Ya takutnya kamu berubah pikiran,tidak apa-apa. Lagian kan kamarnya Al kosong ini,"
"Iya tante,"
"Gampang nanti aku tinggal ke sini aja."
"Ya sudah......"
Daffa pun langsung pamit dan pulang menuju rumahnya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Alessio memang sejak kelas satu SMP memilih tinggal bersama nenek dari ayah di Bali. Karena di sana pun ada sepupu ku Narendra yang juga sama tinggal dan bersekolah di sana.
Al sendiri memang sejak kecil sangat dekat dengan nenek dan kakek, terlebih lagi di Bali kakek dan nenek hanya tinggal berdua saja. Karena ketiga anaknya pergi merantau semenjak menikah. Ada pula yang sekarang tinggal menetap di Australia,karena menikah dengan orang sana. Sedangkan paman ku tinggal di Lampung karena mempunyai usaha makanan ringan dan sudah lama menetap di sana.
Aku sendiri sebenarnya sempat ada niatan untuk tinggal bersama Al di sana, hanya saja aku berpikir kembali dan memilih untuk tinggal bersama ibu dan ayah di Jakarta.
"Ran.....!" seru ibu.
"Iya bu," aku langsung menghampiri ibu yang tengah berada di dapur.
"Kenapa bu?"
"Ini antarkan makan malam untuk Daffa, takutnya dia belum makan." ucap ibu sambil memberikan kotak bekal nya pada ku.
"Ah iya......"
Aku pun langsung berpamitan untuk mengantar makan malam untuk Daffa.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Daffa......!" seru ku.
"Daffa......!"
"Kemana sih, dia. Kebiasaan banget," gerutu ku.
Karena merasa kesal dan pegal terus memegangi kotak makanannya, aku pun menerobos masuk. Untungnya pintu depan rumahnya tidak di kunci, sesampainya di dalam rumah suasananya terasa sangat sepi. Terlebih lagi lampu di rumahnya belum di hidupkan.
"Masa iya, dia tidur." ucap ku sambil menyimpan kotak makannya di atas meja.
Aku pun bermaksud untuk mengecek keberadaan dia,sambil menyalakan lampu di rumahnya.
Sesampainya di depan kamar dia, aku lebih dulu memanggil Daffa dan mengetuk pintunya. Namun sayangnya tidak ada respon dari dia.
"Kemana sih ini anak," gerutu ku.
Aku pun langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya. Suasana kamarnya begitu gelap, aku sendiri sedikit kesulitan untuk mencari keberadaan Daffa saat ini.
"Mana sih, anak." ucap ku kembali.
Namun saat aku hendak melangkahkan kaki ku menuju tempat tidurnya, kaki ku tersandung pada sesuatu dan buat aku langsung tersungkur jatuh.
"Ah......."
Badanku langsung menindih sesuatu dan bibir ku menyentuh sesuatu. Sampai akhirnya lampu yang berada di samping tempat tidur Daffa pun menyala.
Aku langsung kaget, karena mendapati posisi ku sekarang ini tengah menindih badannya Daffa dan bibir ku tengah menempel pada bibirnya Daffa.
Mata kami pun saling berpandangan satu sama lain karena terkejut.
"Ya tuhan, apa yang aku lakukan." gerutu ku dalam hati.
😂👍💪
Jujur aj lah Daf...knp hrs takut?
la wong ibu sendiri dan ibu tetangga koq....
Jd Tukang ngancam nih....😅
jd baperrrr nih.....
Smg mereka berjodoh yaaa
Lanjutttt kak semangat!!😘💪
Lgsg Tembak aj,Daf....
Duarrrrrrrrr......!!🙈🐻
Daffa 'menyimpan' rasa untukmu Rania....😍😘
Ganti judul cover nih ,Mbak??
😊👍💪
Malu malu Meooong......😉💪
Ayo dong Gercep....!!
🌺4 Rani-Daffa💝🥰💪
Maklum habis lebaran banyak acara mendadak,jadinya tidak sempat untuk update.