Obsesi dan Cinta, dipisahkan oleh garis tipis.
Tidak ada yang mengenal Cinta secara menyeluruh, karena pada dasarnya arti Cinta setiap orang itu berbeda-beda.
Lalu dimana letak perbedaan keduanya ?
-----------------------------------------------------------
"Jika tahta tertinggi dalam mencintai adalah melepaskan, maka apakah aku rela melepaskan mu dengan yang lain ?"
"I want it, I get it, because I'm the boss !"
Yahh, itulah sosok Arkhaine di mata orang-orang.
Terlahir sebagai satu-satunya pewaris dari keluarga konglomerat tak menjamin hidupnya bisa bahagia. Lalu bagaimana dirinya akan menjalani hidup kedepannya ?
Ikuti perjalanan Arkhaine bersama yang lainnya disini !
Kisah ini tidak hanya menyajikan Cinta yang Manis namun kalian akan di bawa untuk mengenal 'Apa itu Hidup ?'
See you ! ❣️
2023.09.02
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaksha_Arkhan_13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Get You !
Sebulan sudah Rain menghindari Arkan sejak pertemuan mereka di ruang guru. Keduanya memang masih sering bertemu mengingat keduanya yang berada di kelas yang sama.
Namun kedekatan mereka yang sudah tidak seperti dulu lagi membuat orang-orang di sekitar mereka bertanya-tanya.
Laporan Ilmiah yang seharusnya bisa selesai dalam kurung waktu 1 bulan kini terpaksa diundur selama ± 2 bulan dan sekarang hanya tersisa 1 bulan untuk mereka menyelesaikan semuanya.
Sementara itu Rain kembali didekati oleh banyak laki-laki, terlebih setelah kedekatannya dengan Arkan merenggang. Aura pekat Arkan membuat para laki-laki menjauhi Rain secara perlahan-lahan.
Rain kembali dibuat kesusahan karena mereka yang terus menerus mendekat padanya, bahkan Si Secret Admirer pun kembali hadir, Rain kembali tertekan dengan berat 2 kali lipat dari sebelumnya.
Selain dirinya yang kembali ketakutan akan traumanya dulu ditambah dengan adanya masalah antara dirinya dan Arkan yang entah kapan berakhir.
Sedangkan situasi di tempat lain sangat berbanding terbalik, jika Rain tengah ketakutan maka berbeda dengan Arkan yang kini tengah tenggelam dalam amarahnya.
Dia tidak terima dengan apa yang terjadi di sekitarnya, melihat bunga miliknya dikerubungi oleh lalat-lalat menjijikan itu. Ingin rasanya ia menghabisi mereka agar tak mendekati bunga miliknya lagi.
Sayangnya dia ini bukanlah pemilik resmi dari Si Bunga Liar itu, menyebalkan sekali bukan.
SANGAT menyebalkan sekali, lebih tepatnya ... !
Arkan yang sudah jengah dengan permainan ini pun berniat untuk lebih serius lagi. Dia kembali mendekati Rain dengan berbagai cara yang pada akhirnya Rain kembali menghindarinya lagi.
Arkan tidak pantang menyerah dia kembali mendekati Rain sekali dua kali tiga kali bahkan puluhan kali tapi semua berakhir sia-sia.
Bahkan pernah sekali Arkan dan Rain kembali dipertemukan secara tidak sengaja diluar wilayah Arkan.
Rain yang saat itu berada di pusat perbelanjaan tengah mencari bahan untuk usahanya pun sedang kebingungan karena banyak barang yang menarik perhatiannya.
Sedangkan di tempat yang sama seseorang dengan pakaian full black miliknya tengah asik melihat sticker-sticker lucu yang entah untuk apa.
'Apa dia menghiasai kamarnya dengan banyak sticker lucu ???'
Mereka berdua terlampau sibuk hingga tidak sadar jika mereka menghabiskan waktu bersamaan secara tidak sengaja. Perasaan nyaman yang tidak bisa Rain abaikan itu membuat Rain melirik sosok yang berada tepat di belakangnya.
Deg
DEG ...
DEG ... ...
'Arkan ....'
Belum sempat Arkan berucap Rain sudah mendorong dirinya dan pergi dengan terburu-buru menjauh dari Arkan. Bahkan Rain melupakan semuanya barangnya yang tergelatak begitu saja di lantai.
Arkan yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum masam, dia merasa Rain menghindar darinya bukan karena risih atau apa. Tapi justru yang Arkan rasakan adalah sebaliknya,
Rain tidak berani mendekat lantaran karena malu dan canggung saat bertemu dengan dirinya hingga dia hanya terus berlari.
'Apa sebentar lagi kau bisa kumiliki seutuhnya Rain ?' Tanya Arkan dalam benak yang entah kepada siapa.
Hari-hari telah berlalu dengan begitu cepat, kedekatan Austin dan Rain sudah sampai ke telinga Arkan. Jika Arkan biasanya hanya diam sembari menahan marah kini entah kenapa dia sudah tidak membendung amarahnya lagi.
Bahkan dengan berani Austin menyatakan perasaan kepada Rain yang membuat Arkan kebakaran jenggot hingga kepalanya terasa meledak.
Arkan sendiri merasa jika Austin sedikit terlihat seperti lebah beracun yang cukup mengganggu dirinya.
'Austin kan, bakal gue ingat nama lo ! Dasar lebah menjij*kan, parasit kayak lo gak pantas berada di samping Rain.'
Rea yang selalu berada di samping Rain pun akhirnya ikut andil, dia sendiri sudah jengah dengan segala tingkah mereka. Tingkah keduanya baik Rain maupun Arkan benar-benar membuatnya frustasi.
Rea memang ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Rain namun jika melihat tingkah Rain sekarang membuatnya berpikir 2 kali lipat. Lagipula dia sudah tahu konsekuensinya ketika mereka bersatu.
'Ya setidaknya itu lebih baik daripada mereka kucing-kucingan seperti ini.' Pikir Rea dengan matang.
Rea pun segera mendekat ke arah Rain yang kini tengah asyik memakan bekalnya di taman samping sekolah.
"Rain, lo ada masalah apa sama Arkan ?" Tanya Rea dengan menatap lurus ke depan.
"Gak ada masalah kok Re." Elak Rain.
"Terus kenapa lo jauhi Arkan ?" Tanya Rea dengan kebingungan.
"Ada hal yang gak bisa gue ceritain ke lo Re." Jelas Rain dengan perasaan campur aduk.
"Rain gua nggak mau lo kenapa-napa. Arkan itu bukan cowok biasa dan gue nggak mau lo ada masalah sama dia. Gue nggak tahu apa yang terjadi sama lo dan dia sekarang tapi gue harap lo bisa pikiran semuanya dengan matang-matang." Jelas Rea yang entah sudah berapa kali.
"Iya Re, lo tenang aja. Semuanya udah gue pikiran berkali-kali dan sekarang gue tahu harus ngapain. Makasih ya, nasihat lo pasti bakal gue pakai baik-baik." Ucap Rain dengan tersenyum.
Rea yang sepertinya tahu maksud dari perkataan Rain pun langsung memeluk Rain dengan amat sangat erat dan Rain yang membalas pelukan Rea.
Mereka berdua pun berpelukan cukup lama hingga tanpa sadar mereka menangis bersama.
Rea senang jika mereka bersatu, berat mungkin karena mereka akan jarang bertemu tapi setidaknya akan ada seseorang yang menemani Rain selama 24 jam.
'Bukan begitu Arkan ... ?' Tanya Rea pada langit dan mengusap air matanya dengan kasar.
Ketika urusan mereka sudah selesai mereka pun segera kembali ke kelas mengingat bel masuk akan segera berbunyi.
Rain yang saat itu sudah yakin untuk mengakhiri perang dinginnya dengan Arkan pun berniat untuk menyelesaikan segalanya hari ini.
Namun ...
Rain tidak sengaja melihat Arkan bersama gadis lain berduaan di dalam lab. Hal itu juga diketahui oleh Rea yang saat itu tengah bersama dengan Rain dan Rea segera menarik tangan Rain menjauh dari sana.
Deg
DEG
DEG ...
'Kenapa sakit ... ?' Tanya Rain dalam diam.
'Arkan bodoh, apa lo lakukan barusan Awas aja kalau sampai Rain sedih, jangan harap lo bisa ketemu dia ... !' Ancam Rea dengan serius.
Sementara itu orang yang menjadi penyebab kemarahan Rea itu sepertinya sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja.
Berduaan di dalam lab mungkin terdengar menyenangkan tapi bagaimana jika berduaan dengan orang yang tidak kita sukai, Sangat Tidak Menyenangkan bukan ... !
Hal itulah yang terjadi pada Arkan, sayangnya dia harus membantu sosok yang sama sekali tidak dirinya kenali.
"Ar ini gimana ya, kok bisa kayak gini sih ?" Tanya perempuan itu dengan pura-pura lembut.
"Ar kamu kok bisa, kenapa aku gak bisa ?" Tanyanya lagi dengan mendekatkan tubuhnya ke Arkan.
'Ahhh gila, wanginya jant*n banget, tangannya keras banget. Fix, Lo harus jadi milik gue Arkan !' Ujar wanita itu dengan penuh obsesi.
Arkan yang merasa risih dengan tingkah agresif milik perempuan asing itu pun langsung menyentakkan tangannya hingga terlepas. Dengan sigap Arkan mengambil jarak yang cukup jauh dari perempuan.
"Arkan kamu jangan jauh-jauh, aku kan jadi kedinginan." Alasan perempuan itu sambil meliuk-liukkan badannya.
Perempuan itupun kembali mendekati Arkan seperti cacing kepanasan dan Arkan dengan keras mendorongnya hingga terjatuh.
"B*tch kayak lo jangan harap bisa dekat-dekat sama gue, JIJ*K gue !" Tolak Arkan dengan kasar.
Arkan pun langsung menjauh dari lab dan pergi meninggalkan sekolah tanpa memperdulikan panggilan teman-temannya.
Rea yang melihat Rain dengan gundah gelisah merana pun berusaha untuk menenangkannya dengan berbagai cara.
"Udahlah Rain, gak usah dipikirin terus. Kan kita juga gak tahu mereka ngapain di lab, mungkin lagi praktek. Lagian kan lo tahu sendiri Arkan gak gampang tergoda, jadi santai ajalah." Ujar Rea yang berusaha positive thinking.
"Udah ya Re, gue gapapa kok."
"Lagian kalau mereka berdua kenapa gue harus marah, kan gue bukan siapa-siapa nya Arkan." Jelas Rain yang pergi meninggalkan Rea sendirian.
"Tapi Rain, gue tahu lo suka kan sama dia ?" Tanya Rea yang perlahan-lahan mendekati Rain.
Rain yang sama sekali tak menyangka Rea akan mengeluarkan pertanyaan seperti itu pun akhirnya syok.
"Iya, gue suka sama dia. Gue gak tahu kenapa tapi rasa nyaman itu ngebuat gue yakin kalau dia bukan hanya sekedar orang baru buat gue. Tapi Re gue sama dia itu beda jauh kayak langit dan bumi, dia terlalu tinggi untuk gue yang rendah ini." Ujar Rain dengan sedih.
Rain kembali ke kelas dengan keadaan sedih tanpa dia tahu jika ada seseorang yang sudah menunggunya sedari tadi.
Seseorang itu langsung menarik Rain ke halaman belakang sekolah dan mungkin di tempat itu juga banyak hal akan berubah.
"Rain gue mau minta tolong sama lo, bisa bicara sebentar ?" Tanya Rey dengan gugup.
"Bisa, bicara apa Rey ?" Tanya balik Rain.
"Bisa gak lo jenguk Arkan ke apart nya ?. Gue sama yang lain gak bisa kesana, kita ada jadwal latihan." Jelas Rey dengan melas.
"Bisa kok." Jelas Rain tanpa ragu.
"Gue kesana sekarang ?" Tanya Rain dan di jawab anggukan oleh Rey.
Rain pun segera meluncur ke apart Arkan, dirinya tidak bisa menyangkal jika dia juga khawatir dengan keadaan Arkan. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke apart Arkan mengingat jalanan yang cukup lenggang.
"Ar kamu di dalam kan ?" Tanya Rain sembari memencet bel.
"Ada apa lagi, kan gue udah bilang gue gak mau di ganggu, bangs*t !" Marah Arkan.
"Maaf ya kalau aku ganggu kamu, kalau gitu aku pergi dulu !" Pamit Rain dengan perasaan tidak nyaman.
Bagaimana tidak nyaman, jika dia melihat Arkan keluar dalam keadaan sh*rtless dan berkeringat seperti ini. Namun sayangnya belum sempat Rain melangkah pergi dirinya sudah ditarik masuk terlebih dahulu.
KLIK
Rain yang mendengar jika pintu itu terkunci pun bertanya-tanya, dia meragukan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Arkan kenapa dikunci pintunya, emang kita mau ngapain ?" Tanya Rain gugup.
"Gak ngapa-ngapain kok." Jelas Arkan namun entah kenapa terasa berbeda
'Apa keputusan gue datang kesini salah ya ?' Tanyanya dalam hati.
"Ar kayaknya aku harus per ...." Elak Rain.
Belum sempat Rain menyelesaikan ucapannya Arkan langsung membungkam mulut Rain dengan mulutnya.
CUP
C*uman yang awalnya lembut perlahan-lahan berubah menjadi keras dan kasar. Arkan benar-benar melampiaskan semua kekesalannya gara-gara lalat menjij*kkan itu.
Mmmh
Aaahhh
Ciuman itu berubah menjadi lumatan dan saling membelit lidah satu sama lain. Jangan tanyakan 'Kenapa Rain tidak berontak ?' tenaganya kalah jauh jika dibanding dengan Arkan yang besarnya dua kali lipat dari tubuh mungilnya.
Rain yang kehabisan oksigen pun mulai memukul-mukul Arkan namun jelas hal itu tidak berdampak banyak pada Arkan. Arkan sadar jika gadisnya kini mulai kehabisan oksigen pun menjadikan leher jenjang putih nan mulus itu sebagai sasaran berikutnya.
Tanpa memberikan jeda, Arkan langsung menghajar leher itu dengan h*sapan kuat hingga meninggalkan bekas ungu kemerahan.
Mmmh
"Aah Arkaaannn ... !" Teriak Rain saat Arkan mengigit lehernya kuat-kuat.
Rain yang sudah tidak punya tenaga lagi pun langsung terjatuh dan Arkan dengan sigap langsung menangkapnya erat-erat.
Arkan yang melihat Rain tak berdaya pun semakin gelap mata, tanpa berlama-lama lagi Arkan langsung menggendong Rain ke kamar mereka.
"Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita ... !" Jelas Arkan yang kembali menc*umi seluruh tubuh Rain tanpa terkecuali.
Aaahhh ... ...
...----------------...
Malam penantian untuk rindu yang tidak terbendung lagi. Malam Berbintang yang akan menemani ketika rindu ini menggelora. Malam yang tenang dengan hembusan angin beraroma Petrichor datang menyapa.
Hai kamu ! Gadisku ! Milikku ! Cintaku !
Tunggulah aku di alam keabadian agar kita bisa bersama selamanya ...
❣️
...----------------...
To Be Continue
^^^2023.09.12^^^