Katanya cinta turun dari mata lalu turun menembus kejantung hati, ah itu kata kebanyakan orang,, tapi bagi Serena jatuh cinta itu datangnya dari duit, duit dan duitttttttt, yaaaaaa duitttt adalah segalanya bagi Serena tanpa duittt hidupnya terasa hampa, kosong dan membosankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neisa Krestianningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Kakak beradik
"Dasar manusia gak ada akhlaq lu nyet !" geram Serena. Wajahnya merah padam menahan emosi. Ia lalu mengambil segelas air dimeja dan segera meminumnya berharap emosinya mereda.
Serena tak menghiraukan gedoran pintu yang semakin nyaring terdengar, ia segera kembali ke kamar melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda.
Suara ketukan pintu itu sangat mengganggu, membuat Evan sang adik kesal. Dibukanya kembali.
"maaf , kakak cari siapa ?" tanya Evan dengan wajah datarnya.
"Serena nya ada dek ?" tanya Indra sambil celingukan, matanya menatap pada seorang bocah laki laki berusia 13 tahun yang mengenakan kaos bola berkebangsaan inggris.
"Kak Serena nya lagi istirahat jadi tidak bisa diganggu kak, mending kakak pulang saja !" usir Evan.
Matanya menatap curiga pada pria yang mencari kakaknya, tatapannya tajam menelisik wajah dan pakaiannya, ia yakin bahwa laki laki itu orang kaya.
Tanpa berbasa basi Evan segera menutup pintu dengan keras.
"Blam". Indra pun terjingkat kaget.
"Dasar, bocah kakak sama adek sama saja galaknya".
Sedangkan Serena masih terbuai di alam mimpi, disaat sakit begini ia merindukan kedua orang tuanya .
"Ibu" gumam Serena tak sadar lalu tertidur kembali.
Sejak kecil Serena sudah diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk mandiri, hal ini ia juga ia ajarkan pada sang adik. Serena sangat menyayangi Evan bahkan melebihi hidupnya sendiri karena Evan adalah satu satunya harapannya.
"Kak, makanannya sudah matang". Evan berusaha membangunkan Serena yang masih tertidur. Ia lalu meletakkan punggung tangannya pada dahi kakaknya itu. "Alhamdulillah" lirihnya.
Serena merasa tidurnya terganggu, membuka mata nya sedikit demi sedikit.
"Ehmm, ini sudah jam berapa ?"
"Jam 10 kak, kakak molornya kayak kebo" dengus Evan. Ia pun berlalu meninggalkan kakaknya itu.
Setelah cuci muka, Serena segera ke ruang makan, disana sudah ada sang adik yang menunggunya. Meja makan itu sudah tersaji berbagai makanan kesukaan Serena.
"Makasih ya dek, sudah merawat kakak !" senyumnya sumringah. Ia lalu mengambil ikan kakap goreng. Aromanya sungguh membuat perut keroncongan. Tak dipungkiri adiknya ini sangat mahir memasak.
"Iya sama sama kak, o iya kak, tadi siapa sih yang cari kakak ?" tanya Evan lebih lanjut.
"Oh, itu orang gak jelas van, gak usah dibukain bikin males" terang sang kakak.
Mereka pun makan dengan lahap, ikan kakap goreng, sambal terasi dan sayur asem menjadi menu favorit mereka berdua. Setelah makan habis, Evan bertugas mencuci piring dan gelas sedangkan Serena membersihkan meja makan. Setelah selesai, mereka menuju keruang tv sekedar ingin melihat berita.
"Kak, siang nanti ke makam bapak dan ibu yok mumpung Evan masih libur sekolah" ajak Evan.
"Evan kangen kak" katanya lagi sambil menahan tangis, Serena segera merengkuh tubuh sang adik. Ia juga merasakan hal yang sama, ia rindu dengan kedua orang tuanya.
"Iya nanti kita ke makam sama sama ya".
Evan mengangguk, ia membalas pelukan Serena.
"Dek, kakak ingin kamu bisa meraih cita citamu, buatlah bapak dan ibu bangga, kamu satu satunya harapan kakak van" kata Serena. Evan pun mengangguk mendengar nasehat sang kakak. Ia bertekad akan membuktikan pada keluarga besar sang ayah yang sudah mengucilkannya.
"Aku harus belajar dengan giat dan menjadi orang sukses juga menjadi orang kaya" ucap evan berapi api.
"Ya sudah kakak mau beli kembang dulu dipasar".
Serena kembali ke kamar mengambil dompet miliknya.
"Lho ko gak ada ? dimana dompetku?" gumamnya. Ia sudah menggeledah kesana kemari tapi tak juga menemukannya.
"apa mungkin ketinggalan di mobilnya si monyet ya, ah sudahlah nanti saja kepasar dulu".
Serena berganti dengan pakaian yang sopan, kaos oblong dan celana panjang. Tak lupa ia membawa tas kecil dan membawa uang simpanan nya. " untung uang ku gak ku taruh didompet semua"
"van, ayo kita ke pasar" teriak Serena.
"iya, kak sebentar evan pakai jaket dulu, udaranya dingin"
Setelah mengunci pintu, Serena melangkah keluar disertai dengan Evan yang sudah menunggunya dihalaman depan.
"Grok, grok, fiuwhh, "
"Bunyi apa sih itu dek ?" tanya Serena sambil menatap evan.
"Kayaknya ada orang tidur deket sini deh kak, suaranya kenceng banget" ucapnya sambil menutup telinganya.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kekiri, mencari sumber suara yang sangat mengganggu, pandangannya tertuju pada kursi rotan yang terletak disamping rumah.
Langkah Serena mendekati, matanya menangkap pria yang sedang tertidur dengan pulas. "hah, kenapa si monyet malah tiduran disini".
"Hey, bangun, bangun" katanya sambil menggoyangkan badan pria itu.
Karena tak ada reaksi, akhirnya Serena berteriak tepat didepan telinga Indra.
" Banguuuuuuuuuun, kebakaran kebakaran kebakaran" teriak Serena suaranya keras memekakkan telinga.
Sontak saja Indra terlonjak kaget dan dengan segera ia lari tunggang langgang seperti orang kebingungan.