Zayyan, siswa SMA biasa, tanpa sengaja membeli bantal dan cincin dari seorang penjual buta di pasar. Sebelum ia pergi, pria itu berkata lantang, “Mimpimu akan menjadi kenyataan.” Zayyan mengabaikannya dan menganggap itu hal aneh.
Namun keesokan harinya, ia mulai menyadari sesuatu yang janggal. Peristiwa yang ia alami terasa familiar—seolah pernah terjadi sebelumnya. Ia pun teringat bahwa semua itu muncul dalam mimpinya semalam. Sejak saat itu, mimpi Zayyan perlahan menjadi kenyataan, membuatnya terjebak di antara firasat dan kenyataan yg tak bisa ia kendalikan.
“Apa yang kulihat ini… benar-benar akan terjadi?”
Kini, Zayyan harus menghadapi konsekuensi dari mimpinya sendiri. Akankah ia mampu mengubah takdir yang sudah terlihat, atau justru terjebak dalam rangkaian kejadian yg tak bisa dihindari?.
Siapa sebenarnya si penjual buta itu?.
Akankah ia berhasil mengubah nasib, atau justru menjadi bagian yang menyelesaikan takdir itu sendiri?
Ayo, masuk ke dalam dunia mimpi Zayyan sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang_Daff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga pertanyaan
Zayyan berjalan cepat di lorong sekolah, langkahnya panjang dan terburu-buru. Bahunya sesekali menabrak siswa lain yang berpapasan, namun ia tak peduli. Alisnya sedikit berkerut, rahangnya mengeras—jelas ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Tatapannya menyapu setiap sudut koridor, seolah takut melewatkan satu sosok pun.
Iswari… dimana kau sebenarnya…
Tanpa berhenti, ia berbelok dan akhirnya tiba di depan kelas 1-A. Nafasnya sedikit memburu, namun ia langsung melangkah mendekat. Tangannya sudah terangkat, siap membuka pintu kelas.
Namun—
Suara langkah kaki tergesa dari arah berlawanan membuatnya refleks menoleh.
Dari kejauhan, Kaira berlari ke arahnya dengan wajah panik, rambutnya sedikit berantakan. Dari belakangnya, beberapa siswa tampak mengejar dengan ekspresi marah.
"Oi Zay, lari… kabur!" teriak Kaira, suaranya pecah karena kelelahan.
Zayyan menurunkan tangannya dari gagang pintu, matanya menyipit memperhatikan situasi yang datang.
Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Kaira berhenti mendadak di depan Zayyan, tubuhnya sedikit membungkuk sambil menahan napas.
"Akhirnya… aku ketemu juga…" ucapnya terbata-bata, satu tangan bertumpu di lutut, keringat menetes di pelipisnya.
Zayyan menatapnya datar, namun penuh tanda tanya.
"Ada apa ini?" tanyanya pelan, tapi tegas.
Kaira mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia menunggu.
"Hahh… hahh… sabar… aku tarik napas dulu…" Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, dadanya naik turun dengan cepat. "Situasi di sana lagi bahaya banget!"
Zayyan melirik ke arah belakang Kaira, melihat kelompok yang semakin mendekat.
"Kenapa kau dikejar sama mereka?" tanyanya lagi, kini nada suaranya mulai serius.
"Hahh… a-aku juga gak tahu…" jawab Kaira, suaranya masih tersendat.
Belum sempat Zayyan merespon—
"Itu dia! Orang yang bikin aku malu! Cepat tangkap!" teriak seorang siswa bertubuh besar dari kejauhan, suaranya menggema di lorong.
Kaira refleks menoleh, matanya melebar.
"Aaahh!" Ia mundur selangkah, hampir menabrak Zayyan. "Cepat… ayo kabur, Zay!"
Namun Zayyan justru tetap berdiri di tempat.
"Percuma," ucapnya pelan, matanya tetap tertuju ke arah mereka yang mendekat. "Kalau kita kabur, dia bakal terus ngejar."
Kaira menatapnya, wajahnya pucat.
"J-jadi kita harus gimana?" suaranya bergetar, jari-jarinya menggenggam ujung bajunya sendiri.
Tanpa menjawab, Zayyan melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ia berdiri di depan Kaira, tubuhnya sedikit condong ke depan, seakan menjadi penghalang. Bahunya tegap, dagunya terangkat sedikit. Tatapannya berubah tajam, dingin.
Aura yang ia keluarkan membuat Kaira tanpa sadar terdiam di belakangnya.
Beberapa detik kemudian, kelompok itu tiba.
Siswa bertubuh besar—Arutala—berhenti tepat di depan Zayyan. Nafasnya masih berat, tapi senyumnya menyeringai penuh percaya diri.
"Akhirnya ketemu juga kau…" katanya, menunjuk ke arah Kaira, lalu mengalihkan pandangan ke Zayyan. "Kau akan menyesal karena ikut campur."
Di sekeliling mereka, siswa-siswa mulai berkumpul. Suara bisikan perlahan memenuhi udara.
"Itu Arutala Aksa…"
"Yang paling ditakuti itu, kan?"
"Tapi yang di depannya siapa…?"
Zayyan tidak menggubris kerumunan itu.
Ia menatap lurus ke mata Arutala.
"Sebelum kau mulai," ucapnya tenang, suaranya rendah namun tajam, "ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
Arutala mengangkat alis, lalu menyeringai.
"Baiklah… aku kasih kau kesempatan sebelum aku bungkam mulutmu."
Zayyan mengangkat sedikit kepalanya.
"Tiga pertanyaan," katanya singkat.
Arutala menyilangkan tangannya, santai.
"Yang pertama—siapa namamu, dan dua orang di belakangmu."
"Arutala Aksa," jawabnya cepat. Ia menunjuk dua orang di belakangnya. "Sagara Atma. Anggara Fana."
Zayyan mengangguk pelan.
"Yang kedua. Kenapa kau mengejar kami?"
Arutala tertawa kecil, bahunya naik turun.
"Aku sudah bilang—kami mau kasih pelajaran."
Ia mendekat setengah langkah, senyumnya makin lebar.
"Tinggal satu pertanyaan lagi… habis itu, giliranmu."
Zayyan tak mundur sedikit pun.
"Yang terakhir," katanya, nada suaranya tetap stabil, "apa tujuanmu mengganggu murid lain?"
Arutala menyeringai, lalu mendekat hingga wajah mereka hampir sejajar.
"Hanya untuk bersenang-senang," bisiknya pelan, penuh ancaman. "Dan kalau kau menghalangi… kau jadi target berikutnya."
Sunyi sejenak.
Zayyan menunduk perlahan.
Tangannya mengepal kuat, urat di punggung tangannya mulai terlihat.
Arutala tertawa.
"Kenapa? Sudah mulai takut?"
Tawa itu diikuti oleh dua temannya.
Di kerumunan, bisikan kembali muncul.
"Habis dia…"
"Kirain bakal seru…"
"Tamat."
Namun—
Zayyan perlahan mengangkat kepalanya.
Matanya berubah.
Tajam. Dingin. Penuh tekanan.
"Lihat itu…" bisik salah satu murid. "Ini baru mulai…"
Di belakangnya, Kaira mundur sedikit, kakinya gemetar.
Zayyan menghela napas pendek.
"Kalau begitu…" katanya pelan.
Tanpa peringatan—
BUK!
Tinju Zayyan melesat cepat, menghantam wajah Arutala dengan keras.
Tubuh Arutala terhuyung ke belakang, hampir jatuh jika tidak segera ditahan oleh kedua temannya.
Kerumunan langsung riuh.
Arutala menyentuh sudut bibirnya, melihat sedikit darah, lalu tertawa pelan.
"Menarik…" katanya, matanya menyipit penuh gairah. "Sepertinya kau memang berani."
Ia mendorong tangan temannya, berdiri tegak, lalu memasang kuda-kuda.
Udara di sekitar mereka terasa menegang.
Dan kali ini—
Pertarungan benar-benar dimulai.