"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 11
Fyuuuh
Rhea bernafas lega. Otot tubuhnya yang kaku seolah lentur kembali. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi setelah Mr. Yixing dan Mr. Chan pergi. Matanya terpejam sejenak. "Aku bisa," ucapnya lirih.
"Makan dulu Mbak Rhea, ini udah jam makan siang," ucap Tono sesaat setelah mengantarkan dua orang itu samapi di luar restoran.
Tono duduk di depan Rhea, dia menyeruput kopi panas yang juga baru datang ke meja berbarengan dengan makanan pesanan mereka.
"Saya mau sholat zuhur dulu, Pak. Dimana ya?"
Rhea mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran.
"Di sini nggak ada mushola, Mbak Rhea. Tapi kamu bisa sholat di kamar. Kita udah terlanjur pesen kamar, karena jadwal semula kan ketemu kliennya malam. Jadi kamu bisa sholat di kamar. Nah ini kunci dan nomor kamarnya. Kamar kita sebelahan, jangan khawatir."
Rhea mengambil kunci kamar yang Ton berikan. Dia lalu bergegas menuju ke kamar, tak lupa lebih dulu Rhea mengambil koper yang di titipkan di resepsionis.
"Woaaah."
Mata Rhea berbinar ketika membuka pintu kamar. Dia masuk, lalu duduk sebentar di atas ranjang.
"Empuk," ucapnya. "Ah aku harus cepet, Pak Tono pasti udah nunggu."
Rhea masuk ke kamar mandi, wudhu lalu membentang sajadah dan mengenakan mukena yang selalu dibawanya.
Rhea begitu khusu dalam sholatnya. Salam menjadi tanda bahwa sholat telah selesai.
Rhea bersimpuh sejenak, air matanya merembes ketika ingatan tentang pengkhianatan Oza dan Trisna terlintas.
"Haah, udahlah Rhe. Ayo fokus dengan pekerjaanmu. Jangan sampai orang-orang itu mengacaukan semuanya."
Rhea mengusap wajahnya, merapikan alat sholatnya dan segera kembali ke restoran dimana Tono menunggu.
"Maaf Pak, lama," ucapnya. Dia sedikit menyesal, pasalnya makanan yang ada di atas meja belum tersentuh sama sekali. Itu berarti Tono menunggunya.
"Nggak masalah, Mbak Rhea. Aku baru saja bicara sama Bos juga. Ah iya, apa kamu punya Visa Schengen?"
Rhea menggelengkan kepalanya cepat. "Tak masalah, semua sudah diurus oleh perusahaan. Siap-siap ya, besok kita akan ke Eropa."
"Apa?"
Rhea bangkit dari duduknya. Tangannya memegang ujung meja, dan tubuhnya sedikit condong ke depan.
"Ah maaf, Pak. S-saya~"
Rhea kembali duduk, tapi matanya masih membulat sempurna menatap ke arah tono.
"Besok kita akan terbang ke Eropa. Ada pembicaraan bisnis di Prancis terkait kapal kargo. Salah satu perusahaan kedirgantaraan ingin menggunakan jasa kapal kargo LT. Jadi kali ini bukan hanya obrolan ramah tamah, tapi tentang pembicaraan bisnis yang sebenarnya."
Gluph!
Rhea menelan ludahnya kasar. Nafasnya sedikit tertahan, dan tenggorokannya juga tercekat.
Kini dia sadar bahwa Singapura ini merupakan tes awal, dan pekerjaan yang sebenarnya adalah besok itu.
"Jangan risau, aku akan memberi tahu siapa orang yang akan kita temui nanti."
"B-baik Pak, t-tapi bukannya di sana sekarang sedang musim dingin. S-saya tidak punya pakaian untuk itu."
Tono hanya tersenyum, dimana hal tersebut semakin membuat Rhea bingung.
Makan siang yang tertunda itu terasa hanya sekedar makanan yang masuk ke mulut, melewati tenggorokan lalu mendarat di lambung. Dan Rhea juga menenggak air putih setiap kali menelan makanannya.
"Mbak Rhea, kalau cara makan mu begitu, nanti kembung lho," ucap Tono sambil menarik gelas dan botol mineral yang ada di sisi kanan Rhea. Sedari tadi Tono memerhatikan wanita itu, dan rasanya sudah cukup berlebihan air putih yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Ah ya, maaf."
Tono menghembuskan nafasnya pelan.
"Jangan minta maaf, kamu nggak salah. Aku cuma mau ngasih tahu kamu saja, biar nggak banyak minum sambil makan. Sekarang makan lah dengan benar ya."
Rhea mengangguk, dia tak sadar sebenarnya melakukan itu. Hanya saja setiap menelan makanan, rasanya sulit. Sehingga ia membutuhkan air putih yang ada di depannya.
Makan siang yang tidak bisa dinikmati bagi Rhea sendiri akhirnya berlalu. Dia menuju ke kamarnya dan bersiap untuk istirahat. Ingin sekali memejamkan matanya meski hanya sejenak, tapi Rhea tidak bisa melakukannya.
"Eropa, Prancis?" katanya lirih.
Rhea bangun dari posisi tidurnya, mengambil ponselnya dan mulai membuka kamus bahasa Prancis di sana. Bukan karena tidak bisa, tapi Rhea merasa butuh untuk mengulang kemampuannya.
Selama ini dia hanya belajar, praktik pun juga hanya sekedar kepada wna yang berasal dari negara tersebut. Tapi pembicaraan bisnis jelas berbeda.
"Duh, gimana kalau aku salah nanti ya? Ini bukan lagi soal ramah tamah."
Rhea mengusak rambutnya kasar. Tapi dengan cepat dia merapikannya kembali. Dan mulai fokus dengan berkas yang diberikan oleh Tono. Rhea juga sambil menonton video saluran di media sosial tentang percakapan bahasa Perancis.
Rhea terus belajar untuk persiapan perjalanan pekerjaan selanjutnya. Dia hanya berhenti saat waktu sholat dan waktu makan tiba. Bahkan malam itu Rhea hanya memejamkan matanya tak lebih dari tiga jam.
Tok tok tok
"Mbak Rhea, apa udah siap?"
Suara Toon terdengar jelas dari dalam kamar hotel yang ditempati Rhea. Dia bergegas membuka pintu setelah selesai menguncir rambutnya.
"Iya udah," jawab Rhea.
"Oke kalau kita, ayo kita kemon. Ah mana koper nya biar aku yang bawakan."
Rhea membalikkan badannya, mengambil tas kecilnya dan menarik koper yang ada di sisi ranjang.
Tono mengambil alih koper itu, mereka berdua beriringan berjalan keluar hotel. Di depan lobi hotel sudah ada mobil yang siap membawa mereka ke bandara.
Rhea terus saja melihat ke luar jendela. Gedung-gedung tinggi itu seperti menembus langit. Bibir wanita itu menyunggingkan senyum, mengingat hal yang seharusnya tidak perlu lagi diingat.
"Sudah sampai, ayo Mbak Rhea."
"Ah ya."
Rhea mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan. Ia mengikuti Tono. Entah tadi lewat mana, tapi yang jelas sekarang dirinya sudah ada di halaman tempat pesawat-pesawat berada.
"Kita akan naik itu," ucap Ton. Tangannya menunjuk ke arah sebuah pesawat jet yang di badannya tertulis nama LINFORD TRANSPORTATION.
"Hah, kita n-naik itu?"
Mulut Rhea menganga. Jika tak salah mengenali, itu merupakan jet pribadi yang selama ini hanya ia lihat di akun-akun media sosial para artis.
"Iya, ayok."
"Pak Nayaka?"
"Sudah ada di sana."
Glup!
Atasan yang dari pertama kali masuk bekerja hanya ia dengar namanya itu, kini akan dilihatnya. Irama jantung Rhea menjadi sangat cepat. Matanya terus menatap gagahnya pesawat, tapi isi kepalanya terus memikirkan tentang atasannya yang entah seperti apa.
Seorang crew pesawat menyapa Rhea, dia membantu Tono membawa koper milik Rhea dan milik Tono juga.
"Pak Bos?" tanya Tono.
"Sudah siap, tinggal berangkat," jawab crew pesawat tersebut.
Rhea melihat ke seluruh ruangan. Matanya bahkan tak berkedip.
"Mbak Rhea, kenapa berdiri terus?"
"Oh ah ya Pak Tono. Anu, saya duduk dimana?"
"Di situ lah."
Rhea mengangguk cepat. Sebuah kursi single disebelahnya tepat jendela yang bisa digunakan untuk melihat pemandangan di luar pesawat. Rhea melihat ke arah luar, senyumnya lagi-lagi mengembang.
Pemberitahuan dari pilot kapten terdengar begitu jelas. Rhea memejamkan matanya sejenak untuk mengucapkan doa.
"Di sini, ya mulai dari sini, aku akan terus terbang untuk impianku."
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭